
" Sudah,tidak usah di fikirkan,hal itu sudah lumrah terjadi pada wanita yang tengah mengalami masa subur,sekali cocok taman langsung tumbuh." ucap Umi membuat Faiz terkekeh geli.
" Faiz hebat kan,Mi!" sahutnya.
" Ya,kamu memang hebat,tapi kehebatan seorang laki laki bukan hanya di lihat dari hebatnya bercocok taman,tapi dari cara merawat dan menjaga ladangnya juga." balas Umi,istilah yang pakaiannya berhasil membuat Mentari tersenyum dan melupakan kegalauanya.
" Malam ini kalian tidur di sini ya,besok pagi kita sarapan bersama,kebetulan Bang Haikal juga sedang ada di sini." ujar Umi,lalu ia menyuruh Faiz untuk membawa Mentari ke kamar.
Esok harinya,seperti kebiasaan di setiap pagi,Umi dan Mentari memasak untuk sarapan bersama.
Sementara Faiz kembali berdiri di bawah pohon mangga,sambil memandangi mangga mangga muda yang tumbuh lebat,seolah melambai lambai,seketika air liurnya menetes,perlahan pertahanannya mulai runtuh,tanpa menunggu lama pria itu langsung memanjat menaiki satu persatu dahan hingga tiba di dahan yang kokoh,ia duduk bertengger sambil menikmati mangga muda yang baru saja ia petik.
Pria itu dengan lahapnya memakan bagian daging buah tersebut, sedangkan kulitnya ia sisihkan dan ia jatuhkan begitu saja ke bawah,hal itu manarik perhatian Al yang baru pulang mengajar,ayah dua anak itu seketika terbelalak saat melihat sampah kulit mangga seukuran gigitan berserakan di jalanan yang ia lalui,lama berdiri sambil menundukan kepala memperhatikan sesuatu yang tak pernah terjadi selama hidupnya,kalau pun bekas kelelawar tentu bentuknya bukan seperti itu,lagipula kelelawar hanya makan buah yang sudah matang,tiba tiba ia merasakan sesuatu menyentuh kepalanya,ia mengaduh saat mendapati biji mangga terjatuh menimpa tepat kepalanya.
Sontak pria itu mendongakan kepalanya,dan lagi lagi matanya semakin membulat sempurna.
" Heii,codot kesiangan!! kamu sedang apa?" teriak Al.
Membuat Faiz yang tengah asyik duduk di dahan pohon, sambil mengayunkan kakinya seketika menolah ke bawah.
Calon ayah itu pun terkekeh,dan langsung turun setelah memetik beberapa buah lagi untuk ia bawa ke bawah.
Al menatapnya heran,sementara Faiz terlihat menyeringai.Ia menunjukan beberapa mangga hasil petikannya ke hadapan Al.
" Temani Faiz makan rujak yuk,bang!" ajaknya,yang langsung mendapat penolakan.
Al mengelengkan kepala dengan cepat,sambil berlalu,namun langkah kakinya kalah cepat,Faiz sudah berhasil mencekal tangannya.
" Kamu kenapa?" tanya Al merasa aneh.
" Temani Faiz,bang! sebentar saja." rengek Faiz,sambil menunjukan sisi manjanya,membuat Al yang memang tak pernah bisa menolak keinginan adiknya itu mengangguk,ia pasrah saat Faiz menarik tangannya ke rumah Umi.
" Tari,tolong buatkan aku sambal rujak!" pinta Faiz pada sang istri.
__ADS_1
Umi dan Mentari yang tengah memasak pun sontak menoleh padanya.
" Ini masih pagi,mas! sebaiknya kau makan dulu,sejak kemarin kau tidak makan nasi." sahut Mentari.
"Ah,aku sedang malas makan nasi." balas Faiz,sambil mengupas dan memotong mangga muda tersebut,kedua pria itu kini sudah mendaratkan bokongnya di meja makan.
" Kalau begitu makan roti saja." ucap Mentari,namun lagi lagi Faiz menolak.
" Aku mau rujak,sayang!!"rengeknya,membuat Mentari tak berdaya,ibu hamil itu melirik pada mertuanya seolah meminta pendapat.
" Buatkan saja,biar nanti bayinya tidak ngiler." sahut Umi,membuat Al yang sejak tadi hanya diam pasrah, kini menatap Umi dengan rasa penasaran yang semakin tinggi.
" Bayi siapa yang ngiler?" tanya Al
" Bayi Faiz lah,bang!" sahut Faiz sambil menyeringai,menaik turunkan alisnya, begitu terlihat menyebalkan,Al pun memutar bola matanya jengah.
" Berapa bulan?" Al nampak semakin penasaran,jiwa keponya seakan meronta ronta.
" Secepat itu?" Al terlihat terkejut.
" Iya lah,bang! Faiz kan setelah menikah langsung unboxing,tidak seperti abang yang harus nunggu jinak dulu." sahut Faiz santai namun penuh cibiran,lagi lagi ia berhasil membuat Al semakin kesal,ayah dua anak itu memalingkan wajahnya,namun sedetik demikian ia kembali menatap Faiz dengan tajam,setelah mengingat saat Faiz dan Mentari tinggal di tempat yang berdekatan,beberapa dugaan tiba tiba muncul dalam benaknya.
" Jangan jangan sebelum menikah kalian...." ucapan Al menggantung,karena tak berani melanjutkannya,sementara Umi langsung menyela sambil menggelengkan kepala.
" Hikam!!" Umi sudah menatapnya dengan nyalang,dengan panggilan yang mampu mambuat pemilik nama ketar ketir,nama yang selalu terdengar horor dan mengandung banyak peringatan.
Seketika nyali Al menciut.
" Maaf,Umi,aku tak bermaksud untuk menuduhnya yang bukan bukan." lirih Al seraya menundukan kepala.
" Abang tenang saja,jika Faiz macam macam,mungkin sekarang kandungan Mentari sudah 7 bulan,atau bisa jadi dia sudah melahirkan." sahut Faiz yang langsung mengerti apa yang di fikirkan kakaknya itu.
Tidak lama sambal rujak pun jadi,Mentari langsung menyerahkannya pada sang suami,Faiz begitu antusias saat menerimanya,ia lalu mencolek sambal tersebut dengan mangga yang sudah ia potong dan menyuapi pada Al.
__ADS_1
" Ayok,bang! coba makan,aku ingin menyuapi abang." pinta Faiz.
" Yang hamil kan Mentari,kenapa kamu yang banyak maunya." protes Al.
" Hal itu memang kerap terjadi,dulu saat Umi hamil kamu pun,Abi yang ngidam." sahut Umi,membuat Al bungkam seketika,pria itu memang paling tidak bisa melawan atau protes pada sang Ibu,hingga akhirnya ia pun membuka mulut walau dengan sedikit dongkol.
" Umi selalu membelanya." lirih Al seolah merajuk,walau dalam hatinya yang paling dalam ia sama sekali tak pernah sedikit pun merasa iri ataupun dengki,terhadap kasih sayang yang selalu Umi tunjukan pada Faiz,meskipun kadang ia memang harus mengalah juga demi menunjukan kasih sayangnya pada sang adik.
Ustadz muda itu nampak ragu,menatap Faiz dengan iba,namun Faiz seolah tak melihat,ia kukuh meminta Al untuk membuka mulutnya,dan mau tidak mau Al pun menurut,seketika wajah tampanya mengerut dengan mata tertutup rapat,saat merasakan asamnya mangga muda dan pedasnya sambel.
Faiz terkekeh puas,saat berhasil mengerjai abangnya,hingga tiba tiba Alvi datang,wanita beranak dua itu langsung panik saat melihat suami tercintanya nampak tak perdaya dengan wajah merah,serta berlinang air mata.
" Ya allah,Bi! kamu ngapain pagi pagi sudah makan rujak?" cicit Alvi,ia lalu menatap Faiz yang masih terkekeh.
" Demi calon keponakan,sayang!" sahut Al.
" Sebagai Om yang baik memang harus seperti itu." sahut Faiz.
"Calon keponakan? Kalau sakit perut bagaimana?" protes Alvi,tanpa mau tau apa maksud dari perkataan suaminya itu.
" Tenang saja,klinik buka 24 jam." ujar Faiz santai.
Dan tidak lama Haikal dan Zahra bergabung,mereka langsung mengeryitkan dahinya saat melihat ada rujak di hadapan Al dan Faiz.
" Sejak kapan rujak di jadikan menu sarapan?" tanya Haikal.
" Sejak sekarang,abang mau juga? ayok coba!" ujar Faiz yang langsung menyuapi Haikal,tak ada kesempatan untuk menolak karena Faiz sudah menjajalkannya ke dalam mulut.
Ekpresi wajah dari dua pria keturan Turki itu hampir sama,membuat Faiz semakin terbahak,seandainya Satria ada di sana,mungkin lebih menyenangkan,kapan lagi bisa mengerjai abang abangnya seperti itu.
" Dasar adik lacnat,aku do'akan semoga anak mu kelak mirip kita." umpat Haikal kesal.
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA,JGN LUPA LIKR,KOMEN DAN VOTE..☺
__ADS_1