
Rumah Sakit Kasih Bunda,
Pukul 17.00
Laras, Rangga dan Bagas berjalan menuju ruang rawat Donal. Ketiganya memasuki kamar VIP tersebut. Raya tidak menyambutnya seperti biasa. Dia malah mengalihkan perhatian ke gawai. Laras mencoba menyalami mama mertuanya. Di sambil uluran tangan namun Raya tetap tak menoleh. Ada selang kecil dimasukkan ke tangan kanannya. Raya membelai pucuk rambut suaminya.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Donal membuka matanya. Melihat anak, menantu dan cucu sudah berkumpul di kamar rawatnya.
"Laras," suara Donal masih terdengar lemah.
Laras berjalan mendekati ayah mertuanya.
"Papa bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah, nak. Papa masih bisa melihat kalian, masih diberi umur panjang. Papa juga tidak menyangka musibah ini menimpa kita. Mungkin benar katanya kalau harta itu titipan Allah. Dia datang melalui perjuangan yang berat, Allah pun mengambilnya dengan berbagai cara termasuk kebakaran itu." ucap Donal.
Beberapa saat ada beberapa dokter masuk memeriksa keadaan Donal. Salah satu dokter yang datang sangat kenal dengan Laras.
"Kamu Laras, kan? temannya Ina." sahut dokter berparas bule tersebut.
"Iya. Dokter Ilham, kan? temannya kak Dodo. Sudah lama ya, kenapa saya jarang melihat dokter. Padahal dulu saya sering bolak balik ke rumah sakit kontrol anak saya."
"Saya baru pulang dari Belanda. Mengambil S2, sudah tujuh tahun disana. Jadi ini suami kamu, Ras. Ini bukannya kakaknya Ina, ya? siapa namanya..." Ilham mencoba mengingat.
"Nama saya Rangga, iya saya kakaknya Ina." Rangga memperkenalkan diri.
"Oh ya, saya hapal wajah tapi saya lupa namanya." kata dokter Ilham.
"Bagaimana dengan papa saya, dok?" tanya Rangga.
"Begini, untuk sementara ini kondisi jantung pak Donal cukup baik. Beliau tidak boleh banyak pikiran. Namun saya melihat sepertinya jantung bagian kanan bermasalah. Dan maaf pak Donal menurut pengamatan saya, jantung anda sudah harus di kasih cincin. Kalau tidak akan fatal akibatnya." jelas dokter Ilham.
"Bagaimana, pa?" tanya Raya pada suaminya.
"Kalau itu yang terbaik papa ikut saja." jawab Donal.
"Kalau anda bersedia, malam ini kita langsung ke ruang operasi. Untuk pemasangan cincin jantung. Anda siap?"
"Siap, dok."
__ADS_1
"Baiklah, suster indah, tolong siapkan segalanya secepatnya."
"Baik, dokter Ilham." Suster indah berlalu meninggalkan kamar rawat Donal.
Setelah kepergian dokter Ilham dan perawat, Donal menatap kearah istri, anak dan menantunya. Lani yang mendengar kalau papanya harus memakai cincin jantung hanya terdiam. Dari situ dia menyadari kalau papanya tidak sedang baik-baik saja. Dia pernah mendengar kalau jantung sudah di pakaikan cincin artinya sudah parah.
"Jika aku harus di operasi lalu bagaimana dengan kantor?"
"Papa jangan mikirin kantor dulu. pulihkan kesehatan papa dulu." ucap Raya.
"Papa tenang saja. Ada Rangga dan Lani yang akan mengurusi perusahaan." kata Raya.
"Yasudah, papa percaya sama kamu dan Lani. Kalian yang papa andalkan selama ini." ucap Donal memandang kearah anak sambungnya dan anak kandungnya.
"Terimakasih, pa. Atas kepercayaannya." ucap Rangga.
Laras memandang pemandangan di depan mata. Ada rasa haru melihat kebaikan Donal pada suaminya. Padahal Rangga hanya anak sambung tapi kasih sayang Donal sudah seperti orangtua kandung. Laras juga tahu kalau Rangga juga mendapat limpahan kasih sayang dari mendiang ibu tirinya, mamanya Ina. Pantas saja Rangga memiliki kepribadian baik karena didikan yang baik.
"Ras," sapa Rangga.
"Iya, mas."
"Iya, mas. Bagas kita pulang, ya."
"Tapi Bagas mau menemani opa, bunda."
"Opa sudah ada Oma, sayang. Nanti kalau opa sudah pulang ke rumah Bagas boleh main sepuasnya sama opa." Raya ikut membujuk cucunya.
"Iya, Oma." ucap Bagas yang akhirnya mengikuti kedua orangtuanya pamit.
"Opa cepat sembuh, ya. Biar Bagas bisa main kuda lagi sama opa."
"Terimakasih cucu opa yang ganteng." Donal mengelus pipi cucunya.
"Zian, zita dan Dito, pamit sama opa, nak. Kalian pulang bareng om Rangga, ya." kata Lani.
"Lani, sebaiknya kamu juga ikut pulang. Rangga dan Laras kan pulang ke apartemen bukan kerumah. Papa kan ada mama Raya." kata Donal.
"Iya, pa. Lani juga mau pulang. Cuma Lani ada urusan lain, makanya Lani minta kak Rangga antarkan anak-anak dulu."
__ADS_1
"Lani, ini sudah mau malam. Lebih baik kamu pulang. Mereka juga bisa butuh mamanya, walaupun si kembar sudah ABG." kata Raya.
Lani mengendurkan nafasnya, memandang ketiga anaknya yang memang sudah beranjak besar. Zian dan Zita sudah tamat SD sedangkan Dito baru mau masuk SD. Meskipun Zian lebih banyak waktunya bersama Toni, mantan suaminya. Sementara Zita lebih betah sama nenek dan kakeknya pihak mantan mertuanya. Sementara Dito sedari bayi memang banyak bersama Lani.
Lani sadar selama ini sudah terlalu egois sebagai seorang ibu. Dia sadar kalau Zian dan Zita tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Makanya sudah satu tahun ini dia mendekatkan diri dengan kedua anaknya. Bahkan ibu sambung mereka bisa mengambil hati kedua anaknya. Lani tidak merasa terancam dengan adanya ibu sambung anaknya. Karena sejatinya dia sudah tak punya perasaan khusus pada Toni.
"Yuk, nak kita pulang." ajak Lani pada ketiga anaknya.
Zian hanya melengos tanpa peduli dengan mamanya. Anak remaja usia 12 tahun itu bahkan tidak peduli saat adik bungsunya hendak memegang jemarinya.
"Kak Zita mana?" Tanya Zian saat papanya berdiri di koridor rumah sakit.
"Kakakmu di mobil." Jawab Toni.
"Lani, apa kamu mau menitipkan anak-anak lagi? kenapa kamu tidak coba mendekatkan diri pada mereka. Kamu ibunya, kamu yang harusnya punya banyak waktu untuk mereka."
"Aku kerja, kak Toni. Kenapa kakak sekarang mengeluh. Apa kakak sudah keberatan dengan anak-anak. Apa karena kakak sudah punya anak dari Kiara?"
"Bukan begitu, Lani. Aku merasa kamu yang seakan jaga jarak sama mereka. Kamu hanya perhatian sama Dito. Sedangkan kedua anak kita juga butuh kamu sebagai ibunya."
Sementara di ruang rawat Donal, Raya kembali memfokuskan diri merawat suaminya. Wanita yang usianya sudah memasuki kepala enam itu duduk di samping ranjang Donal. Donal yang sedari tadi memperhatikan sikap sang Istri mulai angkat bicara.
"Ma,"
"Iya, pa."
"Papa boleh tanya sesuatu?"
"Boleh," Raya menyunggingkan senyum kearah suaminya.
"Mama masih jaga jarak dengan Laras?"
"Kenapa papa menanyakan hal itu? mama enggak kok jaga jarak sama Laras. Tapi mama malah merasa Laras yang jaga jarak sama mama. Ya, mama tahu kalau dulu aku dan Laras tidak baik hubungannya. Tapi harusnya yang muda datang mendekatkan diri pada yang lebih tua."
"Ma, papa tahu apa yang dirasakan Laras. Nggak mudah menerima orang yang sudah menyakiti perasaan dirinya. Apalagi yang mama lakukan itu fatal, Lo. Memblokir semua akses Laras. Seandainya mama pernah di posisi Laras, mungkin juga akan bersikap seperti itu.
Mas Aryo dulu pernah bilang sama aku, kalau mama pernah di tekan sama mantan mertua mama agar cepat hamil. Dan harusnya mama belajar agar tidak mengulangi kesalaha yang sama. Mama bahkan sampai Oma nya Rangga meninggal tidak datang untuk melayat."
"Pa, mas Aryo juga salah. Dia nggak pernah mencoba menjadi penengah antara aku dan mama Esmeralda. sama dengan yang dilakukan Rangga sekarang. Dia terlalu berpihak ke Laras. Bukan ke mamanya. Sudahlah, Pa, mama kalau ingat hal itu kepala jadi pusing. Dan papa jangan mikir yang berat-berat dulu. Nanti bukannya sembuh malah tambah parah."
__ADS_1