I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab 35


__ADS_3

Faiz sengaja meminta cuti,agar hari ini bisa menghabiskan waktu bersama Mentari,pasalnya hari ini terakhir mereka bertemu,Faiz sengaja membelikan sebuah ponsel untuk Mentari agar lebih mudah berkomunikasi.


Mentari sedikit keberatan jika harus kembali berpisah,namun ia tak bisa melarang,Bagaimana pun keluarga tetap nomor satu,perasaannya sedikit terenyuh saat Faiz menceritakan semua tentang keluarga angkat.


" Pak dokter beruntung memiliki keluarga yang baik,aku jadi iri." ucap Mentari,saat mereka berada di sebuah taman.Membandingkan dengan nasib hidupnya yang lebih buruk.


" Iya,mereka memang sangat baik,bahkan aku masih tidak percaya jika aku bukan darah daging mereka.." balas Faiz dengan senyum ketir.


"Ketulusan hati untuk saling menyayangi tidak memandang ikatan darah." ujar Mentari,sambil mengusap lengan Faiz,Faiz melirik gadis di sebelahnya,lalu tersenyum dan menganggukan kepala.


Tak terasa waktu pun berlalu begitu cepat,dua sejoli itu memutuskan untuk segera pulang,dan tak lama mereka sampai di kontrakan.


"Itu orang nya." tunjuk Satria pada Al,mereka masih setia menunggu kepulangan sang adik,bahkan mereka sudah menghabiskan 3 gelas kopi,si kembar dan Cyra pun sampai tertidur hingga harus di titipkan pada pemilik warung akibat terlalu lama menunggunya.


Al menggelengkan kepala saat melihat adik yang di rindukannya berjalan santai di ikuti seorang gadis dari belakang.


Mereka pun langsung menghampirinya.


" Hei,anak nakal!" Al menepuk bahu sang adik,saat Faiz hendak menaiki anak tangga,sontak pemuda itu melirik ke arah belakang.


"Bang?" ucap Faiz ,menatap sang kakak hingga membuka mulutnya tak percaya,begitu juga Al,ia berusaha sekuat tenaga agar tidak menumpahkan air matanya saat itu juga.


" Tutup mulut mu,lalat bisa masuk." ucap Al berhasil menyadarkan keterkejutannya.


" Bang!!" Faiz langsung memeluk sang kakak dengan antusias,Al sedikit terhuyung kebelakang karena posisinya lebih rendah dari Faiz,untungnya Satria segera menahannya,Faiz menangis tersedu tanpa menyadari posisinya saat ini yang masih berada di luar,hingga kembali mencuri perhatian dari banyak orang yang berada di sana.


" Maafkan Faiz,bang! maafkan Faiz." ujarnya dengan suara terkecak.Karena isak tangis yang tak bisa ia tahan lagi.


" Tidak apa apa,maafkan abang juga." lirih Al yang juga ikut menangis.


" Jangan menangis!Sudah berani membawa anak gadis orang masih saja cengeng." sahut Satria sambil menepuk bahu Satria.


Pemuda itu pun kembali tersadar,ia melirik Mentari yang sejak tadi memperhatikan pertemuan kakak beradik yang mengharu biru,Mentari juga termenung mengingat wajah ke dua pria yang nampak tak asing di matanya.


" Sepertinya,aku pernah melihat mereka." gumam Mentari,otaknya bekerja keras untuk bisa mengingat.


Faiz pun terkekeh,sambil mengusap matanya.


" Masuk dulu,bang!" ajak Faiz,mereka pun kembali menaiki anak tangga menuju kamar kontrakannya.


" Tari !" panggil Faiz,ketika gadis itu hendak membuka pintu kamar kontrakannya.


" Iya." sahut Mentari sedikit terkejut.


" Sini." Faiz mengajaknya untuk ikut masuk ke kamar kontrakannya.


" Enak saja,mengajak seorang gadis masuk." Al sedikit memukul punggung sang adik dengan gemas.


" Kan ada kalian juga, bukan hanya kami berdua." Faiz mengelak.


Al memicingkan mata,tatapan matanya membuat Faiz dan Mentari gelagapan.


"Jadi menurut mu, jika ada kami berdua di sini, seorang gadis di perbolehkan masuk,Kamu mau jadikan kami saksi kejahatan mu?"


" Enggak,Bang." Faiz terkekeh,hal ini yang selalu ia rindukan saat bersama, membuat kakaknya marah karena ulah tengilnya.

__ADS_1


" Akau di sini saja." gadis itu memilih untuk tetap berdiri di luar sambil menundukan kepala,ada perasaan gugup saat mendapat tatapan aneh dari ke dua pria itu,apalagi dengan Satria yang menampilkan wajah kakunya.


Faiz mengangguk faham,saat melihat raut wajah Mentari yang nampak ketakutan.


" Duduk dulu,bang!" pemuda itu membawa sang kakak untuk duduk lesehan di lantai beralaskan karpet tebal,lalu membawakan minuman,setelah selesai pembicaraan pun di mulai.


" Bagaimana kabar di pondok?" tanya Faiz


" Kami sudah berusaha untuk tetap baik,tapi entahlah, sejak kamu pergi,keadaan pondok sedikit berubah,Abi juga sakit,beliau sudah tidak bisa apa apa,jadi pulang lah! kamu sudah menjadi dokter,tolong obati Abi." Al menatap sang adik dengan tatapan seolah memohon.


Faiz diam sejenak,menetralkan perasaan yang terasa nyeri kala mendengar kabar Abi, ternyata benar dengan apa yang di bicarakan Satria kemarin.


" Faiz akan pulang besok,Bang!" ucap Faiz melemah,pria itu menatap Mentari yang masih berdiri di luar,tanpa tau maksud Faiz memanggilnya.


Al mengikuti tatapan mata adiknya,merasa faham dengan situasinya saat ini.


" Jadi,kapan kamu akan menikahinya?" tanya Al membuat kedua sejoli itu terperanjat,Mentari melirik sekilas lalu kembali menunduk.


" Duduk lah! kamu pasti pegal." Satria membuka suaranya,Mentari yang menyadari jika pria itu bicara padanya langsung mengangkat wajah menatap pada Satria.


Satria menganggukan kepala memberi isyarat agar gadis itu duduk dengan tenang.


Dengan ragu Mentari menurutinya,ia duduk di ambang pintu.


" Kenapa diam?" tanya Al lagi saat tidak mendapat jawaban dari Faiz.


" Hmmm,,Faiz tidak tau." jujurnya.


" Apa maksud mu? jangan bilang kalau kalian hanya ingin bersenang senang saja,tanpa ada ikatan yang jelas,ingat Faiz ! abang dan semua keluarga tidak menyukai itu." Al mengangkat jari telunjuknya memberi peringatan.


" Apa saja yang sudah kalian lakukan?" tanya Satria.


" Kami tidak pernah melakukan apa apa?"


" Tidak mungkin,kalian berboncengan naik motor,abang yakin kamu pernah mencuri kesempatan dari itu." tuduh Al,membuat Faiz terkekeh salah tingkah.


" Kami tidak pernah melakukan apa apa,tapi memang sering khilaf." sahut Faiz tanpa tau malu.


Plak!! Algojo Satria dengan kurang ajarnya memukul kepala kakak ipar hingga meringis kesakitan.


" Enak saja kamu bicara,Jangan selalu melibatkan khilaf atas apa yang sudah kamu lakukan." tambah Satria pada kakak iparnya itu.


"Kasihan sekali si khilaf yang selalu di kambing hitamkan, Sebagai pria kamu harus bisa lebih tanggung jawab,abang tunggu jawaban mu sampai besok,jika kamu belum siap untuk menikah jangan coba coba mendekati seorang wanita."


Sebelum hakim memutuskan keadilan,Faiz angkat bicara.


" Faiz sudah siap menikah,Bang!" ucap Faiz dengan cepat.


" Lalu kenapa masih menunda nunda? abang lihat sepertinya kalian sudah lama saling kenal." Al kembali menginterogasi.


" Masalahnya...." Faiz kembali melirik sang kekasih.


" Apa?" bentak Al yang mulai tidak sabar untuk menunggu kelanjutannya.


" Faiz masih menunggu jawabannya." sahutnya.

__ADS_1


Kini tatapan Al dan Satria beralih pada gadis berusia 19 tahun itu.


" Siapa nama mu?" tanya Al,gadis itu mengangkat wajahnya sekilas,lalu menunduk lagi.


tubuhnya gemetaran,keringat dingin membasahi telapak tangannya karena gugup,gadis itu merilik Faiz meminta perlindungan,Faiz yang menyadari hal itu langsung membuka suara.


"Perkenalan macam apa ini,kalian membuatnya ketakuakan,santai saja jangan terlalu serius.Namanya Mentari! " sahut Faiz.


" Mentari ! Faiz sudah siap untuk menikah,lalu apa jawaban mu?aku tahu kamu masih muda,dan mungkin belum memikirkan untuk ke jenjang yang lebih serius seperti ini,tapi jujur saja keluarga kami tidak pernah mengizinkan untuk berpacaran,jadi jika seandainya kamu belum bisa menerima Faiz untuk menikahi mu,sebaiknya akhiri hubungan kalian sekarang juga." gertak Al membuat keduanya kembali terperanjat,hingga Faiz membulatkan mata tak terima.


" Bang! kenapa harus di akhiri,beri kesempatan lagi untuk saling meyakinkan." protes Faiz.


" Sudah berapa lama kalian saling kenal,dan menjalin hubungan?" tanya Satria.


" Kurang lebih 1 tahun,tapi baru satu minggu kita dekat."


" 1 tahun sepertinya sudah cukup untuk saling mengenal,jika kalian masih belum yakin juga,akhiri hubungan ini dan jangan pernah bertemu lagi,ingat keraguan datang dari setan,fikirkan baik baik jangan lupa shalat istikharah dan minta petunjukNya." ucap Satria langsung di setujui Al.


" Kami tidak akan membiarkan kalian menjalani hubungan lebih lama lagi dari ini,apalagi tempat tinggal kalian dekat seperti ini,kami tidak bisa membayangkan sebanyak apa dosa kalian,jadi fikirkan baik baik,Faiz pria dewasa,bukan waktunya untuk bermain main,jadi kalau kamu memang belum siap,biarkan Faiz mencari wanita lain yang siap ia nikahi." ujar Al membuat gadis itu bergeming,hatinya terasa sakit saat membayangkan dokter cintanya bersanding di pelaminan dengan wanita lain karena ia tak juga memberi jawaban yang pasti untuk hubungan nya.


Tanpa di duga air mata lolos begitu saja mengalir di pipinya,Faiz tak tega membiarkan wanitanya menangis seperti itu.


" Ayah!!!"


Tiba tiba saja ketiga bocah kecil itu datang di antar penjaga warung yang dengan baik hati mengizinkan ketiganya tidur di tempatnya.


" Makasih bu." ucap Al pada wanita paruh baya itu sebelum pergi.


Kedatangan tiga batita itu sedikit mencairkan suasana.


Si kembar dan Cyra mencium tangan Faiz dan Mentari bergantian.


" Maaf paman jaga sikap anda,aku memang masih kecil tapi aku tau itu tidak benar." si kembar langsung berontak berusaha melepaskan diri ketika Faiz mencoba memeluknya,Faiz sedikit terkejut atas penolakan dan protes yang di layangkan bocah kecil itu.Sementara Mentari tersenyum melihat kedua gadis kecil yang sangat menggemaskan,ingin sekali rasanya ia mencubit gemas pipi gembilnya.Namun ia tak berani saat melihat tatapan tak bersahabat dari nya.


" Tatapan itu,mirip sekali dengan ayahnya." gumam Mentari sedikit berkidik,Mentari belum tahu bagaimana sosok ibunya.


Si kembar beralih pada Mentari,mereka memicingkan mata seolah tak suka.


" Ayah!!dia bukan wanita lain kan?" tanya Marwah sambil menunjuk Mentari,membuat semua orang tercengang.


" Enak saja,dia wanita ku." Faiz langsung menyahut.


" Anak anak ku,otaknya sudah terkontaminasi oleh wanita lain." lirih Al sambil menggelengkan kepala tak habis fikir,bahkan sekarang mereka menganggap semua wanita yang tak di kenalnya sebagai wanita lain.


"Gak salah,mereka memang titisan Alvi." sahut Satria.


" Lalu bagaimana dengan titisan Citra?" balas Faiz, sambil mencolek pipi gembil milik Cyra yang masih nampak santai di pangkuan sang ayah.


" Lihat saja nanti." sahut Satria lagi.


Setelah di rasa cukup,walau pun belum mendapat jawaban dari Mentari.


Al dan Satria pamit hendak pulang,dan akan kembali besok pagi untuk menjemput Faiz.


Hayooo,,,mana vote like dan komennya..🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2