
Laras duduk di tepi jendela kamar kost milik Sasti. Sore tadi dia memilih menumpang di kost Sasti. Awalnya Laras hendak ketempat Eva, tapi sepertinya dia merasa akan mudah ditemukan suaminya disana. Laras ingin menenangkan diri, dia enggan pulang ke rumah mertuanya sebelum Rangga bisa memilih antara dirinya dan Raya. Egois kedengarannya. Tapi itulah yang dia rasakan saat ini.
"Ras,"
"Iya, Ti. Maaf kedatanganku mengejutkan kamu."
"Nggak apa-apa,Ras. Kamu itu temanku jadi sesama teman harus saling membantu.
Oh ya aku beli mie goreng di abang-abang gerobak. Nggak apa-apa kan. Tadi aku sudah kasih Bagas kayaknya suka banget."
"Terimakasih, Sasti. aku nggak tahu harus berlindung kemana lagi."
"Sebenarnya kamu sama Rangga kenapa, Ras. Berantem? aku kasihan lihat Bagas yang kena imbasnya. Kenapa ya setiap orangtua lagi berantem pasti anak yang jadi korban."
Laras mengerutkan dahinya mendengar ucapan Sasti.
"Kenapa kamu ngomong begitu?"
Sasti membenarkan duduknya. Terkenang masa kecilnya penuh dengan kehidupan pelik. Dia harus pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Bukan karena di kejar hutang. Tapi kata ibunya, dia takut Sasti akan di bawa ayahnya dan istri barunya.
Setiap hari dia dicecoki tentang keburukan ayahnya. Semenjak itu dia takut keluar rumah. Bahkan sampai SMA pun dia tidak boleh jauh dari ibunya. Hingga saat kelas dua SMA, dia mendapat kabar kalau ayahnya meninggal dunia.
Perlahan-lahan ibunya mulai bisa melepaskannya. Karena yang di takutkan sudah tidak ada. Sasti tak pernah tahu mana yang benar dari cerita ibunya. Hingga saat ibunya meninggal kisah tentang ayahnya pun masih menjadi misteri.
__ADS_1
"Ya Allah, Ti. pelik banget." Laras cukup kaget mendengar kisah Sasti.
"Maka dari itu aku sangat menyesalkan tindakan kamu melibatkan Bagas, Ras. Jadi korban orangtua nggak enak.
Ya aku paham, kamu mau melindungi Bagas dari mertuamu. Akan lebih bagus dibicarakan dengan kepala dingin. Semua permasalahan pasti ada solusinya.
Kamu lihat anakmu,Ras. Kasihan dia, tadi Bagas bilang dia mau sama ayahnya."
Laras hanya bisa menunduk lemas. Benar saat ini dia seperti egois. Melibatkan Bagas dalam masalah mereka. Namun dia tak mungkin meninggalkan anaknya di rumah itu. Tak ada ibu yang mau anaknya di saat seperti ini.
Saat Laras meletakkan bantal sebagai penyangga kepala Bagas. Laras menatap sejenak, ada rasa bersalah. Masih dalam balutan mukena wajah Laras tampak cantik meskipun tanpa riasan. Sasti memperhatikan temannya tampak lelah.
"Ras, kamu istirahat sudah malam. Aku masih ada yang harus di kerjakan. Kamu nggak apa-apa kan aku tinggal dulu." kata Sasti.
"Kerjaan apa? dari Bu Jihan, ya?"
"Nggak apa-apa,Ti. Aku senang kalau kamu yang nerima tugasnya. Beberapa hari ini banyak sekali permasalahan yang datang beruntun. Dari sejak aku di boyong ke rumah mertuaku, diminta resign kerja, hingga puncaknya tadi setelah dua hantaman sekaligus menimpa rumah tanggaku.
Aku sudah mencoba jujur sama mas Rangga soal yang ku alami selama ini. Tapi sayangnya, mas Rangga lebih percaya sama mamanya.
lalu kak Mila yang ternyata punya rencana untuk ..."
"Ini kan?" Sasti memperlihatkan video pertengkaran Mila dengan waitres sebuah cafe.
__ADS_1
"Kamu sudah tahu?" Sasti mengganguk. "Beritanya sudah viral, Ras. Wajar kalau aku tahu, aku sudah pernah ingatkan kamu soal itu kan? sekarang terbukti kan siapa Mila." Laras hanya mengangguk pelan.
"Aku cuma tidak menyangka kalau kak Mila seperti itu. Apa mungkin dia dibutakan cinta? kata mas Rangga, kak Mila sempat mau di jodohkan dengan dia."
"Terus reaksi Rangga gimana?"
"Nggak ada. Biasa aja." jawab Laras.
"Itu artinya Rangga masih memegang teguh pernikahan kalian. Kalau tidak mungkin dia sudah lama menerima Mila sebagai istri keduanya. Kamu itu beruntung punya suami seperti Rangga. Dia baik dan sayang sama anak istrinya.
Waktu kamu masuk rumah sakit. Dia datang mengaku temannya Bagas. Membawa beberapa mainan mahal untuk Bagas. Dia bilang sama aku pertama kali bertemu Bagas, merasa kayak dekat dan langsung sayang. Makanya dia membelikan peralatan buat Bagas."
"Iya, aku merasa berdosa sudah main pergi saja. Dia lelaki yang baik dari yang pernah aku temui. Hanya aku masih belum bisa berbaur dengan keluarganya. Apakah aku istri durhaka, ti?"
"Kamu shalat istikharah, Ras. Minta petunjuk pada yang diatas. Berserah dirilah kepada-Nya."
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kekuasaan-Mu (untuk menyelesaikan urusanku) dengan kodrat-Mu, dan aku memohon kepada-Mu sebagian karunia-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Mahakuasa sedangkan aku tidak berkuasa, Engkau Mahatahu sedangkan aku tidak tahu, dan Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib.
Ya Allah, hanya engkau yang maha mengetahui jika urusan ini baik buatku, dalam ridhomu, maka mudahkanlah semua urusan ini.
jika memang engkau tidak meridhoi hal ini, untuk kehidupanku, maka jauhkanlah semua ini dariku. Berilah satu titik terang untuk jalan keluar urusan ini. Aku ikhlas jika hal memang di gariskan untukku.
Sebagai umat muslim yang taat, sudah sepatutnya kita berharap ridho kepada Allah SWT, satu di antaranya dengan beribadah.
__ADS_1
Menangislah kepada yang Maha kuasa di malam hari yang paling gelap di saat orang lain sedang tertidur nyenyak. Lihatlah rahmat-Nya menyentuhmu dengan menakjubkan.
Selesai shalat istikharah Laras melipat mukenanya. Tampak Sasti duduk ruang tamu di kostannya. Laras mencoba ingin membantu. Tapi sayang dia kalah oleh rasa kantuknya. Laras pun berbaring di samping Bagas.