
Setelah beberapa lama,suara adzan dzuhur terdengar berkumandang,perbincangan pun selesai,Faiz kembali ke dalam kamarnya dengan wajah berseri,sambil menenteng map coklat yang di berikan bang Haikal,perlahan ia menaiki tempat tidur,menghampiri sang istri yang tengah merebahkan tubuhnya di sana.
" Tari!!"bisiknya,sambil melingkarkan tangan di perut Mentari,wanita itu pun mengeliat,sesaat kemudian matanya mulai terbuka,lalu tersenyum sambil membalikan tubuhnya menghadap sang suami.
" Iya,Mas." sahutnya sedikit bergumam,seraya membalas pelukannya.
" Sudah adzan,sholat dulu! nanti lanjut lagi tidurnya." titahnya Faiz.
Mentari mengangguk,namun matanya kembali tertutup,seolah enggan beranjak,tubuhnya masih terasa lemas,akibat pertarungan yang membuatnya tak bisa tidur semalaman,karena Faiz menyerangnya beberapa kali,di tambah lagi ia harus membereskan semua kekacauanya setelah itu.
" Ayo,bangun dulu! kita shalat berjama'ah." ujarnya lagi,sambil mendusel duselkan wajahnya di leher Mentari dengan gemas,hingga wanita itu terkikik,dan akhirnya iapun bangun.
" Shalat dulu,nanti tidur lagi." Faiz mengecup bibirnya sekilas lalu kembali turun dari tempat tidur,ia menapakan kakinya di lantai dengan hati hati,keinginanya untuk sembuh semakin menggebu,tak ingin lagi memanjakan kakinya dan terus menerus duduk di kursi,perlahan ia mulai mengangkat tubunya sambil berpegangan pada nakas yang berada di sisi ranjang.
Mentari pun dengan cepat membantunya,melingkarkan tangan di pinggang Faiz untuk mentatihnya.
Pria itu tersenyum menyembunyikan ringisannya,mengerahkan seluruh tenaganya untuk menahan rasa sakit di kakinya.
__ADS_1
" Jangan di paksakan,kalau belum kuat pakai kursi rodanya lagi." ujar Mentari merasa khawatir.
" Tidak apa apa,aku bisa." imbuhnya.
" Ya sudah,hati hati." Mentari semakin mempererat lilitan tangannya di pinggang Faiz,sementara Faiz menyampirkan satu tangannya di leher Mentari,sedangkan satu tangannya lagi berpegangan pada dinding.
Dan perlahan kakinya mulai bergerak maju sedikit demi sedikit,hingga akhirnya mereka berhasil sampai di kamar mandi.
" Kau hebat!! " seru Mentari dengan bangga,lalu iapun membantu Faiz mengambil air wudhu,setelah itu kembali ke luar hendak mengembil kursi rodanya,karena setelah berwudhu mereka tak bisa bersentuhan lagi.
Kini mereka sudah sama sama mengadap kiblat,dengan posisi Faiz yang duduk di atas sejadah,sementara Mentari berdiri di belakangnya.Mereka mulai menjalankan kewajibannya,berserah diri pada sang pemilik kehidupan,berharap berkah dan limpahan kasih sayang dariNya.Bersujud memohon ampunan dan kesembuhan dariNya,menengadah meminta ridho dan karuniaNya,serta masih banyak lagi yang mereka curahkan di hadapanNya.
Setelah itu mereka kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur saling memeluk,memberi kehangatan dan kenyamanan di balik selimut tebal,meskipun matahari di luar sana cukup terik,tapi semua itu tak berpengaruh bagi kedua sejoli yang berada di dalam kamar pengantin tersebut,rasanya seolah tengah berada di kutub selatan yang memiliki salju abadi.
Namun meskipun begitu,darah dalam dirinya terasa mendidih,mengalir ke setiap nadinya,sesuatu terasa bergejolak dalam tubuhnya,tak cukup hanya berpelukan,kini ciuman dan kecupan pun kerap terjadi.hingga akhirnya suasana panas kembali terasa,sampai akhirnya mereka harus melicuti pakaianya,dan melemparkannya begitu saja,Faiz kembali menindih tubuh Mentari,cumbuanya telah menjadi candu sehingga Mentari pasrah di bawah kungungannya,menerima dan menikmatinya dengan senang hati.
Sapuan bibirnya yang lembut,lagi lagi membuat Mentari menjerit tak bersuara,hanya terdengar deru nafas yang semakin memburu.
__ADS_1
" Hmmm,,Mas!" hanya kata itu yang bisa lolos dari bibirnya,wajahnya semakin memerah menahan sesuatu yang harus segera di selesaikan.
" Iya,sayang!" sahut Faiz,dengan suara berat,tanpa menghetikan aktifitasnya yang sedang bernaik naik ke puncak gunung,besar besar sekali,kiri kanan ku lahap saja.
" Cukup,Mas!" Mentari tak bisa tinggal diam lagi,ia meraih batang berurat yang sejak tadi melambai lambai,menggelitik pangkal pahanya itu, dan langsung memasukannya,membuat Faiz terkekeh,lalu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Mentari.
" Kamu tak sabaran." bisiknya.
Karena sudah terlanjur masuk,Faiz pun memenuhi prrmintaan Mentari,menghujamkan senjatanya dan menusuknya beberapa kali dengan sekuat tenaga,hingga ranjang yang mereka tempati terguncang hebat seperti gempa berskala tinggi, Mentari memejamkan mata,mulutnya sedikit terbuka,kepala dan punggungnya bergerak naik turun,bergesekan dengan bantal dan kasur sesuai gerakan Faiz yang menarik ulurkan pinggangnya,hingga menimbulkan sensasi menyenangkan yang menjalar ke seluruh tubuhnya,keduanya semakin terbuai seakan melayang tinggi di udara ,menggapai puncak kenikmatan yang haqiqi,dan akhirnya Faiz mengerang,kepalanya terangkat bersamaan dengan keluarnya lahar panas yang berasal dari dalam dirinya,setelah itu ia ambruk berguling diri ke samping Mentari.
" Mas! kau membuat ku gila." desah Mentari,dengan suara tertahan,ia melirik Faiz yang sama sama tengah menetralkan indra pernafasanya.
" Ini belum seberapa sayang,setelah aku sembuh dan memiliki rumah sendiri,aku akan menghajarmu habis habisan tanpa ampun,hingga kamu tak memiliki kesempatan untuk bangun dan membereskan tempat tidur ini,bahkan aku akan menyerang mu di mana saja." ucapnya,sambil merentangkan satu tangannya.
Mentari terkekeh merasa gemas,ia mencubit perut Faiz lalu menggesar tubuhnya dan mendaratkan kepalanya di lengan Faiz.
" Aku akan menerima ancaman mu itu dengan senang hati,kalau bisa aku tidak usah memakai pakaian dan berdiam diri di kamar sepanjang hari demi bakti ku untuk melayani mu,dan itu akan menghemat tenaga ku agar tak perlu mencuci baju dan membereskan rumah."bisik Mentari yang tak kalah gila demi membalas kegilaan Faiz,dan hal itu kembali membuat Faiz tertawa.
__ADS_1
" kamu sudah semakin nakal." ucapnya,sambil menghujani kecupan di seluruh wajah Mentari dengan gemas.
" Aku harus bisa nakal untuk menyeimbangkan kenakalan mu." balas Mentari sambil mengeratkan dekapannya,menenggelamkan wajahnya di dada Faiz,lalu mereka pun memejamkan mata melanjutkan tidur siangnya masih dengan tubuh yang polos hanya tertutup selimut tebal.