I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab.83


__ADS_3

Menyelang pagi,sinar bulan berganti matahari,warna jingganya perlahan mulai muncul ke permukaan,menghangatkan penduduk bumi,cahayanya menyorot lewat sela sela gorden kamar rahasia itu.


Mentari sudah nampak lebih segar,ia mengerjakan tugasnya seperti biasa,mencuci pakaian,mencuci piring,membersihkan kamar tersebut dan memasak.tak seperti wanita hamil pada umumnya,hal itu membuatnya semakin yakin jika dia memang tidak sedang mengandung.


Sementara Faiz,masih terkulai lemas di atas tempat tidur,setalah beberapa kali merasakan gejolak dalam perutnya,bahkan ia kini tak bisa mencium bau masakan sang istri.


karena tempat tidur dan tempat masak menyatu,hanya terhalang meja bar kecil dan meja makan, otomatis bau masakannya menyeruak memenuhi ruangan,meskipun sudah memasang cooker hood.


Faiz kembali ke kamar kecil,berusaha mengeluarkan sesuatu dalam perutnya,namun nihil tak sedikitpun yang keluar.


" Mas! sebaiknya kau periksa ke dokter." titah Mentari merasa khawatir.melihat sang suami seakan tersiksa.


Faiz hanya mengangguk,dan kembali ke tempat tidur,menutup hidungnya dengan bantal,melihat hal itu Mentari akhirnya mengalah,ia mematikan kompornya dan membiarkan masakannya begitu saja,lalu berjalan menghampiri suaminya.


Lama berdiam diri di sana,sampai pagi berganti siang,Faiz mulai beranjak,hendak membersihkan diri,dalam kamar mandi ia kembali muntah muntah saat mencoba menggosok gigi,rasanya ada yang aneh,tidak seperti biasanya,bau pasta giginya terlalu menganggu indra pencimannya, ia bahkan tak bisa berlama lama di sana.


Selesai dengan ritual mandinya,pria itu langsung ke luar dengan tubuh yang terlihat lebih segar,tetesan air dari rambutnya masih mengalir menyusuri tubuh indahnya.


Pria itu menghampiri sang istri yang kembali berkutat dengan kompor dan wajannya,melingkarkan tangan di pingang Mentari dan mengecupi ceruk lehernya, namun seketika matanya membulat saat ekor matanya melirik apa yang tengah istrinya aduk di dalam wajan,tubuhnya meremang,hingga bulu kuduknya berdiri.


" Tari!! apa yang kamu masak?" teriak Faiz membuat sang istri terkejut,pria itu langsung berlari ke kamar mandi dan kembali muntah muntah.


" Mas! kenapa sih?" Mentari di buat Frustasi,ia lalu memberikan segelas teh jahe hangat pada Faiz.


" Kamu masak apa?"tanya Faiz yang baru keluar dari kamar mandi,sambil mengusap bibirnya.


" Hanya nasi goreng,memangnya kenapa?"


" Rasanya aku geli melihatnya." ucap Faiz seraya bergidik.


" Geli bagaimana sih,Mas! bukanya kau suka?"


" Ya,tapi entahlah,kamu makan sendiri saja ya,aku tunggu di sini,kita ke bawah sama sama." ujar Faiz seraya mendaratkan bokongnya di tepi tempat tidur,membiarkan sang istri makan sendiri,Mentari pun terpaksa menurutinya,ia makan dengan perasaan sedikit dongkol.


Tak menunggu lama,Mentari memghabiskan makanannya,mereka langsung keluar dari kamar tersebut,dan berjalan bersama menuruni anak tangga,hendak menemui dokter.

__ADS_1


Berhubung jam praktek dokter kandungan tengah berlangsung,mereka memutuskan untuk memeriksa kondisi Mentari terlebih dulu.


Kedua pasangan suami istri itu kini baru memasuki ruangan,dan lagi lagi Faiz merasakan gejolak di perutnya,ia langsung berlari ke kamar kecil yang berada di dalam ruangan dokter kandungan tersebut,membuat Mentari dan dokter wanita itu terheran heran.


"Rani, Tolong periksa istriku!" titah Faiz pada dokter tersebut.


" Jangan lama lama,pastikan saja hamil atau tidak,jangan banyak penjelasan,aku tidak kuat dengan bau ruangan mu." lirih Faiz,dengan wajah yang sudah terlihat pucat.


Dengan segera dokter kandungan bernama Rani itu meminta Mentari berbaring,dan mulai memeriksanya.


" Kapan terakhir datang bulan?" tanya Rani di sela sela kegiatan pemeriksaan.


" Sekitar tiga atau empat bulan lalu,dok! aku tidak tau pastinya yang jelas sebelum menikah." jawab Mentari yakin.


" Kenapa baru periksa?"


" Aku lupa,sejak dulu memang haid ku tidak teratur,terkadang sebulan dua kali,bahkan tidak sama sekali,jadi aku kira itu hal yang biasa. " tutur Mentari,sementara Faiz sudah menenggelamkan wajahnya di meja dokter,dengan tubuh yang semakin lemas,tanpa ingin menemani sang istri.


" Sudah coba pakai alat tes kehamilan?"


Dokter muda itupun tersenyum,setelah menyelesaikan pekerjaannya,ia membantu Mentari bangun.


" Ya, selamat ya Faiz,istrimu hamil,perkiraan kandungannya sudah 16 minggu." ucap Dokter muda tersebut dengan cepat, jelas dan singkat.


Menyadari jika Faiz sudah tak berdaya,pria itu mengangkat kepalanya,menatap Rani dengan tatapan seolah tak percaya.


" Kamu yakin?" tanyanya.


" Ya,jika mau kita bisa langsung melakukan USG,tapi sepertinya kondisi mu sedang tak memungkinkan." ucapnya.


" Ya sudah,tunggu apa lagi USG saja,aku sudah tidak sabar ingin melihatnya." ujar Faiz antusias,sementara Mentari masih bergeming,ia tak mengerti,kenapa usia kandungannya bisa lebih dari usia pernikahannya.


Padahal ia menikah satu hari sebelum Abi meninggal,dan baru beberapa hari ke bekalang acara 100 harian Abi,kenapa dia sudah mengandung 16 minggu,yang artinya 112 hari.


Belum sempat bertanya,Faiz sudah menyuruhnya untuk kembali berbaring,hendak melakukan USG.

__ADS_1


Mentari pun menurutinya,selama proses USG Mentari sama sekali tak memperhatikan apapun yang di jelaskan dokter,ia menatap layar yang menunjukan janin yang masih berbentuk kacang itu dengan tatapan kosong.


Lidahnya terasa kelu beberapa pertanyaan tersimpan dalam benaknya,tanpa bisa ia keluarkan.


Fikiran negatif menyusup ke dalam hatinya,bayangan yang selama ini berusaha ia lupakan kembali masuk ke dalam memori ingatanya,saat dimana Lutfi menyentuhnya,Mentari mulai menitikan air mata.


Ketakutan mulai menyerangnya.


Gadis itu semakin terisak,dengan segera Faiz memeluknya,isakannya bahkan sempat di salah artikan.


" Terimakasih,sayang! terimakasih." ucap Faiz dengan mata berbinar,sambil menciumi seruluh wajahnya.


" Kamu merasakan mual dan muntah itu mungkin di sebabkan karena kehamilannya,hal itu di sebut sindrom couvade atau kehamilan simpatik,itu memang kerap terjadi pada beberapa suami.


Kamu sabar saja,tidak akan lama." jelas Rani.


Setelah merasa cukup dengan penjelasan yang Rani berikan,Faiz pun membawa Mentari kembali ke kamarnya.


" Mas!!" lirih Mentari,dengan suara bergetar.


" Ya,sayang!"


" Kamu percaya padaku,kan?"tanya Mentari sambil menatap serius pada suaminya.


" Percaya apanya?"tanya balik Faiz merasa tak mengerti.


" Kamu percaya padaku kan,Mas! kamu tidak meragukan janin di dalam kandungan ku,kamu yakin dia anak mu kan,Mas?" Mentari kembali menitikan air matanya,membuat Faiz semakin tak mengerti.


" Tari! apa maksud mu,tentu saja aku percaya,dan aku yakin anak dalam kandungan mu adalah anak ku,memang mau anak siapa lagi,aku sendiri pelakunya."sahut Faiz sambil menangkup wajah Mentari,dan membawa tubuh sang istri ke dalam dekapannya.


" Tapi, mas! usia kandungan ku lebih dari usia pernikahan kita,apa kau tidak curiga?"


" Kenapa harus curiga,sayang! aku yang mengambil kecusian mu,kamu sendiri yang mencuci bekasnya,apa yang mesti di ragukan,sudahlah jangan di fikirkan,hitungan dokter memang seperti itu."


Ucapan Faiz tak mampu membuat Mentari tenang,ia takut jika anggota keluarganya yang lain tak sependapat dengan Faiz,dan malah menuduhnya yang tidak tidak,ketakutan itu hampir saja membuatnya frustasi,hingga ia tak ingin bertemu dengan Umi dan yang lainnya.

__ADS_1


TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA,JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA...😊😊


__ADS_2