
Bu Suriah masih berada di hotel, masih mengenakan baju yang digunakan sehabis sidang. Tubuhnya terasa lelah. Lelah hati, lelaki pikiran dan juga lelah fisik. Maklum saja usianya sudah memasuki 68 tahun. Di usia yang sudah tidak muda lagi, Bu Suriah harus mengemban beban berat sebagai kepala rumah tangga. Suaminya, pak Damar sudah stroke sepuluh tahun lamanya. Ibarat hidup segan mati tak mau. Mereka hanya bergantung pada penghasilan dari Anisa, putri sulung mereka. Sebenarnya Anisa punya kakak namun sang kakak meninggal dunia saat bangku SD.
Selepas magrib Radit mengajaknya jalan-jalan keliling kota Jakarta. Hanya berdua saja. Adit meminjam mobil dinas yang sering dia gunakan untuk keperluan kantor.
Suasana jalanan menuju salah satu pusat pertokoan di kota Jakarta terlihat lenggang. Mungkin karena waktu sudah menunjukkan jam istirahat. Tampak beberapa bangunan seperti mall, perkantoran dan lain sebagainya. Bu Suriah hanya menatap takjub melihat lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Pemandangan yang langka sebab dia juga jarang ke kota. Rumah Bu Suriah terletak di daerah pelosok Jogja. Lebih tepatnya arah pantai Parangtritis.
"Jakarta keren ya, nak."
"Iya, Bu. Makanya Jakarta disebut kota metropolitan. metropolitan Jakarta (Jabodetabek) yang berpenduduk sekitar 28 juta jiwa, merupakan metropolitan terbesar di Asia Tenggara atau urutan kedua di dunia. Sebagai pusat bisnis, politik, dan kebudayaan, Jakarta merupakan tempat berdirinya kantor-kantor pusat BUMN, perusahaan swasta, dan perusahaan asing."
"Pengetahuanmu luas juga ya, nak." ucap Bu Suriah bangga.
"Ah, enggak,Bu. ini sudah termasuk pengetahuan umum." ucap Adit merendah.
Mereka berhenti di sebuah warung kecil di pinggir kota. Warung dengan nuansa lesehan. Adit mempersilahkan Bu Suriah duduk menikmati wedang ronde dan nasi goreng.
"Itu namanya nasi goreng gila, Bu." jelas Adit.
"Kenapa namanya nasi goreng gila, nak?"
"Toppingnya campur, Bu. Terus pedesnya lumayan bikin bolak-balik WC."
"Ah, yang benar? ibu jadi penasaran sama rasanya."
"Makan aja, Bu. Kalau kepedesan kasih ke saya aja."
"Nanti kamu bolak-balik WC."
"Nggak apa-apa, biar buang lemak." Adit sedikit tertawa.
"Kalau nanti Anisa sudah bebas, ibu pengen ajak kesini lagi. Semoga saja tempatnya masih ada. Andai Anisa dan Hazar jadi menikah, pasti Anisa bahagia." kata Bu Suriah tersenyum pada Adit.
__ADS_1
"Ibu kenapa mas Hazar tidak pernah muncul di persidangan Anisa?"
"Karena keluarganya malu punya menantu tahanan seperti Nisa."
Adit menaikan nafasnya dalam-dalam. Ada rasa ragu untuk menyatakan keinginannya pada Bu Suriah. Adit merasa Bu Suriah masih berharap Hazar jadi menantunya. Namun, disisi lain ada perasaan yang bisa dibendungnya lagi. Tangan kekar itu menyelip di sela-sela jemari wanita paruh baya tersebut.
"Ibu tahu kenapa saya ajak jalan-jalan?" ucap Adit menatap bu Suriah.
Bu Suriah menggeleng. Diajak jalan sama seorang pemuda yang baik hati saja sudah bersyukur. Dia nggak minta yang muluk-muluk. Hanya minta lelaki di depannya di beri kesehatan serta sukses di masa nanti. Meskipun dia berharap pemuda itu bisa jadi menantunya. Tapi rasanya tidak mungkin, mengingat putrinya sekarang mendekam di penjara.
"Bu, saya sudah anggap Ibu seperti ibu saya sendiri. Saya punya ayah yang sudah sakit-sakitan. Saya cuma merasakan kasih sayang seorang ibu sampai SD saja.
Ibu mau 'kan angkat saya jadi anak."
"Nak Radit, saya berterimakasih karena kamu sudah berjuang untuk proses hukum anak saya, Khairunnisa. Saya senang kalau kamu mau punya ibu seperti saya."
"Terimakasih, Bu. Sudah mau mengangkat saya jadi anak ibu. tapi juga mau jadi menantu ibu. Saya akan menunggu Anisa keluar dari penjara tiga tahun lagi."
"Ibu cuma bisa merestui, nak Adit. Semua ibu kembalikan ke Anisa. Ibu setuju kalau memang kamu serius pada anak ibu. Tapi apa yang membuat kamu suka pada anak ibu."
"Terimakasih,nak atas pandangannya pada putri saya. Semoga itu benar-benar dari hati yang paling dalam."
Setelah selesai makan di lesehan, Adit dan Bu Suriah pun beranjak dari lokasi keramaian. Adit lega lamarannya diterima Bu Suriah. Dia akan mencari waktu untuk membicarakan hal ini pada Anisa.
Setelah sampai di hotel, Bu Suriah pun pamit masuk kedalam. Hanya saja dia sempat mengutarakan kalau besok akan pulang ke Jogja.
"Apakah ibu tidak mau pamit sama Anisa?" tanya Adit.
"Tentu, nak. Ibu pasti tidak akan tenang kalau belum ketemu dengan Anisa. Dia satu-satunya tulang punggung keluarga. Sepertinya ibu akan kembali jualan makanan."
"Kalau besok ibu mau ke lapas telepon saya."
__ADS_1
"Terimakasih nak, Adit. Kamu lelaki yang baik. Ibu berharap Nisa mau buka hati buat kamu."
"Sama-sama,bu."
*
*
*
"Jadi kamu yang menjebak Anisa!" amuk Hazar saat berada di lapas.
Wanda hanya terdiam melihat reaksi lelaki di depannya. Tangannya terus membolak-balik seakan ada kecemasan yang mendalam. Bahkan untuk bersuara dan menegakkan kepala saja dia tak berani. Mana Wanda yang dulu? Wanda yang dulu sudah hancur ketika sang mama drop setelah tahu kasus anaknya. Apalagi saat papanya tahu kalau Wanda bukanlah anak kandung papanya. Melainkan anak kandung mamanya dengan pria lain. Papanya bahkan murka pada dirinya dan juga mamanya.
"Aku juga tidak ingin lahir dengan keadaan seperti ini." batinnya.
Mata Wanda kembali memerah saat Hazar melepas cincin tunangannya dan melemparkan wajah Wanda.
Wanda berlari bersujud di kaki calon suaminya. Dia terus memohon pada lelaki itu agar tidak meninggalkannya. Namun, sama seperti yang Hazar lontarkan ke Anisa dulu, dia pun mengatakan malu punya pasangan yang kriminal. Dimatanya sekali kriminal tetap saja kriminal.
"Paling tidak Anisa lebih baik dari kamu, Wanda. Dia tidak pernah sekalipun menyakiti perasaan saya. Justru sayalah yang bodoh karena terpengaruh dengan kamu."
"Tapi Anisa juga sama dengan aku. Sama-sama kriminal. Jangan sampai kamu menelan ludah sendiri, mas."
"Aku yakin Anisa sebentar lagi bebas. karena dia tidak salah."
Hazar meninggalkan ruang lapas. Sesaat dia meluapkan rasa kecewa pada Wanda. Dia merasa menyesal sudah menyakiti perasaan Anisa. Raut wajahnya mendadak sendu diiringi langkah kaki yang terasa berat. Tak ada senyuman yang biasa dia suguhkan pada wanitanya. Tak ada lagi rasa semangat ketika dia menginjakkan kaki di rumah calon mertua. Berkelabat wajah Anisa yang sudah dia sakiti. Seakan dia melupakan ucapannya pada Anisa.
Adit datang menemui Anisa. Bersama dengan Bu Suriah yang mau pamit pada putrinya. Anisa sedih harus berpisah dengan ibunya. Bu Suriah pun menguatkan putrinya agar bisa menjaga diri di lapas.
Dari jauh Hazar melihat kedatangan Bu Suriah. Langkah kakinya dipercepat agar bisa sampai menemui mantan calon mertuanya. Hazar melihat seorang lelaki muda yang sangat dekat Bu Suriah. Dia memilih mengabaikan lelaki itu.
__ADS_1
"Bu ..." baru semenit suara keluar dari kerongkongan.
Dia harus menelan kekecewaan saat melihat Adit menggandeng tangan Anisa.