
Acara makan bersama telah usai,suara adzan magrib yang di kumandangkan muadzin dari salah satu santri terdengar merdu menyejukan hati,semua anggota keluarga membubarkan diri hendak memenuhi panggilang sang kuasa.Faiz dengan segera membersihkan badan yang sejak kemarin tidak terkena guyuran air,ia melakukan ritual mandinya dengan secepat kilat,sebelum ikomah terdengar,mantan dokter itu mulai keluar dari kamar,lalu berlari kecil menuju mesjid sambil mengancingkan baju kokonya,dalam fikirannya hanya berharap 27 ganjaran shalat berjamaah,tanpa ia sadari sarung yang di pakai asal asalan melorot dan berhasil mendarat di lantai,celana boxer berwarna navy yang membalut bagian bawahnya nampak terlihat.
" Astagfirullahal'adziim." ucapnya,untung masih di dalam rumah,ia melirik kanan kiri,berharap tidak ada yang melihatnya,mungkin jika abi atau Umi yang melihatnya tak masalah,tapi kalau Mantari, kemana ia harus mencari lubang semut untuk menyembunyikan rasa malunya? untangnya tidak ada yang melihat kejadian konyol itu,
Mentari pasti sedang berada di dalam kamar tamu.
Mantan dokter itu pun langsung manarik sarunganya kembali lalu memakainya dengan benar,setelah itu melanjutkan langkah kakinya sedikit lebar karena iqomah telah di kumandangkan.
Selesai shalat,Citra dan Satria pamit hendak menemui Ibu Alvi yang telah merawat Citra sejak kecil,setelah itu lanjut ke pondok hunian impiannya.Sementara Mentari di biarkan tetap tinggal di pondok,Faiz nampak senang dengan keberadaan sang ke kasih di rumahnya,senyuman lebar yang tak pernah pudar dari bibirnya mewakili isi hatinya.
" Mentari!sebaiknya kamu juga istirahat."titah Umi.
" Iya,bu terimakasih." ucap Mentari sambil menganggukan kepala.
"Panggil umi saja,Tapi maaf Umi belum mengizinkan mu tinggal di sini,kamu mau kan istirahat di asrama?kebetulan masih ada satu kamar yang kosong,Umi sudah menyuruh anak anak untuk membersihkannya."
" Kenapa di asrama,Mi! Tari kan tamu di sini." protes Faiz.
" Umi tidak mungkin membiarkan Mentari tinggal di sini bersama kucing garong."sungut Umi
"Tinggal Satu malam doang,Mi! Faiz masih bisa tahan kok." rengek Faiz.
" Satu malam dari Hongkong." Umi mendelik kesal.
" Loh! besok kita jadi menikah kan?"
__ADS_1
" Tidak segampang itu forguso,Mentari masih mempunyai keluarga,kita harus melamarnya dan meminta izin dulu sebelum menikahinya." seroloh Umi,Mentari mengangguk setuju,sedangkan Faiz tertunduk lemas.
Aku juga ingin berziarah ke makan ibu dan bapak dulu sebelum menikah." ujar Mentari.
" Itu akan lebih baik,ya sudah besok kita bicarakan lagi,sekarang kamu istirahat ya,ayok! Umi antar kamu ke asrama."ajak Umi sambil merangkul pundak calon menantunya,lalu pergi tanoa menghiraukan Faiz yang nampak kecewa.
Umi dan Mentari berjalan beriringan menyusuri jalan berpaving block yang hanya muat untuk di lewati satu mobil saja,sisi kanan kirinya terdapat beberapa bangunan menjulang tinggi dan megah,di antaranya sebuah perpustakaan,madrasah khusus untuk mbak Zahra mengajar santriwati,gudang,dan masih banyak lagi,dan akhirnya mereka sampai di sebuah bangunan yang lebih luas lagi,yaitu asrama satriwati yang memiliki lebih dari 500 kamar,serta 250 kamar mandi yang terpisah,bangunan tersebut beberapa kali lebih besar dari bangunan kontrakan tempat tinggal Mentari ,dan tentunya juga lebih nyaman serta tertata rapi.
Para santriwati sedikit membungkukan badannya ketika berpasasan dengan mereka,terutama pada Umi.
Wanita paruh baya itu mulai membuka salah satu kamar,yang sudah tersedia dua buah ranjang kecil yang masing masing memiliki dua buah tempat tidur,di bagian atas dan bawah.
" Silahkan! untuk sementara kamu tidur di sini ya,kamu bebas memilih tempat tidur yang mana,maaf Umi tidak bisa memberi kamar yang layak untuk kamu." ucap Umi merasa tidaj enak,sementara Mentari mengangguk dan tersenyum.
" Tidak apa apa,Umi! ini sudah lebih dari cukup." sahut Mentari.
Gadis itu mulai merebahkan tubuhnya di salah satu ranjang,sementara Citra dan Satria yang baru saja tiba di kediaman Ibu Alvi di sambut hangat oleh Ibu dan bang Fatur serta Mbak Siva.sedangkan Bi Marni masih tidak berani menujukan batang hidungnya,setelah beberapa tahun semenjak kejadian itu Citra masih belum bisa menerima ia sebagai orang tuanya,hatinya seolah mati rasa.
" Bagaimana kabar kalian." tanya Ibu.
" Kami baik,Bu!" jawab Citra
" Syukurlah."
" Ibu bagaimana?"
__ADS_1
" Ibu juga baik." sahut Ibu.Mereka pun berbincang ringan sambil memperhatikan Fattah dan Cyra yang tengah bermain.
" Bun! kamu tidak mau menemui Ibu mu?" tanya Satria tiba tiba.
" Aku sedang menemui ibu ku." jawab Citra.
" Bukan,bukan itu maksud ku."
" Sudah lah,Bang! untuk apa aku menemuinya,dia juga tidak pernah menganggap aku ada." ucap Citra setelah tau siapa yang di maksud suaminya,Satria pun diam tidak ingin banyak bicara,ia tau istrinya akan berubah garang jika sudah membahas tentang ibu kandungnya.
Malam semakin larut Citra dan Satria segera pamit,dan tidak butuh waktu lama akhirnya sampai juga di pondok bambu milik Satria.Citra keluar dari mobil dengan tergesa gesa,parasnya berseri dengan mata berbinar,senyumnya pun terus tersungging,saat melihat pondok kesayangannya masih utuh dan terawat.
Ibu dua anak itu mulai masuk ke kamar lalu menidurkan Cyra dan Sara,sementara Satria masih berada di teras menghabiskan rokoknya.
Selesai menidurkan anak anaknya,Citra keluar menghampiri sang suami,ia duduk di sebelahnya sambil mengalungkan tangan di lengan kekar milik Satria dan menyandarkan kepala di bahunya.
" Kenapa tidak ikut tidur?" tanya Satria.
" Belum ngantuk." sahut Citra,pria itu tersenyum lalu merangkul pundak sang istri dan menciumi pucuk kepalanya.
" Nyaman sekali di sini,aku jadi enggan untuk pulang lagi ke sana." lirih Citra sambil memejamkan mata,menikmati hembusan angin malam yang terasa sejuk,lampu temaran,di iringin suara alam yang terdengar saling bersahutan,di temani oleh seorang pria yang di cintainya,sungguh tak ada yang lebih indah dari itu,sesuatu yang jarang ia dapatkan selama di kota B,karena sang suami sibuk dan jarang berada di rumah,serta sibuknya menjadi seorang ibu membuat membuat hal yang sederhana sekalipun tak bisa mereka lakukan.
" Kita akan tinggal di sini lagi setelah pekerjaan ku selesai,temani aku selalu dalam hal apapun." Satria menarik tengkuk Citra lalu maraih pinggang berisinya,dan mulai mendekatkan wajahnya mengikis habis jarak di antara keduanya,hingga bibir mereka menempel sempurna,semakin lama semakin dalam,setelah beberapa menit ciuman terlepas,Satria menyeka sisa silavi yang menempel di bibir sang istri dengan ibu jari yang lembut.
Tatapan mereka masih tertemu,Citra tersenyum sambil memperhatikan wajah tampan sang suami yang makin hari semakin terlihat seksi.
__ADS_1
" Aku akan selalu menemani mu,kemana pun dan sampai kapan pun." ucapnya.