I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab 52


__ADS_3

Sepasang suami istri itu memberikan waktu untuk Faiz dan Mentari agar bisa saling bercerita,demi kebaikan hubungan mereka ke depannya.


Kini Faiz dan Mentari tengah duduk di kursi teras rumah,setelah lama saling bungkam tanpa ada yang mau memulai pembicaraan,akhirnya Faiz membuka suara.


" Maaf,Mentari! aku sudah mengecewakan mu,yang di bilang bang Satria memang benar,tapi aku tidak melakukan apa apa dengan Malika,wanita itu tiba tiba masuk ke kontrakan lalu menutup pintunya,ya! aku memang ceroboh,aku tidak melihat terlebih dulu untuk memastikan siapa yang datang." jelas Faiz panjang lebar.


Gadis itu menatap dalam manik mata calon suaminya,binar mata itu menuntutnya untuk percaya,tanpa menunggu lama Mentari mengangguk.


" Aku percaya,dok!" ucapnya yakin.


Faiz bernafas lega,senyum lebar tersungging dari bibirnya,pria itu langsung berlutut,menggenggam tangan kekasihnya.


" Terimakasih,Tari! terimakasih." lirihnya,dengan mata yang mulai berkaca kaca.


" Jangan seperti itu,dok." tolak Mentari seraya menarik tangannya,lalu membawa Faiz untuk kembali bangun.


Mentari kembali bergeming,kini waktunya ia yang menjelaskan masalahnya.gadis itu melirik Faiz dengan ragu.


" Lalu apa yang ingin kamu bicarakan tentang masalah mu." tanya Faiz.


" Maaf,Dok!aku tidak bisa menikah dengan mu,kesalahan ku terlalu fatal, mungkin kamu tidak akan bisa memaafkan ku." Mentari menunduk pasrah.


" Maksud mu apa?" tanya Faiz,menatap dengan penuh rasa penasaran.


dengan ragu Mentari pun mulai menceritakan masalahnya,ia kembali terisak,menundukan kepala sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


" Aku bukan wanita baik baik,aku tidak pantas menikah dengan mu,bibir yang seharusnya aku berikan untuk suami ku sudah di rampas orang lain." isaknya.


Faiz nampak bergeming,matanya berkabut,rahangnya mulai mengeras serta gigi yang gemertak.


Pria itu kembali berlutut,menghadap Mentari lalu meraih telapak tangan yang masih menutup wajahnya.


" Jangan bicara seperti itu,tari! aku sangat mencintai mu,aku akan menerima mu dalam keadaan apapun." ujarnya,Mentari kembali menatap pria di hadapannya,kini mata yang sendu itu seolah menunjukan kesungguhan yang mendalam.


" Dokter,serius?"


" Dalam situasi seperti ini,mana bisa aku bercanda." sahutnya.


" Terimakasih." lirihnya,Akhirnya Mentari pun bisa mengangkat sudut bibirnya.


Faiz berdiri,lalu mengusap pucuk kepala Mentari dengan lembut.

__ADS_1


" Baiklah,masalah kita sudah selesai,kamu masih mau menikah dengan ku kan?" ujar Faiz,gadis itu mengangkat kepalanya menengadah,menatap Faiz yang berdiri menjulang tinggi,kemudian Mentari pun ikut berdiri,lalu mengangguk kecil sambil tersenyum malu.


Pemuda itu pun membalas senyumanya,lalu meraih pundak Mentari agar lebih dekat dengan nya, dengan repleks ia mencium sekilas pucuk kepala calon istrinya yang terbalut jilbab.


" Dok!!" Mentari menggeser tubuhnya sambil memicingkan mata kesal.


" Maaf aku sengaja,bukannya kita sudah pernah melakukannya,bahkan aku sudah pernah mencium kening mu,dan kamu juga pernah memeluk ku." bisiknya berusaha menggoda agar suasana lebih mencair.


" Tapi itu salah,tidak sepantasnya terulang." sahut Mentari.


" Baiklah,maafkan aku." pria itu pun mengalah.


Ujian menjelang pernikahan memang kerap terjadi,siapkan mental dan hati ketika sudah yakin dengan pasangan, dan tengah merencanakan pernikahan,sebab mereka yang telah menikah pun mengakui jikamenjelang hari H pernikahan cobaan dan ujian selalu datang silih berganti.


" Sudah cukup,ini sudah malam."


Tiba tiba Satria muncul dengan wajah garang seperti seorang ayah yang tengah memarahi pemuda yang datang untuk mengapeli anak perawannya.


" Iya,bang! Faiz akan pulang sekarang." sahutnya pasrah.


Melihat raut wajah dari keduanya,Satria langsung faham,tak perlu banyak bertanya,ia tahu hubungan mereka masih baik.


" Ini sudah malam,istirahat lah." titah Faiz sambil kembali mengusap pucuk kepala kekasihnya.


" Faiz!!" Satria kembali bersuara,suara yang penuh dengan ancaman,membuat pemuda itu ketar ketir


" Iya,Bang! Faiz pulang sekarang,tapi anterin." rengeknya.


Ayah beranak dua itu menggelengkan kepala sambil menutar bola matanya jengah,menghembuskan nafas kasar,wajahnya masih nampak tak bersahabat,namun tak ayal ia pun segera masuk hendak mengambil kunci mobil.


" Aku masuk duluan,Dok! hati hati di jalan." pamit Mentari, dengan senyum yang tak pudar.


" Baiklah,selamat malam habibati." balasnya,dengan suara yang terdengar merdu serta menyejukan hati,Mentari semakin di buat salah tingkah,ia tersenyum malu sambil menundukan kepala,tak ingin terlalu lama mendengar gombalan Faiz,ia pun memutuskan untuk segera pergi.


Faiz terkekeh,setelah berhasil membuat roma merah di pipi calon istrinya.


Tiba tiba mulutnya kembali tertutup rapat saat Satria datang.


" Ayo,pulang!" ajaknya ketus,sambil melempar kunci mobil pada Faiz.


" Maaf,abang sudah menghajar mu tadi." ucap Satria merasa bersalah, ketika masih dalam perjalanan.

__ADS_1


Pemuda itu melirik sekilas ke arah samping,lalu kembali menatap lurus ke dapan.


" Tidak apa apa,bang! Faiz ngerti,Faiz juga salah." balas Faiz.


Satria mulai mengangkat sudut bibirnya sedikit,lalu menepuk bahu sang adik.


" Lalu bagaimana dengan masalah kalian."


" Sudah aman." sahut Faiz,dengan mata yang masih fokus ke depan.


Namun tiba tiba Fokusnya teralihkan saat melihat seorang pria yang tengah mengendarai sepeda motor di hadapanya,raut wajahnya seketika berubah.


" Brengsek,itu dia." gumamnya,tanpa di duga Faiz langsung menginjak gas,melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi,mengejar orang yang berada di hadapanya.


" Faiz,ada apa?" tanya Satria panik.


" Dia orang yang sudah membuat Mentari ku seperti itu." tunjuk Faiz.


Satria menatap ke arah telunjuk Faiz,seketika emosinya mulai tersulut.


" Kejar dia,jangan sampai lolos,pria seperti itu tak pantas di biarkan hidup!" ujarnya dengan emosi yang mulai menggebu gebu,mendapat dukungan dari sang kakak,pria itu semakin bersemangat,dan tidak menunggu lama,Faiz berhasil menyalip pengendara bermotor di hadapanya tepat di tempat yang sepi.


Lutfi terkejut,saat tiba tiba ia di hadang sebuah mobil,ia pun menepikan motornya lalu turun,tak menunggu lama Faiz pun turun,namun sebelum menyerang Satria sudah menasehatinya agar tidak terlalu berlebihan.


" Ingat Faiz,pernikahan mu tinggal menghitung hari,jangan sampai ijab kabul mu terjadi di dalam jeruji besi,itupun kalau Mentari masih mau kamu nikahi." peringatan Satria langsung di angguki.


Lutfi tersenyum sinis,dengan mata yang sayu setengah sadar,nampaknya ia tengah mabuk.


" Ada perlu apa kawan?" tanyanya dengan sempoyongan,membuat Faiz tak tega untuk menghajarnya.


" Bagimana bisa Faiz menghajar orang mabuk seperti itu? menyeimbangkan badanya sendiri saja tidak bisa, apalagi membalas serangan." ucapnya sambil melirik Satria.


" kalau begitu besok saja,tunggu dia sadar dulu." balas Satria.


" Enak saja,ini kesempatan bagus untuk menghajarnya."


Faiz mulai mendekati Lutfi,dengan sekali tinjuan pria itu sudah limpung tanpa perlawanan.


" Ini balasan untuk mu,karena sudah menyentuh Mentari ku." ucapnya dengan penuh penekanan,sambil mencengkram leher Lutfi dengan sangat kuat.


Pemuda itu meringis dengan nafas tersendat,hingga beberapa detik Faiz pun melepaskan cekikannya,lalu pergi setelah memberi tinjuan ke dua.

__ADS_1


" Gak seru,Bang! gak ada perlawanan." ucapnya dengan enteng,lalu ia mulai menjalankan mobilnya kembali,sementara Lutfi sudah terkapar tak berdaya di tepi jalan.


__ADS_2