
" Satu minggu lagi kita adakan syukuran 4 bulanan,beri tahu Satria dan Citra juga." ujar Umi.
Alvi yang tengah membantu menata makanan di meja makan pun mengangguk,setelah mengetahui tentang kabar membahagiakan itu dari Al,tak ada dugaan atau tuduhan semacamnya seperti yang sempat Mentari takutkan,melainkan ucapan selamat yang tulus dari kedua kakak iparnya ya itu Zahra dan Alvi.
Setelah itu tak ada lagi obrolan lain hingga sarapan pun selesai.
Namun tiba tiba Al meringis memegang perutnya yang terasa melilit,ia segera berlari menuju toilet yang berada di dekat dapur,bersamaan dengan itu Haikal juga merasakan hal yang sama,hingga terjadi aksi saling dorong dan saling sikut.
" Aku duluan,Bang!" protes Al.
" Tidak,abang yang duluan." balas Haikal.
Tingkah mereka menjadi pusat perhatian bagi semua orang yang berada di sana.
Faiz semakin terbahak sampai memegang perutnya,tawanya pecah hingga terjengkang ke belakang,dan jatuh dari kursi yang di duduki.
" Al,Haikal! toilet bukan hanya satu,kalian bisa pakai yang di kamar Umi atau di kamar lain." Umi berusaha menengahi.
Namun kedua pria itu nampak tak menghiraukannya,sesuatu yang sudah menuntut untuk keluar tak bisa di tahan lagi,bahkan mereka sudah tak sanggup untuk melangkahkan kaki sedikitpun,setelah beberapa menit tak ada yang mau mengalah,akhirnya Al pun menyerah,ia berlari ke toilet lain.
Membuat Haikal bernafas lega,ia langsung menuntaskan urusannya di sana.
Brrruuuuttt....Brrruuuttt!!!
" Woooeeekkk." suara misterus yang terdengar dari dalam toilet membuat Faiz kembali merasa mual,ia berlari ke kamarnya sambil menutup mulut.
Tak lama,Al kembali ke ruang makan dan duduk di kursinya semula,dengan wajah sedikit pucat juga terlihat lemas.
" Perut ku sakit." lirihnya.
__ADS_1
" Minum air hangat dulu,Bi!" ujar Alvi dengan mimik wajah penuh kekhawatiran, sambil menyerahkan air hangat pada suaminya.
" Mas Faiz keterlaluan." gumam Mentari, merasa iba saat melihat kedua kakak iparnya tak berdaya akibat ulah sang suami.
Faiz dan Haikal pun keluar hampir bersamaan dan kembali duduk di kursinya masing masing.
Faiz terkekeh sambil mengusap tengkuknya,seketika nyalinya menciut saat mendapati tatapan tajam dari semua orang,terlebih dari ke empat wanita tersebut,termasuk istrinya sendiri.
" Biar Faiz obati,Bang!" ucapnya gugup,dengan cepat ia pun menghubungi salah satu perawat yang bertugas di kliniknya untuk segera mengirimkannya obat.
******
Hingga akhirnya satu minggu pun berlalu,acara 4 bulanan berlangsung di aula pondok, Konon di usia empat bulan Tuhan telah meniupkan ruh dan menugaskan malaikat untuk mulai mencatat empat perkara yaitu rezeki, maut, amal, dan jalan hidup jabang bayi. Selain itu, usia kehamilan empat bulan diyakini menjadi momen bayi sudah memiliki anggota tubuh yang lengkap sehingga menjadi hal yang wajib disyukuri.
Oleh karena itu mereka tak ingin melewatkan momen berharga itu,dengan mengundang para anak panti dan para santri juga warga, menggelar pengajian dan membacakan doa - doa demi kesehatan dan keselamatan calon jabang bayi.
Satria dan Citra pun turun hadir,hingga acara selesai,semua anggota keluarga berkumpul, sambil menikmati hidangan yang sudah mereka siapkan.
Hingga tiba tiba terbesit keinginan yang mungkin tidak masuk akal.namun entah kenapa Faiz ingin sekali melakukanya,sampai ia merasa akan mati jika keinginannya tak terpenuhi.
" Ada apa?" tanya Satria,yang menyadari jika dirinya tengah mendapat tatapan mencurigakan dari Faiz.
" Faiz ngidam,bang!" jawab Faiz.
"Ya, Aku tau,kamu memperhatikan ku agar jika anak mu laki laki,dia bisa setampan aku." tebak Satria dengan percaya dirinya,membuat Faiz memalingkan wajah.
Sesaat kemudian ia kembali menatap Satria sambil menunjukan senyum manisnya.
" Abang tau saja." ujarnya sambil terkekeh.
__ADS_1
"Umi,apa benar jika orang ngidam harus di turuti,jika tidak bayinya akan memgeluarkan air liur?" tanya Faiz beralih menatap Umi.
" Itu menurut kepercayaan sebagian orang." jawaban Umi tak membuat Faiz puas,ia kembali bertanya.
" Lalu bagaimana jika orang ngidam menginginkan sesuatu yang tidak mungkin bisa di lakukan?"
"Seharusnya apapun keinginannya harus terpenuhi,agar suasana hati ibu hamil tetap bahagia,yang terpenting tidak membahayakan kondisi Ibu dan bayinya." jelas Umi.
" Kalau begitu Faiz boleh minta sesuatu pada bang Satria." ujar Faiz,membuat Satria seketika menatapnya dengan tatapan penuh ancaman.
" Jangam macam macam." ujarnya.
" Ingat,bang! anak Faiz nanti akan setampan abang,tapi tidak lucu jika dia ileran." timpal Faiz seketika membuat Satria tak bisa berkata kata.
" Kamu ini dokter, tapi kenapa bodoh? lagi pula nama ada yang seperti itu,bukannya bayi ileran memang hal yang wajar,karena bayi tidak memiliki kemampuan untuk menutup mulut dan menelan ludah dengan baik." protes Al,yang masih merasa kesal dengan ulah sang adik yang sudah membuatnya sampai diare beberapi hari.
" Ngidam mu itu jangan di jadikan alasan untuk mengerjai orang." tambah Haikal.
Hal itu membuat Faiz seketika bungkam ,terdiam sambil menundukan kepala,suasana hatinya tiba tiba berubah,entah kenapa air matanya tak bisa di tahan,keluar begitu saja tanpa permisi.
Calon ayah itu mulai terisak,membuat semua orang yang berada di sana saling lirik,saling menyalahkan satu sama lain.
" Kenapa kamu menangis,memangnya mau apa?" tanya Satria yang akhirnya mengalah,ia berniat untuk menuruti keinginan Faiz.
" Faiz ingin sekali memukul kepala abang,seperti abang yang sering memukul Faiz." sahutnya dengan masih terisak.
membuat semua orang membulatkan mata tak menyangka,Satria memutar bola matanya sambil menghembuskan nafas kasar.
" Nyesel gue nanya.." lirih Satria.
__ADS_1
TERIMASIH SUDAH MEMBACA,,JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA..😊