
Semua telah di sepakati bersama,acara pernikahan akan di selenggarakan 2 minggu lagi,Mentari dan Faiz kembali ikut ke kota bersama Satria dan Citra,sebelum sampai di rumah mereka bertiga mengantar Mentari terlebih dulu ke sanggar untuk memberi tahu kabar gembira tersebut pada Bi Susi.
" Alhamdulillah! bibi senang mendengarnya." ucap Bi Susi setelah mendengar kabar tersebut.
" Terimakasih,Bi! mohon bantuannya juga,Tari ingin memakai jasa MUA kita untuk di pernikahan Tari nanti."pinta Mentari.
" Tentu saja,Bibi akan bekerja dengan baik untuk pernikahan mu,bibi tidak akan mengecewakan kalian." sahut Bi Susi antusias.
" Terimakasih! Bibi memang tidak akan bisa di ragukan lagi."
Setelah selesai mengobrol bersama Bi Susi, Mentari pun pamit untuk segera pulang,menemui Zoya di kontrakannya.
Sampai di gerbang kontrakan,gadis itu berpapasan dengan Lutfi,karena moodnya sedang baik Mentari mengangkat kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyum seadanya sambil menundukan kepala.
" Mentari,bisa kita bicara." pinta Lutfi,Mentari mengerutkan kening,namun tidak lama ia pun menganggukan kepala.
Pemuda itu membawa Mentari duduk di sebuah warung bakso yang masih terletak di sekitar bangunan kontrakan.
Sambil menunggu bakso pesenan mereka datang Lutfi pun memulai pembicaraannya.
" Akhir akhir ini aku tidak pernah melihat mu." ucap Lutfi basa basi,padahal Zoya sudah memberitahu tentang kepergian Mentari.
" Iya,kemarin aku pergi untuk menemui seseorang." jawab Mentari apa adanya.
Lutfi menarik nafas dalam,mempersiapkan perasaannya,ia tahu obrolan selanjutnya akan semakin menyakitkan untuknya.
" Kau menemui dokter Faiz?" tanya nya lagi,gadis itu langsung menganggukan kepala.
" Iya,dan dua minggu lagi kita akan menikah,aku harap mas Lutfi bisa datang ke kediaman dokter Faiz." jawab Mentari,nampak jelas kebahagiaan di wajahnya yang berseri,ini kali pertamanya untuk Lutfi melihat Mentari secerah itu.
Pria itu hanya menganggukan kepala,sambil menahan sesak di dada.
" Lalu Mas Lutfi mau bicara apa?"tanya Mentari dengan penasaran.
__ADS_1
" Mentari! maaf, mungkin aku tidak pantas untuk membicarakan masalah ini pada mu sekarang,tapi aku tidak bisa memendam perasaan ini semakin lama,aku berharap jika kamu tau perasaan ku pada mu,kamu bisa memikirkan kembali dan menpertimbangkannya lagi." lirih Lutfi sambil meraih tangan Mentari,namun gadis itu langsung menariknya,dan menyembunyikan tangannya di bawah meja.
" Maksud mas Lutfi apa?"
" Sebelum dokter itu datang ke sini,aku yang lebih dulu mengenal mu,aku yang sudah menaruh perasaan padamu,aku menyukai mu sejak dulu,tapi kamu tidak pernah melirik ku sama sekali,dan dengan mudahnya dokter itu merebutmu dariku." ucap Lutfi membuat Mentari tercengang.
" Apa karena dia dokter,dan aku hanya karyawan biasa? Mentari, mungkin aku hanya karyawan bank biasa,tapi aku bisa memenuhi keinginan mu,aku bisa menjamin hidup mu,apa kau masih mau mempertimbangakannya." ucap Lutfi penuh harap.
" Maaf Mas,sebenarnya aku sudah mengenal baik dengan dokter Faiz lebih dulu sebelum aku datang kesini,jadi dia bukan orang baru untuk ku,dokter Faiz tidak pernah merebutku dari siapa pun,aku memang orang miskin,tapi aku tidak pernah memandang status seseorang,jadi aku tidak perlu mempertimbangkan apapun,bagiku dokter Faiz segalanya." balas Mentari yakin,matanya mulai berkabut,wajah cerahnya kembali suram.
" Tapi Mentari! aku juga mencintai mu,beri aku kesempatan untuk membuktikannya,aku akan melakukan yang terbaik untuk mu,aku tidak akan mengecawakan mu." mohon Lutfi.
" Maaf,Mas! aku tidak bisa,asal mas tau saja,jika aku bersikap dingin dan cuek selama ini pada Mas Lutfi, itu juga karena dokter Faiz,aku sudah tidak bisa membagi hatiku pada yang lain,jadi tolong lupakan perasaan mu." Mentari mulai beranjak,bakso yang di pesannya sama sekali tak di sentuh.
Ia mulai melangkahkan kaki,ke luar dari tempat tersebut dengan deraian air mata yang tak bisa di tahan lagi,Lutfi pun segera mengejarnya.
Pemuda itu segera menyusulnya dengan langkah lebar,mengikuti Mentari yang kini berjalan ke arah belakang bangunan kontrakan dimana terdapat pohon sawo yang cukup rindang, terasa sejuk dan juga sepi,di tambah cuaca mendung serta menjelang sore,juga jalanan buntu yang jarang sekali terlihat orang berlalu lalang.
" Mentari! maafkan aku."Lutfi berhasil mencekal tangan Mentari,namun gadis itu langsung menepisnya.
" Aku tidak akan berhenti, sebelum mendapatkan mu." Lutfi menyeringai menampakan senyum jahatnya, sambil kembali menarik tangan Mentari dan langsung menguncinya ke belakang,pemuda itu dengan mudah memeluknya dari belakang,membuat gadis itu bergetar dengan nafas tersenggal,dadanya naik turun tak beraturan.
" Tolong lepaskan aku!" Mentari berontak berusaha melepaskan diri.
" Aku akan melepaskan mu,dan membiarkan mu pergi,tapi dengan satu syarat." bisiknya tepat di telinga Mentari,dengan satu tangan yang mulai tak bisa diam menggerayangi perut dan dada Mentari,sementara tangan lainnya masih mengunci kuat tangan Mentari.
" Apa?" Mentari semakin terisak tak berdaya.
" Terima cintaku,atau aku akan nekat menodai mu dan menghabisimu,jika aku tak bisa memiliki mu maka tidak ada satu orang pun yang boleh memiliki mu juga." bisik Lutfi dengan tegas dan penuh ancaman.
" Tidak mungkin."Gadis itu menggelengkan kepala dengan cepat,sambil terus berusaha meronta dan berteriak meminta tolong.
" Diam!kau sendiri yang memberi kesempatan ini pada ku." Lutfi mulai mendorong tubuh Mentari agar merapat ke pohon sawo,dengan segera ia mengukungnya dari belakang dan merapatkan tubuhnya pada punggung Mentari ,lalu mencengkram pipi gadis berusaha meraih bibirnya.
__ADS_1
" Kalau begitu,setidaknya izinkan aku mencicipi mu agar aku tak mati penasaran." lirih Lutfi sambil mendekatkan wajahnya pada Mentari,tidak lama iapun berhasil mendapat bibir Mentari dan langsung melahapnya dengan sangat buas.Litfi yang terkenal baik dan ramah kini seperti orang ke setanan yang di kuasai bisikan jahat,wajahnya merah menahan emosi dan sesuatu yang bergejolak dalam hatinya.
Padahal dulu ia enggan untuk melihat rambut Mentari yang terurai,namun sekarang ia malah menarik jilbab tesebut dengan kasar.
" Hmmmppp." Mantari hanya bisa menggelengkan kepala sambil menutup bibirnya rapat rapat,dengan keadaan seperti itu fikiranya buntu dan tak bisa melalukan apa apa,namun sesaat kemudaian otak nya mulai berfungsi,gadis itu menginjak kaki Lutfi sambil mengigit bibir Lutfi yang masih menempel pada bibirnya sendiri dengan sangat kencang.
Dan akhirnya Lutfi pun mundur menarik bibirnya yang sedikit berdarah,namun tidak lama kemudian ia kembali menyeringai.
" Kau nakal juga." ucapnya sambil kembali mendekati Mentari,gadis itu segera melayangkan tendangan tepat mengenai aset berharganya,setelah itu akhirnya ia berhasil melarikan diri,Mentari segera berlari menuju kamar kontrakannya,sambil sesekali melirik ke belakang,takut jika Lutfi mengejarnya namun saat berada di tangga, tiba tiba saja ia menabrak punggung seseorang.
" Mentari!" ucapnya kaget, setelah melihat gadis yang menabraknya terlihat sangat hancur tanpa jilbab yang selalu melekat di kepalanya,gadis itu langsung berhambur memeluk pria di hadapanya dengan wajah ketakutan.
" Apa yang terjadi?" Faiz berusaha meraih wajah Mentari dan menangkupnya.
Gadis itu melirik ke belakang,nampak Lutfi berjalan santai melewati mereka sambil memegang aset berharganya,gadis itu semakin mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik calon suaminya.
Untung saja,kontrakan masih lumayan sepi karena masih dalam suasana magrib.
Faiz segera membawa Mentari ke kamar kontrakannya,karena kontrakan sebelah masih terlihat sepi dengan lampu yang masih padam,entah dimana Zoya berada saat ini.
Faiz segera membawakan teh hangat untuknya,lalu duduk berhadapan,memperhatikan Mentari yang masih menundukan kepala.
" Katakan padaku,apa yang terjadi?" tanya Faiz,gadis itu sedikit mengangkat wajahnya dan kembali terisak.
" Maafkan aku,dok!" lirihnya,Faiz mengerutkan kening tak mengerti,namun ia bisa melihat jelas kesedihan yang mendalam di wajah cantik calon istrinya itu,apalagi dengan keadaannya tanpa jilbab seperti ini.
" Kenapa? apa yang terjadi!" teriak Faiz sambil mengguncang bahu Mentari dengan kuat.
Gadis itu semakin gemetar sambil menutup mulutnya rapat rapat masih enggan berucap.
Faiz mulai frustasi,ia meraih ponselnya menyuruh Satria untuk segera datang dan meminta Citra untuk membawakan hijab.
Faiz menatap Mentari dengan tatapan dingin,seandainya gadis itu mau bercerita mungkin ia tidak akan membentaknya seperti itu.
__ADS_1
" Maafkan aku,aku tidak akan memaksa jika kamu masih belum mau memberi tahu.Tapi setidaknya berhentilah menangis,aku tidak bisa melihatmu seperti ini." Faiz memilih menjauh dan duduk di depan pintu,sambil menunggu kedatangan Satria dan Citra,namun netranya masih tertuju pada kamar seberang ,dimana kamar Lutfi berada,kamar tersebut masih nampak gelap padahal ia tahu penghuninya ada di dalam sana.
Sekian dulu ya guys,,belum nyiapin buat buka puasa,takut di pecat jadi menantu..😅😅