Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Haruskah aku pergi?


__ADS_3

Masih POV Laras


"Nona Laras ada yang menjenguk" Aku berjalan meninggalkan ruangan jeruji besi yang menahanku.


Untungnya aku di letakkan sendiri tanpa ada napi lain. Entah mungkin bagaimana nasibku kalau di campur dengan yang lain. Aku pernah dengar cerita Nindy yang ditahan karena berkelahi. Dia pernah bilang di penjara tidak enak, ada napi senior yang akan membully napi baru. Mereka akan merasa berkuasa apalagi kalau kita lemah.


Aku berjalan ke ruang jenguk. Seorang wanita dengan santai duduk disana. Senyum bangganya membuat aku muak, seketika aku mengepalkan tangan. Ada seonggok kebencian yang aku rasakan padanya. Aku mencoba bersikap biasa saja, meskipun rasanya sakit sekali melihat senyum kemenangannya.


"Ma," sapaku padanya.


"Hallo, menantu mama tersayang. Bagaimana nyenyak tidurnya."


"Mama mau apa?" Aku masih mencoba menghormati statusnya sebagai mertuaku, ibu dari suamiku.


"Mama mau bebaskan kamu, tapi dengan satu syarat?"


"Apa,ma? kalau mama meminta aku meninggalkan mas Rangga, aku tidak mau! Aku masih istrinya kami saling mencintai, dia pasti membutuhkan aku disampingnya. Jadi aku tidak akan pernah meninggalkan mas Rangga."


"Kamu yakin?"


"Kalau keluarga besar tahu photo ini. kamu masih bisa mempertahankan suamimu? hahahaha... Laras... Laras kamu polos sekali, nak. Kamu tahu tidak? Rangga itu masih mencintai Ina, buktinya dia masih sibuk menemui Ina padahal kalian sudah menikah. Ditambah dengan photo ini akan menguatkan perceraian kalian di pengadilan agama nanti."


"Mama kenapa tega sama aku. Dulu mama yang maksa aku nikah sama mas Rangga. Sampai aku belum sempat pamit sama orang-orang di tempat tinggalku. Mama juga menyembunyikan wasiat ibuku, buat apa!"


"Karena setelah menikah duniamu bukan lagi mereka Laras! Kamu harus ikut dalam dunia kami, menuruti keinginanku untuk memberi cucu. Tapi apa yang kamu lakukan! kamu malah menolak cepat hamil. Sekarang yang aku takutkan terjadi, kamu belum hamil-hamil juga. Itu karena kamu kualat sama mama. Rangga lebih nurut sama kamu ketimbang sama mamanya sendiri."


Aku tidak tahu harus bilang apa. Apa memang semua salahku. Apa kalau sudah menikah tidak boleh lagi berbaur dengan orang-orang terdekatku. Kita hidup di dunia ini bukannya masih saling membutuhkan, saling membantu dan menguatkan. Justru aku merasa asing saat berada di kehidupan keluarga suamiku. Dengan kehidupan yang penuh hura-hura dan gelimang harta. Tidak membuatku naik tahta disana, malah kesannya aku hanya pajangan saja. Sekarang mama Raya bilang mereka bukan duniaku lagi.


Jika aku kembali ke mereka apalagi ditambah Oma sudah tiada. Yakin dan seyakin-yakinnya aku akan semakin diinjak-injak. Tapi bagaimana dengan mas Rangga. Apakah aku harus bertahan demi mas Rangga? Ya Allah aku harus bagaimana?


"Laras,"


"Bagaimana?"


"Ma, izinkan aku melihat keadaan mas Rangga untuk terakhir kalinya."


"Boleh asal kamu tanda tangani ini dulu." Mama Raya menyodorkan map putih di hadapanku.

__ADS_1


"ini apa, ma?"


"Ini surat perceraian kalian. Jadi saya akan bebaskan kamu asal tinggalkan Rangga."


Ya Allah kenapa harus berakhir seperti ini. Tidak aku harus bertahan demi mas Rangga.


"Saya tidak akan menandatangani surat cerai ini. Tapi kalau diminta tidak menemui mas Rangga untuk sementara saya bisa. Tapi saya tetap akan bertahan dengan pernikahan ini. Saya dan mas Rangga tidak punya masalah apapun! jadi untuk apa kami berpisah!" aku berusaha bertahan apapun yang terjadi.


Aku mengambil berkas pengadilan agama dan merobek-robeknya di depan mama Raya. Tampak wajahnya seperti tidak suka dengan caraku. Terserah! saat ini aku berusaha mempertahankan rumah tanggaku.


"Dasar tidak tahu di untung! seharusnya kamu membalas kebaikan saya selama ini. Saya yang angkat derajat kamu dari OB hingga bisa menikah dengan orang kaya. Jadi ini balasan setelah apa yang saya lakukan selama ini!"


"Maaf, ma, seharusnya saya yang bertanya pada anda. Selama ini apakah anda memang ikhlas mendekatkan saya dengan anak anda. Sepertinya tidak. Saya baru menyadari anda mendekati saya juga maksud tertentu, kan. Bukan benar-benar menerima saya apa adanya.


Saya beberapa kali menolak permintaan anda dan anda terus memaksakan hal ini kepada saya. Sekarang anda meminta pamrih. Hebat! Benar kata ibu saya, orang kaya itu kalau baik ada maunya."


Mama Raya pergi meninggalkan aku di ruang jenguk. Apakah aku tidak jadi di bebaskan? mungkin bisa iya bisa juga tidak. Aku pasrah saja jika harus mendekam, yakin sebentar lagi keadilan akan datang.


Klik


Raya berjalan menuju ruang kepala polisi. Sejenak mereka sempat berbincang lama. Raya mengenal kepala polisi sebagai temannya Aryo mendiang suami pertamanya.


"Terimakasih, mas Panji. Saya lakukan ini cuma mau kasih syok terapi pada menantu saya. Soalnya dia sudah mulai kurang ajar sama saya. Jadi saya minta dia bebaskan saja. Tidak usah di tahan lagi."


Lelaki paruh baya tersebut tertawa sambil menenteng amplop coklat yang di berikan Raya.


"Jeng, Raya tenang saja. Semua pasti beres, asalkan ada ini." Panji terus mengibas amplop coklatnya."


"Sekali lagi saya ucapkan terimakasih. Bebasnya besok saja. Biarlah dia menginap dulu semalam lagi di sini." Raya pamit dan meninggal ruang kepala polisi.


Raya tersenyum sambil berjalan keluar gedung kantor polisi. Tangannya menari-nari di layar pipih.


"Halo, Mona. bagaimana bisa dipindahkan?"


"Oke, sehabis pemakaman kita urus. Tante percayakan semua sama kamu."


Raya berjalan mendekati mobilnya. Senyumnya mengembang memandang kantor polisi. "Besok kamu keluar tidak akan pernah melihat Rangga lagi."

__ADS_1


Sementara di kediaman Pattimura, semua keluarga sudah berkumpul menanti ambulan mengantarkan jenazah Oma. Para keluarga dan para tamu pun memakai baju hitam. Lani terus menangis di bimbing oleh Bi Asti. Tampak papa Donal masih sibuk menerima tamu yang melayat. Suasana dalam duka menyelimuti kediaman tersebut. Lani masih sesenggukan, bi Asti juga ikut sedih karena dia sudah bekerja sejak Oma Maria masih hidup.


"Apakah kalian sudah menjemput Laras?" Tanya Donal.


"Loh bukannya bu Raya yang jemput non Laras." jawab salah seorang staf Donal.


"Kenapa malah minta Raya!" Amuk Donal.


"Maaf, pak. Bu Raya Ngotot mau menjemput non Laras."


"Sekarang kalian susul Raya. Langsung bebaskan Laras. Laras adalah orang yang paling disayang sama Oma." Para staf yang diperintahkan langsung bergerak. Donal menghela nafas melihat kelakuan istrinya. Sudah jelas ini murni kecelakaan, kenapa malah Laras yang ditahan. Dimatanya Raya sekarang berubah. Apalagi sejak Rangga menikah, istrinya itu lebih posesif ketimbang Laras, menantunya.


"Mas," Raya muncul di hadapan Donal.


"Mana Laras? Katanya kamu yang bebasin dia."


"Nggak bisa, mas. Katanya belum 2 kali 24 jam." Jawab Raya santai.


"Bohong! apa yang kamu lakukan pada menantuku?"


"Kenapa kamu segitunya membela Laras! Apa karena dia anak Mala?"


"Jangan bawa Mala, Raya."


"Pa, ma, jangan bertengkar. Ini kita lagi berkabung, kalian malah berantem."


Beberapa saat kemudian mobil ambulan datang mengantarkan jenazah Oma Gladys. Semua sanak famili berkumpul di depan pintu rumah. Ada Oma Fina, adik dari Oma Gladys. Oma Fina datang dari Bengkulu hanya untuk melihat kakaknya yang terakhir kalinya.


"Mbak Gladys harus segera di makamkan. Jangan ditunda lagi." Perintah Oma Fina.


"Iya,pa. Oma harus segera dimakamkan." jawab Lani.


"Iya, Tante. Tapi harus menunggu Laras."


"Papa kenapa masih mikirin Laras. Papa tidak lupa kalau Laras yang sudah buat Oma dan kak Rangga celaka."


"Sudahlah Donal. Pokoknya Tante minta mama kamu cepat dimakamkan."

__ADS_1


__ADS_2