I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab 47


__ADS_3

Selesai berziarah,mereka memutuskan untuk segera kembali pulang karena waktu sudah semakin sore.


mereka membutuhkan waktu seharian untuk bisa kembali ke pondok,tak ada lagi waktu untuk beristirahat,Al dan Haikal rela bergantian mengendarai mobilnya,mereka tidak tega jika Faiz yang harus terus menerus mengemudi,keluarga Al dan Mentari akhirnya tiba di pondok pesantren pukul 02.00 dini hari,dengan wajah yang nampak kelelahan serta lingkaran hitam mengelilingi mata mereka.


" Maaf,bang,mbak! aku sudah merepotkan kalian." ucap Mentari merasa tidak enak.


" Tidak apa apa,ini bukan salah mu,tapi cukup ini yang pertama dan terakhir." balas Alvi dengan lesu.


Sesampainya di pondok, mereka langsung membubarkan diri menuju tempatnya masing masing,untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa remuk redam.


Begitu juga Mentari yang langsung pergi ke asrama,ia langsung membersihkan diri lalu membaringkan tubuhnya,hingga tak terasa sedikit demi sedikit matanya mulai terpejam.


Tanpa terasa pagi menjelang,mentari telah menampakan cahayanya dengan sempurna,Gadis itu terbelalak,saat melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul 08.00 pagi,ia beranjak lalu membersihkan tubuhnya,kemudian turun ke bawah.


" Mentari!" sapa mbak Zahra ramah,ketika mereka tak sengaja berpapasan di halaman asrama.


Mentari tersenyum,sambil menganggukan kepala.


" Kamu mau kemana?" tanya Mbak Zahra.


"Hmmm,,aku tidak tau." Mentari terkekeh karena memang benar adanya,ia tidak tau akan kemana.


" Kalau begitu,kita ke rumah Umi saja,membantunya masak." ajak mbak Zahra,Mentari pun mengangguk menyetujui.


Mereka berjalan beriringan,menuju rumah mertuanya.


" Assalamu'alaikum." sapa keduanya saat tiba di teras rumah Umi,tidak ada sautan, Mbak Zahra langsung membuka pintu yang kebetulan tidak terkunci,mereka lalu masuk dan berjalan menuju dapur,dan benar saja Umi sudah sibuk di dapur dengan peralatan masaknya.

__ADS_1


" Kalian datang juga." ucap Umi sambil tersenyum.


" Maaf ya mi,aku telat baru selesai mengajar." jelas mbak Zahra.Merasa tak enak.


" Tidak apa apa!" sahut Umi mereka pun melanjutkan pekerjaannya dengan tugas masing masing,sementara Alvi yang kini sudah sedikit pandai memasak membantu beberapa santriwati di dapur umum.


Faiz baru saja bangun,ia berjalan santai menuju dapur dengan hanya mengenakan celana pendek serta kaos oblong,rambut dan wajahnya pun masih berantakan,hendak mengambil air dingin di dalam lemari es,tanpa menyadari keberadaan Mentari di balik meja makan yang tengah berjongkok sambil mengupas bawang,tanpa sengaja gadis itu pun melihat betis berbulu halus dari balik kolong meja makan,ia membulatkan mata memperhatikannya dari ujung kaki hingga ke pinggang.


" Faiz!!" teriak Umi.


Faiz serta Mentari terperanjat.Gadis itu kembali menundukan kepala,sementara Faiz menatap Umi tak mengerti.


" Ada apa,Mi?" tanya Faiz kaget, sambil menghampiri Umi yang tengah berada di dekat kompor,ia hawatir jika terjadi sesuatu pada Umi.


" Ehh eehh..sana sana!" ujar umi seraya mengibaskan tangannya.Membuat Faiz semakin tak mengerti.


" Kenakan pakaian yang benar,ada Mentari di sini!" ujar Umi sambil menunjuk ke bawahnya.


Faiz terkejut,ia lalu berjongkok mengintip ke arah kolong meja,dan ternyata benar,Mentari pun tengah berjongkok dan tersenyum padanya.


" Kenapa tidak bilang dari tadi." lirih Faiz,kemudian pemuda itu bergegas kembali ke kamarnya dengan rasa malu yang sudah sampai di ubun ubun.


" Anak itu!" Umi menggelengkan kepala sambil melirik Mentari yang tengah tersenyum malu.


" Apa dia selalu ceroboh seperti itu?" tanya Mbak zahra pada Mentari.


Mentari menggelengkan kepala.

__ADS_1


" Tidak,setahu ku dokter Faiz selaku hati hati,dia juga pria yang dewasa." jawab Mentari,sesuai yang dia tahu.


Sementara Umi menghela nafas kasar.


"Tapi lihat lah yang sebenarnya,Setelah menikah,kamu akan tau bagaimana aslinya,apa kamu masih mau menerimanya?" tanya Umi,Mentari pun tersenyum lalu mengangguk.


" Dokter Faiz sudah mau menerimaku apa adanya,tidak ada lagi alasan untuk ku menolaknya,apapun dan bagaimana pun,kami akan selalu saling menerima satu sama lain." balas Mentari yakin.


Umi pun tersenyum senang,sambil mengusap kepala Mentari.


" Usia tidak menjamin kedewasaan seseorang,umi harap setelah kalian menikah kalian akan lebih bisa berfikir dewasa,semoga kalian bisa mengarungi mahligai rumah tangga dengan sangat baik,menghadapi masalah bersama sama,dan saling menjaga satu sama lain."


" Aamiin." jawab Mentari dan mbak Zahra serempak.


Tak terasa acara masak pun selesai,dua Al dan bang Haikal sudah datang,begitu juga Faiz sambil membantu mendorong kursi roda Abi,serta si kembar dan Azzam yang baru selesai mengikuti pelajaran bersama santri senior.


Semua anggota keluarga telah berkumpul,hendak menyantap sarapan bersama,seperti hari hari sebelumnya di saat mereka tidak sibuk dengan rutinitasnya.


Para wanita menyiapkan makanan untuk suaminya masing terlebih dahulu,tidak dengan Mentari yang kini membantu para bocah mengambil makanan yang mereka mau,sementara Faiz terpaksa masih harus mengambil makanannya sendiri.


" Bagaimana perjalanan kalian saat ke kampung Mentari?" tanya Abi,semua orang saling lirik,ingin sekali mereka mengeluh,namun masih merasa tidak enak dengan Mentari.


" Menyenangkan Opa,kami bermalam di tenda dan menyalakan api ungun,aku ingin ke sana lagi." wajab si kembar dengan antusias,tanpa memikirkan perasaan para orang tua yang merasa seolah patah tulang hingga turun bero akibat berjalanan yang menguji adrenalin.


" Syukurlah,kalian pasti menikmati perjalan yang tak semulus paha luna maya itu." ujar Abi santai,membuat semua anak mantu serta istrinya membulatkan mata.


"Mungkin umur abi tidak lama lagi, Abi ingin segera menyaksikan pernikahan kalian,jadi Al,Haikal tolong urus persiapannya,abi serahkan semuanya pada kalian." lagi lagi ucapan Abi membuat semua orang membulatkan mata,namun kali ini raut wajah mereka berbeda,bukan terkejut atau semacamnya,namun lebih ke hal yang sensitif.

__ADS_1


" Abi tidak hanya akan menyaksikan kita menikah,tapi Abi harus menyaksikan kita bahagia dan mempunyai anak yang banyak." lirih Faiz dengan suara tercekak,ia memalingkan wajah berusaha menahan agar air matanya tidak mengalir begitu saja.


__ADS_2