
Satria baru saja tiba saat Al terus berbicara walau Faiz tak menyahut,pria itu meletakan kantong kresek berisi makanan ke atas meja lalu melirik Faiz yang sudah bisa membuka mata walaupun masih terlihat sayu.
" Faiz!!" panggilnya.
" Hmmm." sahut Faiz.
" Kamu sudah sadar?" Satria mulai antusias ia duduk di samping yang kiri,sementara Al duduk di samping kanan.
" Hmmm." sahut Faiz lagi di barengi kedipan mata.
"Syukurlah, Apa kita perlu menghubungi Citra?mereka pasti senang dengan kabar ini." Satria meminta pendapat pada Al.
" Sepertinya tidak perlu,biarkan mereka istirahat, besok pagi aku akan menjemput mereka."
" Baiklah."
Satria kembali menatap Faiz,matanya turut berbinar,mengusap kepala Faiz dengan penuh rasa sayang.
" Maafkan,abang! karena sudah membiarkan mu pergi sendiri." lirihnya,dan lagi lagi Faiz pun menjawab dengan kedipan mata.
" Kalau begitu istirahatlah." titah Al,kemudian ia pun beranjak lalu duduk di sebuah sofa,menyenderkan punggungnya yang terasa kaku,lalu melirik sesuatu yang tadi di bawa Satria,seketika perutnya mulai terasa perih,ia baru ingat jika sejak tadi perutnya belum di isi.
" Kamu bawa makanan?" tanya Al sambil meraih kresek tersebut.
" Ya,aku tau kamu pasti belum makan."
" Aku memang belum sempat makan." balas Al,lalu mulai membuka makanan tersebut,namun tiba tiba saja ia teringat pada istri dan juga anaknya.
" Istriku dan si kembar juga belum sempat makan." pria itu segera merogoh kantong saku celana hendak mengambil ponsel.
" Tidak usah khawatir,Aku sudah pesankan juga untuk mereka." sahut Satria,lalu ia pun menghampiri Al dan duduk di sebelahnya.
" Syukurlah." Al pun kembali memasukan ponselnya.
__ADS_1
Mereka makan bersama dengan sangat lahap, karena di dasari dengan perasaan yang kini sudah mulai sedikit tenang,kesadaran Faiz membuat selera makannya kembali membaik,setelah sempat terganggu.
Hingga makanan pun habis,mereka kembali menghampiri Faiz,lalu duduk di sisi kiri dan kananya,dan mulai memejamkan mata dengan menenggelamkan wajah mereka di atas brangkar.
Esok harinya,kondisi Faiz sedikit demi sedikit sudah mulai membaik,matanya nampak lebih segar dari sebelumnya,walaupun masih merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya,namun saat melihat senyum cerah Mentari,seketika rasa sakitnya tersamarkan.
Mentari langsung berhambur mendekapnya,setelah sebelumnya ia sudah mengetahui kabar Faiz dari Al,gadis itu membungkukan badan,menenggelamkan wajahnya ke dada sang ke kekasih,tanpa menghiraukan tatapan para kakak dan kakak iparnya,sementara Faiz di buat ketar ketir,perasaanya senang sekaligus panik.
" Terimakasih karena kau masih mau berjuang untuk bisa sembuh." lirihnya Mentari.
" Aku pasti akan sembuh,tapi tolong jangan biarkan aku sakit lagi,lihat tatapan mereka,seperti ingin membunuh ku." bisik Faiz,seketika Mentari tersadar,ia kembali menegakkan tubuhnya,lalu melirik pada semua orang.
" Maaf." Mentari menundukan kepala,merasa bersalah.
" Sebenarnya aku ingin marah,tapi aku tak bisa setega itu,apalagi melihat dia tak perdaya seperti ini." ucap Satria, duduk pingir ranjang brankar,sambil sedikit menepuk kaki Faiz,hingga pemuda itu menjerit histeris.
" Aaaaakkhhh,,Bang! kamu bilang tak tega tapi kenapa masih memukulku." teriak Faiz
Semua orang terkekeh senang,begitu juga Mentari,akhirnya suasana kembali ramai,setelah seharian kemarin ruangan itu di banjiri isak tangis.
Mentari kembali duduk,tanpa mau mengalihkan tatapanya,ia begitu senang hingga tak bisa berpaling dari pria yang begitu amat di rindukannya.
" Jangan menatap ku seperti itu,kamu membuatku malu." Faiz mengibaskan tangannya di depan wajah Mentari.
" Aku ingin selalu melihat mu setiap saat dan setiap waktu." ujar Mentari,entah kenapa kejadian kemarin membuatnya semakin takut kehilangan.
Sementara Faiz mengerutkan keningnya tak menyangka dan tak percaya,sikap yang di tunjukan Mentari kali ini tak seperti biasa,padahal dulu gadis itu selalu nampak cuek dan malu malu,namun sekarang ia sedikit posesif dan pengertian.
Pemuda itu pun tersenyum,ternyata musibah yang menimpanya memberi dampak yang lebih baik untuk hubungannya.
" Apa yang kamu rasakan saat aku mengalami musibah ini?" tanya Faiz.
" Tak ada yang bisa aku rasakan selain sedih dan sakit,hatiku begitu sakit melihat pak dokter seperti ini,jadi aku mohon kau harus segera sembuh,aku tak mau menikah dalam kondisi seperti ini." Mentari menundukan kepala malu,saat menyadari ucapan terakhirnya,sementara Faiz terkekeh gemas.
__ADS_1
" Jadi kamu masih memikirkan pernikahan walaupun aku dalam keadaaan seperti ini?" goda Faiz,semakin membuat Mentari tersipu.
" Kalau begitu aku akan segera sembuh,tapi kaki ku,apa kamu masih mau menerima pria cacat seperti ini?" raut wajah Faiz berubah muram,perasaanya terasa hancur saat mengingat keadaan fisiknya yang seperti ini,namun Mentari langsung menyahut.
" Aku akan selalu menerima pak dokter apapun keadaanya,perasaanku tak akan berubah sedikit pun." ucapnya yakin.
" Aku takut kamu menyesal nanti."
" Aku tidak akan pernah menyesal dengan semua keputusan yang ku buat,dan keputusan ku sudah bulat,menjalani sisa hidup ku bersama mu,dan tak akan ada yang bisa merubah keputusan ini." balasnya,kembali membuat Faiz tersenyum.
" Kamu yakin?"
Mentari mengangguk mantap.
" Baiklah kalau begitu,Bang! nikahkan aku sekarang juga?" ucap Faiz tiba tiba,membuat semua orang yang tengah sibuk bercengkrama di sebuah sofa,memberikan kesempatan pada mereka berbicara berdua tanpa mau menganggu,menoleh seketika.
" Eehh,,kenapa sekarang,aku kan sudah bilang agar pak dokter sembuh dulu." gumam Mentari.
" Baru saja melek,sudah minta di nikahkan,fikirkan dulu kendisi mu,bagaimana bisa menikah dengan keadaan seperti itu,tamu undangan yang datang bukannya akan mengucapkan selamat,tapi memberimu ucapan bela sungkawa." soloroh Al,yang langsung mendapat cubitan dari sang istri.
" Kok,ngomongnya gitu sih,Bi,bukannya kasih dukungan,agar Faiz semakin semangat untuk segera sembuh." protes Alvi.
" Kakak ipar benar." sahut Faiz,lalu kembali melirik Mentari yang masih terlihat malu.
" Kau membuatku malu,dok!" gumam Mentari.
" Mulai sekarang berhenti memanggil ku dokter,aku bukan seorang dokter lagi,dan kamu bukan pasien ku." ucap Faiz.
" Lalu aku harus memanggil mu apa?"
" Terserah,panggil apa saja selagi kamu nyaman."
" Baiklah,akan aku fikirkan lagi nanti." ucap Mentari,karena merasa tak enak,ia pun mulai beranjak,dan kembali menghampiri semua orang,walaupun dalam hati ia masih ingin terus dekat dan menatap pria yang di cintainya itu.
__ADS_1