
Malam harinya selepas shalat isya,Faiz sudah tak sabar untuk menyampaikan berita bahagia itu kepada seluruh anggota keluarganya,ia nampak antusias untuk membawa Mentari ke pondok,sementara Mentari masih enggan,ia belum siap menerima pertanyaan ataupun tudingan yang mungkin akan membuat mentalnya down.
Tak seperti malam sebelumnya,saat ini bukan lagi masalah hamil atau tidaknya yang ia khawatirkan,setelah semua harapannya terwujud, Namun tetap saja hal itu tak bisa membuatnya kembali bernafas lega,karena masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Tentang kehamilannya tersebut,Mentari sampai tak bisa tidur dan juga tak enak makan karena memikirkannya.
Bayangan masa lalu yang menjijikan kembali berputar dalam memorinya.
Lagi lagi Mentari hanya bisa menangis.
" Tari,kenapa kamu menangis?" tanya Faiz sambil mengusap punggung istrinya.
" Aku takut mas!"
" Apa yang kamu takutkan,sudah lah tidak usah khawatir,ayok ikut aku!" ajak Faiz,sambil meraih tangannya.
" Aku takut mereka tak percaya pada ku,Mas." kukuh Mentari sambil menarik tangannya kembali.
" Kamu tidak usah khawatir sayang! jika ada yang berani menuduh mu macam macam,aku sendiri yang akan menghadapinya." ujar Faiz.
Hingga mau tidak mau Mentari pun menurut.
Suasana pondok di malam hari masih nampak ramai,banyak orang mengaji atau sekedar menghafal,di masjid atau pun di madrasah,sebelum jam 10 malam,para santri tidak bisa membubarkan diri sebelum waktunya untuk tidur.
Kini Faiz dan Mentari sudah berada di teras Umi,mengetuk pintu beberapa kali namun belum ada sahutan.
" Mungkin Umi sedang shalat,mas!" ujar Mentari,ia lalu mengajak Faiz untuk duduk di kursi teras sambil menunggu pintu terbuka.
Bukannya duduk,Faiz malah berjalan ke halaman, dan berhenti tepat di bawah pohon mangga yang tumbuh di samping rumah Umi,ia mendongkan kepalanya ke atas,seolah mencari sesuatu di sana.
" Nyari apa,Mas?" tanya Mentari seraya menghampirinya,dan ikut mengangkat kepalanya ke atas sama seperti apa yang di lakukan suaminya.
" Nyari mangga." sahut Faiz.
__ADS_1
" Mangganya masih muda,Mas!" balas Mentari.
" tidak apa apa,aku memang sedang ingin mangga muda." ucap Faiz cepat,namun sedetik demikian ia tersadar,lalu kembali ke teras rumah dan mengurungkan niatnya.
"Kenapa,Mas? tuh mangganya banyak." Mentari menunjuk ke arah mangga muda yang masih tergantung di pohonnya.
"Tidak jadi,Aku takut nanti anak kita kecut,lebih baik kita makan gula saja,biar anak kita manis." balas Faiz,membuat Mentari mengeryitkan dahi tak mengerti,entah sumber dari mana yang Faiz dapat sehingga ia bisa mengatakan hal tak masuk akal seperti itu.
Mentari hanya menggelengkan kepala tanpa mau membalas ucapannya lagi.
Dan akhirnya pintu pun terbuka,senyum cerah umi terpancar seketika saat mengetahui siapa yang datang,Faiz dan Mentari menyalami Umi sebelum masuk.
"Maafkan Faiz ya,Mi! Faiz baru bisa menemui Umi sekarang."
" Tidak apa apa,umi mengerti kamu pasti sibuk." balas wanita,yang mempunyai dada lapang untuk selalu memaafkan.
lama berbincang tiba tiba perut Faiz kembali mual,ia langsung berlari ke toilet,Umi di buat panik,begitu pun Mentari,walaupun ia tahu jika yang di alami sang suami hanya bawaan jabang bayi yang di kandungnya,namun tetap ia masih saja khawatir,kedua wanita yang di cintai Faiz itu langsung menyusulnya ke toilet,membantu mengusap punggung dan tengkuknya.
Setelah di rasa cukup Faiz membalikan tubuhnya,menatap Umi dan Mentari bergantian,perasaan khawatir mereka langsung di balas dengan senyum yang menawan.
" Kenapa,Nak! kamu sakit?" ujar Umi.
Namun Faiz menggelengkan kepala cepat,masih dengan kepala yang ia sandarkan di pundak Umi.
Sementara Mentari hanya menundukan kepala,takut jika Umi tak percaya saat Faiz memberitahukan yang sebenarnya,takut jika Umi ragu dan tak bisa menerima bayi yang berada dalam kandungannya itu.
Faiz membawa Umi untuk kembali duduk.
" Faiz tidak sakit,hanya ngidam saja." ujar Faiz membuat kedua wanita itu langsung menganga dengan mata membulat sempurna,terkejut dengan perasaan yang berbeda, Mentari merasakan ketakutan yang mendalam,sementara Umi langsung tersenyum,setelah keterkejutannya mereda.
" Jadi kamu sedang hamil,Nak?" tanya Umi,suara lembutnya mampu memudarkan kekhawatiran yang di rasakan Mentari.
Wanita paruh baya itu langsung memeluk Mentari,membuat Mentari semakin tak enak hati.
__ADS_1
' Bagaimana jika Umi tau jika usia kandungannya tak sesuai dengan usia pernikahannya? apa sikap umi akan berubah.'
Seketika air matanya berlinang,Mentari bersimpuh di kaki Umi.
" Maafkan aku, Umi! aku juga tidak mengerti kenapa bisa secepat ini,tapi jujur aku tidak pernah melakukan macam macam sebelum kami menikah,aku menikah masih dalam keadaan suci." jelas Mentari sambil terisak,membuat kerutan di kening Umi semakin terlihat.
Wanita peruh baya itu melirik Faiz,seolah meminta penjelasan.
" Bangun,sayang! kamu tidak perlu seperti ini." Faiz berusaha mengangkat tubuh Mentari,namun Mentari menolak dan tetap berlutut di hadapan Umi.
" Usia kandunganya tidak sesuai dengan usia pernikahan kami,Mi!" jelas Faiz,seketika Umi bergeming,ia menatap Faiz dengan tatapan nyalang.
" Lebih tua beberapa hari,karena hitungan yang di ambil dokter dari hari terakhir ia datang bulan."jelas Faiz semakin membuat mata Umi melebar sempurna.
" Jadi maksud mu,kandungan Mentari sudah menginjak 4 bulan?" tanya Umi,yang di balas dengan anggukan kepala oleh Faiz.
Sementara Mentari menunduk semakin dalam,sambil berusaha menguatkan hati untuk menerima apapun yang akan Umi ucapkan,kalau pun Umi tak bisa menerimanya lagi,ia akan berusaha berlapang dada.
" Kenapa kalian baru memberitahu Umi sekarang? jadi selama ini Mentari mengerjakan pekerjaan berat,berjalan dari klinik ke sini dalam keadaan berbadan dua?" bentak Umi,dan lagi lagi Faiz hanya mengangguk.
" Kami juga baru tahu,Mi."
" Astagfirullah,,suami macam apa kamu!!" teriak Umi sambil menjewer anak bungsunya itu.
" Bangun,Nak! apa yang kamu lakukan?" suara Umi kembali ke nada semula saat bicara dengan menantunya,sontak Mentari mengangkat kepala,melihat raut wajah Umi yang teduh,membuat rasa khawatir yang memenuhi relung hatinya sirna seketika,seperti debu yang tertiup angin.
" Umi tidak marah,Umi percaya padaku?" tanya Mentari seolah memastikan.
" Tentu saja,apa yang harus Umi ragukan,Umi percaya pada mu,kamu gadis baik,yang bisa menjaga kesucian mu dari pria seperti ini." ucap Umi sambil melirik anak bungsunya.
" Jadi Umi hanya percaya pada Mentari?" tanya Faiz seolah merajuk.
" Tentu saja,Umi tau bagaimana kamu." balas Umi membuat Faiz terkekeh tak bisa berkata kata.
__ADS_1
" Lagian Umi sudah melihat bukti jika kamu masih suci saat menikah dengan Faiz." tambah Umi, mengingat saat ia melihat Mentari mencuci seprai dan badcaver bekas pembantaian malam pertamanya waktu itu.
Lalu Umi pun membawa Mentari untuk kembali duduk di sampingnya...