Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Ini salah saya


__ADS_3

Laras hanya terpaku saat jaksa penuntut umum menuduhnya menyembunyikan atau menyekap Anisa. Dia tidak pernah merasa menyekap atau melakukan sesuatu pada Anisa, Endang dan Ratna. Netranya berputar pada suaminya. Dimana yang mempertemukan dirinya dan ketiga wanita itu adalah Rangga. Itu artinya Rangga tahu soal penyekapan itu. Rangga mendadak pucat saat jaksa penuntut umum menuduh istri tentang hal yang tidak wanita itu lakukan. Sesekali kelapa menunduk seakan merasa bersalah pada Laras.


"Mas, tolong aku." batin Laras tanpa melepaskan pandangan kearah Rangga.


"Ras, aku akan bantu kamu. Tenang saja." batin Rangga.


Rangga meninggalkan aula persidangan. Melihat hal itu Laras merasakan kekecewaan yang mendalam. Dia menganggap suaminya tidak mau membantu. Padahal suaminya tahu soal penyekapan itu. Kepalanya menunduk, tangannya bermain di ujung bajunya.


"bisakah saya memberi kesaksian?" suara Raya memecahkan keheningan.


"Nanti akan ada masanya Bu Raya." kata hakim.


"Sampai kapan, pak. Sampai kebenaran berbalik dan membuat runyam semuanya. Saya hanya menyampaikan hal yang salah. Meluruskan semua yang terjadi."


Raya terus memohon pada hakim. Dia tidak tega melihat Laras seperti terpojok. Sebagai sesama wanita, dia melihat Laras seperti dirinya dulu, saat mama Esmeralda selalu menuduhnya tidak becus menjadi istri. Saat mama mertuanya menuduhnya mencuri perhiasan kesayangan keluarga suaminya. Hanya karena dia miskin dengan seenaknya mereka menuduh dirinya maling. Sungguh rasanya menyakitkan. Sejak saat itu dia sangat benci dengan keluarga Aryo, walaupun dia tahu kalau Aryo ada di pihaknya.


"Maaf, permintaan anda di tolak. Sekarang bukan waktunya pembelaan diri. Saya minta anda kembali ke tempat duduk."


Raya mengendurkan nafasnya. Permintaannya di tolak. Padahal dia bukan mau pembelaan diri. Melainkan meluruskan kalau tuduhan terhadap Laras tidaklah benar. Dia ingin bilang pada semua yang ada di pengadilan kalau Laras tidak tahu soal penyekapan itu. Dia juga tidak tahu soal siapa yang menyekap Anisa, Endang dan Ratna.


Tampak Laras masih terdiam saat jaksa penuntut umum masih memberikan pertanyaan yang menyudutkan.


"Saya ingin hadirkan saksi yang selanjutnya pak hakim." Adit muncul diantara para audien persidangan.


"Bukankah Bu Laras belum selesai? kenapa harus menambah saksi lagi?" tanya jaksa penuntut umum.


"Tentu saja untuk memberikan informasi baru demi kelangsungan sidang ini. Untuk apa anda masih melanjutkan pertanyaan pada orang sudah terpojok."

__ADS_1


"Hey, kamu baru sehari jadi pengacara sudah sok pintar." ucapan Jaksa penuntut umum terdengar meremehkan.


"Pak hakim bagaimana?" Adit mengalihkan pertanyaan pada hakim.


"Permintaan di terima. Bu Laras anda kembali ke tempat duduk."


Laras berjalan ke kursi pengunjung sidang di tuntun oleh Eva dan Sasti. Keduanya bergantian menenangkan temannya itu. Netra Laras mengedarkan pandangan setiap sudut ruang sidang. Tak tampak batang hidung suaminya. Helaan nafas berat pun terdengar dari bibir kecilnya.


"Benarkan, dia pergi setelah melihat aku terpojok. Aku tahu kamu yang menyekap mereka, mas. Kenapa kamu lakukan itu?"batin Laras.


"Terimakasih, saya akan hadirkan saksi baru. Silahkan." Adit mempersilahkan orang yang akan duduk di kursi sidang.


Laras terhenyak melihat siapa yang menjadi saksi. Dalam hatinya dia bertanya, untuk apa suaminya ikut jadi saksi. Bukankah suaminya tidak ada hubungan dengan masalah mama Raya.


"Saya Rangga Baratayudha bersaksi akan mengatakan yang sejujurnya tanpa paksaan."


"Iya, itu mama saya."


"Lalu anda mau bersaksi membela mama anda. Atau membela istri anda?"


"Saya disini hanya menjelaskan masalah yang sebenarnya. Dimana tadi anda menuduh istri saya menyekap Anisa, Endang dan Ratna. Saya hanya meluruskan kalau istri saya tidak tahu soal itu."


"Oh, anda duduk disini hanya untuk membela istrimu."


"Kan tadi saya bilang kalau saya menjelaskan masalah sebenarnya. Saya yang sudah menyekap mereka. Karena saya ingin membersihkan nama baik istri saya yang sudah di fitnah. Saya cuma ingin mama saya sadar akan kesalahannya. Itu saja. Ini salah saya karena tidak berkonsultasi terlebih dahulu pada istri saya. Saya pikir hal ini akan jadi kejutan manis buat dia."


Laras meneteskan air matanya. Sebegitu kerasnya usaha Rangga untuk membersihkan namanya. Padahal dengan Rangga percaya padanya saja itu sudah cukup. Laras merasa bersalah karena sudah menuduh suaminya yang bukan-bukan.

__ADS_1


"Ini juga salah saya pak hakim. Saya sudah membuat Laras menderita selama ini. saya membayar Endang dan kedua anaknya untuk pura-pura jadi famili Laras. Itu semua saya lakukan karena saya cemburu melihat Laras begitu disayang oleh suami dan mertua saya. Itu juga saya lakukan karena merasa anak saya lebih berpihak ke Laras dari pada ibu kandungnya. Maafkan saya Laras. Maafkan saya mas Donal."


Bagi beberapa orang mungkin terasa sulit untuk mengakui kesalahan maupun kekalahan sendiri di depan banyak orang atau lawan bicara. Semua orang juga pasti pernah menemui karakter tersebut. Baik pasangan, orangtua, saudara, teman maupun pimpinan.


Hal itu bukan suatu kondisi mental yang sangat buruk. Melainkan karakter dari orang itu sendiri.karena terkadang ada kesalahan yang begitu besar sehingga orang yang melakukan kesalahan tersebut takut untuk mengakuinya.


Penerapan pembuktian perkara pidana yang diatur dalam hukum acara pidana selamanya tetap diperlukan sekalipun terdakwa mengakui tindak pidana yang didakwakan kepadanya.


Seandainya terdakwa mengakui kesalahan yang didakwakan kepadanya, penuntut umum dan persidangan tetap berkewajiban membuktikan kesalahan terdakwa dengan alat bukti yang lain. Pengakuan bersalah dari terdakwa sama sekali tidak melenyapkan kewajiban penuntut umum dan persidangan untuk menambah dan menyempurnakan pengakuan itu dengan alat bukti yang lain.


Hakim memutuskan sidang akan kembali diadakan minggu depan. Tentu saja ini sebagai PR buat Adit karena minggu depan adalah pembahasan masalah Anisa. Ada beberapa orang dari bank tempat Anisa kerja yang mau membantu.


Adit duduk di dekat Anisa. Layaknya orang pacaran mereka hanya saling menunduk malu-malu. Anisa senang ada lelaki baik yang mau membantunya. Begitu juga Adit, dia senang bisa membantu orang lain termasuk Anisa.


"Dit, terimakasih kamu mau jadi pengacara saya. Kamu keren tadi saat di persidangan. Tapi maaf jika pak Rangga akan ditahan karena menyekap saya, Ratna dan Bu Endang. Lalu bagaimana dengan kamu? bukannya kamu juga komplotan pak Rangga?"


"Mbak Nisa, apakah selama kami menahan kalian ada menyakiti?"


"Ada. Saat kalian mengurung kami setelah kabur."


"Lalu kenapa kalian tidak melaporkan kami saat dibawa kantor polisi?" tanya Adit.


"Karena ..."


"Karena kalian tidak memperlakukan kami seperti tahanan. Kalian memberi kami makan, tidak menyiksa kami."


"Jadi kalau pak Rangga di tahan. Apakah kalian mau membantu?" Anisa mengangguk. Dia bersedia membantu Rangga.

__ADS_1


"Ini pak baksonya," seorang lelaki muda mengantarkan dua mangkuk bakso ke dalam ruang tunggu.


__ADS_2