Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Jalan-jalan


__ADS_3

Dimata Bagas, bundanya adalah orang yang paling hebat. Meskipun cerewet suka mengomel kalau dirinya tak menurut. Tapi tak pernah sekalipun membentak dirinya. Biasanya selesai mengomel bundanya langsung minta maaf. Bunda dimata Bagas adalah perempuan yang kuat. Bekerja sendiri tapi ada yang membantu.


Setelah pulang dari pemakaman, Bagas diajak ke Dufan. Siapa yang tidak senang ke Dufan, tempat arena bermain anak-anak. Bagas pertama kalinya diajak ke arena tersebut, yang kata tetangganya cuma orang kaya yang bisa masuk Dufan. Tangannya tak pernah lepas dari genggaman sang bunda. Matanya terus berkeliling melihat apa yang ada di area tersebut. Suasana Dufan yang ramai dengan berbagai generasi.


"Bunda, Bagas mau naik itu?" tangannya menunjuk pada permainan berbentuk kincir angin.


"Naik yang lain saja, gas. Bunda takut lihat yang tinggi-tinggi." sahut Laras.


"Bagas mau yang itu. Katanya bisa lihat pemandangan dari atas." serunya.


Laras terpaksa mengalah pada anaknya. Sesekali berdoa untuk menghilangkan ketakutannya. Beda dengan Bagas yang sangat riang ketika di beri kesempatan duduk dalam area permainan tersebut. Dengan santai Bagas berkata pada bundanya, "Bunda jangan takut, ada Bagas yang jaga bunda. Bagas kan laki-laki." sahutnya sambil memukul dadanya.


Laras tersenyum mendengar ucapan putranya. Tangannya menggenggam erat jemari mungil yang sudah tumbuh besar. Dimatanya Bagas masih sosok bayi yang dia lahirkan. Dan kini sosok bayi itu tumbuh menjadi anak yang tampan. Persis wajah ayahnya.


Tiba saat sang kincir berputar. Laras tetap menekan rasa takutnya, apalagi ketika bergerak ke atas. Mata Laras yang terpejam seakan mendengar ucapan.


Duduklah, sayang. Jika kamu masih merasa ketakutan peganglah tanganku.


Laras dengan pelan membuka matanya. Di hadapan terlihat lautan luas nan indah. Laras tersenyum melihat pemandangan sekitar ancol dari atas. Sama dengan Bagas yang terdengar riang melihat pemandangan dari atas.


"Keren bunda." sahut Bagas.


"Iya, nak. Keren." Tangannya mengusap dadanya yang masih terbersit rasa takut.


"Bagas nggak takut lihat ketinggian?" tanya Laras.


Bagas menggeleng, justru dia senang bisa melihat dari atas.


Kamu sama seperti ayahmu, nak. Suka sekali dengan ketinggian.

__ADS_1


Bagas senang diajak jalan-jalan bersama bundanya. Mereka berjalan saling bergandeng tangan. Saat Bagas meminta masuk ke istana boneka, lagi-lagi Laras mengerutkan keningnya. Antrian yang begitu panjang membuat dirinya enggan menjadi barisan disana. Apalagi dia paling malas menunggu terlalu lama. Kasihan juga Bagas yang menjadi korban antrian nantinya. Namun semangat Bagas mau tidak mau kembali membuat dirinya mengalah. Wajah Bagas yang berseri ketika memasuki wahana tersebut. Laras paham kalau menjadi seorang ibu harus banyak mengalah pada anaknya.


Tak terasa mereka sudah menjajaki wahana di Dufan. Sudah waktunya untuk pulang ke rumah. Laras mengajak Bagas mencari tempat makan di seputaran Dufan. Namun sayangnya, dia tak menemukan tempat yang sesuai seleranya.


"Bunda, aku lapar?" rengeknya.


"Sebentar ya, nak. Bunda juga lapar tapi belum ketemu sama nasi." jawab Laras.


"Kenapa harus nasi? makan yang lain kan bisa?"


"Bagas mau apa?"


"Aku mau ayam goreng bunda." serunya.


Mereka akhirnya menemukan resto kecil yang ternyata menyediakan ayam goreng. Bagas tampak duduk dengan anteng sambil membuka game di handphonenya. Lama dia merasa bosan lalu memasukkan handphonenya di saku.


"Yang mana sayang?"


"Ayam goreng!" serunya.


"Oke, papa kesana pesan dulu, ya?" anak itu mengangguk.


Bagas hanya terdiam melihat pemandangan di depannya. Hatinya mulai berdesir melihat anak yang bisa bersama papanya.


klik


"Sudah aku bilang, aku tidak mau di jodohkan dengan Mila, ma. Mama aku punya istri, aku harus menyelesaikan urusanku dengan Laras" amuk Rangga.


"Mama tahu, nak. Tapi coba berpikir logis. Kalau Laras mencintaimu, dia tidak akan meninggalkan kamu saat sedang kritis. Tapi apa! Dia pergi dengan lelaki bernama Adul itu. Dia pergi meninggalkan rumah disaat orang sedang berduka meninggalnya Oma. Itu yang kamu bilang istri yang setia.

__ADS_1


Mama sudah cukup sabar menghadapi sikap Laras yang susah dikasih tahu. Sekarang kamu mau mencari dia. Sadar, ga! cuma Mila yang ada di sampingmu saat kamu sekarat bukan Laras."


Rangga tetap bersikukuh akan mencari keberadaan Laras. Sampai saat ini cintanya hanya untuk Laras, bukankah dia sudah janji pada Ina agar tidak menyakiti perasaan Laras. Tapi yang masih mengganjal di hatinya, apa benar kalau Laras meninggalkan dirinya bersama Adul.


"Aku harus ke rumah ibu Mala. Aku yakin Laras masih tinggal disana.


Aaaaargg! Rangga setelah hampir satu minggu kamu di Indonesia. Kenapa hal ini baru terpikir sekarang!"


Rangga menyalakan mobilnya untuk menemui Laras di kediaman mertuanya. Dia yakin ini adalah kejutan terindah untuk istrinya. Dawai kerinduan yang sudah lama di pendam terasa sangat nyata. Kenangan demi kenangan terus bergulir di dalam ingatannya. Wajahnya terus berseri membayangkan saat pertemuan itu.


Beberapa saat ini kemudian dia sudah memberhentikan mobilnya di sebuah gang. Namun betapa takjubnya perumahan sekitar sudah banyak berubah. Rangga melewati puskesmas dimana dulu istrinya sempat di rawat. Tangannya memegang dadanya degupan jantung pun semakin.


Assalamualaikum


Rangga sudah berdiri di depan pintu rumah mertuanya. Ketukan demi ketukan terus dilakukannya. Tak ada yang menyahut, tiba beberapa saat ada seorang lelaki tua keluar dari rumah.


"Maaf, mas. Cari siapa?"


Rangga kaget bukan Laras yang menyambutnya. Seorang lelaki tua berdiri menyapa tamu yang datang ke rumahnya.


"Larasnya ada,pak?"


"Laras siapa, mas. Disini tidak ada yang namanya Laras."


"Bapak jangan bercanda, ini rumah orangtuanya Laras. Tidak mungkin dia tidak tinggal disini!"


"Saya sudah lima tahun tinggal di sini, mas. Saya tidak kenal dengan namanya Laras." Lelaki itu menutup pintunya.


Rangga duduk melemas di teras rumah lama Laras. Rasanya tidak percaya kalau Laras memang benar-benar menghilang. Sesekali tangannya mengusap wajahnya dengan kasar. Menghempaskan nafas beratnya. Lagi-lagi dia tidak menemukan keberadaan Laras.

__ADS_1


__ADS_2