I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab.110


__ADS_3

Malam pun tiba,dua Al dan Haikal beserta Zahra telah kembali ke pondok,mereka langsung menemui Satria dan Citra di rumah Umi.


Dan kini ketiga pasangan itu tengah duduk di sebuah gazebo yang berada di taman belakang rumah orang tuanya,sambil berbincang membahas pekerjaan dan rencana kepindahan Haikal dan Zahra ke Kairo,mereka juga masih setia menunggu adik terkecilnya yang sampai sekarang belum juga menampakan batang hidungnya.


Saat itu juga tak lupa Citra diam diam mengambil kesempatan untuk menginjak jempol kaki Zahra,berharap bisa tertular dan segera menyusul jejak Zahra untuk memiliki anak ke tiga sesuai keinginan Satria.


Menyadari hal itu Zahra langsung melirik Citra,di balik cadar yang di kenakanannya ia pun tersenyum.


" Yakin nih,mau punya baby lagi?"tanya Zahra membuat Citra terkekeh salah tingkah.


" Yakin mbak,kejar target mumpung masih muda." sahut Citra.


"Masih muda sih,tapi kalau tiap tahun turun mesin apa tidak cepat rusak tuh?" timpal Haikal,sambil memasang wajah julidnya,membuat Citra sedikit tersinggung,raut wajahnya seketika berubah muram,menyadari hal itu Satria pun tak tinggal diam,ia langsung menyahut dengan gayanya yang santai.


" Tentu saja tidak,karena aku selalu menservice nya dengan baik." imbuhnya,sambil sesekali menyesap rokok yang terjepit di sela sela jarinya.


Haikal tersenyum sinis seolah mencibir.


"Tetap saja,yang namanya sudah turun mesin,tentu harga jualnya akan menurun."


" Memang siapa yang akan menjualnya?" balas Satria sedikit meninggikan nada suaranya,hal itu sontak membuat semua orang tersentak,sementara Haikal malah terkekeh tanpa rasa bersalah,ia lalu menepuk bahu Satria.


" Santai bro,aku hanya bercanda." ujarnya.


Satria pun menghela nafas kasar,sambil membuang muka.


Sedangkan Al hanya memperhatikan keduanya tanpa mau membuka suara,sesekali ia terlihat menggelengkan kepala,merasa tak habis fikir dengan tingkah abang dan sahabatnya itu, yang jarang sekali bisa bersikap akur,seolah tak sadar dengan usianya masing masing.


" Sudahlah,apa kalian tidak malu dengan usia kalian sekarang, bukan waktunya lagi untuk saling meledek,seperti anak kecil saja." Pekiknya dengan suara tertahan.

__ADS_1


' Sepertinya di antara ke empat putra Abi, dia lah yang paling waras.' Fikirnya.


" Jangan bawa bawa usia." ucap Satria dan juga Haikal secara bersamaan,seraya melayangkan tatapan tajam pada Al,seketika keduanya saling melirik,lalu kembali membuang muka,dan kali ini para istri yang menggelengkan kepala sambil mengulum bibirnya untuk menahan tawa.


" Manis sekali." seru Alvi ketika melihat kekompakan Satria dan Haikal barusan.


Citra dan Zahra pun mengangguk setuju,hingga obrolan pun berlanjut,dan kali ini para istri yang lebih dominan membuka obrolan dengan antusias di selingi canda dan tawa, menikmati momen bersama yang memang sangat jarang terjadi,Citra mencurahkan semua keluh kesahnya kepada Zahra dan juga Alvi tentang kondisi tubuhnya yang semakin hari semakin tak bisa di ajak bekerja sama,bahkan ia sempat frustasi dengan keadaannya sekarang,untung saja Zahra dan Alvi bisa bersikap bijak,hingga nasehat baik dan motivasi serta dukungannya mampu mengurangi sedikit rasa terpuruknya.


"Jangan buang waktu mu untuk sibuk memikirkan omongan tidak penting tentang penampilan mu,bilang pada diri mu sendiri bahwa gendut bukan berarti tidak cantik." ujar Zahra.


" Kalau ada yang bilang kenapa Lu bisa gendut?jawab saja karena mulut Lu di pakai buat makan,bukan buat ngomongin orang." tambah Alvi.


Citra pun mengangguk faham,dan setelah lama menunggu akhirnya orang yang di tunggu pun datang.


"Rupanya kalian di sini." ucap Faiz,ia langsung menyalami Satria dan juga Citra,kemudian duduk di kursi yang masih kosong.


" Bagaimana kabar kalian?" tanya Citra sambil memeluk Mentari.


Citra dengan antusias langsung mengambil alih baby Razka dari gendongan Mentari.


" Uuuuhhh,,,lucunya,kamu gak bobo,hmm?" dengan gemas Citra menciumi pipi gembil baby Razka yang kini sudah berusia 2 bulan itu.


" Dia baru saja bangun,mbak! makanya kami telat datang ke sini karena harus menunggunya bangun dulu." jelas Mentari.


" Oh,ya sudah,lagi pula kasihan juga kalau tidurnya terganggu." sahut Citra.


" Anak anak dimana?" tanya Faiz.


" Sudah tidur di kamar Umi." sahut Satria.

__ADS_1


Faiz memajukan bibirnya hingga berbentuk O tanpa mengeluarkan suara.


Hingga tiba tiba mereka di kejutkan oleh kedatangan seseorang yang membuat Mentari dan Faiz terbelalak.


Rahayu yang baru bangun tidur,dengan percaya dirinya menghampiri mereka semua hendak menawarkan minuman dengan maksud tertentu,tanpa ia ketahui jika di sana terdapat dua orang yang di kenalinya.


" Kak Ayu!" Mentari nampak terkejut seraya beranjak dari duduknya,sama halnya dengan Mentari, Rahayu pun nampak terperanjat,ia terpaku di tempat,menatap seseorang yang selama ini ia benci.


"Tari!!" lirih Rahayu merasa tak percaya,jika kini mereka kembali di pertemukan dengan keadaan yang memalukan,bagaimana bisa seorang Rahayu yang dulu menjadi anak emas yang selalu mendapat apapun yang dia inginkan,kini nasibnya berubah drastis dengan menjadi seorang Asisten rumah tangga.


Seketika Rahayu menundukan kepala,ia merasa malu saat harus bertemu dengan Mentari yang kini berpenampilan lebih rapi dan juga terawat.


" Kak Ayu!!" Mentari mulai melangkahkan kaki,lalu berhambur memeluk kakak tirinya itu.


" Bagaimana kabar kak Ayu,kenapa bisa ada di sini,di mana ibu?" tanya nya,namun Rahayu tak menyahut,ia hanya bisa diam,tanpa mau membalas pelukannya,saat itu juga ia pun melirik laki laki yang berdiri tak jauh dari sana tengah menatapnya dingin,tiba tiba saja muncul rasa iri yang menyusup dalam hatinya,hingga tanpa diduga iapun mendorong tubuh Mentari dengan sangat kasar hingga wanita beranak satu itu terhempas kebelakang,untung saja Faiz berberak cepat dengan segera ia mendekat tubuh istrinya.


" Ternyata sikap mu belum berubah juga." ujar Faiz sambil melayangkan tatapan tajam, membuat suasana berubah serius,Citra dan Satria nampak tak mengerti, begitu juga dengan yang lainnya.


" Kalian saling mengenal?" tanya Citra.


" Dia kakak tirinya Mentari,siapa yang membawanya ke sini? kenapa dia bisa ada di sini." tanya Faiz dengan suara berat,nampaknya ia pun sedikit kesal,seolah merasakan luka lamanya tergores kembali,mengingat bagaimana buruknya perlakuan gadis itu kepada sang istri,dulu ia memang tak bisa banyak bertindak karena keadaan yang tak memungkinkan,mengingat ia hanya seorang tamu di desa itu,tapi kali ini ceritanya beda,Rahayu sendiri yang datang ke tempatnya,sehingga Faiz bisa lebih leluasa membuka suara dan melayangkan protes.


Mendengar hal itu Citra langsung menutup mulutnya,ia juga tak percaya denga apa yang di ucapkan Faiz barusan.


Ibu dua anak itu pun mulai teringat akan kisah yang pernah Faiz ceritakan dulu,tentang hubungan yang tidak baik antara Mentari dan ibu juga kakak tirinya.


" Aku yang membawanya ke sini,karena dia bekerja di rumah ku." jelas Citra,membuat Mentari dan Faiz samakin terbelalak.


" Kamu yakin?" tanya Faiz.

__ADS_1


" Iya." sahut Citra.


" Aku hanya memberi saran,sebaiknya segera kembalikan dia ke tempatnya semula, sebelum kamu menyesal." ujar Faiz,membuat semua orang mengerutkan kening tak mengerti,kemudian papa muda itu menarik tangan sang istri dan membawanya kembali duduk tanpa menghiraukan Rahayu.


__ADS_2