
Satria yang baru beberapa hari berada di kota,memutuskan untuk segera kembali ke pondok,setelah mendapat kabar tentang masalah itu dari Al,tak lupa ia pun membawa anak dan juga istrinya.
Esok harinya,dengan menempuh jarak yang cukup jauh,akhirnya ia pun sampai di pondok,Al dan Faiz sudah berdiri di teras rumah Umi untuk menyambutnya.
Tanpa berbasa basi Al langsung menunjukan foto tersebut pada Satria,setelah mereka berada di ruang keluarga rumah Umi,Satria menyipitkan matanya dan tak lama ia mengangkat sudut bibirnya sambil menggelengkan kepala.
"Ck! Ini tidak benar,bahkan aku bisa melihatnya dengan mata telanjang." ucap Satria santai,ia lalu melemparkan foto tersebut ke atas meja.
" Dari mana kamu tau?" tanya Al.
" 6 tahun yang lalu, saat itu Abi berusia 50 tahun,tapi lihat foto ini,di sini foto Abi terlihat lebih muda dari usianya,lipatan di antara pipi dan matanya tak terlihat saat tersenyum,walaupun mungkin ini efek kamera atau semacamnya,tapi kita bisa lihat dari postur tubuhnya juga." Satria menunjuk beberapa bagian yang memang tak kasat mata jika tak di perhatikan dengan seksama.
"Abi tak memiliki tubuh se gembal ini." tambah Satria sambil menunjuk bagian tubuh dari dalam foto tersebut.
Namun hal itu belum cukup meyakinkan mereka,mengingat kecanggihan teknologi jaman sekarang memang tak masuk akal,bisa saja mereka merubah fostur tubuh Abi pada foto tersebut hingga terlihat gempal dan semakin berisi dengan timbunan lemah di perutnya,meskipun aslinya tubuh Abi masih terlihat kekar berisi walau dengan usia yang sudah setengah abad itu.
" Siapa nama wanita itu?" tanya Satria.
" Dia bilang namanya Rika." sahut Faiz.
" Rika?" Satria mengulang mana tersebut,lalu menganggukan kepala,ia nampak bergeming seraya memikirkan sesuatu.
" Pinjamkan aku laptop." pinta Satria,ia sudah siap menunjukan jiwa hackernya,duduk bersila di atas lantai yang beralas karpet tebal,menunggu Faiz membawakan laptopnya.
Tak menunggu lama,Satria mulai menggerakan jemarinya dengan lihai di atas keyboard,meretas dan mencari informasi tentang wanita yang bernama Rika tersebut,Namun setelah beberapa lama berkutik dengan benda itu,tak banyak yang mereka dapat dari hasil pencariannya,hanya foto foto seksi dari wanita itu,tak ada yang bisa mereka jadikan petunjuk atau bukti untuk mengorek fakta lebih lanjut.
__ADS_1
" Abi tak mungkin menikahi wanita macam dia,walaupun lebih muda dari umi, tapi Umi tetap yang paling cantik." ujar Faiz.
" Kamu benar,kalaupun Abi menikah lagi,paling tidak ia bisa mencari wanita yang setara dengan Umi,bukan malah seperti ini,seperti remahan kue lebaran." timpal Al,pencarian identitas berubah menjadi acara ghibah,bahkan mereka tak sedikit pun tertarik pada foto wanita tersebut yang tengah memakai bikini dan lingerie.
"Lebih tepatnya remehan kue lebaran 5 tahun yang lalu,alot dan bau tengik." tambah Faiz membuat adik kakak itu terkekeh.
kecuali Satria yang nampak Frustasi,ia menyerderkan punggungnya di kaki sofa,sambil mengeliat merentangkan tangannya,meluruskan otot ototnya yang terasa kaku.
Ia melirik Faiz dan Al yang nampak tak puas dengan hasil kerja kerasnya,pria kaku itu mendesis kesal,kerena mereka tak sedikitpun perhatian padanya,bahkan mereka tak memberinya minum sama sekali sejak ia datang ke tempat itu tadi.
" Bun, tolong ambilkan aku minum!" teriakan Satria menggema di ruangan tersebut.
Hingga terdengar sampai ke dalam kamar Umi,wanita itu pun langsung pamit pada Umi untuk menuruti perintah suaminya.
Citra pun menghampiri ketiga pria tersebut yang masih berada di ruang keluarga sambil membawakan tiga cangkir teh hangat,namun tiba tiba matanya terbelalak saat melihat layar laptop yang terongok di atas meja,menampilkan gambar seorang wanita hampir tanpa busana,wanita itu menjerit histeris,membuat ketiga pria yang kini sedang rebahan itu langsung terbangun,saking terkejutnya Faiz sampai menjedotkan keningnya ke sudut meja,alhasil pangantin baru itu meringis sambil memegang keningnya yang terasa berdenyut.
" Ada apa?" tanya Satria sambil beranjak, mengambil nampan dari tangan Citra,yang masih mematung tanpa mau menyahut,berusaha meredam gejolak amarah dalam dirinya,Satria meletakan nampan tersebut di atas meja samping laptop,tanpa menyadari gambar pada foto tersebut seolah tengah menyeringai,seperti pelakor tak tau diri yang mengharapkan pertengkaran antara pria yang di kencani dengan istri sahnya.
" APA YANG KALIAN LAKUKAN?" kali ini lengkingan suara Alvi terdengar memekik di telinga.
Al nampak terkejut,ia langsung berhambur menghampiri sang istri yang sudah memasang tanduk tak kasat mata.
" Mas! apa apaan ini?"tanya Mentari yang nampak lebih kalem dari kedua kakak iparnya itu,namun tanpa di pungkiri wanita itu pun sudah mengeluarkan taringnya,sambil menunjuk laptop yang sudah menjadi kambing hitam.
" Ah,Tari! ini tak seperti yang kalian fikirkan." Faiz langsung mematikan layar tersebut lalu menutupnya.
__ADS_1
" Lalu apa? kami sudah melihatnya dengan mata kepala kami sendiri." sahut Alvi,saraya menarik tangannya dari genggaman suaminya.
" Jadi ini yang kamu maksud masalah penting,jauh jauh dari kota,hanya untuk nonton bareng?" tambah Citra.
Tiga laki laki itu pun bergeming,sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal,bingung bagaimana cara menjelaskannya,karena seperti yang mereka tahu,wanita selalu benar meskipun mereka sudah salah faham.
" Kita sedang mencoba mencari informansi tentang wanita itu,tapi yang kami dapat hanya foto fotonya saja." jelas Satria.
"Lagipula kami tak tertarik,walaupun kami sudah melihatnya sedikit." tambah Al ikut membela diri.
Merasa semakin penasaran,Alvi mendekati laptop itu lalu kembali membukanya,dan benar saja hanya foto foto pemersatu bangsa dari wanita itu yang ia lihat di sana ,namun bukannya cemburu ataupun kesal ia malah bergidik jijik.
Mentari dan Citra pun ikut bergabung.
" Yang benar saja,wanita seperti ini bisa mengaku sebagai istri sirih Abi? apa dia tidak memiliki cermin di rumahnya?bahkan tubuh ku yang penuh stretch mark ini lebih bagus dari dia. " cicit Citra.
"Mungkin saja begitu,dia tidak punya cermin di rumahnya, karena Wanita seperti ini memang lebih pantas tinggal di hutan."tambah Mentari.
" Ya,kamu benar! bagaimana kalau kita buang saja dia ke hutan amazon,tubuhnya lebih layak jadi santapan ikan piranha." sahut Alvi.
" Kalau gue yang di posisi Umi,sudah pasti itu yang akan gue lakuin." sahut Citra.
" Hutan amazon terlalu jauh,aku punya tetangga di kampung,dia memeliki tambak ikan bawal cukup luas,lumayan untuk mengurangi biaya pakan,dan yang pasti ikan itu bisa cepat di panen." balas Mentari,membuat ketiga wanita itu terbahak.
Dan foto foto tersebut berhasil mereka nistakan.
__ADS_1
Membuat para pria menggelengkan kepala, tak bisa membayangkan bagaimana jika istrinya itu yang berada di posisi Umi,mungkin saja wanita itu kini sudah hanya tinggal tulang belulang.