
Selepas makan,Umi mengizinkan Mentari dan juga Faiz kembali ke dalam kamar, berhubung waktu menjelang petang,adzan magrib hanya tinggal menunggu beberapa menit lagi.
Mentari berusaha melepaskan diri dari lilitan tangan Faiz yang kini sudah kembali melingkar di perutnya,Karena ia masih terlalu kesal pada sang suami yang sudah membuatnya malu di hadapan Umi,sedikit memberinya pelajaran mungkin akan membuat Faiz tak lagi ceroboh dan bisa berfikir lebih dulu sebelum bertindak,pasalnya di rumah itu bukan hanya ada mereka berdua.
Masih beruntung hanya Umi yang mengetahuinya,mungkin jika yang lain ? entah lah,apa yang akan di lakukannya saat itu,wajahnya belum cukup tebal untuk menyembunyikan rasa malunya.
Mentari mengabaikannya masih dengan wajah yang masam,membuat Faiz semakin merengek seperti anak kecil yang membutuhkan perhatian.
Mengikuti Mentari kemana pun ia berjalan sambil menarik narik pakaian.
" Tari! kamu tega sekali." rengek Faiz dengan wajah memelas,namun Mentari masih tetap dengan pendiriannya,ia melirik Faiz yang nampak mengiba,mendongakan kepala dengan sorot mata memohon.
"Jangan seperti itu,ku mohon." rengeknya lagi.
Mentari mengurungkan niatnya saat hendak ke kamar mandi,lalu duduk di sofa sambil melipat kedua tangannya di dada.
" Sayang! maaf kan aku,aku benar benar tidak melihat ada umi di sana." jelas Faiz seraya berusaha meraih tangan Sang istri dan menggenggamnya,lalu mengecupnya beberapa kali dan menyusapkannya ke pipi.
Namun gadis itu malah menepiskan tangannya, nampaknya,benteng pertahanan yang di bangun Mentari masih terlalu kokoh dan tak mudah di runtuhkan,ia sama sekali tak memperdulikannya,hingga akhirnya Faiz pun menyerah.
Pria itu memilih pergi untuk melaksanakan shalat magrib sendiri.
Selesai shalat,Faiz ke luar kamar untuk menemui Al hendak membicarakan sesuatu,sekaligus memberi kesempatan Mentari untuk menyendiri, sampai ia mau berbicara dan memaafkannya lagi.
Al yang baru selesai melaksanakan shalat magrib berjama'ah,terpaksa harus meninggalkan para santri yang hendak mengaji.Meninggalkan mereka setelah memberi hafalan terlebih dulu,lalu ia pun menghampiri Faiz yang sejak tadi menunggunya di teras rumah umi,yang tak jauh dari mesjid.
__ADS_1
" Ada pelu apa?" tanya Al
" Maaf,Bang! Faiz mau minta tolong,siapa tau abang kenal dengan tukang bangunan yang bisa mengerjakan proyek dengan cepat." jawab Faiz.
" Tenang saja,yang penting pulihkan dulu kondisi mu." ujar Al.
"Faiz sudah tidak apa apa."sahut Faiz berusaha meyakinkan.
" Ya sudah,besok kita ke lokasi untuk melihat kondisi tanahnya,setelah itu abang carikan tukang." ujar Al,membuat Faiz tersenyum senang,ia memeluk Al sambil menenggelamkan wajahnya di perut Al.
" Makasih,bang! abang memang selalu bisa di andalkan,Maaf Faiz selalu merepotkan abang." Faiz mulai berkaca kaca,sementara Al nampak biasa saja,karena apa yang ia lakukan memang sudah sewajarnya sebagai seorang kakak.
Setelah tak ada lagi yang perlu di bicarakan Al kembali mengajar para Santri,sementara Faiz kembali masuk ke dalam rumah,menemui Abi yang kini selalu berada di dalam kamar,dengan kondisi yang nampak semakin memprihatinkan,setelah acara perikahan Faiz,kondisi tubuhnya semakin melemah,namun pria paruh baya itu memang selalu pintar menyembunyikan masalah dan rasa sakitnya,seolah tak terjadi apa apa,ia tak ingin membebani dan merepotkan anak anaknya,bahkan Umi pun di minta ikut serta dalam aktingnya,kerja keras mereka selalu berhasil menglabuhi anak anaknya,sampai akhirnya mereka percaya jika abi baik baik saja.
" Umi kenapa? tanya Faiz yang masih berdiam di ambang pintu,sambil menengadah menatap wajah Umi.
" Umi tidak apa apa,kamu sendiri ada perlu apa?" tanya balik Umi,yang masih mengenakan mukenanya.
" Seharian ini Faiz belum melihat Abi." jawab Faiz.
" Abi masih shalat,nanti saja,kita makan malam sama sama." ujar Umi,sambil memalingkan wajahnya melirik seseorang yang tengah terbaring di tempat tidur,sementara Faiz tak bisa percaya begitu saja,pria itu memicingkan mata curiga saat melihat Umi sedikit gelagapan.
" Umi tak akan bisa bohong pada Faiz, apa yang sebenarnya terjadi?" desak Faiz,tanpa menunggu jawaban Umi lagi,pemuda itu langsung memutar kursi rodanya sendiri,lalu masuk ke dalam kamar tersebut.
" Astagfirullah,Abi!!" teriak Faiz,langsung beranjak tanpa memperdulikan rasa sakit di kakinya,ia berlari kecil dan langsung menghampiri abi,menaiki tempat tidur dan duduk di sampingnya,begitu juga dengan Umi.
__ADS_1
" Abi,ayo kita ke rumah sakit!!" ajak Faiz,namun Abi langsung menggelengkan kepala.
" Di sini sudah ada dokter yang lebih hebat,jadi untuk apa abi ke rumah sakit?" balas Abi dengan suara serak dan juga pelan,membuat Faiz tak bisa berkata apa apa lagi,ia menggenggam tangan Abi dengan kuat,air matanya tak tertahan lagi,mengalir deras begitu saja membasahi pipi.Ketika melihat Abi yang mulai memejamkan mata dengan nafas tersendat dan mulai tak beraturan.
" Kalau begitu,izinkan umi memanggil anak anak." ujar Umi,membuat Abi kembali membuka matanya,berdiam hendak menimbang nimbang, dan tak menunggu lama Abi pun mengangguk,mungkin ini adalah kesempatan terakhir untuknya,maka sebelum pergi ia ingin berbicara dan melihat seluruh anggota keluarganya,anak menantu dan cucunya terlebih dulu.
Sementara Umi memanggil semua anak anaknya,Faiz menyuruh Mentari untuk membawa tas yang berisi alat medis,tak menunggu lama semua keluarga,termasuk Satria dan Citra pun berkumpul di kamar Abi dengan perasaan yang bergitu hancur lebur,melihat sosok laki laki tangguh yang selalu berada di barisan terdepan untuk membela dan menemani mereka dalam suka dan duka,juga melihat wanita lemah lembut,yang memiliki senyum terindah dan limpahan kasih sayang yang tak ada duanya,kini terisak di atas dada suaminya yang sudah nampak tak berdaya.
" Anak anak ku,kematian tidak ada yang tau,sebelum itu tejadi,Abi ingin meminta maaf,maafkan Abi jika selama ini selalu merepotkan kalian,memberikan tugas tugas dan tanggung jawab yang berat pada kalian,jika nanti abi sudah tidak ada lagi di dunia ini,abi mohon,jangan terlalu larut dalam kesedihan,jangan menangis berlebihan,karena Abi tak membutuhkan itu semua,abi hanya meminta do'a yang tulus dari kalian,karena do'a anak shaleh tak akan terputus, lanjutkan perjuangan Abi bersama sama,tetap teguh pada apa yang sudah abi ajarkan,tetaplah rukun,apapun yang kalian lakukan,allah tetap tujuannya,jadilah imam yang baik untuk anak istrimu,yang bisa membawa mereka ke jalan yang allah ridhoi." Abi melirik satu persatu anak anaknya,lalu menatap Faiz yang masih sibuk memeriksanya.
" Abi akan pergi dengan tenang,karena sudah melihatmu menikah,jadilah laki laki yang bertanggung jawab,jaga dan sayangi istrimu seperti abi menyayangi Umi,jangan coba coba menyakiti fisik dan perasaanya,maaf jika abi tak bisa menyaksikan kebahagaian mu lebih lama lagi." ucapnya dengan suara yang semakin melemah.
Faiz menggangguk tanpa mau menyahut,ia kembali terisak,merasa putus asa setelah memeriksa detak jantung abi yang semakin melemah.
" Abi titipkan Umi pada kalian,tolong jaga baik baik,anggaplah dia sebagai Ibu kandung kalian,temani masa tuanya jangan sampai ia merasa kesepian,sampai waktunya tiba Umi menyusul Abi ke sana." ucap Abi lagi sambil merilik menantunya yang berjejer dengan isakan pilu yang terdengar dari ke empatnya,mereka mengangguk serempak,membuat Abi tersenyum lega,beralih menatap pada cucunya yang masih nampak polos dan tak mengerti,hanya Azzam yang ikut menangis,sebagai cucu laki laki satu satunya sekaligus yang paling besar, bocah 5 tahun berdiri tegak di samping Haikal.
" Jagoan! kamu cucu laki laki satu satunya,Opa minta tolong jaga adik adik perempuan mu,jadilah contoh yang baik,hormati dan sayangi kedua orang tua mu, paman dan juga bibi mu,tumbuh lah sebagai laki laki yang beriman dan bertakwa, bertanggung jawab,tetap istiqomah di jalan allah,jangan mudah terhasut dan terbuai oleh indahnya tipuan dunia." ucap Abi,membuat Azzam menangis semakin kencang,bocah itu menghambur memeluk sang opa.
" Baik ,opa!" sahut Azzam.
Setelah itu Abi terdiam tanpa berucap apa apa lagi,matanya terbelalak dengan nafas tersenggal,melihat hal itu,Al dan Satria langsung menghampirinya memimbing Abi untuk mengucapkan lafadz tauhid,membisakannya di telinga kanan dan kiri,setelah mengikuti arahan dari Al dan Satria,tanpa menunggu lama Abi mulai menutup mata dengan senyum yang terukir di bibirnya,senyum terakhir yang mereka lihat dari wajah tua Abi yang terlihat damai.
***JANGAN LUPA TINGGAL KAN JEJAK SETELAH MEMBACA,DENGAN BERI LIKE VOTE DAN KOMEN...😊😊
thor juga mau ngucapin minal aidzin walfaidzin,mohon maaf lahir dan batin...🙏🙏***
__ADS_1