I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab.82


__ADS_3

Akhirnya Al bisa pulang,setelah memastikan Rika mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya,sampai di rumah,sang istri langsung berhambur memeluknya dengat erat ,seolah baru pulang dari medan pertempuran,Alvi menyambutnya dengan isak tangis haru.


" Sayang! aku tidak apa apa,kenapa kamu menangis?" ujar Al,seraya meraup wajah sang istri dengan gemas.


" Aku khawatir,Bi! yang namanya berurusan dengan polisi pasti menakutkan." lirih Alvi.


" Kenapa harus takut,aku tidak bersalah." sahut Al,ia pun berusaha menemangkan sang istri dengan jurus andalannya,ciuman dan pelukan yang selalu berhasil membuat Alvi merasa lebih nyaman.


Sementara di klinik,Mentari baru saja selesai menyelesaikan pekerjaannya,memasak serta membereskan kamar rahasianya,lanjut membersihkan diri sebelum menghampiri sang suami di lantai dua.


Entah apa yang harus ia rasakan,setelah melihat banyak pasien yang mengantri di luar ruangan sang suami,apakah ia harus senang atau bersedih? namun yang jelas ada kebanggaan tersendiri dalam benaknya,menyadari jika kehadiran sang suami memang sangat di perlukan di sana.


" Frofesi yang mulai,ku harap kau bisa menjalani tugas mu dengan baik,semoga allah senantiasa memberimu kesehatan,agar bisa membantu lebih banyak orang,dan semoga kau bisa menjaga amanah yang sudah mereka percayakan pada mu,Mas! " lirih Mentari dalam hati,iapun mengurungkan niatnya untuk menemui Faiz,dan kembali ke dalam kamarnya.


Lama berdiam di sana,tak ada lagi yang bisa di kerjakan,hanya menonton tv dan rebahan,memang sangat membosankan.


Hingga akhirnya iapun memutuskan untuk berendam di kolam renang,walaupun gadis itu tak pandai berenang,bahkan dalam pelajaran olahraga dulu ia tak pernah mengikuti kegiatan tersebut,dengan alasan tertentu, namun kini ia tak mau menyia nyiakan sesuatu yang sudah ada,menikmati hasil jerih payah sang suami,fasilitas yang sudah tersedia dengan keamanan yang tak mungkin bisa di ragukan,yang pastinya tempat tersebut sangat tertutup,tak akan ada yang dapat melihatnya.


Tak terasa waktu begitu cepat,Faiz memutuskan hendak pergi meninggalkan ruangannya untuk sementara,karena cacing dalam perutnya sudah mulai tak bisa di ajak kompromi,pria itu bergegas masuk ke dalam kamar,mendapati sang istri tak ada di sana,namun makanan sudah tersaji di meja makan,nampak belum tersentuh sama sekali.


" Tari!!" panggilnya seraya mengedarkan pandangan.


" Aku di sini, Mas!" sahut Tari, yang masih asyik bermain air di sisi kolam,dengan penganakan kaos tangtop dan celana pendeknya,juga tubuhnya yang sudah basah kuyup.

__ADS_1


Faiz segera menghampirinya,dan seketika matanya membulat,menelan silavinya dengan susah payah,pria itu tersenyum misterius dan langsung membuka jas serta kemejanya, tak lupa celana panjangnya,hingga menyisakan celana pendek dan kaos polos pas body yang memperlihatkan postur tubuhnya yang atletis.


"Loh,Mas! mau apa?" cicit Mentari heran,namun pria itu tak menyahut,ia malah membawa istrinya untuk masuk ke dalam kolam,menahan tubuh Mentari ke dinding kolam,memeluknya dengan erat dengan satu tangan yang sudah menyelinap masuk ke dalam pakaian,bibirnya pun tak tinggal diam,mencium,menyesap,serta ******* setiap inci bagian atas tubuh sang istri.


Mentari pun membalasnya,menyusupkan tangannya ke bawah,masuk ke dalam celana pendek sang suami,meraih senjata yang sudah siap menyerang,semakin lama,entah kapan permainan itu di mulai,mereka sudah menyatukan tubuhnya di sana,membiarkan celana dan benda segi tuga mereka berenang bebas mengambang di dasar air,Faiz pun sudah menenggelamkan adik kecilnya ke dalam lubang yang tersebunyi di dalam air.


"Mas!memangnya tak ada lagi pasien?" tanya Mentari di sela sela permainannya.


" Ada, tapi kamu tenang saja,sudah ada perawat yang menggantikan ku." sahut Faiz.


" Tapi mereka membutuhkan mu."ujar Mentari merasa keberatan.


" Sebentar saja sayang,sekarang ada yang lebih membutuhkan perawatan ku." ucap Faiz,membuat Mentari mencebik kesal.


Faiz hanya terkekeh,sambil terus menghujamkan senjatanya tanpa ampun.Membuat Mentari menjerit dalam hati, memejamkan mata,menikmati hangatnya tubuh sang suami di dalam dinginnya air,jiwanya serasa ikut hanyut tenggelam dalam nikmatnya cinta,peluh yang keluar larut begitu saja,hingga beberapa saat permainan pun mulai berpacu cepat,suhu panas yang keluar dalam tubuhnya seolah mampu mendidihkan air kolam, dan akhirnya pelepasan pun terjadi di sana.


Faiz mengerang,bersamaan dengan keluarnya bibit lele yang ia sebar di dalam kolam.


******


Selesai dengan permainan yang menyenangkannya itu,Faiz dan Mentari menikmati sarapan sekaligus makan siangnya dengan lahap hingga tandas.


Setelah itu, Faiz kembali ke ruangannya sementara Mentari pamit untuk menemui Umi di pondok.

__ADS_1


Hingga Menjelang sore,Mentari baru saja pulang dari rumah Umi,tubuhnya terasa lemas,serta wajahnya pun nampak pucat,wanita itu berjalan dengan perlahan menaiki anak tangga,menuju lantai paling atas.


Beberapa perawat yang berpapasan dengannya sempat menyapa dan bertanya apa yang terjadi?namun ia hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum.


" Aku tidak apa apa,hanya lelah saja." sahutnya dengan ramah.


Hingga perawat itu pun mengangguk Faham.


Setelah suara adzan maghrib berkumandang,Faiz menghentikan pekerjaanya,berganti tugas dengan dokter lainya, karena klinik tersebut buka 24 jam,ia tak bisa melakukan pekerjaannya seorang diri,hingga akhirnya Faiz pun menerima beberapa dokter lain untuk membantunya di sana,di antaranya dokter umum,dokter kandungan dan dokter gigi.


Pria itu kini baru saja masuk ke dalam kamar rahasianya,seketika bibirnya terangkat sempurna saat melihat sang istri sudah siap dengan mukena dan sejadah yang di gelarnya,hendak melaksanakan kewajibannya.


" Shalat berjama'ah ya,Mas!" pinta Mentari,Faiz pun mengangguk,dengan cepat ia mengambil wudhu.


Sementara Mentari menyiapkan pakaian untuknya.


Namun setelah rakaat terakhir,Mentari hilang keseimbangannya,tubuhnya ambruk ke lantai tepat di samping Faiz ,dan ia mulai tak sadarkan diri,melihat hal itu Faiz mempercepat shalatnya,fikirannya berubah kalut,ia tak yakin jika bacaan shalat yang di ucapkannya benar.


" Tari!!" teriaknya,setelah menyelesaikan shalatnya.


" Tari,sayang! buka mata mu." ucap Faiz lagi,dengan suara bergetar.


Tanpa menunggu lama pria itu membawa sang istri ke lantai bawah,meminta rekan kerjanya untuk memeriksa kondisi Mentari,karena dalam situasi seperti ini ia tak bisa melakukan hal itu sendiri,ia tak bisa bekerja secara objective,sebab dalam menangani sang istri ia tak akan bisa berkontrasi dan lebih bersikap emosional.

__ADS_1


TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA,JGN LUPA LIKE ,KOMEN, DAN VOTE..😊


__ADS_2