
" Kening mu kenapa? tanya balik Faiz,sambil memperhatikan wajah Mentari,memicingkan matanya menelisik,serasa ada yang aneh.
" Tidak apa apa dok." Menteri menyembunyikan keningnya yang terluka dengan jilbabnya.
" Sebaiknya di obatin." ujar Faiz.
" Tidak usah Dok,nanti juga sembuh sendiri." tolak Mentari.Gadis itu memang keras kepalanya rupanya.
Faiz membuang nafasnya dengan berat seraya mengangkat bahunya pasrah.
" Ya sudah." ujar Faiz.
Waktu semakin berlalu,Matahari mulai naik ke permukaan awan,menghasilkan hawa hangat yang menusuk ke dalam kulit,angin sepoi sepoi menghempaskan dedaunan kering.
Satu persatu para warga berdatangan hendak melakukan pemeriksaan,semakin siang semakin ramai hingga menyebabkan antrian panjang.
Dokter muda serta asisten cantiknya nampak kewalahan,namun tidak membuat mereka kelelahan.
Faiz masih terus memeriksa pasien dengan benar,sesekali ia menyuruh Mentari untuk membantunya.
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu,kini waktu sudah menunjukan pukul 12.00,setelah memastikan sudah tidak ada lagi pasien,Faiz menyuruh Mentari untuk menutup klinik tersebut untuk sementara.
" Mentari,tolong hangatkan makanan yang tadi kamu masak ya! perutku sudah lapar." titah Faiz yang langsung di angguki oleh Mentari.
" Sebaiknya kamu juga ikut makan." Faiz melipat kakinya dengan bersila di hadapan makanan yang di sajikan Mentari.
" Ayo temani aku makan!!" ajak Faiz lagi,Mentari lagi lagi mengangguk karena perutnya pun memang sudah berdemo meminta makan.
Selesai makan bersama,Mentari pamit untuk pulang,karena harus melaksanakan shalat dzuhur.
" Jangan lama,satu jam lagi kamu harus sudah ada si sini lagi." ujar Faiz.
Mentari pulang ke rumahnya dengan perasaan yang sudah mulai kacau,gadis itu merasa bahwa rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung,menjadi tujuan untuk kembali serta penuh dengan cinta dan kasih sayang itu seolah menjadi neraka dunia baginya.
Terlebih saat melihat ibu yang sudah menunggunya di ambang pintu sambil menggenggam gagang sapu.
" Kamu berhasil lolos dari ku tadi pagi,tapi tidak dengan sekarang." ujar Bu Sri seraya menyeringai,rasanya hidupnya terasa hampa jika tidak di awali dengan memarahi dan menyiksa anak tirinya itu.
Meskipun Mentari tidak melakukan salah,namun bagi bu Sri dengan kelahiran dirinya saja sudah menjadi kesalahan terbesar.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu memukul punggung Mentari menggunakan gagang sapu dengan membabi buta.
Sedangkan Rahayu hanya menyaksikannya sambil sesekali memberi dukungan untuk sang ibu,namun Mentari tidak dapat berbuat apa apa,ia hanya bisa menerima apa yang ibu dan kakak tirinya lakukan dengan menangis.
" Ampuun Bu." lirih Mentari seraya berlutut di kaki sang Ibu,namun itu semua tidak mampu membuat hati wanita paruh baya itu luluh.
" Hajar terus,Jangan dengarkan dia Bu!!" seru Rahayu sambil duduk manis di atas sofa.
" Sudah cukup!! masih ada banyak waktu,ibu tidak mau dia mati dengan cepat." ujar Ibu seraya menaruh sapu di tempatnya kembali.Sementara Mentari keadaanya sudah sangat memperhatikan.
********
Waktu sudah menunjukan pukul 13.30,Faiz sudah membuka kliniknya kembali,dokter muda itu masih terus berjalan ke sana ke mari sambil menunggu Mentari,sesekali ia mengintip dari balik dinding kaca,namun gadis itu belum juga menunjukan batang hidungnya.Pria itu kembali duduk di kursi kerjanya dengan perasaan tidak karuan.Memastikan sudah tidak ada pasien lagi,dengan rasa penasaran yang mulai meronta ronta pria itu memutuskan untuk menghampiri Mentari.
Hanya sepuluh menit berjalan kaki, Faiz sampai di rumah Mentari,alangkah terkejutnya dia saat mendapati
Gadis yang meringkuk di teras rumah.
" Mentari!!" teriak Faiz,pria itu langsung menghampiri Mentari yang sudah setengah tak sadar,Faiz langsung memutar bola matanya,berharap ada seseorang yang bisa membantunya,namun nihil perkampungan tersebut memang belum padat penduduk,sehingga jarak di antara satu rumah dengan yang lainnya masih jarang.
Terpaksa Faiz sendiri yang membawanya ke klinik,Faiz mengangkat Mentari dengan kedua tangannya,dan menggendongnya ala bridal style.
Hingga akhirnya Mentaripun di baringkan di atas brankar, tempat dimana Faiz memeriksa pasien.
" Aku tidak tau apa yang terjadi padanya,saat aku kesana dia sudah tergeletak di teras rumah." jelas Faiz,pada pak Sholeh.
" Ini pasti perbuatan ibu dan kakak tirinya." ujar Pak Sholeh membuat Faiz terkejut.
" Ibu dan kakak tirinya?" tanya Faiz ,seraya memastikan pendengarannya.
" Iya,sejak kecil dia memang sering mendapat perlakuan tidak baik dari mereka." Tambah pak Sholeh.
" Ini tidak bisa di biarkan." ucap Faiz.
"Semua warga di sini sudah mengetahui perbuatan mereka pada Mentari,tapi tidak ada yang berani menegurnya."
" Kenapa?" tanya Faiz penasaran.
" Sebagian tanah di kampung ini milik keluarga Bu Sri,para warga tidak berani berurusan dengannya, karena bu Sri terkenal kejam,dia tidak akan segan segan mengusir siapapun yang mengganggunya." jelas Pak Shaleh,Faiz pun mengangguk dan mulai faham.
__ADS_1
" Kalo begitu saya pamit dulu dok." ujar Pak Shaleh dan setelah itu iapun pergi.
Faiz melirik kembali ke arah Mentari,dimana gadis itu masih setia menajamkan mata,tidak menunggu lama Faiz pun mulai mengobati luka yang ada di wajahnya,ada perasaan iba di hatinya,melihat seorang gadis kecil yang berusia cukup jauh dengannya harus menerima siksaan bertubi tubi semasa hidupnya.
Seketika ia mengingat nasib hidupnya yang jauh lebih beruntung, walau tinggal dengan seorang ibu angkat,namun hidupnya sangat sempurna dengan di kelilingi saudara dan orang tua yang begitu menyayanginya.
Air matanya lolos begitu saja.
Hingga akhirnya rintihan terdengar dari bibir mungil itu.Mentari meringis dengan rasa sakit yang memenuhi seluruh tubuhnya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Faiz.
" Kenapa aku bisa ada di sini?" lirih Mentari.
" Tadi aku melihat mu tergeletak di teras rumah,sebenarnya apa yang terjadi?"
" Tidak terjadi apa apa,aku hanya kelelahan saja." Mentari masih mencoba menyangkal.
" Apa ada yang sakit?"
" Tidak ada." sahut Mentari sambil berusaha untuk bangun,namun rasa sakit itu tak bisa ia sembunyikan lagi.
Gadis itu meringis sambil memegang punggungnya.
" Biar aku lihat." ujar Faiz,mulai menyibakan pakaian Mentari,namun dengan cepat gadis itu Melarangnya.
" Tidak usah Dok." tolak Mentari dengan wajah yang bersemu merah.
" Tidak perlu malu,aku dokter,sudah menjadi tugasku,jangan anggap aku sebagai pria." ujar Faiz yang langsung mengerti ketakutan Mentari.
" Kamu tenang saja,di luar masih banyak orang,aku harus segera mengobatimu,agar mereka tidak terlalu lama menunggu." ucap Faiz lagi,dan akhirnya gadis itupun mengangguk.
Faiz mulai menyibakan pakaian Mentari,hingga memperlihatkan bagian punggung putih dan mulus,namun selain itu semua Faiz kembali terbelalak dengan luka yang tidak hanya satu,bahkan hampir memenuhi bagian punggungnya.
" Apa yang mereka lakukan padamu?" Faiz menatap tajam gadis depannya,meresa geram dan tidak habis fikir.
" Mereka siapa?" tanya balik Mentari.
" Tidak usah berpura pura,aku sudah tau semua!!" bentak Faiz geram,hingga Mentari terhentak dan langsung menundukkan kepala.
__ADS_1
Karena tidak mendapat jawaban,Faiz pun kembali mengobati luka di punggung Mentari,dan setelah itu ia menyuruhnya untuk beristirahat.