
Di hari hari biasa,tidak banyak yang harus di kerjakan di sanggar milik Bi Susi,Zoya dan Mentari hanya membersihkan dan menata patung patung mannequen bergaun pengantin agar terpajang rapi,sehingga menarik para calon pengantin untuk berkunjung. Serta menjaganya,terkadang merekapun memasang payet yang terlepas dari kebaya kebaya pengantin yang menjadi koleksi dari sanggar tersebut.
Akhirnya,sepasang calon pengantin datang,mereka meminta gaun yang paling cantik untuk bisa mereka kenakan di acara pesta pernikahan impiannya,Zoya dan Mentaripun dengan sigap melayaninya. Selain dari gaun gaunya yang indah,pelayanan yang mereka berikan memang selalu membuat para klien suka dan merasa nyaman.
Tidak hanya satu atau dua gaun yang mereka coba,namun Mentari dengan sabar menemani para calon pengantin untuk fitting, sementara Zoya menjadi penghasut agar calon mempelai setuju dan mau menggunakan jasa mereka.
" Gaun ini cocok untuk mu say,aku yakin kamu akan terlihat cantik saat mengenakannya nanti,apalagi jika sudah mendapat sentuhan dari kami,so pasti pernikahanmu akan lebih berkesan." ujar Zoya dengan gaya khas kemayunya. saat melihat gaun indah yang membalut tubuh dari gadis cantik yang hendak melangsungkan pernikahan.Memang terlihat cocok dan pas. Zoya memang selalu berhasil dalam menarik perhatian klien.
" Baiklah,sepertinya aku pilih gaun yang ini saja,ingat ya dua minggu lagi aku ingin terlihat sempurna di pesta pernikahan ku yang hanya akan terjadi sekali seumur hidup ku." ucap calon pengantin wanita sambil bergelayut manja di lengan calon suaminya,terlihat sangat romantis,namun sayang calon mempelai pria lagi lagi malah mencuri pandang pada Mentari.
" Siap sayang, percayakan saja pada kami,kami tidak akan pernah mengecewakan siapapun."
" Ya,aku tau itu."
Setelah selesai akhirnya mereka pun pergi.
Hingga menjelang sore mereka sudah melayani beberapa pasang calon pengantin,sambil menunggu jam pulang,Mentari dan Zoya sedikit berleha leha,karena tugasnya sudah selesai.
" Kamu gatel..gatel..gatel,bukan kah kau sudah berpunya,a a a au,,a a a a au.."
Di sela sela kesibukannya,Zoya selalu menyempatkan untuk menghibur dirinya sendiri sambil melenggak lenggokan tubuh gemulainya di depan ponsel miliknya.Menirukan gerakan yang di tunjukan di sebuah aplikasi terhits saat ini.
Gelak tawa Mentari terdengar nyaring di ruangan itu,melihat tingkah kocak sahabatnya itu,sambil duduk di sebuah kursi plastik.
" Mentari ayo,ikuti aku main tuk tukan!!terkadang kita harus terlihat gila untuk menyembunyikan kesedihan dan beban yang menimpa kita." Ajaknya sambil menarik tangan Mentari.
" Tidak!! cukup melihat mu saja ,aku sudah merasa gila." tolak Mentari,tanpa menghentikan tawanya.
" Hah kau ini,masih muda tapi kantro, meskipun kita orang kampung,jangan terlihat kampungan." cibir Zoya sambil mengarahkan kamera ke arah Mentari yang masih tergelak.
Gelak tawanya terdengar sangat lepas,sepertinya ini adalah kali pertamanya bisa tertawa seperti itu.
__ADS_1
" Aku tidak kampungan,hanya saja aku tidak tertarik dengan apa tidak aku sukai,berlenggak lenggok seperti mu bukan jati diriku yang sebenarnya." balas Mentari mencoba membela diri.
" Tapi kau harus mengikuti jaman."
" Aku hanya berusaha mengikuti yang benar,dan menghindari yang salah,jadi zaman mana yang arus aku ikuti." balas nya lagi.
" Hah,,bicara denganmu memang tidak asyik,sepertinya kita tidak pernah sehati." Zoya mengembuskan nafas kasar,lalu mendaratkan bokongnya di kursi sebelah Mentari.
Mentari hanya mengangkat bahu tidak peduli.
Pukul 17.00,sanggar mulai tutup,Mentari dan Zoya tengah berada di dalam perjalanan hendak pulang,sepanjang perjalanan mereka hanya berbincang ringan sambil bercerita,mengingat kejadian kejadian lucu maupun haru yang pernah mereka alami dalam pekerjaannya.
" Sudah ada ratusan pengantin yang aku dandani,tapi aku bingung kapan giliran ku?" lirih Zoya.
" Kau harus mencari calon pengantinmu dulu,baru bisa aku rias." balas Mentari sedikit mengencangkan suaranya,karna terpaan angin dan suara bising dari kendaraan lain menganggu pendengarannya.
" Kau benar,tapi aku bingung,aku harus mencari wanita atau pria?" ujarnya lagi membuat Mentari kembali terkekeh.
Tidak lama mereka sampai di sebuah kontrakan,seperti biasanya Zoya memarkirkan motornya di tempat parkiran yang sudah di sediakan pemilik kontrakan.
Menjelang malam,lantai dasar kontrakan tersebut nampak lebih ramai,seperti sebuah pasar malam,banyak para pedagang yang menjajalkan jualannya di malam hari,seperti nasi goreng,martabak dan masih banyak lagi, selain itu banyak juga para penghuni yang baru pulang dari rutinitasnya sehingga suara gaduh terdengar di mana mana.
"sssuuiiittt.. Ssuiiitt Kak Zoya baru pulang?" tanya seseorang yang tengah berkumpul di sebuah warung kopi,saat Zoya dan Mentari berjalan melewatinya.
" Iya Mas." balas Zoya sambil berlalu,sepertinya para penghuni kontrakan sudah banyak yang mengenali wanita jadi jadian itu.
Saat hendak menaiki tangga Mentari mengaduh ketika tubuhnya bertabrakan dengan seorang pria yang hendak menuruni tangga hingga terpental ke belakang.
" Maaf aku tidak sengaja.karena buru buru." ucapnya sambil mengulurkan tangan,membantu Mentari untuk kembali terbangun.
Lagi lagi pria itu,Mentari membuang muka sambil membalas uluran tangannya.
__ADS_1
" Kau tidak apa apakan?" tanya nya.
" Tidak apa apa." sahut Mentari sambil berlalu menghampiri Zoya.
" Lain kali jalan hati hati ya Mas Lutfi,jangan sambil main ponsel." ucap Zoya.
" Iya Kak Zoya,Maaf." pria yang bernama Lutfi itu tersenyum sambil mengusap punggung lehernya,merasa tidak enak.
" Ya sudah." Zoya dan Mentari perlanjutkan langkah kakinya menapaki anak tangga satu persatu hingga akhirnya sampai di sebuah kontrakan,yang melindungi dari terik matahari maupun guyuran hujan.
Mentari langsung masuk ke kamar mandi,dan melaksanakan shalat magrib,begitu pun dengan Zoya.
Mentari yang kini tengah mengenakan piyama panjang bermotif polkadot dengan rambut hitam panjang yang terurai,merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sambil mengendorkan otot otot yang terasa kaku.pandangannya tertuju pada langit langit bercat putih,bayangan seorang pria berjas putihpun tak luput dari fikirannya.
Iya tersenyum saat mengingat di mana Faiz menyentuhnya,untuk yang pertama kalinya ia mendapat kecupan dari seorang pria.
" Ya allah,aku tau itu memang salah,,tolong maafkan aku." lirihnya.
" Tapi aku menyukainya." hati kecilnya berkata.
" Apa apa sih,aku sudah meminta maaf." berdepatan hatinya mulai membuatnya frustasi.
" Aakkhh,,aku merindukannya." teriaknya sambil mengacak rambut.
Seketika butiran kristal menetes menyusuri pipi mulusnya.sangat menyakitkan,ketika rindu tak terbalas.
" Zoya aku pinjam ponsel mu." teriaknya saat mengingat sesuatu,ia kembali mengusap air matanya.
" Pakai saja." teriak Zoya dari balik kamar mandi.
Gadis itu bergegas mengambil ponsel yang terongok di atas meja tak jauh darinya,mencari sebuah aplikasi lalu mengetikan sebuah nama "FAIZ ABDULLAH ALJALARI" nama yang ia lihat dari sebuah name tag yang terpasang pada jas putih yang di pakai Faiz.hingga muncul beberapa profil ,berharap di antara mereka ada Faiz yang ia cari,satu persatu ia buka namun hasilnya nihil dari nama yang sama tidak ada satupun orang yang dia maksud. raut kecewa tergambar jelas di wajahnya,gadis itu kembali meletakan ponselnya di tempat semula.
__ADS_1
Faiz memang sudah menutup semua akses media sosialnya,berharap tidak ada satu orangpun dari keluarganya yang menemukan keberadaannya.