I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab.78


__ADS_3

Dini hari Faiz kembali menggerayangi Mentari ,memeluknya dari belakang dan mengecupi lehernya di iringi gigitan kecil,yang membuat gadis itu sedikit melenguh tanpa mau membuka matanya yang seakan nampak berat.


" apa,Mas?" ucapnya dengan suara khas bangun tidur,ia lalu membalikan tubuhnya lalu membalas pelukan Faiz.


" Mau pahala gak?" bisik Faiz, Wanita itu pun perlahan membuka matanya,ia lalu menatap heran pada Faiz yang tengah menaik turunkan alisnya dengan seringai nakal.


" Aku capek,Mas!" balas Mentari,kembali menutup matanya.


Namun Faiz tak membiarkan Mentari untuk tertidur lagi, ia kini sudah mengukungnya dan siap mengoprasi tubuh polos sang istri,hendak menyuntikan miliknya dengan penuh gairah.


" Nolak dosa,lho." ujarnya.


Dan akhirnya Mentari pun mengalah,ia mengalungkan tangan di leher Faiz lalu mendekatkan kening dan hidungnya,terpaan nafas keduanya terasa hangat menyapu wajah,perlahan ciuman pun tak terhindari lagi,semakin lama semakin dalam,aliran darah berdesir dengan deras.


Faiz memutar posisinya hingga sang istri menindihnya.


" Tunjukan kenakalan mu,sayang!" gumamnya.


Mentari pun mengangguk,tangannya mulai bergerak menggerayangi butuh polos Faiz,dan Akhirnya telapak tangan yang memiliki jemari lentik itu berhenti di satu titik yang sudah berdiri tegak siap menyerang.


Ia memainkanya dengan lembut,mengusapnya dengan penuh kasih sayang,hingga Faiz merem melek di buatnya,terlebih saat Mentari memasukan benda tumpul itu ke dalam mulutnya,melilitkan lidahnya serta menyesapnya dengan lihai.


tubuh Faiz semakin meremang,di selimuti gairah yang semakin membuncah,nafasnya terasa memburu,ia mendongakan kepalanya ke atas menahan berahi yang kian meninggi.


" Ahh,Tari!!" gumamnya,tangannya membalai kepala Mentari dan turun ke bawah,meraih dadanya yang kenyal padat berisi dengan put*ing yang semakin mengeras


" Cukup sayang,kalukan sekarang!" titahnya yang sudah tak sabar untuk segera di tuntaskan.


Menteri menurut tanpa bisa membantah,melanjutkan permainannya ke level tertinggi,bermain dengan riang di atas tubuh suaminya,Mentari yang pendiam kini nampak lebih aktif demi baktinya pada sang suami,mencoba hal yang baru dan menyenangkan.


Semakin lama,otot di tubuhnya mulai menegang ,detak jantung dan nafas oun menjadi lebih cepat, rasa ingin buang air kecil tak bisa ia tahan.


Mentari menghentikan aksinya,ia berguling dan siap beranjak,namun Faiz segera mencekal tangannya.


" Mau kemana?"

__ADS_1


" Pipis,Mas!" jawabnya.


" Jangan!!" Faiz langsung menindih Mentari,untuk berganti tugas.


Kembali memompanya dengan semangat,membuat Mentari semakin tak terkendali.


" Aku mau pipis dulu,Mas!" desahnya.


" Jangan di tahan,rileks saja,keluarkan di sini?" ujar Faiz.


Mentari yang tengah melambung tinggi ke udara, dan hampir mencapai awan tak bisa mengontrol dirinya lagi,ia hanya pasrah dan menuruti apa yang di katakan Faiz,hingga akhirnya lenguhan pun keluar dari bibirnya,bersamaan dengan keluarnya cairan dari bibir bawahnya.


Begitu juga dengan Faiz,yang sudah kembali berhasil menanam bibitnya kembali di lahan sang istri.


" Kamu pintar,sayang!" ujar Faiz masih dengan nafas yang ngos ngosan.


Pergulatan mereka terjadi sampai menjelang subuh,mereka pun langsung menceburkan tubuhnya yang polos itu ke dalam kolam renang,dan kembali perbagi ke hangatan di dalam air yang terasa dingin menusuk kulit dan menembus tulang.


Selesai melaksanakaan shalat subuh berjama'ah,Mentari membantu Faiz membereskan klinik yang akan di buka mulai saat ini.


Mentari sempat di buat insecure saat melihat beberapa perawat cantik yang tengah mengenakan seragam kebanggaannya.


Menyadari hal itu Faiz langsung menghampirinya,ia tahu jika selama ini Mentari memang menginginkan frofesi tersebut.


" Kamu kenapa?" tanya Faiz sambil menghampiri Mentari yang mematung di ambang pintu,saat ia hendak ke luar dari ruang kerja Faiz,sambil memperhatikan para perawat tersebut tengah sibuk dengan pekerjaannya masing masing.


" Tidak apa apa,Mas!" Mentari mencoba menyangkalnya.


" Kamu ingin seperti mereka? aku akan membantumu mewujudkannya,kamu bisa melanjutkan pendidikan mu di fakultas terdekat di kota ini." ujar Faiz sambil mengusap punggung sang istri dengan lembut,Mentari meliriknya,mendongakan kepalanya, menatap sang suami dengan mimik wajah yang tak bisa di jabarkan.


" Bagaimana,kamu mau?" tanya Faiz,yang langsung mendapat gelengan kepala dari Mentari.


" Tidak perlu,Mas! meskipun aku tak bisa mewujudkan cita cita ku,tapi setidaknya aku masih bisa jadi perawat yang baik untuk mu dan juga anak anak kita nanti."balas Mentari di iringi senyum manis yang memabukan.


Faiz sampai di buat memeleh olehnya,pria itu pun membalas senyumannya tak kalah manis.

__ADS_1


" Kau memang yang terbaik,aku mencintai mu." bisik Faiz sambil menyeret tubuh sang istri untuk kembali masuk ke dalam ruangannya.


menikmati bibir yang memiliki kata manis itu dengan sangat halap.


Hingga keduanya tersenggal.


" Kembali lah ke kamar,sebelum aku khilaf dan malah menyuntik mu di sini." titah Faiz dengan seringai nakal.


" Aku ingin menemui Umi,Mas! boleh kan?" pinta Mentari dengan suara yang manja.


" Ya sudah ,aku akan mengantar mu." ucap Faiz,namun Mentari menolaknya.


" Tidak usah,jarak dari sini ke pondok tidak terlalu jauh,aku masih bisa jalan kaki."


" Tapi,Tari...." ucapannya terpotong saat Mentari menyumpal mulutnya dengan bibirnya.


" Tidak apa apa,aku bisa pergi sendiri,boleh ya?" rengek Mentari seraya bergelayut di lengan Faiz,hingga pria itu tak berani menolak.


" Baiklah, tapi kamu harus hati hati dan jangan lama lama." Faiz memberi peringatan dengan mengacungkan jari telunjuknya.


" Siap,pak dokter." sahut Mentari seraya memberi hormat.


" Tapi bagaimana dengan sarapan mu?" Mentari menghentikan langkahnya saat hendak pergi,mengingat di ruangan rahasianya belum ada stok makanan,meskipun perabotan dapur sudah tersediakan walau belum terlalu lengkap,hanya peralatan dasar yang di butuhkan setiap hari.


" Jangan khawatir,aku sudah menikmati sarapan terlezat pagi ini." balas Faiz,ia lalu berjalan menghampiri sang istri dan mengantarnya sampai ke luar.


" Hati hati,beri tahu aku kalau sudah sampai rumah Umi." ujar Faiz sedikit berlebihan,karena sebenarnya letak dari klinik ke pondok tak terlalu jauh,bahkan menara dan kubah yang berada di mesjid pondok masih nampak jelas dari klinik.


" Iya,tapi kau juga harus ingat,jangan genit pada siapapun,apalagi perawat di sini semuanya cantik,kenapa kau tidak mencari perawat laki laki saja." rengek Mentari seolah merajuk.


" Tenang saja,walaupun perawat di sini cantik,tapi hatiku selalu untuk perawat yang akan merawat ku dan anak anak ku." balas Faiz berhasil membuat rona merah di pipi Mentari.


" Janji ya,ya sudah aku pergi dulu,assalamu'alaikum."


" Wa'alaikum salam..."

__ADS_1


TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA,JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTE..


__ADS_2