Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Pesta penyambutan Laras


__ADS_3

Semua yang ada di kediaman Pattimura sibuk mendekor rumah. Rencananya acara akan diadakan outdoor dan indoor. Out karena ada cucu mereka yaitu Bagas, akan di gunakan seperti taman bermain. Indoor tentu saja untuk tamu dewasa.


Beberapa pegawai mondar-mandir di sekitar kediaman Pattimura. Tampak Raya mengatur semua proses persiapan untuk acara tersebut. Donal melihat hal itu terlihat senang karena Raya sudah menerima kedatangan Laras.


Sementara itu tampak Reza yang juga ikut berpatisipasi. Lelaki jangkung itu tampak mondar mandir mengatur para pekerja. Reza senang kalau rangga sudah berkumpul dengan keluarga besar. Terutama istrinya, meskipun sebenarnya dia masih penasaran kenapa Laras pergi dari rumah.


"kak Reza minum dulu, pasti capek." Lani mendatangi Reza yang masih sibuk bekerja.


"Terimakasih," Reza menenggak minuman pemberian Lani. Wanita itu memandang betapa tampannya Reza.


"Saya lanjut, ya," Lani masih mengangguk pelan. Masih dalam pesona sihir ketampanan Reza. Wanita janda beranak tiga itu tersadar kalau Reza sudah tidak di dekatnya lagi.


"Kenapa dia tampan sekali. Kenapa aku baru bertemu dengan setelah punya anak dan jadi janda. Tapi apa mungkin kami jodoh, ya. Dia duda dan aku janda." Lani hanya memegang dadanya yang terus berdebar kencang.


"Lani," sapa Raya.


"Eh, iya, ma," Lani tergagap saat lamunannya terganggu.


"Kamu kenapa bengong?"


"Nggak apa-apa, ma. Anak-anak sudah sampai belum."


"Belum, tadi Toni bilang anak-anak minta diajak makan es krim. Jadi mereka mampir dulu."


"Aduh, Toni! si kembar baru sembuh dari pilek. Kok di beliin es krim." protes Lani.


"Makanya kalau ada apa-apa komunikasikan sama dia. Bukan hidup sendiri-sendiri. Mantan pasangan memang ada, tapi mantan anak tidak ada."


"Mama pinter kasih saran. Tapi tidak pintar kasih saran sama kak Rangga."


"Loh kok bawa Rangga?"


"Iya, kan. Semua aset Laras mama yang pakai. Tidak ada mantan pasangan, karena Laras dan Rangga itu masih juga belum mantan." jawab Lani.


"Laras tidak punya aset di rumah ini."


"Mama juga tidak punya aset di rumah ini. Tapi mama bersikap seakan punya kak Rangga milik mama juga."


"Sudah nyindirnya." Raya hanya melipat tangannya mendengar ocehan putri sambungnya.

__ADS_1


Lani menjauhi Raya, perasaannya yang tadinya bahagia kini berubah kesal. Gara-gara mama sambungnya, kisah pengaguman pada Mahareza, sahabat dekat Rangga pun terganggu. Lani langsung berjalan mencari keberadaan Reza. Kakinya terhenti saat melihat lelaki itu sedang bersama seorang wanita.


"Terimakasih, bila. Kamu jauh-jauh dari Margonda cuma mau antarin ini." sahut Reza.


"Kayak apa sih, aku kan calon istrimu. Ya, wajar aku sedikit berkorban." kata Bila sambil menunduk malu-malu.


"Terimakasih, kamu mau menerima aku."


"Aku yang terimakasih sama kak Reza. Kamu yang sudah menyadarkan aku bahwa hidup terpaku satu arah. Selama ini aku terkungkung sama obsesi pada satu pria. Aku lupa ada satu orang yang harus aku perjuangkan, yaitu anakku."


Cup!


Wajah bila memerah saat sebuah kecupan mendarat di pipinya. Bila dan Reza sudah tiga tahun pacaran. Dulunya mereka satu kantor, tapi karena sesuatu hal Bila memilih resign.


Reza dan Bila masih terkendala restu dari keluarga Reza. Malah yang Reza tahu mereka meminta dekati Lani, adik sambung Rangga. Namun, Reza tetap mempertahankan Bila. Sedari jauh Lani memandang kesal.


"Memang ini acara apa, sih?" tanya bila.


'Acara karena Rangga sudah sembuh. Hampir lima tahun rangga lumpuh dan buta. Terus sempat di vonis bakal bertahan di kursi roda. Tapi Tuhan beri keajaiban, setelah tiga tahun berobat dan terapi. Rangga sembuh."


"Kok aku kayak tidak asing dengar namanya?"


"Iyalah. Kakaknya Ina, itu."


Sesampai di kontrakan Laras, Rangga langsung membawa Laras ke kamar. Diikuti Bagas yang juga masuk ke dalam kamar. Ayah dan anak tersebut masih saling diam. Rangga ingin menawarkan diri untuk menemani Laras. Namun dia harus izin dulu ke pihak kontrakan.


Namun Laras meminta Rangga untuk pulang ke rumah mama Raya. Dia tidak mau terlibat masalah dengan mertuanya.


"Tempatku disini, Ras. Bersama kalian, bersama kamu dan Bagas. Jadi sekalipun kamu ngotot menyuruh aku pergi,tidak akan mengubah keputusanku. Aku akan tetap bersama kalian, dengan atau tanpa persetujuan mereka." ucap Rangga tegas.


Rangga duduk di samping Laras. Sambil memangku Bagas. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, jika menemukan Laras tidak akan pernah meninggalkan wanita kesayangannya. Apalagi mereka sudah dikaruniai anak. Sementara ini Rangga tidak akan bertanya macam-macam tentang masa lalu Laras. Lagipula dia juga sedikit lelah setelah bolak balik menyertir.


"Gas," tanya Rangga


"Iya, om."


"Bunda masih sering sesak nafas?"


"Masih, om. Kan kemarin masuk rumah sakit karena sesak nafas."

__ADS_1


"Bagas mau nggak punya ayah?"


"Mau, om. Tapi kata bunda ayah Bagas di surga."


Rangga menunduk sesaat. Apakah Laras sempat menganggap dirinya sudah meninggal dunia. Padahal sudah jelas dia masih hidup. Jemari tangan Rangga menelusup ke sela jari Laras.


"Gas, sebenarnya ayah Bagas sudah turun dari surga. Ayah janji tidak akan meninggalkan Bagas dan bunda lagi. Maafkan ayah ya, Bagas kelamaan turun dari surga."


"Jadi benar om adalah ayahnya Bagas?" Rangga mengangguk.


"Ayah... Bagas kangen sama ayah"


"Ayah juga kangen sama Bagas." keduanya saling berpelukan.


Malam ini Rangga menginap di kontrakan Laras. Tentu saja dia sudah mengantongi izin dari RT dan RW setempat. Pastinya juga izin dari pemilik kontrakan.


Meskipun awalnya mereka kaget saat Rangga bilang dia adalah ayah kandung Bagas. Rangga pun menjelaskan kronologi mereka sampai berpisah sampai mengeluarkan surat nikah mereka. Pada akhirnya Rangga mendapat izin tinggal bersama mereka.


"Sayang," Rangga merangkul Laras saat Bagas sudah tertidur.


"Iya, mas." Laras mengalungkan tangannya di atas leher suaminya.


"Tadi papa Donal menelepon, katanya mereka mau mengadakan syukuran."


"Syukuran apa, mas?"


"Syukuran karena aku sudah sembuh. Mereka minta kamu dan Bagas ikut pulang kesana."


Laras mengendurkan nafasnya. Tangannya yang tadinya mengalung di leher, pelan-pelan di lepaskan.


"Maaf, mas. kalau aku menolak balik ke sana apa kamu keberatan."


"Semua terserah kamu saja, sayang. Kalau kamu belum siap bertemu mereka aku tidak masalah. Tapi kita tetap datang memenuhi undangan mereka saja. Bukan untuk pindah kesana."


"Terimakasih, mas. Atas pengertiannya."


Rangga tersenyum. "Apapun itu asalkan kamu bahagia akan aku lakukan. Asalkan kamu jangan pergi lagi dari hidupku.


Aku mencintaimu, Larasati."

__ADS_1


"Aku Juga mencintaimu, Rangga Barata Yudha. Kamu adalah cinta pertamaku, sekarang dan selamanya."


Rangga menarik dagu Laras. Menikmati indahnya cinta mereka yang halal.


__ADS_2