I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab 45


__ADS_3

Esok harinya Al dan Haikal bersiap mengantar Faiz untuk bertemu keluarga Mentari,tidak lupa Alvi serta kedua anak kembarnya pun ikut supaya ada yang menemani Mentari.


Umi serta Abi dan mbak Zahra mengantar kepergian mereka sampai di teras rumah.


" Hati hati di jalan,segera kembali lagi ke sini." ujar Umi,sambil menciumi kening anak mantu juga cucu cucunya.


" Iya,Umi!" sahut serempak.


Mereka pun mulai meninggalkan pondok pesantren dengan mengunakan mobil mini bus yang di kendarai Faiz, bang Haikal duduk di sampingnya,sementara Al duduk di kursi tengah bersama si kembar,Mentari dan Alvi duduk di kursi paling belakang.


6 jam berlalu,mobil yang di tumpangi keluarga Aljalari itu tiba di depan sebuah rumah yang bersebelahan dengan sanggar,mereka turun dari mobil,dan langsung di sambut hangat oleh bi Susi dan juga Zoya,tidak ada lagi anggota keluarga selain mereka,Bi Susi langsung mempersilahkan mereka masuk,Zoya menyiapkan minuman di atas meja sambil diam diam melirik bang Haikal yang menurutnya sangat tampan dengan hidung mancung serta bulu mata yang lentik,alis tebal juga bulu bulu halus di sekitar pipinya,11 12 dengan Al yang memiliki darah timur tengah.


Setelah berbasa basi,Haikal sebagai anak tertua mewakili Faiz untuk mengatakan maksud kedatangan mereka.


" Maaf,mungkin anda juga sudah tau sebelumnya,maksud kedatangan kami ke sini untuk melamar Mentari untuk adik saya Faiz." ucap Haikal.


" Iya,saya sudah tau,sebenarnya saya tidak berhak untuk melarang,karena Mentari sudah pasti menerimanya,jadi! saya hanya bisa berharap dokter Faiz mau menerima Mentari dengan segala kekuranganya,mencintai dan menjaganya sepenuh hati." ucap bi Susi tulus,sambil melirik Mentari yang tengah tersenyum padanya.


" Aku hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk kalian." tambah bi Susi.


Semua orang mengangguk,begitu juga dengan Faiz,tak banyak yang mereka bicarakan akhirnya mereka pun memutuskan untuk segera pamit,karena tujuan selanjutnya akan membutuhkan waktu lebih lama dan tentunya membutuhkan tenaga ekstra,mendaki gunung melewati lembah,apapun kan di lakukan demi pujaan hatinya.


Perjalanan di mulai,1 jam 2 jam telah di lalui tanpa hambatan,3 jam berikutnya jalanan mulai di terjang kerikil kerikil tajam,mobil yang di tumpangi terasa terguncang,lajunya pun mulai terhambat,lubang buaya menganga di mana mana,pemandangan sisi kanan dan kiri tak seindah bokong aura kasih,melainkan jurang terjal yang akan dengan senang hati mengantar mereka ke surga kapan pun saja.


" Jalan ini mengajarkan Faiz untuk tetap sabar,anggap saja ini sebuah contoh kecil untuk menjalani rumah tangga nanti." ucap Faiz,sambil terus mengemudikan mobil mewahnya,yang kini sudah tak berbentuk.

__ADS_1


" Kamu benar." sahut bang Haikal


" Suatu saat nanti aku akan memperbaiki jalanan ini." gerutu Shafa kesal.


Setelah beberapa jam bertarung melawan jalanan berbatu,kini jalan berbelok serta menanjak menyambut kedatangannya,Faiz masih nampak bersemangat jangan kan jalanan seperti ini lautan api pun akan ia sebrangi,hingga tak lama jalanan kembali normal,pemandangan di sisi kanan dan kirinya kini kebun kebun sayur yang luas dan nampak indah,itu semua menjadi pelipur lara bagi Alvi,ibu dua anak itu nampak lebih bersemangat dari sebelumnya,waktu mulai petang,matahari terbenam,sinarnya berwarna jingga,benda benda terlihat bewarna keemasan.


Faiz memarkirkan mobilnya di depan sebuah warung kecil,mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah, seperti habis melawan raja terakhir,pemuda itu menyenderkan punggungnya di senderan kersi,sementara yang lain turun lalu memesan makanan dan minuman,Alvi lebih memilih untuk menghirup udara segar sore hari,daun daun hijau seolah menjadi obat bius yang memenangkan dan membuatnya rileks.


" Masih jauh?" tanya Alvi pada Mentari,yang tidak pernah menjauh darinya.


" Masih jauh,mungkin bisa 5 atau 6 jam lagi." jawab Mentari ragu,sementara Alvi di buat menganga hingga membulatkan mata.


" Ini sudah hampir malam,apa kita masih bisa melanjutkan perjalanan?" tanya Alvi sambil merilik suami dan kakak iparnya.


" Mungkin kita bisa bermalam di sini untuk malam ini,karena melanjutkan perjalanan di malam hari bukan hal mudah, karena kurangnya penerangan serta jalanan yang tidak memungkin kan." ujar Mentari merasa tidak enak.


Dua Al serta bang Haikal menghembuskan nafas kasar,jika ini bukan karena adik kesayangannya tidak mungkin mereka sudi pergi ke tempat seperti ini.


" Maaf,mau pada kemana Den?" tanya pemilik warung pada bang Haikal dan Al,sementara mereka langsung melirik Mentari untuk memberi jawaban.


" Kami mau ke kampung Cangkudu, Bu!" jawab Mentari.


" Wahh,,masih jauh itu! sebaiknya lanjutkan perjalan besok saja,kalian bisa menyewa tenda di sini. untuk malam ini." ucap pemilik warung menunjukan jiwa marketingnya.


Melihat Faiz yang masih terlelap tidak tega untuk membangunkanya,mau tidak mau mereka pun memutuskan untuk bermalam di sana,memasang tenda di tepi jalan yang mungkin masih jarang di lalui kendaran.

__ADS_1


Si kembar nampak senang,saat mengetahui mereka akan bermalam di sana,piknik dan mendirikan tenda di alam terbuka memang selalu menjadi impian mereka.


Hari semakin gelap,pemilik warung menutuskan untuk segera pulang,dan akan kembali esok harinya,menyisakan keluarga Aljalari dan Mentari di sana,hawa dingin menghasilkan kabut tebal terasa menembus kulit.suara suara binatang malam mengiringi gerak gerik mereka.


Shafa dan Marwah sudah terlelap di dalam tenda,sementara Alvi dan Mentari telah menyiapkan makanan dengan peralatan yang di pinjamkan oleh pemilik warung,begitu juga Al dan Haikal yang tengah mencari kayu bakar untuk membuat api Ungun guna menghagatkan tubuh mereka.


Faiz mulai mengerjapkan mata,sedikit demi sedikit mulai tersadar dari tidurnya,ia memicingkan mata setelah indra penglihatannya melihat dua buah tenda,ia pun langsung keluar dari dalam mobil lalu menghampiri sang kekasih dan kakak iparnya.


" Kita akan bermalam di sini?" tanya Faiz dengan mata berbinar, mengeluarkan asap dari mulutnya karena terlalu dingin,Mentari mengangguk mengiyakan.


" Waahh,,pasti akan terlihat lebih tomantis." seloroh Faiz dengan semangat.


Tidak lama Haikal dan Al kembali dengan setumpuk kayu bakar di tangannya,lalu membuat api ungun,Alvi menghampiri suaminya dengan tubuh yang mengigil,karena kenyataan tak sesuai ekpetasi,mereka bahkan tidak menyiapkan jaket tebal atau apapun yang bisa menghangatkan tubuh.


" Dingin ya,sayang?" tanya Al yang tak segan langsung mendekap sang istri dan menciumi pipi istrinya yang terasa dingin,membuat Faiz yang melihatnya mendesis kesal.


" Masih selalu begitu,dimana pun dan kapan pun." gumamnya kesal.


Sementara Mentari pura pura tidak melihat,sepertinya ia harus membiasakan diri untuk melihat hal hal aneh yang di tunjukan dua pasangan muda,Alvi dan Citra yang selalu menunjukan keromantisan mereka bersama pasangannya tanpa memperdulikan sekeliling.


" Jika tau akan seperti ini,mungkin abang juga akan membawa mbak Zahra." sungut Haikal,Faiz dan Al terkekeh.


"Abang kedinginan juga? sini Faiz peluk." ujar Faiz sambil merentangkan tangan dan langsung mendekat sang kakak dari belakang.


Mentari tersenyum sambil menggelengkan kepala,dokter Faiznya nampak lebih lucu dan manja jika berhadapan dengan keluarga,namun terlihat dewasa dan berwibawa ketika jauh dari mereka.

__ADS_1


__ADS_2