
Sejak kejadian itu, Citra tak lagi mempercayakan kedua anaknya pada Rahayu,walaupun sikapnya masih nampak biasa saja seolah tak mengetahui apa apa,namun untuk masalah anak ia tak akan bertindak ceroboh,jangan sampai hal itu terulang kembali,begitu juga dengan Satria yang akhir akhir ini lebih sering mengeluh tentang sikap pembantunya itu yang semakin berani,namun Citra masih saja tak bertindak,entah apa yang sebenarnya ia rencanakan.
Kali ini mereka baru saja mendapat kabar bahagia tentang acara 4 bulanan mbak Zahra,dengan segera sepasang suami istri itu bergegas untuk bersiap hendak pergi ke pondok, menghadiri acara yang akan di selenggarakan 3 hari lagi.
Tak lupa Citra pun mengajak Rahayu ke sana.
Dalam perjalanan yang panjang,Citra tak henti hentinya menunjukan sisi romantisnya terhadap sang suami di hadapan Rahayu,entah kenapa ada rasa puas saat melihat wanita yang kini duduk di belakangnya itu menunjukan wajah tidak suka.
" pegel gak,bang?" tanya Citra,tanpa segan ia pun mendaratkan tangannya di pundak Satria dengan sedikit memberi pijatan,lalu turun ke bawah menyentuh lengan kekar yang berotot itu seraya melirik pada Rahayu yang kini telah membulat matanya,sontak Citra pun tersenyum, mimik wajahnya seolah mengatakan jika semua ini adalah miliknya.
" Lumayan,nanti kita istirahat dulu di rest area." jawab Satria,tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya.
Citra mengangguk,ia kembali ke posisi duduk semula,namun Satria malah melayangkan protes.
" Kok berhenti sih,Bun? pijitin lagi!" rengeknya dengan manja,sambil menunjukan wajah menggemaskan,hal yang selalu ia tunjukan hanya untuk sang istri,membuat Rahayu semakin kebakaran jenggot,tanpa segan ia pun menawarkan diri untuk bisa memijatnya.
" Maaf,mas! mungkin agak sulit untuk mbak Citra,kalau mau biar aku saja yang memijatnya." ucap Rahayu,namun dengan cepat Satria menggelengkan kepala,dengan wajah datarnya,tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
__ADS_1
Hal itu semakin membuat Citra tertawa girang,dalam hati ia bersorak.
" Belum tau dia sedang berhadapan dengan siapa,jangan kan elu,gue aja perlu beberapa tahun untuk bisa meruntuhkan pertahananya,apa lagi sekarang, hatinya sudah tertutup penuh sama badan gue yang montok ini,gue pastiin gak akan ada celah sedikit pun untuk bisa masuk."gumamnya dalam hati.
" Tidak apa apa,Yu. Aku masih bisa,lagipula bang Satria memang tidak mudah untuk di sentuh wanita lain." ujarnya,membuat Rahayu tersenyum miris,ia melirik Satria lewat kaca spion depan,namun lagi lagi Satria tak membalas lirikan matanya,pria itu masih nampak acuh seolah tak pernah menganggap keberadaanya,hatinya semakin terasa sesak.namun ia pun tak akan tinggal diam,hingga akhirnya terculas ucapan yang membuat Citra dan Satria menggelengkan kepala karena tak habis fikir dengan keberaniannya.
" Benarkah? mbak Citra yakin mas Satria tidak mudah di sentuh wanita lain?" tanyanya.
" Ya,aku percaya padanya."sahut Citra seraya menatap Satria dengan yakin,sementara Satria hanya meliriknya sekilas sambil menyunggingkan senyum.
Hal itu samasekali tak membuat Rahayu gentar,masih lewat kaca spion ia malah membalas tatapannya dengan mengedipkan sebelah mata,sambil tersenyum puas.
Satria lalu melirik pada sang istri,khawatir jika istrinya itu akan terpengaruh dengan ucapan yang di lontarkan Rahayu,namun beberapa detik kemudian rasa khawatirnya sedikit memudar saat melihat Citra menyunggingkan sudut bibirnya,dengan santainya ia berkata.
"Ya,aku memang tidak tau sikapnya di luar rumah,tapi jika seandainya apa yang aku bicarakan itu tidak benar,aku tidak akan segan untuk melepaskanya,aku akan merelakannya untuk wanita lain,karena laki laki seperti itu tidak pantas untuk di pertahankan,lagipula kepercayaan ku terlalu berharga jika hanya untuk di sia siakan." balas Citra sambil melirik Satria,menatapnya dengan penuh ancaman,membuat Satria tak bisa berkata kata,ia memilih bungkam dari pada harus merespon ucapannya yang mungkin akan menimbulkan dampak panjang,hingga tidak akan selesai sampai dua hari dua malam.
Lagi lagi Rahayu tersenyum sinis,ia kembali melayangkan pertanyaan.
__ADS_1
" Semudah itu?apa mbak Citra tak ingin berusaha mempertahankanya,atau bersaing terlebih dulu dengan wanita yang berusaha mendekati mas Satria."tanyanya seolah menantang, membuat Citra terkekeh.
" Bersaing?Untuk apa? aku tidak suka bersaing hanya untuk memperebutkan sesuatu yang memang sudah menjadi milik ku,wanita itu yang seharusnya sadar diri.
Asal kamu tau saja,bukannya Jodoh adalah cerminan dari diri kita sendiri,jika sampai wanita itu berhasil merebut suami ku,mungkin tuhan sedang berusaha menunjukan bahwa dia sama busuknya seperti wanita itu,dan tentu saja dia tidak layak untuk terus hidup bersama ku." ucapnya dengan tegas,hingga tiba tiba terdengar suara ban berdecit,Satria menghentikan laju kendaraannya saat tiba di rest area.
" Hentikan omong kosong kalian,aku bukan laki laki seperti yang kalian bicarakan,aku tidak mungkin mempermainkan ijab qabul yang sudah aku ucapkan beberapa tahun yang lalu,mungkin aku bisa saja mengingkari janjiku pada mu,tapi tidak pada tuhan." balas Satria sambil menatap Citra dengan begitu intens,genggaman tangannya semakin erat seolah berusaha untuk meyakinkan.
" Aku percaya,Bang!" ucap Citra seraya tersenyum tipis.
" Dan untuk wanita yang berusaha mengambil hatiku,berhentilah bersikap bodoh,jangan terlalu berharap akan ada yang bersimpati padamu,bersikukuh untuk merebutku dari istri ku hanya akan menganugrahimu cap kotor,perebut suami orang, dan julukan mengerikan lainnya,lagi pula apa enaknya mengambil hak orang lain." sindir Satria,tanpa menatap orang yang di maksudnya,membuat Rahayu seketika bergeming,seolah kehabisan kata kata,tanpa banyak bicara lagi Satria pun langsung keluar,dan membantu sang istri membukakan pintu mobil mengajaknya untuk istirahat sejenak.
Saat itu juga Rahayu tersenyum sinis,rasa penasarannya malah semakin membuncah,beberapa kali mendapat penolakan dari satria tak membuatnya gentar,terlebih saat mendengar ucapan Citra yang akan dengan mudahnya melepaskan Satria,jika laki laki itu menghiataninya,hal itu malah semakin membuatnya bersemangat karena merasa tak memiliki saingan.
" Kita lihat,sampai kapan kamu bisa bersikap dingin seperti itu pada ku,karena suatu hari,aku pastikan kamu tidak akan bisa hidup tanpa aku." gumamnya sebelum turun dari mobil.
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA, JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA..😊
__ADS_1