
Mobil Alphard memasuki pelataran taman kanak-kanak Al-Zaman. Mobil tersebut berhenti tepat di depan gerbang sekolah Bagas. Suasana sekolah masih sepi menandakan kegiatan belajar belum usai. Rangga menatap wanita yang ada disampingnya. Rona wajah bahagia terpancar dari lelaki itu. Dia senang dapat merengkuh kebahagiaan bersama orang-orang yang di sayanginya. Rangga mengekspresikan perasaannya dengan menggenggam tangan istrinya. Wanita yang tujuh tahun yang lalu di nikahinya.
Sementara Laras, dia juga senang akhirnya bisa berkumpul bersama suaminya. Laras juga sadar masih ada kerikil yang harus mereka lewati. Tentu saja kerikil itu adalah mama mertuanya. Laras yakin jika semua itu bisa dilewati dengan baik. Dia percaya kalau Rangga bisa menuntunnya ke arah yang benar. Walaupun disisi lain, dia masih meragukan suaminya.
Ketika tangannya bersentuhan dengan jemari suaminya. Ada getaran halus yang menelusup di dalam hatinya. Ia merasa bahwa cinta itu masih bersemi di hati mereka berdua.
"Kita sudah sampai, mas." Laras mengalihkan diri dari keagresifan suaminya.
"Iya, tapi sepertinya belum keluar anak-anaknya."
"Sekarang baru jam sebelas lewat lima puluh menit. Ya wajar belum Bubar. Kan Bagas jam dua belas keluar. Biasanya jam segini anak-anak di ajak shalat zhuhur dulu." jelas Laras.
"Ini dulu sekolahku dan Mila. Aku dan Mila satu angkatan dari taman kanak-kanak sampai SMP. Hanya saja Mila ikut SMA berasrama. Sementara aku tetap di SMA negeri."
"Dokter Camila?"
"Iya, sayang. Dokter Camila yang tadi dirumah kamu."
Laras terdiam sejenak. Teringat ucapan Camila kalau wanita itu tidak terlalu kenal dengan Rangga. Camila pernah bilang kalau dia hanya sekedar tahu saja, tapi tidak terlalu kenal. Laras menghempaskan nafasnya. Siapa yang harus dia percaya saat ini. Suaminya atau Camila. Sesekali kepalanya menunduk, seakan kaget dengan semua ini.
"Mas,"
"Iya, sayang." tangan Rangga mengulur ke pucuk hijab Laras.
"Ayo kita turun. Menunggu Bagas di taman bermain." Laras keluar dari mobil diikuti oleh Rangga.
Keduanya turun dari mobil. Laras menyapa pak satpam penjaga sekolah. Rangga pun juga mengikuti apa yang Laras lakukan. Laras memilih duduk di ayunan kursi dan Rangga duduk di hadapannya.
"Kamu darimana tahu tentang sekolah ini?" tanya Rangga.
"Kak Mila yang masukin, mas. Aku tadinya mau masukin Bagas ke TK biasa. Mas tahu sendirilah ekonomi ku nggak sebagus kalian. Aku kuliah sambil jualan pecel dan nasi uduk di kontrakan. Itu juga masih di bantu Eva. Eva bantu aku jualan, sedangkan suaminya jadi kurir buat antar pesanan. Itu juga aku di promosikan sama kak Mila.
__ADS_1
Kak Mila itu jasa nya besar dalam hidupku, mas. Dia orang baik, yang mau berbaur dengan wanita miskin seperti aku."
"Ras, bukankah aku dulu selalu menyisihkan uang bulanan kamu. Setiap bulan aku selalu menyetorkan uang 20 juta ke rekening kamu. Belum lagi Oma yang sering kasih uang sama aku sebanyak lima juta buat modal kamu. Kemana uang itu, ras?"
"Ya Allah, apa yang harus aku jelaskan. Bagaimana mungkin aku cerita sama mas Rangga kalau rekeningku di blokir keluarganya. Aku tidak mau di cap pengadu oleh keluarga itu. Tapi jika mas Rangga mempertanyakan uang itu, aku tidak bisa menjawab, dia akan berpikir aku yang menghamburkan uang itu.
Ya Allah aku harus bagaimana?"
Suara lonceng sekolah pun berbunyi. Tampak beberapa guru mulai meninggalkan ruang kelas. Beberapa murid keluar menyalami kelas. Itu pun bukan dari kelas Bagas. Laras merasa lega karena terhindar dari pertanyaan Rangga.
Beberapa murid pun satu persatu berjalan membawa perlengkapan sekolah masing-masing.
Wajar karena kegiatan belajar mengajar sudah usai. Namun, guru di sana terlihat sudah sibuk. Ada yang membersihkan alat permainan untuk siswa seperti bola dunia, miniatur masjid dan gereja, mainan kereta api, hingga pin boling. Ada juga guru yang menggunting kartu identitas untuk siswa baru nanti. Bentuk kartunya beragam. Ada kartu berbentuk hewan, buah, dan bunga.
"Bunda!" suara bagas menggema di depan kelas. Anak itu berlari mendekati bunda dan ayahnya. Sayangnya Bagas hanya berjalan menuju bundanya. Sedangkan Rangga yang di depannya tidak dipedulikan.
"Sayang," Laras memeluk Bagas dengan penuh haru.
"Saya ayahnya Bagas, memangnya kenapa?" Rangga ikut bersuara.
"Oh, ayahnya Bagas, ya?" seorang wanita berjalan di belakang Stevan.
"Iya, anda ibu anak ini." Rangga balik bertanya.
"Iya, saya ibunya. Oh ya saya kira Bagas anak yatim. karena tahun lalu ada pentas sekolah tapi Bagas cuma datang sama ibu dan budenya.
Yuk, nak. Mama mau ajak kamu ke KFC, ada papa sudah menunggu kita." kata mamanya Stevan.
"Om!" sosok kecil berlari mendekati Rangga.
"Yusuf." Rangga berjongkok mendekati ponakannya.
__ADS_1
"Ras, ini Yusuf anaknya Ina dan alam. Terakhir kamu ketemu Ina dia masih hamil. Sekarang ini anaknya." Rangga memperkenalkan Yusuf pada Laras.
"Bagas, ini Yusuf sepupu Bagas. Saudara Bagas karena mamanya yusuf adiknya ayah." Rangga mengenalkan Yusuf pada Bagas.
"Jadi Bagas anak om." Rangga mengangguk.
"Hore...Gas. Kita ternyata saudara." keduanya berpelukan seperti Teletubbies.
"Ayo, Yusuf om mau antar kamu pulang." ajak Rangga.
"Ras, kita main ke tempat Ina, ya. Saat ini dia lagi hamil anak kedua."
Laras hanya mengangguk. Dia juga rindu pada Ina, sahabat akrabnya semasa sekolah dulu. Mereka memasuki mobil sambil menuntun dua malaikat kecil. Yusuf dan Bagas duduk di belakang. Sementara Laras duduk di sebelah Rangga.
"Mas, apa Ina tahu yang terjadi diantara kita?"
"Tahu." jawab Rangga.
"Alam masih kerja di perusahaan Jepang?"
Rangga terdiam sejenak. Sejatinya dia harus mengungkapkan sebuah kenyataan kalau perusahaan punya ayahnya sudah di tutup. Menurut yang dia dengar itu untuk pengobatan Rangga yang tidak sedikit. Termasuk saat pengobatan wajah rangga yang hampir rusak. Pengobatan mata dan tulang tubuhnya yang di totalkan hampir ratusan juta.
"Perusahaan sudah tutup, Ras." jawab Rangga sendu.
"Kenapa?" Laras kaget kalau perusahaan itu sudah tutup.
"Menutupi pengobatanku, Ras. Empat tahun aku terkungkung dengan kegelapan. Tubuhku tidak bisa bangun. Mama segan minta sama papa Donal. Walaupun papa memang membantu cuma tidak akan mencukupi untuk biaya yang tidak sedikit. Hingga mama minta izin sama aku buat menjual perusahaan. Karena kondisi darurat aku pun mengizinkan. Dalam benakku jika kesempatan sembuh besar, aku bisa menyusul kamu. Karena kata papa kamu menungguku di Indonesia." jelas Rangga.
Laras hanya terdiam. Banyak hal yang tidak diketahuinya semasa terpisah dari suaminya. Laras juga penasaran tentang masa yang lalui rangga semasa berpisah.
"Maafkan aku, mas. Aku tidak ada disampingmu saat masa-masa sulit. Sejak kamu di rawat aku memilih pulang ke tempat ibu. Bukan karena aku tidak mau merawatmu. Tapi saat itu kamu sudah dipindahkan mama Raya ke rumah sakit lain. Satu minggu setelah pulang ke rumah aku dinyatakan hamil. Aktivitasku pun tersita saat masa-masa kehamilan. Anehnya aku tidak ngidam apapun. Hanya mual biasa."
__ADS_1