
Akhirnya satu hari rasa sewindu itu pun berhasil di lalui,kini Satria dan Citra sudah sampai di parkiran bangunan kontrakan hendak menjemput Mentari,Ibu dua anak itu masih tak percaya jika ternyata keberadaan Faiz masih berada dekat di sekitarnya,tapi kenapa mereka sulit sekali menemukannya.
" Aku sibuk,tidak punya waktu lagi untuk mencarinya." sahut Satria ketika sang istri menanyakan hal itu.
" Iya aku tau,untung saja aku melahirkan di waktu dan tempat yang tepat." ujar Citra,setelah itu mereka pun sampai di depan pintu kamar kontrakan Mentari.
" Sudah siap?" tanya Citra saat melihat Mentari muncul dari balik pintu.
" Sudah Mbak." sahut Mentari sambil menganggungkan kepala.
" Ya sudah kita berangkat sekarang." ajak Citra lagi,Mentari pun mengangguk lalu berpamitan pada Zoya,pria bertulang lunak itu tak lagi bisa menahan air mata saat melepas Mentari pergi,sama persis seperti seorang ibu yang kehilangan anak gadis nya.
" Zoya! jangan menangis,aku tidak akan lama di sana." ucap Mentari sambil mengusap air mata di pipi Zoya,sementara Citra dan Satria nampak sedikit risih saat melihat interaksi dua makhluk itu.
" Kalian terlihat sangat dekat." ucap Citra ketika berhasil membawa Mentari.
" Iya,kami memang sangat dekat,mungkin aku sudah menganggapnya sebagai kakak sekaligus ibu." balas Mentari,seraya tersenyum hangat.
" Hah,ibu? Citra menganga tak percaya.
" Iya." balas Mentari terkekeh,sedangkan Citra menggelengkan kepala.
" Bagaimana bisa,kamu hidup dengan makhluk planet luar seperti itu." gumam Satria pelan,namun masih terdengar jelas oleh kedua wanita yang berada dalam satu mobil itu.
Mentari enggan menjawab,baginya Zoya tetap yang terbaik,meskipun banyak yang memandangnya sebelah mata.
Satria mulai melajukan kendaraannya, membelah jalanan yang begitu ramai,suara klakson terdengar saling bersahutan,Cyra masih nampak anteng duduk di bekalang bersama Mentari,sedangkan Sara bayi yang baru beberapa hari lahir nampak terlelap di gendongan sang Ibu.
" Pondok kita bagaimana kabarnya ya,Bang?aku takut rumah itu habis di makan rayap." ucap Citra membuat Satria tergelak.
" Sepertinya kamu sayang sekali pada pondok itu,padahal aku sudah membelikan mu rumah yang lebih bagus dan layak." balas Satria.
"tentu saja, Bagiku tidak ada yang lebih bagus dari pondok itu,bagaimana pun tempat itu sudah menjadi saksi pertama cinta kita."bisik Citra sambil sedikit memiringkan tubuhnya ke kanan.Satria tersenyum sambil menarik tubuh sang istri,lalu mencium pucuk kepalanya,setelah itu ia kembali ke posisi awal setelah menyadari keberadaan seseorang di belakangnya.
Mentari terlihat salah tingkah,ia memalingkan wajah pura pura tak melihat,tapi ia begitu terharu saat melihat Satria yang memperlakukan istrinya dengan sangat baik,bahkan wajah garangnya terlihat manis saat berhadapan dengan Citra.
Iya yakin sifat Faiz tidak akan jauh berbeda dari Satria karena tumbuh dan besar dengan didikan yang sama.
Setelah menempuh jarak yang cukup jauh hingga menghabiskan waktu selama 6 jam dengan keadaan normal tanpa terjebak macet.Akhirnya mereka pun sampai di depan gerbang pondok pesantren megah dengan interior bergaya ala timur tengah,Mentari tak henti hentinya berdecak kagum saat mobil Satria mulai memasuki kawasan pondok walaupun ini bukan yang pertama kalinya ia datang ke tempat itu ,namun karena dulu ia hanya seorang asisten MUA yang tengah mengerjakan pekerjaannya jadi ia tidak sempat untuk melihat sekelilingnya, hingga akhirnya mereka pun sampai di pekarangan rumah Abi.
__ADS_1
Semua keluarga telah berkumpul di teras rumah Abi,hendak menunggu kedatangan mereka,tanpa mereka ketahui ada kejutan besar yang Satria bawa.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Abi yang tengah di duduk di kursi roda.
"Alhamdulillah kami baik, Abi bagaimana?" balas Satria.
" Alhamdulillah,sudah lebih baik." sahut Abi.
Satria menyalami kedua orang tua angkatnya terlebih dahulu,lalu beralih pada bang Haikal dan juga Al.Begitu juga dengan Citra.
Umi,Alvi dan mbak Zahra nampak antusias menyambut Cyra dan baby Sara,ketiga wanita beda usia itu saling berebut untuk bisa menggendongnya.
" Cucu Oma cantik semua ya!" seru Umi sambil mencium gemas pipi Cyra,sementara mbak Zahra menggendong Sara,sedangkan Alvi memilih untuk mengalah,ia malah berbincang asyik dengan Citra.
" Iya lah,cucu Oma yang paling ganteng cuma aku saja,tidak akan ada yang lain." sahut Azzam yang kini berusia 5 tahun,semua orang yang berada di sana tergelak saat mendengar ucapan percaya diri dari Azzam,namun seketika anak itu merengut ketakutan dan bersembunyi di balik bokong sang ayah saat melihat Satria yang menurutnya menakutkan.
" Faiz mana?" tanya Satria.
" Dia sedang di kamar,entah kenapa sejak kamarin dia jadi lebih banyak diam." sahut Al,Satria terkekeh saat mendengarnya.
" Bun!!" panggil Satria pada sang istri,wanita itu menoleh,lalu menganggukan kepala saat mendapat isyarat dari sang suami, setelah itu ia berjalan menuju mobil,dan tak lama seorang gadis cantik berwajah bulat keluar dari sana.
" Mentari,ikut juga?" tanya Alvi nampak tak percaya,namun sedetik demikian ia tersenyum senang.
" Siapa gadis ini?" tanya Umi penasaran.
" Jangan bilang kalau kamu ingin mengenalkan istri muda mu." canda Bang Haikal.
"Tentu saja tidak,dia Mentari kekasih Faiz."
" Apa!!" semua orang yang berada di sana nampak terkejut,terkecuali dua Al yang memang sudah mengetahui sejak awal.
" Dasar anak itu,sudah berani mengencani anak gadis orang,panggil dia ke sini!" titah Abi,rsut wajah Mentari mulai berubah,ia nampak gugup dan khawatir, takut jika mereka akan marah dan tidak merestui hubungannya.
" Ayo,masuk dulu!" ajak Umi,mereka semua pun menurutinya dan duduk di sofa berukuran besar di ruang depan.
" Ada apa,Mi?" tanya Faiz setelah Haikal menyusulnya,
Ia keluar dengan langkah gontai,kemudian duduk di sebelah Al tanpa melihat orang di sekililingnya,wajahnya nampak kusut dengan ranbut acak acakan,begitu juga dengan baju serta sarung yang melorot karena terpakai asal asalan,terlihat sangat menghawatirkan.
__ADS_1
Satria sampai harus menutup mulutnya rapat rapat agar tidak tertawa.Sementara Mentari masih nampak gugup dan tak mau mengangkat wajahnya,melirik pria yang ia rindukan pun terasa berat.
" Faiz,ada yang bisa kamu jelas kan tentang ini." ucap Umi sambil melirik gadis cantik berpipi bulat itu.
Faiz nampak mengerutkan kening tak mengerti, matanya mulai mengikuti lirikan Umi,dan saat itu juga ia membulatkan mata dengan mulut terbuka lebar,ia juga sempat mengucek matanya,lalu berlari menuju kamarnya hendak mengambil kacamata.
" Kenapa anak itu?"tanya Al,semua orang mengangkat bahu tak mengerti.
Tak lama ia kembali dengan kacamata yang sudah tersangkut di hidung mancungnya,ia juga sempat membenarkan sarungnya yang sedikit melorot sebelum berjongkok di hadapan Mentari yang masih menunduk.
" Tari?" tebaknya,setelah memastikan indra penglihatannya tak bermasalah.
Tari sedikit mengangkat wajahnya,ia sedikit menarik sudut bibirnya,setelah itu kembali menunduk.
Pria itu mulai merentangkan tangan hendak memeluk,untungnya Citra dan Alvi yang memang tengah duduk di sebelah Mentari langsung mendorongnya dengan kencang hingga ia terjungkal ke belakang.
" Faiz!!" kini Abi dan Umi serta ketiga kakaknya memberi tatapan tajam padanya,Faiz menjadi salah tingkah,ia terkekeh sambil berusaha bangun,lagi lagi ia membenarkan sarungnya sebelum kembali duduk di samping Al.
" Bisa kamu jelaskan,siapa gadis ini?" tanya Umi lagi,setelah Faiz duduk dengan nyaman.
" Dia Mentari,Umi!" jawab Faiz, sorot matanya tak lepas dari gadis yang sudah berhasil membuatnya gila.
" Ambilkan kain,tutup matanya!" titah Abi,Azzam segera berlari,tidak lama bocah kecil itu pun kembali dengan membawa kain sarung yang entah dari mana ia dapat.
" Ini,opa!" ucapnya dengan semangat.
" Tutup matanya!"bocah itu langsung menutup mata sekaligus wajah dokter muda itu,sementara Faiz memilih diam dan pasrah.
" Dia pacar mu?" tanya Abi lagi.
Faiz nampak bergeming,tidak berani menjawab,begitu juga dengan Mentari yang mulai gemetar,hingga Alvi mengusap punggungnya berusaha menenangkan,sepertinya sofa yang mereka duduki terasa terguncang karena getaran yang di hasilkan Mentari.
" Maaf,Bi!" lirih Faiz,sambil menundukan kepala.
" Besok kalian menikah." keputusan final,tanpa bisa di ganggu gugat.
" Siap,Bi!" sahut Faiz repleks,dengan semangat yang membara.
Sementara Mentari membulatkan mata tak percaya,bagaimana bisa? ini terlalu cepat,bahkan ia belum menyiapkan gaun pengantinya.
__ADS_1