I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab 28


__ADS_3

" Jangan kan tinjuan,pukulan atau bahkan tusukan pun aku ikhlas menerimanya,jika pada akhirnya aku bisa mendapat apa yang aku mau." Balas Faiz dengan santai,membuat Lutfi tercengang tak mampu membalas.


" Aku sudah mendapatkannya,jadi hentikan usaha anda. " ucap Faiz lagi sebelum ia pergi.


Sepanjang hari Faiz melakukan pekerjaannya,Walaupun dokter muda itu terkenal ramah,Namun hari ini aura nya begitu berbeda,wajahnya semakin berseri mengikuti hati yang tengah berbunga.


Orang yang tengah jatuh cinta efeknya sama seperti orang yang terlalu banyak meminum wine,membuat mabuk dan bertingkah aneh.


Bahkan sensasi nya seperti ketagihan obat terlarang,semakin banyak waktu yang di habiskan bersama orang yang di cintai, maka semakin nyaman dan semakin berat juga untuk melepaskan.


Begitu juga yang di rasakan Faiz,dokter muda itu terus saja menatap langit langit bercat putih itu dengan senyum yang terus tersungging,sampai ia tidak menyadari kedatangannya sesorang di ruanganya.


" Senyum senyum sendiri,gak kering tuh gigi." ucap Laras yang kini tengah duduk di hadapannya,sambil menatap heran.Lagi lagi Faiz hanya tersenyum dan memang sikapnya terlihat aneh.


" Kau sudah makan?" tanya Faiz yang langsung mendapat gelengan kepala.


" Ayo kita makan!aku akan menelaktir mu sepuasnya." ajak Faiz sambil berjalan mendahuluinya,dengan rasa penasaran yang tinggi akhirnya Laras pun mengekor dari belakang.


" Mau makan apa?" tanya Faiz antusias,tak biasanya,seharusnya yang mendapat makan gratis yang terlihat antusias namun ini sebaliknya.


" Aku mau soto betawi,nasi dan es jeruk saja." ucap Laras ketika mereka sudah sampai di kantin klinik berlantai dua itu.


" Yakin itu saja?" tanya Faiz yang mendapat anggukan kepala.

__ADS_1


" Oke." mereka langsung memesan makannya masing masing,Faiz nampak memakan makananya dengan lahap,sangat berbeda dengan biasanya,dan itu membuat rasa penasaran Laras tidak bisa tertahan lagi.


Dokter cantik itu mencoba menanyakan hal apa yang membuat dokter muda itu berbeda, namun jawabannya sungguh menyakitkan,hingga membuatnya tak berselera untuk makan,makanan yang di pesannya hanya ia mainkan.


Laras tersenyum getir saat Faiz menceritakan kejadian semalam dengan begitu antusias.


Padahal sejak dulu ia sudah berusaha menetralkan perasaanya,mencoba menghilangkan perasaanya,sebagai wanita cerdas ia tidak ingin terlalu ambisius untuk mendapatkan pria di hadapnnya, bisa dekat dengan Faiz sudah cukup baginya, iapun sudah menyiapkan hati jika hal semacam ini terjadi,Namun semua usahanya sia sia,kenyataan itu terlalu menyakitkan,hingga ia tidak bisa menahan sakit yang terasa begitu perih di hatinya.


" Maaf Faiz,aku harus pergi." ujar Laras sambil beranjak,iapun langsung berlari tanpa menghiraukan teriakan Faiz.


Dokter muda itu masuk ke dalam toilet,dengan memegang dadanya yang nyeri dan terasa sesak,ia menutup mulut dengan kuat agar isakannya tak terdengar saat merasakan sakit yang mendalam di hatinya.


Sama halnya dengan jatuh cinta,patah hati bisa mengakibatkan orang bereaksi tidak rasional,gejalanya pun sama seperti seseorang yang berhenti mengkonsumsi obat yang membuat candu.Dampak patah hati memang tidak bisa di sepelekan,sementara itu,mengobati patah hati juga tidak mudah, menenangkan diri juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar.


Dokter cantik itu memutuskan untuk pulang lebih dulu.


Waktu yang di tunggupun akhirnya tiba juga,dengan tidak sabar Faiz meninggalkan ruangannya,ia berjalan menyusuri setiap ruangan dan menuruni anak tangga satu persatu sambil bersiul,dokter muda itu sempat mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang selalu meminta tumpangan,bukan untuk memberi tumpangan,melaikan hanya untuk sekedar pamit. Namun karena tidak menemukanya,ia pun segera pergi meninggalkan parkiran klinik tersebut menuju tempat di mana kekasihnya bekerja.


Tidak memakan waktu lama,pria itu tiba di depan sanggar rias,bi Susi langsung menyambut kadatangannya dengan hangat,seperti sedang menyambut klien.


" Mari Mas,salahkan masuk ! barangkali mau lihat lihat dulu setelan dan gaun yang cocok untuk acara pernikahannya." ucap Bi Susi ramah,membuat Faiz kikuk,ia mengusap tengkuknya sambil berjalan mengikuti Bi Susi,pria itu terus mengedarkan pandangan mencari dimana wanitanya berada.


Hingga pandangannya terhenti pada sosok gadis yang tengah memenami calon mempelai pria,Mentari membantu memakaikan pakaian yang akan di kenakan saat acara pernikahan nanti, sementara Zoya menemani calon mempelai wanita.

__ADS_1


Mentari sedikit menyentuh dada dan pundak pria itu, hendak merapikan pakaiannya,hal itu berhasil membuat Faiz sedikit kesal,Namun ia tidak ingin menciptakan masalah dalam hubungan yang baru seumur toge.Pria itupun berusaha menghilangkan kesalah fahamanya.


Nampak Mentari pun tersenyum sambil menganggukan kepala saat pria itu mengatakan sesuatu,tanpa menyadari tatapan tak bersahabat dari sang kekasih.


" Mentari!"


" Iya Bu?" gadis itu menoleh pada wanita yang telah memanggil namanya,jika di jam kerja Mentari memang memanggil adik dari bapaknya itu dengan sebutan ibu agar terlihat lebih profesional,tanpa memandang status nya yang memang masih berkerabat dekat.


" Tolong temani mas itu!" titahnya sambil menunjuk seorang pria yang masih mematung dari kejauhan.


Mentari mengeryitkan dahinya sambil menghampirinya dengan ragu.


" Pak dokter ada perlu apa?" tanya Mentari sedikit berbisik,ia kemudian melirik jam yang menempel di dinding sanggar itu, masih menunjukan pukul 16.30 belum saatnya dia pulang.


" Klien datang kok nanya nya gitu." jawab Faiz sambil menampilkan senyum menggodanya.


" Maksudnya?" tanya Mentari masih tidak mengerti.


" Pilihkan pakaian yang cocok untuk aku kenakan di pernikahan kita nanti." titahnya sambil berjalan melewati Mentari yang masih bergeming,seperkian detik Mentari kembali tersadar,ia berjalan mengikuti Faiz yang tengah melihat lihat gaun pengantin berbagai model yang pastinya terlihat sangat cantik dan elegan.


" Gaun mana yang ingin kamu pakai di acara pernikahan kita nanti?" pertanyaan Faiz berhasil membuat rona merah di pipi Mentari,gadis itu tersenyum sambil menundukan kepala.


" Atau kamu sudah punya rancangan sendiri?" tanya Faiz lagi, yang langsung pendapat gelengan kepala,Namun tanpa ada yang tau Mentari diam diam memang sudah memiliki bayangan gaun pengantin idamannya.

__ADS_1


__ADS_2