I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab 38


__ADS_3

Menjelang malam,Umi dan Mbak Zahra serta Alvi tengah menyiapkan makan malam,sementara Al dan Haikal tengah berusaha memenangkan Faiz yang masih terisak di samping Abi, tak bisa mereka bayangkan jika saja hal buruk terjadi pada Abi,entah lah,apa Faiz bisa menerimanya atau tidak,melihat Faiz begitu terpuruk saat itu,hingga matanya sembab.


" Berhenti menangis,jangan beratkan kepergian Abi dengan tangisan mu." lirih Abi,membuat Faiz kembali terisak,dokter muda itu menenggelamkan wajahnya di bibir ranjang,dengan tangan yang masih saling berpautan.


" Kalian sudah berkumpul,Abi bisa pulang dengan tenang sekarang ,jaga keluarga kalian,Abi hanya ingin menitipkan Umi,Setelah abi pergi jangan biarkan Umi kesepian." Al dan Haikal tak bisa lagi tinggal diam,mereka menghampiri sang Ayah dan duduk di samping kanan dan kirinya.


"Memang abi mau pulang kemana? ini rumah abi." ujar Al.


"Abi tidak akan meninggalkan kita, besok kita akan bawa Abi ke rumah sakit." ujar Haikal.


Al dan Faiz pun setuju,sebenarnya mereka sudah berusaha membawa Abi ke beberapa rumah sakit besar,bahkan dokter terbaik sudah mereka datangkan,namun tak ada perubahan,kesehatan Abi semakin hari malah semakin memburuk,penyakit komplikasinya sudah sulit di sembuhkan,hingga akhirnya mereka menyerah dan menuruti keinginan Abi agar di rawat di rumah saja dengan perawatan seadanya.


Setelah itu mereka berkumpul di meja makan,suasana yang selalu mereka rindukan,hanya saja masih terasa ada yang kurang, meskipun Faiz kembali,namun kebahagiaan itu masih belum lengkap tanpa adanya sang pemimpin,seperti kapal tanpa nahkoda,terombang ambing tak karuan.Namun mereka harus tetap berusaha kuat, agar kapal tersebut tak tenggelam di hantam gelombang.


" Ayo makan!" ajak Umi dengan wajah yang ia buat secerah mungkin, seolah tak ada beban yang di fikirkan,padalah dalam hatinya merasakan hal yang sama,bahkan lebih,mengingat teman hidupnya yang kini tak berdaya,tak dapat lagi bisa membagi suka dan duka,pundaknya yang tak lagi kokoh,tak lagi bisa untuk bersandar.


Umi hanya bisa menangis dalam kesendirian,menyadari bahwa seorang ibu adalah jantung keluarga,hidup dan matinya keluarga tergantung pada seorang ibu,maka ia tidak ingin menunjukan kelemahannya di hadapan anak,menantu dan cucu cucunya.


Dalam hening mereka pun mulai menyantap makan malam,mungkin beberapa tahun yang lalu Faiz masih bisa merasakan kehangatan di meja makan itu,namun ia malah melewatinya,dan kini penyesalan itu tiba.


Setelah selesai makan malam,Faiz kembali ke kamarnya,kamar yang bertahun tahun Tak berpenghuni masih nampak seperti saat ia terakhir menempatinya.Ia menyempatkan waktu untuk membuka ponselnya,beberapa panggilan dan pesan dari Mentari serta teman teman di klinik terpampang di layarnya.


Saat ini Ia sedang tak ingin di beban kan oleh pekerjaan,maka dari itu hanya pesan dari Mentari yang ia baca.

__ADS_1


" Maaf,aku baru sempat membalas,aku sudah sampai sejak sore tadi." balas nya.


Lama menunggu tak ada balasan,mengingat malam telah larut,gadis itu pasti sudah terbuai di alam mimpi.


" Kamu pasti capek,sebaiknya tidur di kamar,biar Umi yang jaga Abi." ucap Umi,saat Faiz kembali ke kamar Abi untuk menemaninya tidur.


" Faiz tidur di sini saja,Mi." sahutnya seraya menghempaskan tubuh di sebuah sofa di dalam kamar tersebut.


Umi pun mengalah dan tak melarangnya.


Pagi harinya,Mentari membuka ponsel baru yang di belikan Faiz,satu pesan yang di terima dari Faiz sedikit mengobati rasa rindunya.


" Syukurlah kalau begitu,jaga diri baik baik di sana." balas Mentari.


Tak seperti biasa,gadis itu nampak tak bersemangat dalam melalu hari hari tanpa sang kekasih,seolah separuh nyawanya hilang bersamaan dengan kepergian Faiz.


Mentari menatap pintu kamar sebelah yang tertutup rapat,berharap pintu itu akan terbuka dan menampakan pria yang di cintainya,namun sedetik demikan ia kembali sadar jika dokter cintanya tak lagi berada di sana.


" Ayo,kenapa masih diam." ajak Zoya,Mentari pun mengangguk dan mulai melangkahkan kaki menuruni anak tangga.


" Selamat pagi,kak!" ucap Lutfi dengan senyum manisnya saat sama sama berada di parkiran.


" Selamat pagi,mas Lutfi." balas Zoya,Lutfi melirik Mentari yang masih nampak acuh seolah tak melihat keberadaannya,pria itu mendesis dan menarik sudut bibirnya hingga menampakan senyum sinis,ia merasa sudah tak ada kesempatan untuk mendekati Mentari.

__ADS_1


Jangan kan bisa dekat,bahkan sikap Mentari saja sangat berbeda padanya.


Jika Mentari menahan rindu setengah mati,tidak halnya dengan Faiz,di tempat lain ia mati matian berusaha mengobati Abi,mengesampingkan rasa rindunya pada sang kekasih,baginya kesembuhan Abi paling utama saat ini.


Kini Ketiga putra kerajaan itu telah membawa Abi nya ke rumah sakit,dengan setia mereka menemani Abi menjalankan perawatan medis,bahkan Abi harus menjalani rawat inap.


" Abang pulang saja,Faiz akan menjaga Abi di sini." titah Faiz pada kedua abangnya.


Mengingat masih banyak tugas yang harus mereka urus,terpaksa Haikal dan Al pun menurutinya.


" Ya sudah,setelah selesai mengajar abang akan kesini lagi." ujar Al,mereka berdua pun pulang meninggalkan Faiz dan Abi.


" Faiz!!" lirik Abi,dengan suara yang parau.


" Iya,Bi!" sahut Faiz,ia menggeser posisi duduknya agar bisa lebih dengan sang ayah.


" Abi mau pulang,maaf jika abi selalu merepotkan,tapi abi ingin kalian yang merawat Abi di sisa sisa hidup Abi." ucapan Abi selalu berhasil membuat dokter muda itu kembali menangis,mungkin terlihat cengeng,namun hanya dengan cara itu ia bisa mengepresikan perasaanya,ia tak bisa berpura pura tegar jika sudah menyangkut keluarga atau orang terdekat.


" Abi tidak pernah merepotkan kami,Faiz akan merawat Abi dengan sangat baik." balas nya.


" Terimakasih." lirih Abi sambil mengelus pucuk kepala sang anak dengan telapak tangan yang terasa dingin.


" Tapi Faiz mohon,abi jangan bicara seperti itu lagi,Faiz tidak sanggup mendengarnya." lirih Faiz.

__ADS_1


Abi tak sanggup lagi berucap,ia hanya tersenyum menimpali ucapan sang anak yang nampak begitu terpuruk saat melihat kondisinya sekarang.


__ADS_2