
Adzan subuh sayup sayup terdengar dari masjid yang tak jauh dari kontrakannya,Mentari mengerjapkan mata,lalu mengucek mata dan mengeliat,sorot matanya langsung tertuju ada seseorang yang masih terlelap sampai mengeluarkan cairan dari sudut bibirnya.
" Iiissshhh.." Mentari menggelengkan kepala merasa jijik,kemudian gadis itu menutup wajah seorang di sampingnya dengan sebuah batal.
Ia mulai beranjak,dan langsung membersihkan diri,setelah itu melaksanakan shalat subuh.
Selesai shalat,Mentari lanjut mencuci pakaian,mencuci piring dan membersihkan kontrakan,sebagai bentuk rasa terima kasihnya kepada Zoya,yang dengan senang hati mengizinkannya ikut tinggal secara cuma cuma tanpa di mintai uang bulanan atau bayar listrik maupun air.
Kontaran Zoya terletak di lantai dua,dalam bangunan yang berbentuk setengah lingkaran,lapangan dan area parkir juga beberapa fasilitas lainnya terdapat di lantai dasar,bangunan tersebut memiliki 100 pintu kontrakan, tentu saja sangat ramai di setiap harinya.
Mentari pun memilih menjemur pakaian di depan kontrakan,karena lahan untuk menjemur pakaian sudah tidak ada yang kosong,dari balik pakaian yang ia jemur nampak seorang pria tampan di seberang sana,tengah memperhatikannya dengan tangan yang menumpu pada sebuah pagar pembatas.
Mentari menyibakan pakaian yang sudah mengandung di jemuran,memastikan indra penglihatannya,dan benar saja,pria itu memang tengah memperhatikannya.
Pria itu tersenyum ramah,sambil melambaikan tangan,gadis itu celingkukan ke kanan dan ke kiri,Mencari seseorang yang di maksud pria tersebut.Kemudian menunjuk dirinya sendiri yang langsung di angguki oleh pria di seberang sana.
Mentari membalas senyumanya,setelah itu dia kembali pada pekerjaannya,setelah selesai gadis itu langsung masuk ke dalam kontrakan tanpa melirik ke arah pria yang masih saja setia di tempat nya.
" Waahhh,, ternyata sudah beres." seru Zoya saat melihat suasana kontrakan yang nampak rapi dan bersih.
" Iya dong,kalo bersih kan enak di lihat nya,tidak seperti guha kelelawar lagi kan? ejek Mentari.
Zoya terkekeh malu,karena memang benar adanya,wanita jadi jadian itu hanya bisa membersihkan kontrakan seminggu sekali itu pun jika dia sempat.
" Terima kasih ya! aku jadi enak." plesetnya, padahal dalam hati merasa tidak enak,pada gadis yang baru beberapa hari menumpang padanya.
" Sudahlah,ini sudah siang,kita harus segera ke sanggar Bi Susi." ujar Mentari,sambil beranjak hendak mengganti pakaian,setelah itu mengoleskan sedikit krim ke wajahnya,tidak lupa iapun mengoleskan lipstin agar terlihat lebih segar.
" Baiklah,aku mandi dulu,tolong belikan nasi uduk di bawah ya!!" pinta Zoya seraya beranjak dari tempat tidurnya,lalu menyerahkan selembar uang 20 ribuan.
" Oke." sahut Mentari.
__ADS_1
" Sekalian beli untuk mu juga,jangan lupa gorengannya."teriak Zoya dari dalam kamar mandi.
Mentaripun mulai meninggalkan kontrakannya,ia berjalan menuruni anak tangga menuju lantai dasar,sesekali ia mengangkat sudut bibirnya ketika berpapasan dengan penghuni kontrakan lain.
Seketika matanya membulat sempurna setelah sampai di lantai dasar,bagaimana tidak,gerobak pedagang dan warung warung kecil berderet rapi di sana,Mentaripun menghembuskan nafas kasar,kemudian ia mulai melangkahkan kaki menyusuri setiap deretan pedagang,Mencari pedagang yang menjual makanan yang di inginkan Zoya.Hingga akhirnya iapun menemukannya.
Banyak orang yang mengantri di sana,hingga terpaksa iapun mengalah dan menunggu sampai para pembeli tak terlalu ramai,Gadis itu memilih duduk di sebuah kursi sambil mengistirahatkan kakinya,berjalan seperti itu memang cukup melelahkan gumamnya.
Tiba tiba nampak seorang pria menghampirinya.
" Hai!!" Pria itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya di hadapannya,Mentari terkejut,Gadis itu mengangkat wajahnya melihat siapa orang tersebut,dan ternyata pria yang baru ia lihat beberapa saat lalu,Setelah itu Mentari mengangguk tanpa membalas uluran tangan pria itu.
"Penghuni baru ya? Sepertinya aku baru melihat mu di sini." ujarnya lagi,sepertinya pria itu tidak ingin menyerah begitu saja ketika mendapat sikap tak bersahabat dari Mentari.
" Iya." jawab Mentari,pria itu pun langsung duduk di sampingnya,namun Mentari cepat cepat beranjak,hendak membeli apa yang Zoya minta dan segera pergi setelah berhasil mendapat apa yang sahabatnya itu mau.
" Sial." pria itu mendesis kesal,karena Mentari sana sekali tidak meresponnya.
" Aku belum tau tempat jualannya,makanya aku harus mencarinya dulu." jelas Mentari yang langsung di angguki oleh Zoya.
Wanita kaleng kaleng itu kini tengah terduduk sambil menghadap sebuah cermin,mengoles wajahnya dengan riasan yang tebal,dan warna yang mencolok,penampilannya jauh di banding wanita sesungguhnya.
" Bagaimana penampilan ku?" tanyanya sambil memanyumkan bibirnya memperlihatkan bibir yang merah merona,Meminta pendapat Mentari yang kini tengah melahap gorengan.
" perfect." Mentari mengangkat dua jempolnya,Zoya pun tersenyum puas.
" Maaf Zoya,jika aku sudah punya penghasilan aku ingin mencari kontrakan." ucap Mentari ragu.
" Kenapa,kau tidak betah tinggal di sini."
" Bukan seperti itu,aku hanya tidak ingin merepotkanmu." jelas Mentari,namun tidak di pungkiri,ia merasa risih dengan para penghuni yang lain,berteriak sesuka hati seolah tempat ini miliknya sendiri tanpa menghiraukan kenyamanan penghuni yang lain,bagaimanapun dia membutuhkan ketenangan dan tidak terlalu menyukai keramaian.
__ADS_1
" Aku tidak merasa keberatan,aku malah senang kau berada di sini,anggap saja ini simbiosis mutualisme." ujar Zoya,sedikit keberatan.
" Ya sudah kalau begitu." Mentaripun mengalah,tanpa ingin berdebat lebih jauh lagi.
Mereka mulai melahap sarapannya masing masing hingga tandas,sampai sampai terdengar bunyi yang keras keluar dari mulut Zoya.
" Uppss.." maaf kelepasan,wanita jadi jadian itu menutup mulutnya sambil terkekeh saat mengeluarkan sendawanya.
" Tidak apa apa, berangkat sekarang Yuk!!" ajak Mentari,dan Zoya pun mengangguk,kemudian mereka merapikan kembali penampilannya sebelum meninggalkan kontrakan.
Zoya berjalan dengan anggun,sambil melenggak lenggokan tubuhnya,saat menuruni anak tangga,sementara Mentari mengekor di belakangnya.
" Hai,kak Zoya!!" sapa seorang pria tampan yang sudah memakai pakaian seragam dinasnya,ketika berpasasan di parkiran dimana motornya di simpan.
" padahal penghuni di sini banyak.Tapi kenapa harus dia lagi yang ku temui." gumam Mentari dalam hati.
" Eh,Mas Lutfi,mau berangkat juga ya?" tanya Zoya seolah sudah mengenal lama.
" Iya Kak." balas pria itu sambil melirik Mentari.
" Ya sudah,kalo begitu aku duluan ya." pamit Zoya sambil menyalakan motornya.
" Hati hati kak." ucapnya ,lagi lagi lirikan matanya tertuju pada Mentari.
" Laki laki itu memang idaman ku banget,sudah ganteng,baik,ramah lagi." ujarnya saat berada di tengah perjalanan.
Namun Mentari hanya diam,tanpa merespon ucapan Zoya di depannya.
Baginya tidak ada yang lebih baik di banding Faiznya,pria yang sudah berhasil memenuhi semua hati dan fikirannya, hingga tidak ada lagi kesempatan untuk pria lain untuk mendapatkannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Biasakan memberi like komen dan vote setelah membaca,,terimakasih..😊😊