
Selesai sarapan Satria membantu memandikan kedua anaknya,sementara Citra menghampiri Rahayu yang tengah mencuci pakaian di teras belakang rumahnya,Ibu dua anak itu langsung memicingkan mata ketika melihat Rahayu tengah memperhatikan kemeja putih milik Satria,sesekali ia pun mengendusnya.
" Kenapa,Yu?" tanya Citra membuat gadis itu tersentak,ia lalu menyerahkan kemeja yang di genggamnya itu kepada Citra.
" Anu Mbak,ini,aku lihat noda lipstik di kerah kemeja mas Satria." ucap Rahayu sambil menunjuk noda warna merah berbentuk bibir,membuat Citra seketika membulatkan mata,ia meraih kemeja tersebut dengan sedikit kasar,netranya menelisik memastikan apa yang di ucapkan Pembantunya itu.
" Kamu benar." gumam Citra seraya mengepalkan tangan,meremas kemeja yang masih di genggamnya dengan kuat ,saat itu juga dadanya nampak kembang kempis menahan emosinya yang mulai meluap,ia lalu menatap Rahayu dengan mata penuh amarah dan juga kebencian,namun sedetik kemudian amarahnya kembali mereda,dalam hati ia tertawa sinis,saat melihat bibir Rahayu yang terlihat lebih merah di banding sebelumnya,warna merah di bibirnya nyaris sama dengan noda merah yang ada pada kemeja Satria.
" Ide yang konyol,sayang sekali, padahal usianya masih muda,tapi kenapa masih memakai cara lama? mungkin dia belum berpengalaman." gumamnya dalam hati.
" Aku juga mencium wangi parfum asing di situ." tambah Rahayu dengan yakin,raut wajahnya yang lugu menunjukan seolah terjadi sesuatu yang tidak beres pada majikan laki lakinya.
" Oh,ya?" Citra semakin tertarik mengikuti permainan Rahayu dengan apik tanpa menimbulkan curiga,dengan polosnya ia pun mengendus pakaian kotor itu,dan memang benar aroma parfum asing dan parfum yang selalu satria kenakan bercampur menjadi satu dengan keringat, membuat Citra sedikit pusing dan mual.
Wanita itu langsung menutup hidungnya sambil melempar kemeja tersebut ke dalam mesin cuci.
" Mbak Citra tidak apa apa,kan?tanya Rahayu panik sambil mengusap punggungnya,dengan cepat Citra pun menggelengkan kepala.
"Aku tidak apa apa,tapi sepertinya suami ku tidak mungkin suka dengan bau parfum itu." ujar Citra.
" Benarkah?" Rahayu langsung bergeming,seolah memikirkan sesuatu.
__ADS_1
" Ya,suami ku tidak suka dengan wangi yang menyengat,jadi dia tidak mungkin mau berdekatan dengan wanita yang memakainya,lagi pula parfum yang memiliki bau menjijikan seperti itu pasti murah." ucap Citra dengan sedikit menarik sudut bibirnya.
" Suami ku lebih suka parfum sekelas gucci atau DG seperti yang sering aku pakai,sudah di pastikan wanita yang memakainya pun berkelas,tidak murahan seperti wanita yang memakai parfum murah itu,tapi parfum murah seperti itu memang lebih pantas di pakai wanita murahan." seroloh Citra,membuat Rahayu terbelalak.
" Bagaimana,kamu setujukan? jika seorang wanita bisa di ibaratkan dengan sebuah parfum?"
" Ya, aku setuju." sahut Rahayu seraya menganggukan kepala.
" Parfum mahal tidak sembarang orang memilikinya, untuk mendapatkannya saja perlu waktu dan usaha yang tidak mudah,bahkan memerlukan proses penelitian yang cukup panjang,tak hanya itu, bahan dan kandungan yang ada di dalamnya pun berkuliatas tinggi, di kemas dalam botol yang cantik, wanginya tahan lama dan akan selalu di kenang sepanjang waktu,tempat penyimpanannya pun tak sembarangan,parfum mahal akan di simpan di dalam kamar dan di pajang cantik dalam lemari yang terkunci.
Sementara parfum murah? ahh,,,kamu sendiri pasti tau lah." ujar Citra seraya mengibaskan tangannya,secara tidak langsung kata kata yang diucapkannya begitu menohok,hingga membuat wanita yang berada di hadapannya semakin terpojok.
Puas dengan Rahayu,Citra pun berlalu,kembali ke dalam rumahnya,menghampiri suami dan kedua anaknya yang kini sudah nampak rapi dan juga semakin cantik,ulah sang ayah yang telaten mengurus dan juga menandaninya.
" Iya dong,siapa dulu ayahnya." ucap bangga Satria yang langsung mendapat hadiah berupa kecupan di bibirnya,tepat saat Rahayu muncul.
Dengan sengaja Citra pun mengalungkan tangannya dengan posisef seolah menunjukan bahwa satu satunya pria yang ada di rumah itu hanya miliknya.
" Anak anak sudah kamu mandiin,sekarang giliran aku." ujarnya dengan manja,membuat Rahayu yang melihatnya semakin panas dingin.
Di tambah saat melihat Satria tersenyum tipis sambil mendaratkan kedua anaknya di lantai,tanpa menunggu lama tangan kekar yang selalu membuat Rahayu themor itu mengangkat tubuh Citra dengan sekali gerakan tanpa terlihat kesulitan, lalu membawanya ke dalam kamar,tak hanya itu kekehan halus yang keluar dari mulut Citra terdengar seperti sorakan mengejek,mata Rahayu seketika berkabut,merasa tertusuk namun tak terluka,ada yang sakit tapi tak berdarah,dadanya sesak tapi bukan serangan jantung.
__ADS_1
Ia terus memperhatikan kedua pasangan itu dengan tatapan nanar,hingga keduanya hilang di balik pintu kamar.
Setelah itu Rahayu melirik kedua bocah yang tengah menengadah ke atas, sambil menatap wajahnya dengan tatapan tak tak mengerti.
Matanya yang berkabut berubah menjadi nyalang,iapun langsung manarik tangan kedua bocah kecil itu dengan sedikit menekan kukunya yang panjang,dan membawa mereka ke taman belakang,tanpa belas kasihan Rahayu menghempaskan tubuh keduanya hingga tersungkur,jeritan dari keduanya seketika pecah,tak sampai di situ Rahayu mulai melayangkan tanparan,namun untung saja Satria datang di waktu yang telat,ia segera mencekal tangan Rahayu dan menariknya.
"Kurang ajar, Berani kamu menyakiti anak ku?" geram Satria dengan suara beratnya.
" aku bahkan bisa lebih dari ini jika mas Satria terus menerus menunjukan keromantisan kalian di hadapan ku." balas Rahayu,Satria hanya bisa mengangkat sudut bibirnya membentuk senyum sinisnya.
" Memangnya kenapa? apa masalah mu,dia istriku,dan ini rumah ku,aku bebas melakukan apapun dengannya,dan kamu harus ingat dengan pisisi mu di rumah ini,sekali lagi aku melihat mu berbuat kasar pada anak anak ku,maka aku tak akan segan untuk membunuh mu."tegas Satria dengan penuh penekanan.
Ia pun langsung membawa ke dua anaknya pergi,namun lagi lagi ucapan Rahayu berhasil menghentikan langkahnya.
" Aku sadar dengan posisiku,tapi mas Satria juga sudah tau bagaimana perasaan ku,jika mas Satria memang tak bisa membalasnya,setidaknya tolong jaga perasaan ku."lirih Rahayu,membuat Satria terkekeh sambil menggelengkan kepala tak menyangka.
" Untuk apa?tak ada gunanya juga aku menjaga perasaan mu,karena ada yang lebih berhak dari itu semua, yaitu perasaan istriku,jadi lupakan perasaan mu,atau aku akan mengusirmu dari sini."
" Jika mas Satria berani mengusirku dari sini,aku tidak akan segan segan untuk menghabisi anak dan istrimu." ancam Rahayu,membuat Satria semakin geram.
" Sebelum kamu melakukannya,aku yang akan lebih dulu menghabisi mu." balas Satria,setelah itu ia pun berlalu membawa kedua anaknya pergi,dengan emosi yang semakin menggebu.
__ADS_1
TERIMASIH SUDAH MEMBACA ,JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA 😊