I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab.98


__ADS_3

Usai memakai pakaian Citra menghampiri suami serta kedua anaknya di dapur,kedua balita itu masih nampak lahap menikmati makanan dari tangan sang ayah,Citra pun duduk di samping Satria sambil memperhatikan kebersamaan mereka,tanpa di duga kelopak matanya terasa hangat, cairan bening menggenang di pelupuk mata,rasa haru kembali menyusup dalam benaknya,beruntung nasib kedua anaknya jauh lebih baik di banding dirinya, bisa mendapat kasih sayang yang begitu besar dari seorang ayah,adalah hal yang tak pernah ia dapat seumur hidupnya,meskipun Orang tua Alvi sudah memperlakukannya seperti anak sendiri,namun rasanya tetap berbeda.


Tak ingin berlama lama larut dalam lamunan, dengan segera ia menyekanya.


Satria yang menyadari hal itu langsung menatapnya,sorot matanya seolah bertanya.'kenapa'


Citra pun kembali menunjukan senyumnya sambil menggelengkan kepala,seolah tak terjadi apa apa.


" Enak ya,makanannya?" tanya Citra pada kedua balita itu, berusaha mencairkan suasana,yang tadi sempat terganggu.


" Hmmm.."sahut


Cyra sambil mengangguk dengan mulut yang masih penuh,balita itu selalu nampak menggemaskan hingga Citra tak bisa untuk tidak menciumnya.


" Bunda juga mau dong!!" ujarnya lagi dengan menirukan suara anak kecil,ia membuka mulutnya meminta untuk di suapi.


Bukanya makanan,Satria malah menyumpal mulut Citra dengan bibirnya,hingga ibu muda itu terperanjat dan refleks menggigitnya.


" Iihh,,Bang!!" rengeknya manja,Satria terkekeh sambil mengusap bibirnya yang berdenyut.


" Makannya nanti,bareng sama aku." ucap Satria.


Cyra dan Sara pun sudah nampak kekenyangan,gadis kecil itu menolak saat Satria hendak menyuapinya lagi.


" Cyra enyang." celoteh Cyra sambil menggelengkan kepala juga menutup mulutnya rapat rapat.


Akhirnya Satria pun membantu mereka untuk turun dari kursi,dan membiarkan mereka bermain di depan televisi.


Sehingga pesangan suami istri itu pun akhirnya bisa menikmati makan malamnya berdua,tanpa gangguan peri peri kecilnya.

__ADS_1


Citra nampak antusias dengan makanan sederhana yang di sajikan sang suami,ia begitu semangat untuk segera menyantapnya,dan akhirnya satu suapan berhasil masuk ke dalam mulut,namun belum sempat ia menelan,makanan tersebut malah kembali ke luar,Citra langsung beranjak,hendak memuntahkan makanan tersebut.


" Bun!!" seru Satria panik,saat melihat Citra berlari menuju washtafel.


" Kamu kenapa?" tanya Satria sambil membantu memijat tengkuknya,Citra segera menggelengkan kepala seraya menyeka bibirnya.


" Makanannya gak enak ya?" tanya Satria lagi,dan lagi lagi Citra menggelengkan kepala.


" Gak kok,bang!" sahut Citra,ia kembali duduk di kursi semula hendak melanjutkan acara makannya,namun lagi lagi perutnya terasa mual,hingga akhirnya makanan dalam piring hanya ia aduk aduk,melirik sang suami ada rasa tak enak yang menyerang perasaannya.


" Kok,gak makan,bun?" tanya Satria.


" Perut ku lagi gak enak,bang!" sahut Citra malas.


"Ya sudah, makanannya jangan di mainin,bun! sayang,kasih kucing saja." ujar Satria yang kini sudah berhasil menghabiskan makanannya,lanjut iapun membereskan piring piring kotor itu dan langsung mencucinya.


Ibu muda itu menundukan kepala,isak tangis semakin terdengar,membuat Satria seketika menoleh padanya.


" Maaf ya,Bang!" lirihnya,langsung menabrakan diri ke tubuh sang suami,menenggelamkan wajahnya di dada bidang Satria.


Membuat pria itu semakin tak mengerti,ia lalu menangkup wajah sang istri hingga mata mereka saling bertemu.Satria menatap mata merah dan sayu itu dengan lekat.


" Kenapa?" lagi lagi suaranya terdengar begitu lembut dan menenangkan,Citra di buat semakin tak bisa jauh darinya,seolah apa yang ada dalam diri Satria sudah menjadi candunya.


" Aku sayang kamu,bang!" hanya kata itu yang berhasil terucap,matanya berbinar,di tambah dengan gaya manjanya,membuat Satria semakin gemas,ia memcubit hidung mengecup bibirnya sekilas.


" Dasar lebay." balasnya,lanjut Satria kembali menyelesaikan pekerjaannya,membilas piring piring yang sudah ia cuci.


"Iihhh,,Aku serius,bang!" rengeknya.

__ADS_1


Ia pun langsung melingkarkan tangannya di perut Satria,sambil menenggelamkan wajahnya di punggung tegap berotot itu.


Satria menggelengkan kepala sambil mengelus dada,entah kenapa sikap sang istri terlihat sedikit aneh akhir akhir ini,moodnya pun gampang berubah ubah.


" Bun,kamu ketempelan setan dari kampung ya?" canda Satria,Citra mendelik kesal,ia langsung mengigit punggung itu dengan gemas,hingga Satria meringis.


" Sssttt,,auuu!! ampun bun!" teriak Satria,hingga akhirnya Citra melepaskan gigitannya.


" Udah bibir terus punggung,lama lama daging ku abis,kamu gigit terus." seloroh Satria,namu Citra tak menyahut.


Walau pun kesal,namun itu semua tak mengurungkan aksinya dengan terus menerus menggelayuti Satria yang kini tengah berjalan menuju lemari pendingin,mengambil beberapa buah dan membawanya ke ruang keluarga,dimana anak anaknya tengah anteng menonton si kembar yang rambutnya tak pernah tumbuh.


Cyra dan Sara sontak menoleh pada sang ibu yang masih terus mengekor di belakang sang ayah seraya melingkarkan tangannya,hal itu berhasil menarik perhatian Cyra dan Sara untuk mengikuti apa yang bundanya lakukan,hingga akhirnya mereka pun berdiri berjejer di balik punggung sambil mengaitkan tanganya di pinggang sang ibu.


" Naik teleta api,tuuuttt tuuuuttt tuuuut." celoteh Cyra membuat Citra dan Satria terbahak bersama.


" Kalian fikir ayah sama bunda main kereta keretaan?" tanya Satria yang sudah mendaratkan bokongnya di atas sofa,lalu membawa ketiga wanitanya untuk duduk bersama.


" Kalau gak mau makan nasi,setidaknya harus makan buah." ucap Satria sambil mengupas buah jeruk dan apel yang di bawanya tadi,lalu menyerahkan buah tersebut pada Citra.


" Makasih ya,bang!" Citra menerimanya dengan senang hati,lalu membalasnya dengan sebuah kecupan bertubi tubi,sementara kedua anaknya masih melongo dengan tatapan polosnya.


" Kalau di buat asinan,enak kali ya." ujar Citra sambil memperhatikan potongan buah jeruk yang ada di tangannya, Satria seketika menoleh padanya dengan tatapan heran.


" Nama ada jeruk seperti itu di bikin asinan,seumur hidup aku belum pernah menemukannya,yang ada juga jeruk bali,tapi sekarang belum musim,kalau mau aku buatkan salad saja." ujar Satria, dengan cepat Citra menolak,Satria sudah cukup bekerja keras untuk hari ini.


"Manisnya sisain untuk besok dong,bang! hari ini aku sudah Operdosis gara gara terlalu banyak dapat sikap manis dari kamu,bisa bisa aku beneran kena diabets." seloroh Citra,membuat Satria terkekeh.


TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA,JGN BOSEN YA,DAN JGN LUPA JUGA LIKE KOMEN DAN VOTENYA..😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2