
Keesokan harinya,Menjelang pagi,Mentari dan Zoya bersiap dengan pakaian yang rapi, hendak menemui Bi Susi,seorang MUA terkenal sekaligus kerabatnya.Adik dari Pak Hasim,wanita paruh baya itu masih nampak cantik segar dengan usia yang sudah tidak muda lagi.
Mentari dan Zoya berangkat dengan memakai sebuah motor matic milik Zoya yang masih dalam tahap cicilan.
Kedatangan Mentari di sambut hangat oleh wanita paruh baya itu,bi Susi merentangkan tangannya hendak memeluk Mentari dengan penuh kasih sayang.
" Bibi senang kamu bisa datang lagi ke sini,maaf bibi tida bisa pulang ke kampung,karena bibi sibuk,banyak panggilan,tidak bisa membatalkannya secara mendadak." ujar Bi Susi.
" Tidak apa apa Bi,Tari mengerti." balas Mentari.
" Baiklah kita bisa mulai bekerja sekarang,Zoya tolong siapkan semua tas make up nya,jangan sampai ada yang tertinggal,kita harus mendatangi tiga tempat hari ini." titah bi Susi.
Mentari juga Zoya mengangguk dengan semangat.
Dan akhirnya merekapun pergi,menuju tempat acara pesta pernikahan berlangsung.
Di tempat lain,Faiz masih sibuk berkutik dengan peralatan medisnya,memeriksa pasien dengan sangat teliti,jangan sampai ia salah memeriksa dan memberi resep obat.
Hingga seorang dokter cantik masuk ke dalam ruangannya.
" Kau masih sibuk?"
" Seperti yang kamu lihat?" balas Faiz.
" Ini hari Minggu,kau masih saja sibuk."ujar Laras seraya merajuk.
" Mau bagaimana lagi,ini sudah menjadi tugasku,orang sakit tidak mengenal hari Minggu ataupun yang lainnya." balas Faiz sambil menyenderkan punggungnya di kursi.
" Hmmm,,lalu bagaimana dengan pernikahan Bagas?"
"Mungkin Aku akan datang nanti setelah menyelesaikan pekerjaanku." jawab Faiz.
" Hmmm,,baiklah kalau begitu,aku pergi duluan ya." pamit Laras,setelah itu ia kembali ke luar,meninggalkan Faiz.
Mentari selalu di tugaskan untuk membantu calon mempelai pria mengganti pakaian,dengan memakai pakaian adat sunda,Mentari membantu memasangkan jas beludru barwarna putih dan celana dengan warna senada,dengan tambahan aksesoris semacan kain batik yang di lilitkan di pinggangnya,bendo untuk penutup kepala,serta yang lainnya,
Tidak lupa ia juga mengoleskan sidikit make up di wajah mempelai,Sapuan lembut dari tangan Mentari menciptakan hasil yang sempurna dan memuaskan,gadis cantik itu selalu menjadi pusat perhatin dan daya tarik bagi setiap orang,bahkan tidak jarang membuat calon mempelai pria berpaling dari calon mempelai wanita.
__ADS_1
" Maaf kalo boleh tau siapa nama mu?" tanya calon pengantin pria.
" Mentari." Sahutnya.
"Nama yang indah,sesuai dengan orangnya." balas nya,membuat Mentari memutar bola matanya merasa jengah dengan kata kata receh yang terucap dari bibir pria di hadapannya itu.
" Masih terlihat sangat muda,berapa umur mu?"
" 19 tahun." Mentari menjawab tanpa menghentikan tugasnya.
" Keren sekali,baru 19 tahun,kau sudah pandai merias? aku yakin kau memang sudah pandai berdandan sejak kecil." tebak pria itu lagi.
" Tidak juga." sahut Mentari acuh.
" Hmm,,tapi aku rasa kau masih terlihat cantik tanpa mengenakan riasan."
Mentari terpaksa menyunggingkan senyumnya saat menimpali celotehan calon mempelai pria yang sepertinya tengah mencari masalah di acara pernikahannya sendiri.
" Kau belum selesai?" Zoya menghampirinya sambil melenggak lenggokan badannya.
" Sedikit lagi." sahut Mentari.
" Tidak perlu."
" Ya sudah,kau memang selalu seperti itu,apa kau masih ingat kapan terkahir kita merias calon pengantin pria?" tanya Zoya antusias.
" Hmmm." Mentari mengangguk kecil tanpa menghentikan gerakan tangannya.
Bagaimana bisa lupa,kejadian itu adalah kali pertamanya seumur hidup selama ia menjadi seorang asisten MUA.yang harus merias pengantin dengan waktu yang sangat singkat,seperti mengikuti ajang pencarian bakat,harus cepat dan memuaskan.
Gadis itu bahkan tidak di beri kesempatan untuk bernafas sedikit pun kala itu.
" Sampai sekarang bayangan pria itu masih menghantui otak ku,aakkhh,,aku sampai memikirkan bagaimana nasib istrinya saat malam pertama." jelas Zoya sambil menerawang jauh ke angkasa,Membuat wajah gadis cantik itu memerah ketika mendapat tatapan dari calon mempelai pria.
" Ada ada saja." lirih Mentari sambil menggelengkan kepala,tanpa menimpali celotehan makhluk jadi jadian itu.
Zoya terkekeh,ia kembali memperhatikan apa yang sahabatnya itu lakukan,kemudian tatapannya beralih pada sang calon mempelai pria.
__ADS_1
" Aku dengar Mas nya seorang dokter ya?" tanya Zoya pada seorang pria yang kini tengah berada di antara mereka berdua.
" Iya." Sahutnya.
Deg,,seketika jantung Mentari berhenti berdetak,ia melirik sekilas ke arah pria tersebut,memastikan bahwa orang di hadapannya bukanlah seseorang yang selama ini ia rindukan.
" Bodoh sekali,dia memang buka dokter Faiz." gumamnya dalam hati.
" Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika yang aku dandani sekarang adalah pria yang aku cintai." lirihnya lagi.
Gadis itu tersenyum kecut,dengan segera ia menyelesaikan tugasnya.
" Sudah selesai." ucapnya,kemudian ia langsung membereskan peralatan make up ke tempatnya.
" Baiklah,tunggu di sini sampai acara di mulai." sepertinya Zoya masih merasa nyaman duduk cantik di tempat itu,sementara Mentari sudah tidak enak diam.
" Dokter apa Mas?" tanya Zoya lagi,kepada calon mempelai pria yang di ketahui bernama Bagas.
" Dokter umum." Sahutnya tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis cantik di hadapannya.
" Oh,,kalau dokternya setampan ini,aku mau di suntik tiap hari." goda Zoya sambil menunduk malu malu.
" Tapi dokternya yang tidak mau." gumam Bagas dengan suara pelan.
Hingga akhirnya acara pun di mulai,pernikahan yang di langsung kan di sebuah gedung berlangsung dengan khidmat.
Para tamu undangan sudah mulai berdatangan,termasuk Laras dan beberapa rekan seprofesinya,kedatangannya sontak membuat perhatian semua orang tertuju pada mereka,bagaimana tidak,mereka semua kompak mengenakan setelan rumah sakit lengkap dengan alat medis,seperti stetoskop , tensimeter,ada juga yang membawa suntikan dan yang lainnya.
Mentari tersenyum melihat para tenaga medis yang terlihat sangat keren,perasaannya menggebu gebu,hingga terbesit di hatinya untuk menjadi seperti mereka.
" Apa aku bisa seperti mereka?" tanyanya pada diri sendiri,namun dengan cepat ia menggelengkan kepala,berusaha tersadar dalam lamunannya.
" Jangan Mimpi terlalu jauh Mentari,kau ini siapa? bisa makan sehari tiga kali saja sudah beruntung." lirihnya.
Kemudian pandangannya kembali memperhatikan para dokter yang kini tengah menyalami kedua mempelai,memberi ucapan serta do'a yang tulus untuknya,harapannya kini berubah,ia berharap bisa menemukan pria yang di rindukannya di antara mereka,namun ia masih harus menggigit jari,karena lagi lagi,harapannya tidak terwujud.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
biasakan untuk memberi***kan vote like and komen,,setelah membaca!!
terimakasih, semoga kalian suka,,love you all..😊😊***