I Will Never Let You Go

I Will Never Let You Go
Bab.116


__ADS_3

Rencana Faiz berjalan sangat lancar,bahkan saking lancarnya,hingga sampai saat ini Citra masih tak mau berdekatan dengan Satria,walau pria itu sudah bebebapa kali membersihkan diri dan berusaha mengilangkan bau durian dari dirinya.


Namun entah kenapa penciuman Citra menjadi lebih tajam dan sensitif,setiap Satria mendatikanya,Citra pasti saja langsung menutup hidung, dan memintanya untuk menjauh.


Dan sepertinya kasus tentang buah durian masih akan terus berlanjut,di tambah lagi,ketika para santri dan semua penghuni pondok mengkonsumsi buah tersebut secara bersamaan,limbah dari kulitnya nyaris memunuhi setiap tempat sampah yang ada di sana,dapat di pastikan baunya semakin menyengat hingga tercium sampai ke seluruh penjuru pesantren .


Oksigen yang menyeruak di udara seakan tercemar oleh bau yang memabukan.


Hal itu membuat Citra semakin tersiksa,hingga akhirnya ia meminta Alvi untuk mengantarnya pulang ke pondok milik Satria.


" Bun! biar aku saja yang mengantar mu ke sana." ujar Satria,namun dengan cepat Citra menolaknya.


" Tidak mau,abang bau! lebih baik abang tetap di sini."


" Tapi semalam Alvi juga makan durian,apa kamu tidak menciumnya?" protes Satria.


" Tidak, ya sudah, aku pergi ya, bang!assalamu'alaikum." pamitnya.


tanpa mendegar protes dari sang suami lagi,ibu hamil itu pun langsung naik di belakang Alvi yang sudah siap dengan motor kesayanganya,dan tanpa banyak bicara lagi mereka pun pergi sambil membawa Cyra dan Sara .


" Keterlaluan, ini semua gara gara kamu." umpatnya kesal,sambil menatap tajam seseorang yang terlihat biasa biasa saja seolah tak bersalah.


" Kenapa salah Faiz ?" protes Faiz,dengan mimik wajah tanpa dosa.


" Sudahlah,hal seperti itu memang kerap terjadi pada ibu hamil,jadi kamu tidak usah khawatir,itu pasti bawaan si jabang bayi." Umi berusaha memenangkan,namun nampaknya Satria masih tak bisa menerima kenyataan begitu saja.


Jauh dari sang istri dengan waktu yang lama membuatnya tersiksa,apalagi saat harus mendapat penolakan dari orang yang sangat di cintainya,hal itu semakin terasa sangat menyakitkan.


Seperti 'di tinggal di saat sayang sayangnya.'

__ADS_1


" Tapi ini memang gara gara Faiz,seandainya dia tak membawa buah sialan itu,mungkin istriku tidak akan seperti ini." sungut Satria.


" Abang sendiri kenapa memakannya, jangan bilang kalau abang memang tidak tau jika Citra tidak menyukainya."timpal Faiz,membuat Satria tak lagi bisa berkutik,seketika pria itu merutuki kecorobohanya,dan akhirnya kini ia pun harus manelan pil pahit.


" Laki laki bodoh memang seperti itu,terkadang dia lebih memilih sesuatu yang terlihat menggiurkan,lalu menikmatinya,walau hanya dalam waktu sesaat,tanpa mengingat bahwa ada seseorang yang lebih penting dari itu semua." ujar Haikal yang mulai menunjukan sikap julidnya,kata katanya membuat Satria semakin kesal,namun ia juga tak bisa membela diri, karena saat itu memang benar adanya,gara gara durian sialan itu ia sampai kalap,rasa manis dan legit serta lembutnya daging durian membuanya lupa daratan,hingga akhirnya, kini ia harus menerima akibatnya,dan mulai saat ini juga ia harus menjalani penderitaan yang belum jelas akhirnya.


" Aakkhh!!!" Satria meraung,sambil mengusap wajahnya dengan kasar,ia nampak frustasi,dengan refleks ia pun menendang buah berduri yang masih banyak berserakan di teras rumah Umi dengan kaki telanjangnya.


Benar benar adik yang menyebalkan, bukanya khawatir dengan kondisi kaki Satria,Faiz malah menyelamatkan buah tersebut dan memindahkannya ke tempat aman dan jauh dari jangkauan seekor singa yang kini sedang dalam mode on.


" Hati hati,bang! durian ini sudah Faiz beli dengan harga mahal." ujarnya tanpa rasa bersalah.


Tak ingin semakin tersulut emosi,Satria pun memilih untuk menghindar,pria itu lalu pergi menyusul sang istri.


Sementara di tempat lain,Citra tengah berbahagia,ia nampak antusias saat menyantap makanan yang di sediakan bu Sukma,wanita paruh baya yang memang di tugaskan untuk menjaga tempat tinggalnya itu langsung memanjakannya dengan makanan makanan enak,terlebih saat ia mengetahui kabar bahagia tentang kehamilan istri dari majikannya itu.


Otomatis semua yang Citra inginkan pasti di buatkan.


Rasa khawatir yang sempat menghantui benaknya, saat mengingat usia sang majikan sudah terbilang cukup matang perlahan mulai memudar,sejak kehadiran Citra dalam hidup Satria.


Bu Sukma masih tak menyangka,jika gadis yang kini ada di hadapanya tersebut akan berhasil menaklukan pria yang di jukuli beruang kutub,meskipun harus mendapat beberapa kali penolakan dan sikap kasar.


Namun ternyata benar, jika usaha tidak akan menghianati hasil,terbukti sampai saat ini gadis itu pun berhasil mengandung anak ke tiga dari beruang kutub.


Setelah lama berselancar dalam lamunan,Bu Sukma di kagetkan dengan suara klakson mobil yang berhenti di depan pondok,bu Sukma bergegas menghampiri suara tersebut.


Dan semyumnya kembali tersungging sempurna saat melihat siapa yang datang.


" Nak Satria." serunya dengan wajah gembira.

__ADS_1


' Assalamu'alaikum,Bu! bagaimana kabar ibu?" tanya Satria sambil mencium tangannya.


" Ibu baik,kamu sendiri bagaimana?"


" Ibu juga baik."


" Syukurlah,maaf kau baru bisa menemui ibu sekarang." ujar Satria.


" Tidak masalah,ibu cukup senang walau hanya mendengar kabarnya saja."


" Terimakasih,anak anak dimana?" tanya Satria yang sudah mulai tak sabar,walau baru beberapa jam di tinggal,namun ternyata rasa rindunya tak bisa lagi di pendam.


" Anak anak sedang tidur."


" Lalu istriku?"


" Dia sedang makan di dapur." jawab Bu Sukma,membuat Satria bisa bernafas lega,ia pun memilih untuk menemui kedua anaknya di kamar,membiarkan sang istri menyelesaikan makannya terlebih dahulu,ia tak ingin nafsu makan Citra berkurang saat melihatnya.


Setelah masuk ke dalam kamar,Satria langsung tersenyum,melihat anak anak tidur terlelap di atas tempat tidur yang dulu ia tempati sendiri,sebelum Citra hadir di hidupnya.


Ayah dua anak itu pun langsung berjalan mendekati tempat tidur tersebut,hingga menimbulkan bunyi 'kretek' saat ia mendudukinya,suara ranjang yang sudah rapuh dan terlihat menghawatirkan itu tak dapat menghentikan aktifitasnya dengan terus menatap hangat kedua peri kecilnya yang cantik dan menggemaskan.


Kemudian matanya menyorot ke seluruh penjuru kamar yang masih terlihat sama, seperti sebelum ia meninggalkannya,bahkan Wangi khas dari dalam kamarnya pun masih sama,seketika bayangan masalalunya kembali menari nari di depan mata,di mana saat itu ia masih menyandang gelar lajang.


Tak pernah terbayangkan sebelumnya, jika ia akan hidup sampai sejauh ini,bisa memiliki istri dan juga anak adalah hal yang mustahil baginya.Namun ternyata Allah memiliki rencana lain yang lebih indah untuknya.


Dan sampai saat ini ia pun tak menyangka jika ternyata ia bisa berbagi kamar ini pada istri dan juga anak anaknya.


" Ayah sangat menyayangi kalian." lirihnya dengan suara tercekak,menahan tangis haru yang tiba tiba menyerang benaknya.

__ADS_1


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA,JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA..😊


__ADS_2