Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Di kantor polisi


__ADS_3

"Kamu temani Bagas saja,sayang. Biar aku yang urus soal mama." ucap Rangga sambil menatap Laras. Rangga takut Laras tidak akan kuat bertemu dengan orang-orang yang sudah menindasnya.


"Mas, aku tetap ikut. Karena akulah korban disini. Aku yang harus nya menjadi saksi kuat perbuatan mereka." Laras mengambil tas nya sambil berpamitan pada putranya.


"Tapi, kamu terlihat pucat. Setelah semalam kamu bertemu dengan mereka. Aku nggak mau kalau kamu sampai drop." Laras tetap kekeuh ikut suaminya.


"Mas, disini yang jadi korban itu, aku. Maaf bukan maksud aku mau melihat mama di tahan. Tapi aku juga ingin Ratna dan bude Endang juga di hukum sesuai perbuatan mereka."


"Sayang, aku cuma takut kalau mendengar keterangan mereka membuat traumamu kembali terbuka. Aku cuma tidak ingin kamu banyak fikiran." Rangga masih berusaha membujuk Laras agar tidak ikut ke kantor polisi.


Bukan itu saja, dia takut mamanya malah mengamuk menyalahkan Laras. Serba salah memang, dimana dia harus membela istrinya, sedangkan mamanya posisi tersangka. Rangga kembali kalut, namun dia yakin kebenaran akan menunjukkan taringnya.


"Yuk,mas." Laras pun sudah duduk manis di sebelah sopir, sebelah suaminya. Rangga lagi-lagi mengingatkan Laras. Apa dia yakin akan menemui sang mama. Anggukan kepala dari Laras membuat Rangga langsung menghidupkan mesin mobilnya.


Rangga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Untuk sementara dia enggan buka suara. Laras yang masih diam di tempat duduknya pun menunggu suaminya bercerita. Walaupun dia juga tidak menyangka kalau polisi menangkap mama mertuanya.


"Maaf, mungkin ini terdengar berat buat kamu, mas. Tapi aku yakin dengan masalah ini akan memberi pelajaran buat mama. Mas, tahu kalau banyak yang mama lakukan hanya untuk memisahkan kita. Entah aku tidak tahu apa yang dalam pikiran mama saat itu. Aku juga tidak bisa menentukan hukuman apa yang pantas buat mama. Biarlah pihak berwajib yang mengatur semua ini."


"Aku tidak menyalahkan kamu, sayang. Hanya saja masih merasa kaget dengan semua ini. Aku takut papa Donal drop lagi. Kamu tidak lupa kalau papa belum lama ini baru keluar dari rumah sakit."


Laras mengusap tengkuk leher suaminya. Mencoba menenangkan Rangga yang masih syok


"Mas, menyetir saja dahulu nanti kita bahas lebih lanjut."


Rangga mengangguk dan kembali fokus pada setirnya. Walaupun dia masih berkecamuk, namun dia juga harus mengutamakan keselamatan diri. Dia tidak mau tragedi yang dulu menimpanya kembali terulang.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di depan kantor polisi. Rangga turun terlebih dahulu di susul Laras. Mereka melenggang memasuki kantor polisi.


"Pak, dimana mama saya." tanya Rangga.


"Mama anda?" petugas masih bingung.


"Ibu Raya yang baru saja ditangkap." jawab Rangga.


"Oh, Bu Raya Pattimura. Di ruang interogasi." Polisi menunjukkan ruang interogasi tersebut.


Sayup-sayup Rangga mendengar suara mamanya menangis. Mereka bertanya seakan tanpa pandang bulu, tapi seharusnya tidak perlu kasar mengingat Raya itu sudah 60 keatas. Setelah menunggu beberapa saat, pintu ruang interogasi pun dibuka. Saat Raya keluar dia sedikit terkejut.


Salah satu polisi mendekati Laras "Apakah anda yang bernama Larasati?"


"Iya, pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Laras.


Rangga sempat mau menahan Laras untuk di bawa ke ruang interogasi. Namun Laras meyakinkan semua akan baik-baik saja. Dia hanya memenuhi permintaan pihak kepolisian. Paling tidak dia akan berusaha meringankan masalah mama mertuanya.


Laras masuk ke sebuah ruangan dimana ketiga wanita sudah duduk di dalam. Salah satu dari petugas bertanya apa Laras mengenal ketiga wanita tersebut.


"Saya mengenal ketiganya pak. Dua wanita ini datang ke rumah saya mengaku sanak famili. Lalu beberapa bulan tinggal dan mereka kabur membawa sertifikat rumah orangtua saya. Kenapa cuma mereka berdua yang ditahan, kenapa Najwa tidak ikut di tangkap." ucap Laras.


"Saya mohon jangan libatkan Najwa. Dia tidak tahu apa-apa. Saya mohon jangan bawa Najwa dalam masalah ini." Endang bersujud di kaki Laras.


"Kamu seorang ibu kan, Ras. Kamu pasti tahu rasanya kalau melihat anakmu di seret atas masalah yang tidak dia lakukan." Endang masih memohon di kaki Laras.

__ADS_1


Laras diam tak bergeming. Dimana selama ini dia harus hidup luntang-lantung karena rumahnya di sita debt kolektor perjudian. Endang yang kemarin sangat memojokkan dirinya saat di rumah pohon. Sekarang terlihat menciut. Laras mengalihkan pandangannya kearah wanita muda di depannya.


"Ratna," sapa Laras.


"Maaf, Ras. Aku hanya dibayar oleh mertua kamu." jawab Ratna terdengar lirih.


Kepala Laras bagai dihantam batu besar. Rasanya dadanya terasa sesak. Meskipun dia tahu kalau dalang semua ini adalah sang mama mertua. Entah kenapa rasa kaget masih menyapa dirinya.


Seharusnya dia masih melanjutkan memberi keterangan pada pihak berwajib. Tapi sekarang dunianya serasa runtuh. Kekecewaan yang tadinya sudah dia lupakan kini kembali terasa.


"Sayang," Rangga memegang tubuh Laras yang hampir roboh.


"Maafkan mama, Ras. Aku tidak minta kamu cabut tuntutan atau membebaskan mama. Aku minta kamu berlapang dada memaafkan mamaku. Aku tahu yang dia lakukan selama ini salah. Aku tahu ..." Laras menempelkan jari telunjuknya di bibir suaminya.


"Dari tadi kamu terus minta maaf, mas. Aku tidak berharap permintaan maaf dari kamu. Tapi aku ingin dengar dari mama. Aku tidak menyangka mama melakukan semua ini, Mas. Tindakan mama sudah terlalu jauh. Kalau soal tabungan aku masih ikhlas mas. Karena itu juga uang dari keluarga kamu. Tapi soal rumah ibu, yang tidak ada sangkut pautnya dengan kalian. Kenapa harus kena imbasnya."


"Itu karena mama masih cemburu sama ibu kamu, Ras." suara bariton terdengar dari berlawanan arah.


Laras dan Rangga pun berdiri menyambut lelaki yang datang kepada mereka. Laras dan Rangga menyalami sosok yang sudah seperti ayahnya sendiri.


"Papa," Sahut keduanya bersamaan.


"Laras, kamu tidak lupa kan kalau aku pernah menjalin hubungan dengan ibu kamu. Sejak kamu datang ke keluarga kami, aku merasa Mala seperti hidup kembali. Mungkin karena itu mama Raya bersikap seperti itu. Maafkan saya, karena saya sering membandingkan mama Raya dengan Mala membuatnya jadi seperti ini.


Mama kamu iri karena Oma sering menyebut Mala sebagai wanita yang baik di mata keluarga. Papa pernah membawa mama ke psikiater, karena dia sering marah-marah sama kamu.

__ADS_1


Papa tahu semua yang dilakukan mama saat itu. Meskipun kamu sudah hengkang dari rumah. Dia masih memasang mata-mata dimanapun. Termasuk soal kedekatan kamu dengan teman lelakimu, yang bernama Adul.


Maafkan papa, nak. Tidak bisa menjadi suami yang baik untuk mama Raya. Papa belum bisa mendidiknya, papa sudah gagal jadi suami." Donal bersujud di kaki Laras.


__ADS_2