
Semua keluarga tak mampu lagi membendung air matanya ketika menyaksikan Abi mengembuskan nafas terakhirnya,pukul 19.00 malam tepat satu hari setelah Faiz mengucapkan ijab kabul, Umi sempat tak sadarkan diri,begitu juga dengan Faiz yang terlihat lebih hancur dari yang lain,ia masih terisak di samping jenazah Abi sambil memeluknya,sementara ke tiga putra Abi yang lain masih berusaha tegar walau tak ayal air matanya pun keluar dari pelupuk matanya,setelah mendengar berita duka tersebut para tetangga serta orang orang yang mengenal Abi mulai berdatangan memadati kawasan pondok pesantren tersebut,saling berebut untuk bisa sekedar bertakziah dan membacakan ayat suci AlQur'an secara bergantian.
Sebagai seorang anak,demi baktinya kepada orang tua,Keempat pria itu langsung turun tangan untuk memulasarakan jenazah Abi,dari mulai memandikan hingga mengkafani,Al dan Satria berusaha keras untuk menahan isak tangisnya ketika memandikan jasad abi untuk yang terakhir kalinya,menatap tubuh renta Abi yang dulu selalu nampak gagah dan berwibawa ,bahunya yang kokoh menjadi tempat mereka bersandar,wajahnya yang teduh selalu berhasil mengobati luka dan mendamaikan perasaan mereka di kala kalut,canda tawanya selalu berhasil membuat mereka terseyum,dadanya yang bidang menjadi tempat ternyaman untuk mereka berlindung,tangan itu pun yang membawa dan mengangkat mereka dari keterpurukan dan kehancuran,perut itu juga yang mampu manahan lapar demi berlangsungnya hidup mereka,dan kaki itu,kaki yang setiap hari berdiri tegap dan melangkah mengais rezeki,namun kini semua itu nampak tak berguna,terbujur kaku tak berdaya, hanya tinggal kenangan yang tak mungkin bisa di lupakan.
" Abi,semoga allah senantiasa membalas kebaikan yang abi perbuat selama di dunia ini,semoga allah meridhai di setiap langkah,detak jantung,denyut nadi,hembusan nafas,dan kedipan matanya semoga menjadi ladang pahala bagi Abi." ucap lirih Al sambil mengusap lembut seluruh tubuh renta tersebut dengan sabun,sementara Haikal yang bertugas membasuhnya dengan air mengalir sambil membacakan shalawat.
" Abi orang baik,Allah lebih sayang padanya,Allah tak ingin membiarkan Abi merasakan sakit yang di deritanya terlalu lama." tambah Satria.
Haikal dan Faiz mengangguk setuju.
Selesai memandikan mereka berempat saling bergantian memeluk dan mengecup kening abi untuk yang terakhir kalinya,lalu kembali membawa Abi ke ruang tengah rumah abi untuk di kafani.lalu di bawa ke mesjid hendak shalatkan.
Malam semakin larut, namun suasana pondok malah semakin ramai,para warga dan tetangga serta orang orang yang merasa pernah Abi tolong,mereka begitu terpukul saat mengetahui kebenaran tentang sosok orang yang pernah berjasa dalam hidup mereka,baginya Abi adalah sosok malaikat yang di kirim allah untuk membantunya,meringankan bebannya.
__ADS_1
Para rekan bisnis juga anak anak angkat Abi yang dulu tinggal di panti asuhannya pun satu persatu mulai berdatangan,hingga menimbulkan kemacetan parah di jalan sekitar pondok.
Ke empat menantu Abi masih setia berada di samping Umi yang tak henti hentinya menitikan air mata,saling memeluk memberi kekuatan satu sama lain,sambil menyambut orang yang datang untuk bertakziah.
selesai di shalatkan,pihak keluarga memutuskan untuk memakamkanya besok pagi sambil menunggu sanak saudara yang masih berada dalam perjalanan,sepanjang malam lantunan ayat suci alqur'an tak berhenti di bacakan hingga akhirnya datang waktu subuh,semua orang menjalani kewajiban 2 rakaat terlebih dulu,sebelum menbawa jenazah abi ke pemakaman.
Dan kini lautan manusia yang rata rata memakai pakaian serba putih memenuhi jalanan dari pondok hingga ke tempat pemakaman,tak hanya keluarga,kepergian Abi memang memberi duka pada semua orang,oleh sebab itu banyak sekali orang yang sengaja datang untuk menghadiri dan mengantar kepergiaan Abi ke tempat peristirahatan terakhirnya itu,sambil di iringi isak tangis dari semuanya.
Dan akhirnya,tepat pukul 07.00 pagi acara pemakaman selesai,semua keluarga dan orang orang kembali ke rumah masing masing,namun masih banyak juga yang berada sana untuk berziarah.
Begitu juga dengan para pria yang masih bercengkrama dengan sanak saudara dan kerabat kerabatnya di tempat lain,meskipun nampak jelas gurat lelah dari wajah mereka,namun itu semua tak mengurangi rasa bersyukurnya,bersyukur karena ternyata banyak sekali yang menyayangi Abi,dan banyak yang mendo'akan nya.
Faiz yang masih merasakan nyeri pada kakinya karena telah memaksakan diri untuk berjalan memilih undur diri,lalu ia masuk ke dalam kamarnya,dan duduk di sebuah sofa mengingat kembali kenangan manisnya bersama Abi,tanpa terasa butiran kristal keluar dan pelupuk matanya dan mengalir membasahi pipi,ia melanjutkan tangisnya seorang diri.
__ADS_1
" Mas!!" Mentari yang datang langsung menghampirinya,ia lalu duduk di samping Faiz dan memeluknya.
" Aku tau,kau pasti sangat sedih,menangislah jika itu akan membuatmu lebih tenang,aku akan di sini untuk menemani mu,tapi berhentilah menangis saat aku tak bisa menemani mu lagi." ujar Mentari,membuat Faiz melepaskan pelukannya,ia lalu menatap Mentari dengan mata yang sayu.
" Kenapa kamu bicara seperti itu, seolah kamu juga akan meninggalkan ku?"lirih Faiz,Mentari tersenyum sambil menggelengkan kepala.
" Maaf,Mas! bukan itu maksud ku,aku bukan berniat untuk meninggalkan mu,tapi aku memang tidak bisa selamanya menemani mu seperti ini,aku harus keluar, masih banyak orang di sana,aku juga harus membatu mbak Alvi dan mbak Citra menyiapkan makanan."jelas Mentari panjang lebar dan akhirnya Faiz pun mengerti,ia kembali memeluk Mentari,hingga beberapa lama Faiz mulai tenang,ia merebahkan tubuhnya di sofa,lalu mendaratkan kepalanya di paha Mentari.
" Mas,bagaimana dengan kaki mu?" tanya Mentari khawatir,seraya menyugar rambut Faiz.
" Aku bahkan sudah tak perduli dengan kaki ku,rasa sakitnya tak seberapa di banding sakit saat di tinggalkan orang tersayang untuk selamanya." sahut Faiz,sambil menatap wajah teduh istrinya.
" Aku mengerti,aku tau apa yang kamu rasakan,karena aku juga pernah merasakannya,tapi jangan terlalu lama larut dalam kesedihan,sampai kau menghiraukan kesehatan mu dan juga aku." ucap Mentari membuat Faiz terdiam,tatapan matanya masih lurus ke atas di nama wajah Mantari berada.
__ADS_1
" Kau benar,maafkan aku,Tari! aku masih terlalu rapuh dan cengeng aku belum siap kehilangan Abi,aku jadi malu pada mu." lagi lagi air mata itu kembali menetes,namun kini Faiz segera menyekanya.
" Tidak apa apa,Mas! aku faham,menangis lah." balas Mentari,dan kini iapun ikut menitikan air mata,walaupun Mentari tidak di berikan kesempatan untuk lebih dekat dengan mertuanya itu ,namun ia bisa merasakan bagaimana baiknya Abi terhadapnya.