
Satria tak terima,ia menolak mentah mentah permintaan Faiz dengan menggelengkan kepala.
" Ada ada saja." ujar pria dingin itu,sambil beranjak untuk menghindari Faiz yang kembali merengek seperti anak kecil yang tengah merajuk meminta mainan baru.
Faiz yang tadinya bersemangat kini kembali merengut sambil tertunduk lemas.
Calon ayah itu langsung mengusap perut sang istri yang duduk di sampingnya,mulutnya terlihat komat kamit, bergumam tidak jelas,seolah memberi pengertian pada calon bayinya dari hati ke hati untuk tetap bersabar.
Membuat semua orang yang berada di sana mengelengkan kepala memperhatikan tingkah lakunya yang aneh.
" Keinginan mu tak masuk akal,Mas!." ujar Mentari.
" Tapi dia yang meminta,aku mendengar bisikannya,dia bilang ' Papa aku ingin sekali memukul Om Satria,tolong lakukan itu untuk ku,sekali saja." ujar Faiz sambil menirukan suara anak kecil.
Membuat semua orang lain tergelak,kecuali Citra yang turut kesal karena sang suami yang harus jadi korbannya.
"Kenapa harus suami ku? dasar aneh, Mentari saja yang hamil masih terlihat santai,kenapa kamu yang ribet?" protes Citra,berhasil menarik perhatian Faiz,pria itu meliriknya sambil tersenyum sinis seolah mencibir.
"Katanya jika suami yang ngidam itu bertanda cintanya pada sang istri sangat besar " balas Faiz.
" Kamu ini dokter,seharusnya bisa berfikir lebih bijak dan masuk akal,paling tidak sesuai dengan ilmu kedokteran yang pernah kamu pelajari,belum ada penelitian yang menyatakan hal semacam itu,bahkan di artikel yang pernah aku baca pun belum ada yang membahasnya." balas Citra.
" Kamu tidak akan tau sebelum merasakanya,walau sudah memiliki dua anak,sebab cinta bang Satria padamu tak sebesar cintaku pada Mentari." sahut Faiz,seolah tak ingat jika ia sendiri pernah begitu mencintai wanita di hadapannya.
Kehamilan Mentari tidak hanya membuat Faiz ngidam,tapi pria itu juga menjadi lebih sensitif,cendrung lekas marah dan mudah menangis,sama persis seperti ibu hamil pada umumnya,ia bahkan tak terima saat Citra mencibirnya.
Begitu juga Citra yang tak mau mengalah,hingga adu mulut pun terjadi.
__ADS_1
" Cinta atau tidaknya itu urusan ku,aku sendiri yang menjalani dan merasakannya,kamu tau apa tentang itu."
Rupanya terdebatan semakin sengit,Umi dan Mentari serta Zahra memilih untuk pergi,sementara dua Al dan Haikal tetap di sana,menyaksikan perdebatan itu dan memastikan siapa yang akan menang, tanpa ada yang mau melerai.
" Tentu saja aku tau,lagi pula mana ada suami yang tak berani menemani istrinya melahirkan,aneh aneh saja,jika aku jadi suami mu,aku pasti akan membantunya mengejan" seroloh Faiz,membuat Bang Haikal tersedak dan menyemburkan minuman dalam mulutnya.
Sebagai pria yang sudah berpengalaman dalam menghadapi istri yang tengah melahirkan,Haikal tentu tau apa yang akan terjadi,oleh sebab itu sebisa mungkin ia memilih untuk tidak memiliki anak lagi,karena tak ingin jadi korban dan pelampiasan saat sang istri tengah berjuang.hanya dengan baby Azzam yang tampan dan memiliki sejuta pesona sejak lahir sudah cukup baginya.
" Apa kamu bilang? bantu mengejan? memangnya bisa,kalau kamu yang mengejan bukan bayi yang keluar." balas Citra sambil terkekeh geli.
"Setidaknya aku akan menemaninya berjuang." sahut Faiz lagi.
" Suami ku memang tak bisa menemani ku melahirkan,tapi dia bisa menunjukan cintanya dari segi lain,dia selalu menuruti ke inginan ku,dia selalu memberikan yang aku mau,dia juga selalu membuatku bahagia,dan dia juga setia,tak pernah menyakiti dan menyecewakan ku,dengan itu semua aku sudah yakin cintanya pada ku sangat besar,dan tak ada yang bisa menandinginya."Citra mulai membusungkan dada, yakin jika ia yang akan memenangkan perdebatan itu.
Namun setelah mendengar hal itu,seketika Faiz menyeringai, ide cemerlang muncul seketika,demi mendapat apa yang dia inginkan,Faiz akan memanfaatkan adiknya itu.
" Yakin,dia akan menuruti keinginan mu?" tanya Faiz dengan wajah seolah tak yakin.
" Tentu saja."
" Kalau begitu buktikan,bilang padanya untuk mau aku pukul." Faiz berhasil membungkan mulut Citra,wanita itu bergeming.
" Gue nyesel udah ngomong kayak gitu." gumamnya dalam hati,tanpa berfikir panjang,Citra pun beranjak,dengan kesal ia melangkah,menghentakan kakinya menghampiri sang suami yang tengah duduk di teras rumah Umi sambil menikmati rokoknya.
Wanita itu langsung mendaratkan bokongnya di sebelah Satria sambil mengerucutkan bibirnya.
" Kenapa?" tanya Satria yang langsung menyadari sikap aneh istrinya itu.
__ADS_1
" Aku kesal sekali pada Faiz." adunya.
" Ada apa lagi?"
" Dia bilang,abang tidak mencintaiku." rengek Citra manja.
" Ah,sudahlah,tidak perlu menghiraukannya." Satria meraih pundak Citra,lalu mengusapnya dengan lembut,untuk berusaha menenangkan.
" Tapi aku kesal,bang! dia membandingkan cintamu dengan cintanya." bukannya tenang Citra malah semakin menjadi jadi,sontak Satria pun merasa terpancing,ucapan Citra membuatnya salah faham,dan mengira jika Faiz masih mencintai istrinya.
" Buktikan padanya jika cinta abang padaku lebih besar dari cintanya pada Mentari." tambah Citra,membuat kesalah fahaman yang sempat merasuki hatinya sirna seketika.
Satria bernafas lega,ia lalu mengangguk seraya tersenyum.
"Rupanya dia belum menyerah untuk mengerjai ku,baiklah aku akan mengikuti permainannya." gumam Satria.
"Bagaimana aku harus membuktikannya?" ujar Satria.
" Abang harus menuruti satu permintaan ku." sahut Citra.
" Apa yang kamu minta,jangankan satu,seribu permintaan pun akan aku turuti."
" Kalau begitu,abang mau kan di pukul Faiz,pleace bang! anggap saja ini demi cintamu padaku,demi harga diri mu juga,ya,bang! abang,sayang mau kan?"
ucap Citra sambil gergelayut manja di lengannya,mengedipkan matanya hendak membujuk,hal itu membuat Satria menghembuskan nafas kasar,ia memutar bola matanya merasa jengah,namun tak ayal ia pun mengangguk.
" Ah,aku lupa jika mereka memang lahir dari lubang sama,pantas saja sama sama menyebalkan." lirih Satri,yang akhirnya mengalah dan pasrah.
__ADS_1
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA,JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTE.