
Selesai sarapan bersama,Faiz memilih berdiam diri di halaman belakang rumah Umi,tak ada yang bisa ia lakukan selain duduk di kursi rodanya,sementara Mentari masih sibuk membantu Umi mengerjakan tugas rumah tangga.Walaupun Umi sudah berusaha melarangnya,namun Mentari merasa tak sampai hati jika harus melihat Umi melakukan pekerjaan rumah sendiri.
Mungkin jika mereka sudah memiliki rumah sendiri,mereka bisa sedikit bersantai,menghabiskan waktu berdua sebagai prngantin baru,pria itu menghembuskan nafas kasar,memikirkan nasibnya yang tak mampu menyenangkan sang istri di pernikahan yang baru seumur toge itu,jangankan untuk tempat tinggal,bahkan pekerjaan pun ia tak punya,berbeda dengan nasib ketiga abangnya yang sudah mapan sebelum menikah.
" Mas,kenapa?" suara lembut yang menenangkan hati terdengar dari balik punggungnya,Faiz menoleh,lalu tersenyum pada wanita yang kini berada di sampingnya.
" Tidak apa apa." jawabnya
" Sungguh? tapi aku rasa kau sedang memikirkan sesuatu." tebaknya,seraya memicingkan mata.
Faiz pun menggeleng dengan cepat,dan segara maraih pinggangnya melingkarkan tangannya di sana,lalu menenggelamkan wajahnya di perut sang istri.
" Mas! jangan seperti ini,aku malu." cicitnya,melirik kesana ke mari memastikan tak ada yang melihat,lalu sedikit mendorong pundak Faiz agar bisa melepas belitan tangannya.
Faiz melepaskan lilitan tangannya,lalu pergi begitu saja sambil memutar kursi rodanya sendiri,membuat Mentari merasa bersalah,dengan segera ia pun menyusulnya.
" Mas!" panggil Mentari,saat mereka sudah berada dalam kamar,Faiz melirik sekilas tanpa menyahut.
" Maafkan aku,aku tidak bermaksud untuk menolak mu,hanya saja aku masih merasa malu,tidak enak kalau sampai di lihat orang." Mentari sudah berjongkok di hadapannya,sambil menggenggam tangan suaminya.
" Siapa yang akan melihatnya,tempat itu tertutup benteng yang menjulang tinggi,tidak akan ada santri atau pun orang lain yang melihatnya." bantah Faiz.
" Lalu bagaimna dengan Umi dan abi,apa mereka bukan orang?" balas Mentari.
" Jadi kamu malu dengan mereka?" tanya Faiz yang langsung di angguki Mentari.
" Iya." jawabnya ragu.
" Baiklah kalau begitu,aku mengerti." Faiz tersenyum,lalu mengusap kepala Mentari dengan lembut,tangannya semakin turun menyentuh tengkuk,setelah itu menariknya,membawanya untuk semakin dekat,dan tak menunggu lama bibir mereka kembali bertemu,Mentari memejamkan mata marasakan manis dan lembutnya bibir sang suami,terasa hangat kala lidah itu menggelitik rongga mulutnya.
Tak ada kata malu saat mereka hanya berdua dalam satu ruangan yang tertutup,Mentari membalas ciumanya tak kalah ganas,mengikuti gerakan yang Faiz contohkan,hingga semakin lama ciuman hangat itu berubah panas,rasanya ingin sekali Faiz merengkuh sang istri dan melemparkannya ke tempat tidur saat itu juga tanpa harus melepas pautannya,namun sekali lagi ia kembali mengingat kondisi yang tak memungkin kan.
" Apa masih sakit?" tanya Faiz sambil melirik bagian inti sang istri.
__ADS_1
" Sedikit." jawab Mentari,seraya menunjukan ujung kukunya.
" Bisa kita mengulangnya lagi?" goda Faiz,tanpa malu Mentari langsung mengangguk setuju.
" Tentu saja,aku tidak akan menolak kenikmatan yang menghasilkan pahala." ujar Mentari sambil menunjukan wajah genitnya.
" Nakal."Faiz mencubit hidung Mentari dengan gemas,seraya memutar kursi rodanya sendiri menuju tempat tidur.
" Kamu sudah mengantinya?" tanya Faiz sambil meraba permukaan bad cavernya yang lembut.
Mentari mengangguk.
"Ada banyak bercak darah karena pembantaian semalam,jadi aku langsung mencucinya." jawabnya,membuat Faiz terkikik,tak habis fikir dengan istilah yang di lontarkan sang istri.
" Kamu bisa saja." ujarnya seraya menaiki kasur tersebut dengan hati hati.
" Kau tau,perasakan ku tak enak saat mencucinya, karena Umi tak berhenti memperhatikan ku,dan senyumnya itu membuatku malu,Umi sudah melarang ku untuk mencucinya,tapi yang benar saja,tidak mungkin aku membiarkan Umi mencuci bekas pergulatan kita." seloroh Mentari panjang lebar sambil menyusulnya naik ke tempat tidur.
" Bukan tak nyaman,tapi maaf mungkin aku belum terbiasa saja."jawab Mentari,lagi lagi Faiz mengangguk.
" Ya,aku mengerti kita bicarakan masalah ini nanti,sekarang ada yang harus lebih di utamakan dan harus segera di selesaikan." ucap Faiz yang lansung membuka jilbab istrinya,kemudian menempelkan bibirnya lagi,Faiz menarik resleting bagian depan gamis yang di kenakan sang istri,lalu menurunkan bagian bahunya,hingga tak menunggu lama,gunung tersembunyi yang terlihat indah terpampang jelas di depan mata,perlahan tangannya bergerak menarik tali kecil yang melekat di pundaknya guna untuk melindungi gunung tersebut dari longsor.
Pria itu langsung mendorong Mentari agar terlentang,dan segera menindihnya,tubuh mereka saling menempel,hanya terhalang kain tipis yang masih melekat di tubuh masing masing.
Tak cukup hanya dengan berciuman,Faiz beralih pada telinga menyapukan bibirnya dan turun ke leher hingga ke dada,memberi gigitan kecil yang semakin meningkatkan gairah,terlebih ketika Faiz menyesap satu persatu gunung yang kenyal dan berisi,serta satu tangannya yang nakal bermain di sela sela pahanya yang terasa lembab,tanpa segan jari tengahnya masuk begitu saja ke dalam sesuatu yang terasa licin dan sempit. Mantari di buat tak bisa berkata kata,memejankan mata dan menjerit tanpa suara,tubuhnya meliuk liuk seperti cacing kepanasan.
Menutup mulutnya rapat rapat menahan de**han.
Mentari semakin terbuai,hingga tenggelam dan terombang ambing dalam gelombang pasang gairah yang semakin membuncah.
Tubuhnya bergetar terbakar hasrat api cintanya.
" Cukup, Mas!" suaranya semakin parau sambil mendongakan kepala,dadanya mulai terangkat,sementara kakinya tak bisa diam,saat merasakan tangan Faiz yang menggelitik bagian inti dirinya,Namun Faiz tak menghiraukannya ia masih ingin berlama lama,membiarkan sang istri di selimuti nafsu birahi yang semakin tinggi.
__ADS_1
Tak mau kalah,Mentari membalasnya,jari tangannya yang lentik menyusup di sela sela rambut,sementara satu tangan lagi mengusap dada bidang yang tumbuhi bulu tipis itu terasa lembab karena keringat.
" Turun sayang." bisik Faiz.
" Turun kemana?"tanya Mentari heran.
" Turunkan tangan mu." Faiz menuntun tangan Mentari dan membawanya masuk menyelinap ke balik celananya.
Mentari sedikit terkekeh,namun tak urung ia mengikuti perintah sang suami,wajahnya memerah ketika tangan itu sudah berhasil mengenggam sesuatu yang keras dan berurat.
" Kamu suka?" goda Faiz,Mentari mengangguk kecil sambil menyembunyikan wajahnya di bahu Faiz.
Faiz memejamkan mata,saat tangan lembut itu bergerak naik turun,mengusapnya dengan lembut dan penuh cinta,dan kini posisi mereka telah sama sama bermain,saling menyentuh menggunakan tangan.
Hingga ketukan pintu menghentikan aktifitasnya.
Faiz mendesis,lalu menarik tanganya yang masih memainkan benda lembab itu,begitu juga dengan Mentari yang langsung membenarkan pakaian serta memasang jilbabnya lagi.
" Faiz mana?" tanya Al tanpa rasa bersalah,ketika Mentari membukakan pintu untuknya.
" Ada apa,Bang!" sahut Faiz seraya menutar kursi rodanya dan menghampirinya.
"Keluar, ini sudah siang!" titahnya.
" Baru juga masuk,Bang!" gumam Faiz sedikit kesal.
" Apanya yang baru masuk?" goda Al.
" Sudah lah,abang tidak akan mengerti karena tak sempat merasakan malam pertama." Faiz masih menggerutu,dengan sedikit memojokan orang yang sudah merusak momen nya.
Ia semakin yakin dengan keputusannya untuk bisa tinggal terpisah.
Sementara Al pun merasa kesal,karena sang adik lebih beruntung,berhasil mendapatkan sesuatu di malam pertama, tak seperti dirinya dulu yang harus mengabiskan beberapa bulan baru bisa mendapatkannya.
__ADS_1