
Tak butuh waktu lama,Mentari sudah memasuki gerbang pondok,berjalan menyusuri beberapa bangunan dan akhirnya tiba di teras rumah Umi,beberapa kali ia mengetuk pintu namun tak ada sahutan,gadis itu pun mencoba mencarinya di dapur umum,dan akhirnya ia menemukan orang yang di maksud.
" Assalamu'alaikum.." sapa Mentari,seraya menghampiri Umi dan juga Alvi yang tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk para anak santri.
" Wa'alaikumsalam.." jawab keduanya.
" Umi kira kamu gak datang,jadi Umi masak di sini,sekalian bantu mbak Alvi." jelas Umi.
" Maaf,aku kesiangan." ucap Mentari merasa ber salah.
Namun bukan Umi namanya yang tak bisa faham dan pengertian,wanita paruh baya itu tersenyum sambil mengusap punggung menantu termudanya hendak menenangkan.
" Tidak apa apa,tolong bawa ini ke rumah! kita sarapan sama sama di sana." titah Umi seraya menunjuk beberapa makanan yang sudah siap untuk di bawa pulang.
Mentari pun mengangguk,ia lalu mengambil makanan tersebut dan membawanya ke rumah Umi.
" Al ! kita sarapan dulu." ajak Umi.
" Iya Umi, sebentar lagi tanggung,sekalian nunggu anak anak bubar,biar bisa sarapan bareng Bang Al juga." sahut Alvi yang masih sibuk di depan kompor,nampaknya ibu dua anak itu sudah banyak kemajuan,kali ini ia sudah ahli dalam memasak,bahkan masakannya banyak di gemari anak anak santri,karena lebih enak dari masakan bi Marni dulu.
" Ya sudah,jangan lama lama ya! umi tunggu di rumah." ujar Umi yang langsung di angguki menantu ke duanya itu.
Selang beberapa menit,anak anak pun bubar,Alvi dengan segera menyelesaikan pekerjaannya,setelah selesai ia lalu menghampiri sang suami yang baru keluar dari madrasah.
Al tersenyum sambil mengulurkan tangan,saat Alvi hampir sampai,dan tak menunggu lama Alvi pun membalas uluran tanganya.
" Baru selesai masak?" tanya Al.
" Iya,Bi."
__ADS_1
" Pantas,wangi masakannya tercium sampai ke sini." ujar Al, seraya mengajak istrinya berjalan.
" Bilang saja, bau bumbu." Alvi sedikit tak terima dengan candaan Al sebelumnya.
" Hmmm,,tidak juga,sini coba aku cium!" Al merangkul pundak Alvi seraya mendekatkan wajahnya ke leher istrinya,namun dengan segera Alvi mendorongnya.
" Iihhhh,,Bi!!" rengeknya sambil memukul kecil lengan Al,sementara Al hanya terkekeh sambil kembali merangkulnya.
Benar benar tidak bisa melihat kondisi dan situasi,mereka masih berada di luar,dan banyak para santri berlalu lalang.
" Cium wanginya aku jadi laper,mau makan kamu." bisik Al yang lagi lagi mendapat cubitan kecil di perutnya.
" Berisik,ih." Alvi mengedarkan pandangannya,berharap tak ada yang mendengar pembicaraan 20+ mereka.
" Anak anak sudah berangkat sekolah,kan?" tanya Al sambil menampakan senyuman buayanya.
" Memangnya mau apa? Umi sudah nunggu kita untuk sarapan bareng."
" Emang tadi malam belum cukup,sampai nambah beberapa kali." sahut Alvi seraya menggulum bibirnya.
Al menggelengkan kepala dengan cepat.
" Belum sayang,maunya tiga kali sehari, tiap satu kalinya harus nambah dua atau tiga porsi." balas Al di akhiri kekehan yang terlihat menyebalkan.
"Ya ampun.. ingat umur,pak! untung aku bukan roti,jika aku roti kamu bisa cepat terkena diabets dan obesitas." seroloh Alvi, membuat Al kembali terkekeh,dan kini mereka pun sampai di rumah Umi.
" Mentari di sini juga, mana Faiz?" tanya Al yang tak menyangka jika adik iparnya akan ada di sana,padahal mereka sudah memberi waktu untuk pasangan pengantin baru itu agar bisa menghabiskan waktu berdua.
" Iya,Bang! mas Faiz tidak ikut,dia sudah mulai membuka kliniknya,aku ke sini karena tak ada yang bisa aku kerjakan di sini." jelas Mentari.
__ADS_1
" Oh,ya sudah." Al dan Alvi pun mulai duduk di meja makan.
" Faiz sudah sarapan?" tanya Umi.
" Sudah Umi,Mas Faiz sudah menikmati sarapan terlezatnya,Eehh....!" Mentari langsung menutup mulutnya rapat rapat saat tanpa sadar mengatakan apa yang tadi Faiz katakan padanya.
Wanita itu menundukan kepala,menyembunyikan rasa malunya saat melirik waut wajah dari semua orang yang berada di sana.
" Emang Faiz sarapan apa?" tanya Alvi seolah belum puas menggoda iparnya.
" Dia sarapan bapau,,eh! kok bapau." lagi lagi Mentari memukul mulutnya yang tak bisa menjaga nama baiknya.
" Ehh,,bukan! maksud ku dia sudah sarapan....sarapan apa ya?" gumam Mentari seolah mencari sebuah jawaban yang tepat.
" Donat?" tebak Al.
yang langsung di setujui Mentari.
" Iya benar, donat!" sahut Mentari dengan antusias,namun hal itu malah membuat semua orang terbahak terlebih dua Al yang merasa puas karena sudah berhasil mengerjai iparnya itu.
Mereka memang selalu kompak dalam bidang menggoda pengantin baru.
Setelah menggoda Satria dan Citra dulu,kini Faiz dan Mentari pun tak luput dari sasaran mereka.
Mentari semakin di buat malu oleh ke dua ipar lacnat itu,seandainya ia mempuanyai kekuatan teleportasi,rasanya ia akan menghilang saat itu juga.
"Sarapan donat di pagi hari memang paling enak." tambah Al lagi seraya melirik istrinya,ia lalu mengedipkan sebelah mata,dan akhirnya kini Alvi yang merasa malu,ia mencebik kesal sambil mencubit pinggangnya.
Sementara Umi hanya tersenyum dan ikut bahagia,saat menanggapi celotehan dan candaan anak dan menantunya yang nampak bahagia.
__ADS_1
" Seandainya Abi masih di sini,mungkin ia juga akan ikut berceloteh menimpali candaan anak anaknya seperti biasa," lirih Umi dalam hati.
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA,,JGN LUOA LIKE KOMEN DAN VOTENYA..😊