
Ke esokan harinya,acara 4 bulanan baru saja selesai,para tamu undangan mengalir ke luar lewat gerbang utama yang sengaja di buka lebar lebar,aura pesta yang usai jelas terasa,satu persatu kendaraan hilang di tempat parkir,dengan hanya menyisakan beberapa mobil milik tuan rumah.
Tak ingin berlama lama di selimuti rasa penasaran,Satria membawa Citra ke klinik,ibu beranak dua itu mengerutkan kening saat melihat dokter Rani tersenyum ke arahnya,lalu menyuruhnya untuk segera masuk ke ruangan untuk melakukan pemeriksaan.
" Kenapa kita ke sini,bang?" bisik Citra saat Dokter Rani tengah menyiapkan beberapa peralatan.
" Ini saran dari Faiz." jawab Satria.
Citra tak lagi bertanya,karena dokter Rani sudah menyuruhnya berbaring di atas brankar,dokter cantik yang di ketahui sebagai istri dari salah satu sahabat Al tersebut mulai memeriksanya sambil sesekali melayangkan pertanyaan.
" Kapan terakhir mentruasi?"
"Aku belum mentruasi lagi sejak melahirkan Sara." jawab Citra.
Dokter Rani pun mengangguk faham,lalu kembali bertanya tentang keluhan yang di rasakan ibu hamil pada umumnya.
Namun Citra hanya menjawabnya dengan gelengan kepala,karena selama ini tak pernah merasakan apapun.
Setelah mendapat jawaban,dokter tersebut memutuskan untuk melakukan USG,di sana nampak jelas sesuatu yang mungkin akan sulit di fahami untuk orang awam seperti Satria dan Citra,namun Dokter Rani menunjukan senyum manisnya,lalu mengatakan sesuatu yang membuat pasangan itu terkejut sekaligus senang.
" Kamu tidak sedang bercanda,kan?" tanya Satria seolah tak percaya,membuat dokter itu terbahak.
" Aku dokter,bukan palawak.Bang Satria bisa melihatnya langsung." ucap dokter Rani sambil menunjuk pada sebuah layar.
Namun sepertinya Satria terlalu bodoh dalam ilmu kedokteran, hingga iapun sedikit geram dan langsung melayangkan protes.
" Apa yang bisa aku lihat dari gambar ini? sebaiknya jelaskan langsung." protesnya,membuat Dokter Rani menghela nafas kasar sambil mengusap dadanya,namun sedetik demikian ia tersenyum seraya menggelengkan kepala,melihat Satria menunduk patuh ketika Citra menatapnya tajam.
"Ternyata benar apa yang di katakan banyak orang,Mbak Citra memang pantas di sebut pawang binatang buas." suara hatinya bermanolog.
Tanpa menunggu lama Dokter Rani pun mulai menjelaskan semuanya dengan sangat jelas,tentang kondisi janin yang kini sudah menginjak 5 bulan,hal itu di ketahui dengan mengukur tulang fundus.
Citra semakin terkejut,bagaimana bisa ia tidak menyadari tentang kehamilanya yang kini sudah menginjak 5 bulan?
Saat itu juga tersirat raut kekhawatiran saat mengingat tindakan yang di lakukan saat ia berusaha melangsingkan tubuhnya.
__ADS_1
" Maaf Dok,apa bayi ku akan baik baik saja?aku sangat khawatir karena pernah mengkonsumsi obat pelangsung." tanya nya ragu.
" Sejauh ini kondisinya cukup baik,tapi mulai sekarang tolong lebih hati hati,sebaiknya makan makanan yang sehat,perbanyak makan sayur dan buah buahan,minum susu hamil juga sangat baik untuk pertumbuhan janin." jelas Dokter Rani.
" Lalu bagaimana dengan jenis kelaminya?" tanya Satria yang terlihat semakin antusias.
" Saat ini untuk jenis kelamin belum bisa terlihat,karena anggota tubuhnya belum sempurna." jawab Rani,membuat Satria sedikit kecewa.
Setelah di rasa cukup,Satria dan Citra pun akhirnya pamit,mereka langsung kembali ke pondok dengan wajah berseri,rasanya Satria ingin sekali mengumumkan kabar bahagianya kepada seluruh dunia,terlebih pada Haikal yang sempat mengoloknya beberapa waktu lalu,sampai sampai ia lupa dengan janjinya pada Faiz.
Di kediaman Umi,Faiz tersenyum mesterius saat mendapat pesan balasan dari Rani,tanpa menunggu waktu lama ia kembali mengetikan sesuatu di layar ponsel,dan mengirimkanya pada seseorang,entah apa yang kini tengah ia rencanakan,hingga membuatnya tertawa girang.
" Yesss party,waktunya berpesta!!" serunya,ia pun lalu kembali ke luar untuk menyambut kedatangan Satria dan Citra.
Di teras depan rumah Umi masih ada Al dan juga Haikal serta istri istrinya, mereka tengah berbincang membicarakan keberangkatanya ke Kairo dengan membawa Zahra serta anaknya ke sana,agar tidak harus kesana kemari,mengingat sang istri telah berbadan dua,Haikal ingin selalu bisa bersama dan menemaninya saat melahirkan nanti.
Faiz pun ikut duduk di antara kedua abangnya sambil terus menyunggingkan senyum ,dan tak lama Satria dan Citra datang,di antara semuanya Faiz terlihat paling antusias.
dokter muda itu langsung berhambur,menghampiri Satria dan memeluknya, saat masih dalam posisi saling berpelukan,Faiz terlihat membisikan sesuatu tepat di telinga Satria.
Bagitu pun Citra yang kini tengah mendapat ucapan selamat, serta pelukan dari Alvi dan juga Zahra,ibu dua anak itu nampak antusias saat memberitahu usia kandungannya yang ternyata satu bulan lebih tua dari Zahra.
Hal itu membuat Haikal mencebik kesal,karena ternyata Satria telah lebih dulu berhasil mencetak gol,untuk yang ke tiga kalinya,bahkan dalam jangka waktu yang cukup dekat.
" Bagaimana,aku juga tak kalah hebat,kan?" ucap Satria bangga sambil menepuk bahu Haikal.
" Iya,aku tau kemampuan mu dalam hal ini memang tak bisa di ragukan." sungut Haikal seolah tak terima.
Dan setelah beberapa lama,akhirnya yang di tunggu tunggu pun tiba,Faiz begitu semangat menghampiri sebuah mobil pick up yang terpangkir tak jauh dari kediaman orang tuanya.
" Duren?" semua nampak terkejut dengan apa yang Faiz lakukan,tak tanggung tanggung ia sengaja memesan banyak buah yang memiliki bau khas itu ,khusus untuk mengerjai Satria.
" Durian sebanyak ini untuk apa,mau kamu jual?" tanya Haikal.
" Bagaimana kalian suka,kan?" Faiz menaik turun kan alisnya,ia tahu jika semua anggota keluarganya memang sangat menyukai buah yang di juluki king of fruit tersebut,namun tidak dengan Citra,ia langsung menghindar dan pergi begitu saja walau hanya mencium bau aromanya saja.
__ADS_1
" Jadi ceritanya malam ini kita pesta durian nih?" seru Al,yang turut antusias,melihat durian durian berkualitas super yang nampak menggiurkan.
" Yah!!" sahut Faiz.
" Pesta sih,pesta! tapi tidak harus sebanyak ini juga kali." lirih Satria.
" Tenang saja,ini semua tidak akan mubazir,penghuni di sini bukan hanya kita saja." ujar Faiz santai,ia langsung mengambil beberapa buah tersebut dan membawanya ke halaman belakang rumah Umi.
Semua orang turut mengikuti langkah Faiz,tanpa menaruh curiga sedikit pun,mereka begitu menikmati buah yang memiliki duri tajam itu dengan suka cita,begitu juga dengan Satria yang memang sudah lama tak bisa menikmati salah satu buah paforitnya itu semenjak menikah dengan Citra,ia sampai kalap hingga tak mengingat sang istri yang kini telah tersiksa di dalam kamar akibat bau menyengat yang di hasilkan dari buah tersebut.
Setelah di rasa cukup,Satria baru menyadari jika sang istri tak ada di sana,dengan segera ia pun memutuskan untuk pergi lebih dulu hendak menemui Citra.
Namun ternyata pria dingin itu tak dapat masuk ke dalam kamar,karena Citra telah menguncinya dari dalam.
" Bun!!" ucap Satria seraya mengetuk pintu.
Tak menunggu waktu lama,Citra membuka pintu walau tidak sepenuhnya terbuka.Ibu hamil itu hanya mengintip dan menyumbulkan kepalanya.
" Abang makan duria?" tanya Citra,tanpa mengizinkan Satria masuk.
" Sedikit." jawab Satria dengan ragu.
" Kalau begitu,abang tidur di luar." tegas Citra dan langsung menutup pintunya kembali,membuat Satria tersentak .
" Bun,kenapa aku harus tidur di luar!!" teriak Satria sambil terus menggedor pintu.
" Abang bau." sahut Citra dari dalam kamar.
" Aku akan mandi,tapi buka dulu pintunya!!" teriak Satria lagi,namun ternyata benteng pertahanan Citra terlalu kuat untuk di robohkan hingga tanpa rasa iba ia malah menyerahkan selimut dan juga satu buah bantal pada Satria.
" Malam ini abang tidur di sofa!abaang bau,aku tidak mau tidur sama abang." tegas Citra,kemudian ia kembali menutup pintu kamarnya.
" Bagaimana aku bisa tidur tanpa memeluknya." lirih Satria,wajahnya nampak menyedihkan,dan dengan terpaksa ia pun merebahkan dirinya di sofa ruang keluarga.
Melihat Hal itu, Faiz tertawa sampai terpingkal pingkal,akhirnya ia berhasil mengerjai Satria hingga pria itu nampak kesal,namun tak bisa berbuat banyak.
__ADS_1
" Selamat malam,bang! tidurlah yang nyenyak,nikmati kesendirian mu!!" seru Faiz sambil terkikik,setelah itu ia pun masuk ke dalam kamarnya sendiri, mengindari teriakan Satria yang sudah menggema di rumah besar itu.