
" Ada apa?" tanya Satria ketika mereka baru saja tiba di depan kamar kontrakan milik Faiz,sambil membawa kedua anaknya.
" Aku tidak tau." jawab Faiz,seraya melangkah keluar lalu menutup pintu,tak membiarkan Satria melihat Mentari dalam keadaan seperti ini.
" Kamu bawa jilbabnya?" tanya Faiz,melirik pada Citra.
" Ya,aku bawa." sahut Citra seraya menunjukannya.
" Tolong berikan pada Mentari!" titahnya.
Tanpa banyak bertanya,ibu dua anak itu mulai membuka pintu lalu masuk,matanya terbelalak dan langsung menghampiri Mentari,yang tengah duduk sambil menyembunyikan wajahnya di antara lutut.
" Mentari apa yang terjadi?" Citra mendekati Mentari,ia berjongkok di hadapan gadis itu,satu tangannya membelai kepala calon kakak iparnya sementara tangan lainnya masih mengendong baby Sara.
Mentari masih terisak,tanpa mau mengangkat wajahnya,perasaannya begitu hancur.
" Pakai dulu jilbabnya!" titah Citra seraya menyerahkan jilbab yang ia bawa,kemudian ia membantu memakaikannya.
" Apa yang terjadi pada mu,apa Faiz melukai mu?" tanya nya lagi,namun lagi lagi Mentari hanya bungkam.
Citra mengembuskan nafas kasar,sepertinya gadis itu tidak akan memberikan jawaban dengan cepat,Citra pun kembali beranjak,kini tatapannya mengarah pada Faiz yang masih berdiri di luar,sambil membicarakan sesuatu dengan Satria.
" Faiz,apa yang terjadi padanya,apa kau melukainya?" tuduh Citra.
" Mana mungkin,aku juga tidak tau,saat aku pulang dari rumah kalian,aku melihat Mentari sudah seperti itu." jelasnya,Membuat Satria penasaran,pria itu sedikit menggeser posisinya,melirik ke dalam.
" Ada yang tidak beres." gumamnya.
" Sepertinya begitu." balas Citra.
" Bang,sepertinya Faiz harus menitipkan Mentari dulu di rumah kalian,boleh kan?" pinta Faiz,Satria dan Citra saling lirik,tidak lama kemudian mereka pun mengangguk.
__ADS_1
" Tidak masalah,itu malah akan lebih baik,tidak seharusanya juga kalian tinggal berdekatan seperti ini,jika Mentari tinggal di rumah kami,kami akan lebih mudah mengawasi kalian." ujar Satria.
" Aku minta tolong,sesama perempuan mungkin dia bisa berbicara pada mu soal masalahnya." kini Faiz melirik Citra.
" Iya,kamu tenang saja,aku akan berusaha membuatnya bicara."
Setelah itu mereka pun menghampiri Mentari,Faiz berusaha meraih pundak Mentari dan membawanya untuk berdiri.
" Mentari! kamu mau kan tinggal bersama kami untuk sementara." bujuk Citra,gadis itu menoleh,melirik pada Faiz yang masih menatap nya dingin.
" Kau bisa menenangkan perasaan mu di sana."tambah Satria.
" Jika kamu tidak mau ikut dengan mereka,ceritakan pada ku sekarang juga apa yang terjadi." Faiz kembali mendesaknya,dan lagi lagi itu membuat Mentari ketakutan.
Tidak ada pilihan lain,Mentari memutuskan untuk ikut bersama Citra,menghindari pertanyaan dari Faiz,ia juga tidak bisa tinggal lebih lama di tempat itu lagi,karena keberadaan Lutfi.
" Ya sudah jika itu memang keputusan mu." Faiz nampak kecewa,namun ia memilih pasrah,ia pun mengantarkan kepergian mereka hingga ke parkiran.
Setelah memastikan mobil yang di kendarai Satria pergi,pemuda itu kembali ke kamar kontarakannya,saat menaiki anak tangga,tak sengaja ia berpapasan dengan Lutfi,pemuda itu dengan senjaga menyenggol bahu Faiz seraya mengangkat sudut bibirnya membentuk senyum sini,tak seperti biasa yang selalu menyapanya walau sekedar basa basi.
Kini kecurigaan Faiz mulai tertuju padanya,mengingat Mentari sangat ketakutan saat melihatnya tadi,namun ia masih tak bisa menuduh begitu saja tanpa adanya bukti.
"Bun! kita belum makan malam." ujar Satria pada Citra ketika berada dalam perjalanan.
" Ah,iya! aku lupa." balas Citra kemudian ia melirik ke sana kamari mencari stand makanan di pinggir jalan.
" Beli sop atau sate kambing bagaimana?" Citra melirik Mentari yang berada di kursi pemumpang belakang,namun Mentari tidak membuka suara sedikit pun,membuat Citra sedikit kesal ia melirik Sang suami yang juga sama sama memperhatikan Mentari.
" Biarkan dia menikmati kesendiriannya." bisik Satria,berusaha menghibur sang istri.
Citra pun mengangguk,kembali ke posisi semula,sampai tiba di depan penjual sate dan sop kambing,ayah beranak dua itu memberhentikan mobilnya.
__ADS_1
" Kamu mau sate?" tanya Satria yang lansung di angguki istrinya.
Kemudian pria itu turun,hendak memesan beberapa tusuk sate dan juga sop kambing,Sementara Citra duduk menunggu di dalam mobil.
Ibu beranak dua itu kembali melirik Mentari,yang masih tak bergerak sedikit pun.
" Mentari,aku harap kamu bisa segera bercerita pada kami,siapa tau kami bisa membantu masalah mu." ujar Citra,Mentari menolah lalu sedikit tersenyum.
" Aku tidak apa apa ,Mbak." balasnya pelan.
Tak ada lagi yang bisa di bicarakan,Citra memilih mengalah dan membalas senyumannya.Tak lama Satria kembali sambil menenteng beberapa bungkus kantong kresek.
" Banyak sekali,Bang!" cicit Citra sambil membulatkan mata.
" Kamu harus banyak makan,Asi mu sangat di butuhkan untuk Sara."balas Satria dengan enteng.Membuat istrinya memdesis kesal.
" Kamu mau membiarkan aku semakin lebar saja gitu?"selorohnya.
" Jika itu yang terbaik kenapa tidak." sahut Satria sambil terkekeh,Citra semakin di buat kesal ia mencubit sedikit lengan sang suami dengan gemas.
Sementara Mentari sedikit menyunggingkan bibirnya,saat melihat kemesraan yang di tunjukan pasangan suami istri itu,fikirannya kembali tertuju pada Faiz,apa dia akan memperlakukannya sebaik itu? fikirnya.
Tiba tiba saja senyumnya kembali memudar,sekelibat bayangan tentang pembatalan pernikahan terlintas begitu di benaknya.
...****************...
***Maaf ya guys jika bab ini pendek,di uber uber Waktu masak..ðŸ¤
Tapi jgn lupa like komen dan votenya biar thor lebih semangat.
Jangan lupa juga mampir di karya baru thor yg berjudul " BODYGUARD PENJAGA HATI." ceritanya Narendra anak anggkat dua Al,baru beberapa bab,bisa di masukin favorit dulu,di jamin ceritanya beda dari cerita sebelumnya...
__ADS_1
bonus visual di setiap babnya..
Terimakasih...😊😊***