I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab 32


__ADS_3

Selang beberapa lama, seorang dokter ke luar dari ruang bersalin,Satria dan Faiz segera menghampiri hendak menanyakan kondisi sang istri.


" Alhamdulillah,istri serta anak anda selamat dan sehat,silahkan masuk,sebaiknya segera di adzani dulu." ucap dokter tersebut,dengan segera Satriapun masuk lalu mengumandangkan adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri sang bayi.


Setelah itu,beralih menuju ke sang istri.


" Maafkan aku,karena tidak ada di sisi mu saat kamu membutuhkan ku,aku juga tidak bisa menemani mu di sini." bisik Satria dengan penuh sesal.


" Tidak apa apa,aku mengerti." Citra tersenyum sambil membelai wajah sang suami,mengusap air mata yang lolos begitu saja,sebenarnya Satria masih trauma dengan proses persalinan yang di lakukan secara normal,bahkan ia sempat pingsan ketika menemani sang istri melahirkan anak pertamanya dulu,menurutnya lebih baik berada di medan pertempuran dari pada harus menyaksikan sang istri kesakitan hingga mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan, maka dari itu kali ini ia menyarankan untuk melakukan operasi caesar,namun Citra menolaknya.


" Aku mencintai mu." bisiknya lagi seraya menghujani istrinya dengan beberapa kecupan,tanpa menghiraukan para perawat yang masih berlalu lalang di sana.


" Cyra di mana,Bang?" tanya Citra ketika mengingat anak pertamanya.


" Tadi di luar sama Faiz." sahut Satria.


" Syukurlah,akhirnya buronan itu ketemu juga." Citra nampak bernafas lega.


" Ya sudah aku ke luar ya,takut dia kabur lagi." ujar Satria,yang langsung di angguki istrinya.


" Faiz harus pulang dulu,Bang." pamit Faiz sambil menyerahkan Cyra pada Satria.


" Dimana rumah mu?"


" Jalan semar,No 12 kontrakan H.Ilyas." jawab Faiz dengan memberi alamat yang lengkap.


" Awas kalau bohong." Satria mengangkat jari telunjuknya memberi peringatan.


" Gak kok,Bang." Faiz pun pamit meninggalkan klinik tersebut.


Waktu menunjukan pukul 19.30 Faiz baru saja tiba di kontrakan.Dengan langkah gontai dan wajah lelahnya, dokter muda itu berjalan menapaki anak tangga,dan tidak lama iapun sampai di depan pintu kamar kontrakannya,sebelum masuk ia menyempatkan diri untuk mengintip kamar sebelahnya dari balik kaca jendela yang sedikit terbuka,sekilas ia melihat bayangan seorang gadis tanpa jilbab dengan rambut panjang hitam lebatnya,nampak tertidur pulas.

__ADS_1


" Astagfirullah. " Faiz kembali tersadar,ia mengusap wajahnya dengan kasar,dan langsung masuk ke kamar kontrakannya.


" Kau mau makan tidak?" tanya Zoya setelah keluar dari kamar mandi.


" Tidak."


" Kenapa?"


"dokter cintaku belum pulang juga ?" Mentari nampak gusar dan tak bersemangat.


" Dia kerja rodi,gara gara duit untuk makan sebulan habis dalam satu malam." sahut Zoya sambil tertawa puas,sementara Mentari mencebik kesal.


Setelah selesai membersihkan diri,Faiz pun merebahkan tubuh,pandangannya lurus ke depan menatap langit langit rumah,fikirannya melayang entah kemana,mendengar kabar buruk tentang Abi membuat hatinya gelisah,bayangan Abi yang menemuinya lewat sebuah mimpi kembali teringat,firasat buruk muncul begitu saja.Namun dokter itu segera menepisnya ,membuang jauh fikiran negatifnya.


****


" Kamu serius?" seorang pria terperanjat ketika menerima sambungan telepon dari sahabatnya.


" Baiklah besok pagi aku akan kesana." ucap Al,ketika ia baru mendapat kabar tentang keberadaan adik kesayangannya.


" Ayah sedang bahagia?" tanya Shafa dan Marwah yang tengah duduk bersama sang ayah di ruang keluarga,mereka terus memperhatikan ayahnya yang tengah senyum senyum sendiri.


" Iya sayang,ayah sedang bahagia." ucap Al sambil mengecup pipi Marwah,namun tiba tiba Shafa memalingkan wajah,saat Al berusaha mengecup pipinya.


" Ibu!! ayah jahat,dia punya wanita lain?" teriak Shafa berhasil membuat Alvi terkesiap,ibu dua anak yang kini tengah menyiapkan makan malam langsung menghampiri mereka dengan menggenggam pisau di tangannya.


" Mana wanita lainnya?" tanya Alvi sambil melayangkan pisau di udara,membuat Al terperanjat.


" Tidak ! mana ada." Al nampak frustasi,ia melirik kedua gadis kecilnya yang tengah menatapnya tajam.


" Ayah bohong,lihat saja ponselnya!"ujar Shafa, seraya menunjuk benda pipih yang tergeletak di atas meja,dengan segera Alvi pun meraihnya,dan mulai membuka satu persatu aplikasi,mengecek semua pesan dan panggilan.

__ADS_1


Panggilan terakhir yang suaminya lakukan 10 menit yang lalu bersama Satria,dengan foto Citra sebagai wallpaper.


" Tidak ada." Alvi menatap Al dan kedua anaknya bergantian.


" Nama mungkin aku punya wanita lain,sedangkan tiga wanita di rumah ini saja membuatku kelabakan." ujar Al seraya membawa sang istri duduk.


" Bukannya laki laki bisa mempunyai empat wanita,sedangkan ayah baru mempunyai tiga,berarti masih ada satu kali kesempatan lagi." ucap Marwah berhasil membuat orang tuanya membulatkan mata dengan sempurna.


" Shafa,Marwah,dari mana kalian tau soal wanita lain?" tanya Alvi.


" Teman di sekolah ku pernah bercerita,ayahnya selalu menerima panggilan dari seorang wanita,setelah panggilannya terputus ayahnya selalu senyum senyum sendiri,lalu pergi begitu saja."jelas Marwah.


" Tidak lama ayahnya pulang sambil membawa wanita lain ke rumahnya,ayahnya bilang jika laki laki bisa memiliki empat istri." tambah Shafa


" Dan tadi juga ayah bilang,besok akan segera kesana,ayah pasti ingin menemui wanita itu." ucap Shafa.


" Walaupun laki laki boleh memiliki empat istri,tapi aku tidak mau ayah seperti itu,ayah hanya milik kita dan ibu saja,jangan ada yang lain lagi." tambah Marwah,membuat Alvi terkekeh sementara Al menggelengkan kepala tak menyangka.


" Mulai besok,kalian pindah sekolah dan jangan bermain dengan teman itu lagi." ucap Al membuat kedua anaknya menganga.


Ayah dua anak itu langsung beranjak dan pergi meninggalkan ketiga wanitanya.


" Ibu,apa ayah marah?" tanya Marwah dengan mata yang mulai berkaca kaca.


" Ayah tidak marah sayang." Alvi mengusap kepala kedua gadis kecilnya lalu menciumnya bergantian.


" Ibu,ayah tidak akan pergi menemui wanita lain kan?" kini Shafa yang bertanya.


" Tentu saja tidak,ayah hanya milik kita bertiga,kalau berani macam macam kita habisi ayah." Alvi nampak bersemangat sambil mengepalkan tangan ke udara.


" Siap! aku bagian kepala." ujar Shafa tak kalah semangat begitu juga dengan adiknya.

__ADS_1


" Aku bagian perut."


" Oke! ibu bagian bawahnya." sahut Alvi seraya menunjukan senyum jahatnya.


__ADS_2