
Waktu menunjukan pukul 03.00 dini hari,suasana pondok mulai ramai,para santriwan santriwati saling bersahutan membaca Alqur'an di tempat yang berbeda, seraya menunggu waktu shalat subuh.
Mentari mulai membuka matanya,sedikit demi sedikit mengumpulkan nyawa sebelum beranjak dari tempat tidur,setelah cukup lama ia mulai terbangun dan langsung memakai jilbabnya,lalu keluar hendak menuju kamar mandi yang terletak di samping asramanya, masih terdapat beberapa santriwati mengantri di sana.
Mentari mengalah,ia membiarkan para santri memakai kamar mandi terlebih dulu,mungkin mereka sedang terburu terburu karena harus melaksanankan shalat subuh berjamaah.
Setelah cukup lenggang,gadis itu pun mulai masuk dan membersihkan diri lalu melaksakan shalat di dalam asrama.
Matahari mulai menyingsing dari upuk timur,suara bising dari para santriwati yang baru selesai melaksanakan shalat subuh,lanjut mengikuti kegiatan belajar yang di gurui Mbak Zahra, mulai terdengar riuh,gadis itu keluar lalu tersenyum saat berpapasan dengan para santri,mereka pun membalas menyumannya dengan ramah.
Mentari mulai melangkahkan kaki hendak menuju ke kediaman utama milik calon mertuanya,matanya nampak berbinar,manggumi bangunan bangunan megah yang pernah ia lalui sebelumnya saat berjalan bersama Umi kemarin.
Hingga akhirnya Mentari sampai di teras rumah Umi,dengan ragu ia mulai mengetuk pintu,tak lama seorang pemuda muncul dari balik pintu masih dengan muka bantal dan sepertinya belum sepenuhnya sadar .
" Assalamu'alaikum." sapa Mentari,membuat Faiz terhentak,pamuda itu tersenyum sambil mengusap tengkuknya.
" Wa'alaikum salam." jawabnya.
" Baru bangun?" tanya Mentari.
" Iya,semalaman aku gak bisa tidur,setelah shalat subuh baru bisa." jelas Faiz seraya mengusap sudut matanya,berharap tidak ada sesuatu yang memalukan di matanya.
Mentari mengangguk Faham,ekor matanya melirik pemuda di depannya, setelah itu kembali menunduk sambil sedikit mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Mau masuk?" Faiz sedikit melangkah,memberi ruang untuk Mentari agar bisa masuk ke rumah.
" Uminya ada?" tanya Mentari ragu.
__ADS_1
" Ada di dapur,kalau tidak mana mungkin aku mengijinkan mu masuk." ucapnya,membuat Mentari tersipu malu,gadis itu mulai melangkah dan masuk ke dalam rumah Faiz.
" Padahal sebenarnya aku ingin sekali mengajak mu masuk,walaupun tidak ada orang." gumamnya,gadis itu tertegum seraya memicingkan mata,Faiz tersenyum sedikit gelagapan.
" Aku bercanda,tapi kita memang pernah tinggal berdua dalam satu tempat yang sama kan?malah kita sudah sering menghabiskan waktu bersama di sana." goda Faiz sedikit berbisik.
" Itu bukan tinggal bersama,tapi hanya bekerja."ralat Mentari saat mengingat ketika mereka masih bertugas di klinik yang berada di kampungnya.
" Kalian membicarakan apa?" ujar Umi sambil melipat kedua tangannya di dada,sepertinya wanita paruh baya itu sudah memperhatikan mereka sejak tadi di ambang pintu yang menghubungkan ruang makan dan dapur.
Faiz tertawa kecil sambil menggaruk alisnya karena gugup.Pemuda itu langsung melarikan diri sebelum mendengar teriakan sang Ibu,sementara Mentari menghampirinya dengan sedikit ragu namun setelah melihat Umi tersenyum,keraguan itu hilang seketika.
" Sini Nak! umi sedang masak u tuk sarapan,kamu bisa masak?"Umi mengajak calon menantunya ke dapur.
" Sedikit." jawab Mentari.
" Baguslah kalau begitu tolong bantu Umi." titahnya,dengan senang hati Mentari pun mengangguk dan menurutinya.
Para pria mulai berdatangan,Faiz pun kembali dengan wajah segar serta rambut basahnya dan pastinya sudah wangi,bahkan Satria dan keluarganya pun sudah hadir,mereka sarapan bersama sambil membahas beberapa urusan pekerjaan.
Selesai sarapan,mereka melanjutkan obrolannya di halaman belakang,sambil menggelar tikar dan duduk lesehan menikmati teh dan makanan ringan,seraya mengawasi anak anak yang berlarian dengan riang.
" Jadi kapan mau melamar Mentari untuk Faiz?" tanya Faiz yang sudah mulai tidak sabar.
" Tunggu Satria kembali ke kota."jawab Al
" Kapan abang balik ke kota." Tanya Faiz lagi.
__ADS_1
" Mungkin seminggu lagi." sahut Satria.
" Hah! seminggu lagi? cangkul Faiz bisa karatan jika harus menunggu selama itu." lirih Faiz,membuat semua orang yang berada di sana saling lirik satu satu sama lain merasa tidak mengerti.
Di banding yang lain,kinerja otak Al lebih cepat bekerja, tidak menunggu lama ia mulai faham ,saat ingin membuka suara Shafa dan Marwah berhambur menghampirinya dan mereka duduk di pangkuannya.
Mendengar kata cangkul Al teringat tentang lagu anak anak,refleks ia mengajak ke dua anak kembarnya bernyanyi.
" Cangkul,cangkul,cangkul yang dalam,menaman jagung di kebun kita." ujar nya, yang lansung di ikuti oleh ke dua anak kembarnya.
" Paman Paiz udah gak tahan, pengen cepet buka cangkulnya buat gali lobang surga." ucap Al,membuat si kembar kebingungan.
" Paman Faiz mau meninggal?" celoteh Marwah dengan wajah lucunya,Al tertawa sambil menciumi pipi anak kembarnya.
Sementara itu semua orang menatap tajam pada Faiz.Pemuda itu terkekeh saat mendengar ucapan sang kakak dan keponakannya,Haikal yang duduk di sampingnya langsung memukul kecil kepala bagian belakangnya.
" Hanya itu yang kamu fikirkan." gurutu bang Haikal.
" Ini tidak bisa di biarkan,kata cangkul saja bisa ia pakai untuk istilah yang bukan bukan,sebaiknya besok kalian temani Faiz menemui keluarga Mentari,tidak usah menunggu Satria,biarkan dia menghabiskan waktu liburannya di sini,mungkin Citra masih betah di sini" titah Abi,pada kedua putranya,sementara Citra mengangguk mengiyakan.
" Abi memang sangat mengerti perasaan ku." gumam Citra dalam hati.
" Baik Bi." ucap Al dan Haikal membuat Faiz tersenyum senang,ia melingkarkan tangannya di lengan Haikal dengan sangat manja.
" Kita temui bibinya dulu di kota,lalu mememui ibu dan kakak tirinya di kampung,Mentari juga ingin sekalian berziarah pada orang tuanya." ucap Faiz dengan semangat.
" Iya." sahut Haikal pasrah.
__ADS_1
" Abi sebaiknya tidak usah ikut,Faiz khawatir dengan kondisi kesehatan Abi,lagi pula jalanan ke sana tak sehalus paha Luna maya,dan tak seindah bokong Aura kasih,melainkan berbukit terjal seperti dada Dewi persik." seloroh Faiz dan lagi lagi membuat semua orang membulatkan mata.
" Bicara yang benar." gerutu Abi sambil melembar cangkir plastik tepat di kepalanya.