
Faiz pun memutuskan untuk segera pamit,ia pergi mengendarai motornya dengan hati dongkol,harapannya untuk bisa pergi berdua menaiki motor,di iringi canda tawa,menghabiskan waktu bersama seharian di dalam perjalanan yang panjang pupus seketika,karena adik ipar lacknatnya itu.
Tiba di kontrakan,ia berpapasan dengan Lutfi yang sama sama tengah memarkirkan motornya di parkiran,mantan dokter itu bertambah geram,ia menatap tajam pada pria yang kini tengah memakai sweater hoodie berwarna biru langit bergambar doraemon itu berjalan santai mendahuluinya tanpa rasa bersalah.
Setelah itu Faiz pun mulai melangkahkan kaki,mengekor dari balakang,tanpa mengalihkan tatapannya.
Ingin sekali ia menghajarnya lagi,namun ia harus bisa menahan emosinya karena tak ingin membuat keributan dan memperkeruh suasana, bahkan mungkin itu akan memperpanjang masalah,baginya yang terpenting sekarang Mentari dalam keadaan baik.
Hingga tiba di kontrakan,ia langsung membereskan barang barang kecil yang masih bisa ia bawa,seperti pakaian dan alat medis,sementara perabotan yang besar seperti kasur dan lemari ia tinggalkan di sana.
Menjelang malam,Zoya baru saja tiba di kontrakan,ia berjalan dengan langkah lebar menuju kamar kontrakannya,berharap jika Mentari sudah ada,rasanya ia ingin sekali mengomeli anak angkatnya itu karena tidak memberitahu tentang kabar bahagianya,namun nihil harapannya sia sia,kontrakan masih terlihat sunyi.
" Maaf,pak dokter! kenapa Mentari belum ke sini?" akhirnya Zoya pun bertanya pada tetangga sebelahnya yang pintunya kebetulan terbuka.
" Mungkin Mentari tak akan kembali ke sini lagi, kak Zoya." sahut Faiz dari dalam kontrakan.
" Loh,kenapa?" Zoya terlihat sedikit kecewa,akhirnya Faiz pun menghampirinya dan duduk di sebuah tempok penbatas antara kamar kontrakannya dan kontrakan sebelah yang berada di teras depan.
" Itu semua gara gara orang itu." ucap Faiz seraya menunjuk ke sebuah kamar kontrakan yang berada di sebrangnya.
" Maksud pak dokter,mas Lutfi?" tanya Zoya heran,setelah melirik ke arah telunjuk Faiz.
" Iya." sahut Faiz,ia mulai menceritakan kejadian beberapa waktu lalu yang membuat Mentari enggan untuk kembali ke kontrakannya.
" Ya ampun,Mentari! malang sekali nasib mu, Nak!" lirih Zoya sambil menutup mulutnya yang menganga.
" Aku tidak menyangka jika laki laki itu ternyata bejat juga,untung saja aku tak jadi monjodohkan Mentari dengannya.kalau itu terjadi sama saja aku menyerahkan seekor ayam pada buaya." ucap Zoya, tak jauh seperti seorang ibu yang merasa iba dengan nasib anak gadisnya.
Faiz terteteh sambil menggelengkan kepala.
" Kalau kak Zoya ingin bertemu dengannya datang saja ke rumah abangku,ini alamatnya." ucap Faiz seraya mengetikan sebuah alamat di hp nya,lalu menunjukannya pada Zoya,dengan segera pria tulang lunak itu menyalinnya.
" Baiklah,besok aku akan menemuinya." ujar Zoya semangat.
" Oh iya,aku di suruh bi Susi untuk mengukur badan mu." ucap Zoya lagi,membuat Faiz mengerutkan kening.
" Untuk apa?"
__ADS_1
" Untuk mencocokan ukuran badan dengan setelan jas yang akan pak dokter pakai nanti."
" Oh..." Faiz mulai mengerti,ia bernafas lega,akhirnya ia pun mengizinkan Zoya menyentuh tubuhnya,dengan segera Zoya mengeluarkan meteran kain dari dalam tasnya,lalu mengerjakan tugasnya.
" Ok,selesai! aku akan menyiapkan gaun dan jas yang special untuk pernikahan kalian." ucap Zoya sambil mengacungkan jempolnya dengan gemulai.
" Terimakasih,kak." balas Faiz,setelah itu mereka pun masuk ke dalam kontrakanya masing masing.
Esok harinya,dalam keadaan pagi pagi buta,Faiz sudah siap hendak pergi,dengan membawa tas ransel serta dus kecil yang ia simpan di depan motor maticnya.
Tak lupa dokter muda yang terkenal dengan keramahannya itu pun pamit pada seluruh penghuni kontrakan termasuk pada pemilik kontrakan.
Malika nampak sedih dengan mata berkaca kaca,saat mengetahui jika Faiz akan pergi dari kontrakan milik orang tuanya, dan tak kalah mengejutkan lagi setelah mendengar kabar jika pria yang di incarnya itu akan segera menikah,lengkap sudah penderitaannya,pupus sudah harapannya untuk mendapatkan cinta dari Faiz.
" Kau ini kenapa sih,dokter Faiz bukan siapa siapa mu,lalu kenapa kau menangis." ujar Ibu sambil berusaha menenangkan
" Aku sudah mengincarnya dari lama bu,saat aku sering mengantar ibu berobat padanya,tapi kenapa aku baru tau jika dia tinggal di kontrakan kita,seandainya aku tau lebih dulu,mungkin ceritanya tidak akan seperti ini." rengek Malika tak terima.
" Namanya jodoh siapa yang tau,sudahlah tidak usah menangisinya,masih banyak pria lain di luar sana yang lebih baik." ujar Ibu kontrakan.
Mentari nampak khawatir saat melihat Faiz yang hendak pergi jauh hanya dengan mengenakan sepeda motor.
" Apa tidak sebaiknya pak dokter minta antar pada bang Satria,atau meminta jemput pada Bang Al." ujar Mentari.
Pria itu langsung menggelengkan kepala.
" Mereka sibuk,aku tidak mau merepotkan mereka lagi,lagian kalau aku naik mobil motorku siapa yang akan bawa." balaa Faiz.
" Kau bisa menjualnya di sini,lalu membeli yang baru di sana." Saran Mentari,namun Faiz masih saja kukuh untuk membawa motor matic kesangannya itu ke kampung halamannya.
" Tidak bisa." ucap Faiz,mau tidak mau Mentari pun mengalah.
" Ya sudah,terserah kau saja." Mentari mengerucutkan bibirnya,membuat Faiz gemas, tak tahan lagi untuk segera merengkuhnya.
" Tidak usah khawatir,aku akan selalu hati hati, do'akan saja agar aku bisa selamat sampai di sana." ucap Faiz sambil mengelus pucuk kepala calon istrinya itu.
" Tentu saja,aku akan selalu mendo'akan keselamatan mu." balas Mentari,masih dengan wajah ragu.Sementara Faiz tersenyum hangat berusaha meyakinkannya.
__ADS_1
" Terimakasih,jaga diri baik baik,jika mereka tidak memperlakukan mu dengan baik,bicara padaku." ucap Faiz seraya berbisik,lalu menengok ke dalam memastikan tidak ada mata mata yang mengintai gerak geriknya.
Setelah di rasa aman,pemuda itu langsung mengecup pipi Mentari sekilas,membuat gadis itu terbelalak.
" Pak dokter!" Cicit Mentari kesal,sementara Faiz terkekeh salah tingkah.
" Maaf,anggap saja itu sebagai bekal untuk perjalanan panjang ku." ujarnya.
Mentari menghembuskan nafas kasar,tanpa mau membalas ucapannya lagi.
Namun tiba tiba PLETAAK,sebuah sentilan keras mendarat di kupingnya,Faiz meringis sambil mengusap kupingnya yang terasa panas.
" Kenapa sih,Bang?" bentak Faiz.
"Sedah berani cium cium,Kamu fikir aku tidak melihatnya? Satria balik membentaknya,membuat pria itu terperanjat,memicingkan mata curiga,padahal ia sudah memastikan terlebih dulu jika situasi telah aman saat ia mengecup Mentari.
Namun kenapa Satria masih bisa mengetahuinya.
Pemuda itu melirik ke sana kemari,mendongakan kepalanya,mencari sesuatu yang mencurigakan namun sayang ia sama sekali tak menemukannya.
" Kamu mencari ini?" Satria menunjuk benda kecil yang menempel pada pintu,yang sempat Faiz kira sebuah lubang intip Namun ternyata itu sebuah cctv,yang sengaja di pasang Satria baru baru ini karena keberadaan Mentari yang akan mengundang kedatangan kucing garong Faiz kerumahnya,berkat bantuan cctv tersebut Satria bisa dengan mudah mengawasinya dari mana pun lewat telepon genggamnya,dan kebetulan kali ini ayah beranak dua itu masih berada di rumah karena masih terlalu pagi.
" Niat sekali,Bang!" lirih Faiz sambil terkekeh salah tingkah, menggaruk kepalanya yang tak gatal,sementara Satria sudah menunjukan taringnya.
" Mau pergi sekarang,atau mau aku bantu dengan tendangan?" ancam Satria dengan sorot mata yang tajam.
" Iya,iya,Faiz pergi sekarang." ucap Faiz sambil berlalu.
" Kasian sekali,bagaimana nasib anak perempuannya nanti,jika memiliki ayah sepertinya,mungkin tidak akan ada pria yang berani mendekati mereka." Gumam Faiz setelah berada di atas motor,sambil memasukan kunci motor.
" Heh bocah,,aku masih bisa mendengar mu!!" teriak Satria dari teras rumah.
Sementara Faiz terkekeh sambil mulai melajukan motornya meninggalkan rumah tersebut.
" Habibati!! aku pergi dulu!! jaga diri baik baik,kita akan betemu di pelaminan!!" teriak Faiz yang masih sempat sempatnya melambaikan tangan.
Mentari tersenyum,ia selalu di buat terharu atas kedekatan antara Faiz dan kakak kakaknya,yang memiliki cara khas masing masing dalam menunjukan kasih sayangnya.
__ADS_1