
Masih dengan memutar sendiri kursi rodanya,Faiz menghampiri para wanita ke dapur,dengan wajah sembab dan hidung merah,pemuda itu tersenyum hangat pada calon istrinya yang tak sengaja melihatnya.
Gadis itu terlihat membuka mulutnya seolah mengucapkan kata kenapa tanpa bersuara.
Faiz langsung mengerti,ia menggelengkan kepala dengan cepat.
Mentari pun tak ingin banyak bicara,ia kembali diam seolah percaya.
Akhirnya semua makanan sudah terhidang di meja makan,mbak Zahra memanggil para pria yang masih di dalam kamar Abi,mereka pun keluar tak lupa mengajak orang tuanya.
Semua keluarga makan dengan tenang,begitu pun dengan Faiz yang tak seperti biasanya,kini ia nampak lebih banyak diam,sesekali hanya menjawab pertanyaan yang di lontarkan para anggota keluarga.
" Bagaimana rencana pernikahan mu?" tanya bang Haikal sambil melirik Faiz.
" Tergantung,bagaimana Faiz bisa menikah dengan kondisi yang seperti ini,apalagi dengan Abi,Faiz ingin menunggu Abi sembuh dulu." jawab Faiz.
"Jangan begitu, bagaimana kalo abi tidak bisa sembuh,kamu tidak akan bisa menikah selamanya." sahut Abi.
" Abi pasti sembuh." yakin Faiz.
" Iya sudah,sekarang abi sudah sembuh,jadi kamu bisa menikah secepatnya,kami sudah menyiapkan semuanya,jangan sampai di tunda lebih lama lagi,kasian juga Mentari jika harus menunggu mu terlalu lama,sudah mending Mentari masih mau menerima mu." ucap Abi,di ikuti cibiran dari kata terakhirnya,kata kata itu membuat semua orang menyunggingkan sudut bibirnya,Abi memang paling bisa mencairkan suasana,walaupun dalam keadaan menghawatirkan.
" Segeralah menikah,Abi ingin melihat mu bahagia." tambah Abi dengan wajah yang kembali serius,mau tidak mau Faiz pun mengangguk.
" Baiklah,jika itu yang Abi mau." balas Faiz.
" Syukurlah kalau begitu,bagaimana,apa semua persiapan sudah siap?" tanya Abi pada anak anaknya yang lain selaku penanggung jawab.
" Sudah siap,bagaimana,Tari? apa bibi mu bersedia membantu kita di sini?."sahut Mbak Zahra lalu melirik pada gadis yang nampak pergeming tanpa mendengar percakapan dari orang sekitarnya.
" Tari!" panggil Faiz,membuat gadis itu terhentak.
" Aahh,,iya,apa?" ucapnya gelagapan.
__ADS_1
" Apa yang kamu fikirkan?" tanya Faiz.
" Tidak,aku tidak sedang memikirkan apa apa?" sahutnya lagi,mbak Zahra pun kembali mengulang pertanyaanya.
" Oh,,iya,bibi sudah siap." sahutnya cepat masih dengan raut wajah yang tak bisa di jelaskan.
" Syukurlah, kalau begitu 3 hari lagi,siapkan diri kalian,dan pastikan semua selesai tepat waktu,abi ingin acara pernikahan kalian lancar tanpa hambatan." ujar Abi yang langsung di angguki semua anggota keluarga,mereka tertawa senang begitu juga Faiz yang semakin mengembangkan senyumnya, Namun hal itu malah membuat Mentari tak enak hati,parasnya berubah muram,seketika perasaan ragu muncul dalam benaknya.
Setelah Selesai makan,Umi menyuruh mereka istirahat,kini Mentari pun di izinkan untuk tinggal di kediamannya.
Gadis itu merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang tersedia di kamar tamu,hatinya begitu gelisah,kata kata trakhir yang di ucapkan Faiz pada Abi kembali terngiang " Baiklah,jika itu yang Abi mau." Hatinya kembali terasa ngilu saat mengingatnya,jelas jelas Faiz sudah menutuskan untuk menikahinya saat kondisinya membaik,namun mau tidak mau Faiz harus menuruti keingginan Abinya,apa itu bisa di katakan terpaksa?
" Apa yang harus aku lakukan." lirihnya,sambil mengembuskan nafas kasar,mengingat hari pernikahannya hanya tinggal mengitung hari,tidak mungkin ia bisa membatalkannya begitu saja,karena bagaimana pun ia tidak mau mengecewakan banyak pihak yang turut adil dalam kelangsungan acara pernikahannya.
Tak ingin terlalu lama larut dalam kegelisahan,gadis itu memutuskan untuk segera membicarakan dan memastikanya,ia keluar dari kamar tersebut,mencari keberadaan Faiz,untung saja pemuda itu kini telah berada di depan televisi di ruang keluarga.
Ia langsung menoleh,saat menyadari keberadaan calon istrinya.
" Maaf,Dok! Ada yang ingin aku bicarakan." ucapnya ragu,pemuda itu tersenyum,sambil menepuk sebuah sofa,memintanya untuk duduk.
" Kamu belum mendapat panggilan yang bagus untuk ku?" goda Faiz,gadis itu pun tersenyum sambil menggelangkan kepala.
" Aku akan memikirkannya setelah kita menikah nanti." balasnya.
" Aku sudah tidak sabar ingin mendengar panggilan sayang mu." bisik Faiz,setelah Mentari mendaratkan bokongnya di sofa,sementara Faiz masih duduk di kursi roda.
Gadis itu kembali tersenyum,gelisah yang melandanya sejak tadi sedikit memudar.
" Kamu mau bicara apa?" tanya Faiz siap untuk mendengarnya.
" Maaf,mungkin aku salah,atau mungkin aku terlalu terbawa perasaan,tapi ada sesuatu yang mengganjal dalam hati ku." ucapnya ragu.
" Apa?" Faiz tak sabar lagi untuk mendengar kelanjutannya
__ADS_1
" Soal tadi,saat Abi menyuruh kita untuk segera menikah."
" Iya,Lalu?" Faiz menatapnya lebih intens menunggu kelanjutannya.
" Aku rasa, kamu tidak menginginkannya." Mentari semakin menundukan kepala,sementara Faiz mengerutkan kening tak mengerti.
" Apa maksud mu? kenapa kamu bicara seperti itu ,kamu tau kan,aku sudah lama menantikan ini,mana bisa kamu berfikir jika aku tidak menginginkannya." seloroh Faiz.
3 hari lagi guys,,jangan lupa datang, sisihkan THRnya buat isi amplop..😂😂
" Tadi kamu bilang,Jika itu yang abi mau, itu artinya hanya abi yang menginginkan pernikahan kita." balas Mentari.
Pemuda itu tersenyum sambil menggelengkan kepala.
" Kamu sudah salah faham,Tari! sebenarnya aku sudah menginginkan ini sejak lama,tapi dalam keadaan seperti ini aku merasa tidak enak pada semua orang,jika aku hanya mementingkan kebahagiaan ku sendiri,sementara Abi dalam keadaan seperti itu."jelas Faiz.
" Kamu mengerti dengan maksud ku,kan?" ujar Faiz,gadis itu terdiam,taknm menunggu lama ia pun mengangguk.
" Aku mengerti,maaf aku sudah berfikir yang tidak tidak." sahutnya,merasa bersalah.
" Tidak apa apa,tapi jangan pernah lagi meragukan ketulusan dan keseriusan ku,aku hargai keberanian mu dalam menyelesaikan kesalah fahaman mu dengan cepat."
" Ya,karena aku tak akan bisa tidur jika kesalahfahaman ini tak segera di luruskan." sahut Mentari,membuat pemuda itu terkekeh.
" Baiklah,ada yang masih ingin kamu bicarakan?" tanya Faiz,dengan segera gadis itu menggelengkan kepala.
" Kalau begitu,kamu bisa istirahat sekarang,jangan sampai umi dan abi melihat kita berdua di sini." bisik Faiz yang kini membuat Mentari terkekeh.
" Baiklah." Mentari menganggukan kepala,dan mulai beranjak.
" Tari!!" gadis itu mengurungkan langkah,lalu kembali melirik Faiz.
" 3 hari lagi,kamu bisa masuk kamar ku." Faiz mengerlingkan sebelah matanya dengan genit,dan berhasil membuat rona merah di pipi calon istrinya itu.
__ADS_1