Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Tamu dari jauh


__ADS_3

"Nama kamu siapa, cantik?"


"Larasati, Nyonya."


"Jangan panggil saya nyonya. Panggil saja Oma."


"Iya, Oma."


"Berapa usiamu?"


Pertama kali aku menginjak kaki dirumah ini. saat mama Raya menawariku kerja di rumahnya. Saat itu aku terlalu di buat buru-buru untuk mengikuti kemauan mereka. Tak pernah terbayangkan kalau akan mendapat prahara disini.


Oma Gladys yang baik, bahkan tetap baik sampai akhir hayatnya. Beliau meminta aku menjadi orang kepercayaannya. Dan ternyata ibuku juga seperti itu. Mama Raya yang masih baik padaku saat itu. Dia memperkenalkan aku sebagai pembantu baru disini. Karena aku sempat menolak mas Rangga sebagai calon suamiku. Aku cukup tahu diri kalau dia tidak mungkin mau sama gadis miskin ini.


Sekarang aku kembali berdiri disini, setelah hampir satu bulan aku meninggalkan rumah ini. Menelan rasa malu demi mas Rangga. Setelah semua yang telah terjadi, aku masih sempat berdiri dirumah ini.


Bodoh! itu yang mungkin terlontar dari para pembaca saat ini. Aku tahu ini langkah bodoh, tapi ini demi suamiku dan anak yang aku kandung. Mereka harus tahu ada malaikat kecil yang sedang berjuang untuk bertahan hidup. Paling tidak anakku tahu masih ada kakek dan neneknya. Masih ada ayahnya yang kini berjuang hidup. Kedatanganku cuma mau memperkenalkan anakku itu saja tidak lebih.


"Bismillah" ku hirup dalam-dalam udara yang masuk ke jalur penciuman.


Demi menghilangkan perasaan grogi aku pun berjalan melangkah ke rumah mewah itu. Saat ini udara cukup ekstrim karena sering adanya hujan angin kencang. Katanya mulai ada perumahan yang terkena banjir. Tapi bukankah Jakarta memang langganan banjir. Jadi bukan hal yang kaget lagi ketika air bah itu meluap.


Gembok!


Ketika aku sampai di depan rumah papa Donal. Kulihat pintu gerbangnya di gembok. Ya Allah, apakah momen kedatanganku kurang tepat. Kenapa ada saja halangan aku untuk bahagia? Reflek aku merapatkan cardigan yang menutupi gamisku. Mana disini jauh dari jangkauan kendaraan umum. Gerbang kompleks masih sangat jauh.


"Sepertinya kita harus bersabar, nak. Kamu rindu sama ayah kan? sama, nak bunda juga rindu sama ayah. Bunda mau kenalin kamu sama ayah, eyang putri dan juga akung. Nanti kita kesini lagi ya, nak."


Aku mencoba berkomunikasi dengan anakku. Berharap dia mengerti kalau saat ini butuh perjuangan untuk mengenalkan keluarganya. Kakiku terus berjalan menuju gerbang kompleks. Ada beberapa ibu-ibu yang kutemui. Tampaknya mereka enggan beramah-tamah padaku. Padahal dulu saat aku masih tinggal disini mereka sangat baik.


"Eh, itu bukannya Laras menantunya Bu Raya." Celetuk salah satu dari mereka.


"Iya, ngapain dia disini?"


"Paling juga mau balik lagi ke rumah itu. Nggak tahu diuntung, diangkat derajatnya malah selingkuh. Ninggalin suaminya yang sedang koma. Pergi sama laki-laki lain."


Langkah kakiku terhenti. Apa yang sudah di bilang mama Raya pada orang-orang? kenapa mereka menuduhku selingkuh. Aku tidak selingkuh, aku hanya tidak tahan dengan perlakuan mereka. Boleh aku sedikit melawan? haruskah aku menjadi perempuan yang lemah dan mudah ditindas. Tidak aku bukan perempuan seperti itu.

__ADS_1


Aku mencoba tidak peduli dengan semua itu. Membela pun percuma karena hanya akan memperkeruh suasana. Lebih baik aku cepat pergi dari sini sebab aku ingin anakku tidak mudah lelah.


Tampak ada pos kecil di dekat perumahan. Aku pun duduk untuk istirahat sebentar. Langit Jakarta mulai hitam, sepertinya akan datang hujan. Aku merogoh tas untuk mengambil gawai. Terasa getaran dari dalam sana.


"Eva, aduh bagaimana ini? kalau dia tahu aku datang ke rumah mertua bisa kena omelan nanti. Yaudah aku angkat dulu."


"Assalamualaikum, Va."


"Waalaikumsalam, Ras. Kamu dimana?"


"Aku lagi diluar, ada urusan. kenapa?"


"Urusan apa? jangan bilang kamu pergi ke rumah mertuamu. Aduh Laras, berapa kali aku bilang jangan kesana lagi. Kamu kan sudah hengkang dari sana! ngapain kamu datang kesana lagi."


"Enggak, kok. Aku nggak kesana, ada urusan di tempat lain." Maaf, Va aku terpaksa bohong.


"Bener?"


"Iya, bener. Emang kenapa sih,Va?"


"Yaudah aku sedang nunggu grab, kamu layani saja budeku."


"Ras, sepertinya dia akan tinggal sama kamu. Dia bawa koper besar sama kedua anaknya. Kayaknya anaknya rada gimana gitu."


"Kamu temani saja dulu, Va. Aku masih di jalan."


"Oke, cepat pokoknya. Cici juga butuh quality time soalnya."


"Gayamu, Va. pake Quality time segala."


Aku masih menunggu datangnya mobil grab pesananku. Merasakan rintik gerimis sudah turun dari langit. Merasakan dinginnya udara kota Jakarta, merapatkan cardiganku.


"Ya Allah, kapan aku bisa bertemu mas Rangga? kapan kami bisa berkumpul bersama? benarkah aku harus ke Jepang? iya sepertinya aku harus ke Jepang."


Tak berapa lama mobil grab pun tiba. Tubuhku yang mulai diguyur hujan kecil pun bisa terlindung. Sejenak aku menghembuskan nafas berat, memandangi perumahan besar yang tak jauh dari tempat aku berdiri.


POV author

__ADS_1


Sekitar satu jam lebih Laras tiba di depan gang kompleks perumahannya. Karena grab tidak bisa masuk ke dalam pada akhirnya Laras memilih berjalan kaki. Toh sekalian olahraga, apalagi saat sampai hujan sudah berhenti.


"Assalamualaikum," sapanya di depan pintu rumahnya.


"Waalaikumsalam," balasan sapaan pun terdengar.


"Oh, ini anaknya Mala." sapa wanita asing yang duduk di teras rumahnya.


"Iya, bude saya Larasati, anaknya ibu Mala dan ayah Fauzan."


"Iya saya tahu, oh ya perkenalkan nama saya Endang. Saya adalah kakak sepupu ayah kamu pihak kakekmu. Ini anak saya namanya Ratna dan ini anak saya yang gendut namanya Najwa. Kami datang dari Yogya tepatnya dulu tinggal di gelagah."


"Saya Laras, sepupu kalian juga." Laras memperkenalkan diri sebagai tuan rumah.


Uluran tangan Laras hanya mendapat sambutan selintas dari kedua sepupunya. Tak ingin terlalu mengambil hati, Laras mempersiapkan kamar untuk para tamunya.


"Kamu sudah nikah,Ras?" tanya bude Endang.


"sudah bude, sekarang sedang hamil."


"Suami kamu mana?"


"Suami Laras dibawa keluarga berobat di luar kota."


"Kok kamu nggak ikut, Ras. Istri itu harus ada disaat suami sedang sakit."


"Aku nggak diajak bude, katanya hamil muda nggak boleh pergi jauh."


"Oh, kamu yang sabar ya, Ras. Ini ujian pernikahan kalian. Oh ya sudah berapa lama kalian menikah? pasti masih baru kan?"


"Dua tahun setengah, bude."


"Dan kamu baru hamil sekarang? lama juga ya? dulu Ratna pernah hamil setelah satu bulan menikah nggak lama keguguran. Sampai sekarang nggak hamil lagi terus di ceraikan sama suaminya."


"Oh, begitu ya bude," Laras beralih dari bude ke Ratna.


"Ras, maaf bude sebenarnya di usir dari kontrakan. Bolehkah bude tinggal sama kamu? hitung-hitung saya nemenin kamu yang tinggal sendiri disini. Jagain kamu yang sedang hamil."

__ADS_1


__ADS_2