Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Masih di rumah sakit


__ADS_3

Rangga bersama Raya meninggalkan ruang rawat Laras. Dalam hatinya masih berkecamuk soal Laras sudah memiliki anak. Walaupun tadi dia meminta Bagas memanggilnya dengan sebutan ayah. Namun jauh di lubuk hatinya dia masih meragukan apakah Bagas memang anaknya atau bukan. Raya melihat kegamangan putranya langsung mendekati. Dia paham apa yang di pikirkan Rangga.


"Waktu Laras pergi dari rumah. Dia belum hamil. Kalaupun dia hamil kenapa dia tidak mengabari kita, padahal dia masih punya mertua utuh. Masih ada mama dan papa Donal. Dia malah diam-diam saja. Itu membuktikan kalau dia tidak butuh kami sebagai orangtuanya. Mama yakin anak kecil tadi bukan anak kamu, Ga."


Tapi wajahnya mirip Rangga. Batin Raya.


Rangga tak bergeming mendengar cerita mamanya. Dia masih bergelayut dengan rasa penasarannya tentang Bagas. Kalau iya bukan anak kandungnya, kenapa dia merasa dekat dengan anak itu. Raya menghela nafas berat. Dia mengingatkan Rangga soal penerbangan ke Lombok. Menggantikan Donal yang sedang sakit.


"Maaf, ma. Aku tidak bisa berangkat ke Lombok. Suruh orang kepercayaan papa yang menggantikan aku."


"Tidak, bisa! papa kamu sudah bilang ke relasinya kalau kamu yang datang, ga. Mama mohon jangan bikin malu perusahaan lagi. Cukup dulu kamu bikin malu kami saat kamu kabur dari pernikahanmu dengan jihan." kata Raya.


"Ma, bisakah tidak mengungkit soal itu. Aku tahu dulu adalah tindakan terbodoh yang pernah dilakukan. Bodoh karena tidak tegas dari awal, bodoh karena pergi dari masalah. Dan karena kebodohanku sehingga membuat Ina langsung berpaling ke lelaki lain."


"Rangga jangan kamu ungkit soal Ina lagi. Dia sudah bahagia bersama suaminya sekarang. Kamu tidak lupa kalau kalian sepersusuan. Paham!"


"Paham sekali, ma. Sangat paham. Maka itu sekarang izinkan aku memperbaiki hubungan dengan Laras dan Bagas."


"Ga, kamu yakin Bagas itu anakmu?hah! jangan buta karena cinta, Ga. Kamu mau kembali pada perempuan yang sudah mencampakkanmu. Jangan bodoh,ga. Itu sama saja kamu mau diinjak harga diri. Kamu itu lelaki, Rangga." Raya makin emosi melihat putranya yang plin-plan.


"Apapun yang mama ucapkan tidak akan mengubah keputusanku. Aku akan membawa Laras kembali ke rumah. Mama tidak lupa kan wasiat Oma Gladys. Bahwa rumah yang ada daerah Kuningan sudah di wariskan padaku dan Laras. Jadi Laras masih punya hak dalam keluarga ini.


Suka tidak suka aku tetap akan membawa Laras dan Bagas kembali ke rumah. Papa Donal juga sudah sepakat kalau aku menemukan Laras aku harus membawanya kembali." Rangga pergi meninggalkan Raya yang terdiam di lorong rumah sakit. Tangannya menggenggam erat seakan ada amarah yang ingin dia salurkan.

__ADS_1


Rangga terus berjalan menjauhi Raya. Dia akan mempersiapkan segala sesuatu untuk membawa pulang Laras dan Bagas. Pikirannya berkecamuk antara ucapan mamanya, sikap Laras yang acuh padanya dan juga Bagas yang sedikit menolak dirinya.


BRUUUUKKKK!


Rangga tersentak saat langkahnya menabrak seseorang. Lelaki menoleh melihat siapa yang ditabraknya. Seorang lelaki yang tersungkur melihat uluran tangan Rangga. Lelaki itu menoleh, kaget melihat siapa yang ada di depannya. Bukan hanya lelaki itu, Rangga pun tak kalah kaget saat melihat siapa yang ditolongnya.


"Kamu!" sahut mereka bersamaan.


"Kamu Adul, bukan?" tebak Rangga.


Adul menatap Rangga dengan sinis. Lelaki itu bangkit membersihkan bajunya yang sedikit kusut.


"Iya. Kamu masih hidup ternyata. Aku pikir kamu sudah mati. Ngapain kamu disini?"


"Aku disini bertemu anak dan istriku." jawab Rangga.


Satu hal yang aku minta, Rangga. Tolong perjelas status Laras. Agar dia tidak terbebani lagi dengan keluarga kalian. Ah, iya, jika kamu bersedia mentalak Laras. Aku sudah siap menikahinya. Lagian buat apa dia punya suami seperti kamu, yang bertahun-tahun tidak punya kekuatan melindungi Laras. Katanya orang kaya, tapi sayangnya miskin pikiran." Adul berjalan meninggalkan Rangga yang terdiam.


"Aku tidak akan mentalak Laras sampai kapanpun. Kamu jangan mimpi bisa mendapatkan Laras, Adul. Kalau Laras mau sama kamu sudah dari dulu dia menerima kamu. Dan aku sudah perjelas sama kamu, Laras itu istriku. Jadi jangan jadi perusak rumah tangga orang." Rangga menatap tajam lelaki di depannya.


"Jika kamu masih melibatkan perempuan itu dalam rumah tanggamu dengan Laras. Aku tidak akan tinggal diam. Lelaki macam apa kamu yang masih di bawah ketiak ibunya. Gara-gara keluargamu Laras menderita. Jadi aku tidak akan tinggal diam selama perempuan itu masih menggerecoki Laras. Camkan itu!" tangan Adul menunjuk ke arah Raya yang berjalan ke arah mereka.


Adul berjalan meninggalkan Rangga dan Raya. Amarah yang dia luapkan bukan hanya karena dia mencintai Laras. Tapi rentetan penderitaan Laras memang di mulai dari keluarga Rangga. Bertahun-tahun Laras masih berusaha menemui keluarga Rangga hanya untuk mengenalkan Bagas pada mereka. Tapi selalu hasilnya nihil, itu yang membuat Adul bertekad akan selalu ada buat Laras. Meskipun nyawa taruhannya serta selalu ditolak oleh Laras.

__ADS_1


Sementara Laras masih menata perasaannya setelah bertemu dengan Rangga. Seharusnya dia bahagia ketika melihat lelaki yang selalu dalam doanya. Lelaki yang tak pernah lekang dari ingatannya. Kemunculan Rangga awalnya di harapkan sebagai awal kebahagiaannya, namun hatinya kembali di landa keraguan. Apalagi melihat Raya masih ikut campur. Laras tidak pernah mau kembali ke rumah mertua suaminya. Memang kata orang bukankah istri harus ikut kemana langkah suaminya. Tapi kalau harus kembali ke lobang yang sama, itu sama saja bunuh diri. Itu yang Laras hindari selama ini. Rangga bahkan lebih menurut dengan mamanya ketimbang memperjuangkan dirinya.


"Dia bahkan muncul setelah semua yang aku alami selama ini. Dia bahkan tidak menjelaskan apa yang membuatnya tidak menemuiku selama ini? jadi apa aku harus mempercayai sekarang?" batin Laras.


"Bagaimana perasaanmu, Ras?" Sasti muncul setelah kepergian Rangga.


"Entahlah, Sas. Aku bingung. Mungkin aku senang melihat dia sudah sehat setelah masa koma itu."


"Ras, bukannya ini yang kamu tunggu selama ini. Kenapa masih ragu? apa karena perempuan yang tadi keluar bersama Rangga. Kamu pasti berprasangka Rangga punya wanita baru. Ya ampun, Ras. Dari bentuknya saja itu kayak emak sama anak. Nggak cocok jadi pelakor rumah tangga kalian."


"Dia mertuaku, Sas. Dia orang yang membuat aku pergi meninggalkan rumah mertuaku. Jadi sekarang aku harus bagaimana, Sas."


"Kalau menurut aku kamu jangan gampang terpengaruh sama Rangga. Selama dia masih di bawah ketiak ibunya. Karena apa? percuma perjuanganmu selama ini kalau masih bercampur dengan keluarga itu." Sahut Eva.


"Pikirkan lagi, Ras. Jangan sampai kamu masuk ke jurang yang sama. Kalau Rangga mau memperbaiki hubungan kalian dia harus lepas dari ibunya." Tambah Eva.


Ada yang setuju dengan Eva?


*


*


*

__ADS_1


Selamat pagi semoga yang ada disini di berikan kesehatan serta rezeki yang melimpah.


Terimakasih masih bertahan membaca karya recehku.


__ADS_2