
Rumah bergaya Eropa klasik yang terlihat ramai menyambut kedatangan beberapa tamu. Laras berserta anak dan suaminya turun dari mobil. Kediaman yang berlokasi di tengah kota adalah kediaman milik mertuanya.
Rangga pernah menyampaikan kalau keluarga Pattimura mengundang mereka ke acara tersebut. Dengan satu syarat, yaitu Laras tidak mau tinggal disana lagi. Rangga juga tidak memaksa istrinya. Karena dia sudah tahu bagaimana masa masa yang dialami Laras.
"Jika kamu keberatan bertemu mereka. Aku tidak bisa memaksa, tapi paling tidak hargai papa Donal yang menyelenggarakan acara ini. Ini acara inisiatif papa." kata Rangga.
Laras menghela nafas berat. Nervous? bisa jadi. Padahal masih berada di depan pintu. Laras merasa ragu menginjakkan kaki ke rumah itu lagi. Namun rasa nervousnya hilang saat Raya berdiri di depan pintu. Raya langsung memeluk Laras seperti saat dulu pertama kali mereka saling mengenal. Seketika ekspetasi Laras tentang Raya runtuh.
"Menantuku," Raya langsung memeluk Laras.
Laras memandang Raya antara percaya dan tidak percaya dengan wanita di depan. Belum hilang beberapa hari yang lalu, Raya datang membentaknya di rumah sakit. Membuat Bagas takut kepada neneknya sendiri. Sekarang wanita itu datang menyambut dirinya seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah sudah bisa menerima dirinya. Laras mencoba menelusuri apa yang sebenarnya diinginkan Raya. Namun sepertinya harus mengikuti alur permainan mertuanya.
"selamat datang kembali, Laras. Papa dan segenap keluarga besar minta maaf atas apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Papa tahu kamu pasti masih marah pada kami sehingga tidak mengabari tentang cucu papa. Maafkan sikap kami di masa lalu, nak. Papa harap dengan semua ini kita bisa membuka lembaran baru sebagai keluarga." kata Donal.
Laras cukup terharu dengan sambutan keluarga suaminya. Tadinya dia ingin suudzon karena masih trauma dengan perlakuan Raya selama ini. Namun untuk sementara itu harus di tepisnya. Rangga menggenggam erat tangan wanita itu. Seakan menguatkan dirinya untuk tidak berlarut dalam kesedihan.
"Terimakasih, mama Raya, papa Donal dan keluarga besar disini. Saya sadar selama ini tidak memberikan komunikasi yang baik dengan kalian. Saya juga minta maaf karena belum menjadi menantu yang baik bagi kalian. Saya juga manusia biasa yang tak luput dari kekhilafan. Saya hanturkan terimakasih atas sambutan kalian."
"Kok jadi mewek,sih. Ayuk atuh ajak tamu-tamunya masuk." kata mama Raya.
Rangga pun menggendong Bagas. Meminta putranya mendekati nenek dan kakeknya.
"Bagas beri salam sama Oma dan Opa." Bagas menelungkupkan kepalanya di balik leher ayahnya.
"Mas, Bagas itu tidak gampang menerima orang yang baru dia temui. Karena kejadian di rumah sakit waktu itu. Bagas takut sekali bertemu mama Raya." jelas Laras.
"Ya Allah, sebegitunya Bagas trauma di dekat neneknya. Maafkan ayah, nak. Gara-gara keluarga ayah kamu jadi seperti ini." batin Rangga.
"Bagas mau lihat taman bermain?" Rangga mencoba mengalihkan perhatian Bagas.
"Mau, yah." jawab Bagas riang.
"Yuk, Bagas ikut sama ayah." Rangga meninggalkan areal indoor dan membawa Bagas ke area outdoor.
__ADS_1
Pelan-pelan dia menurunkan Bagas. Tampak ada badut yang mempertontonkan permainan sirkus kecil. Bagas pun duduk berbaur menonton bersama beberapa teman yang lain. Rangga memperhatikan dengan seksama putranya tertawa riang. Dia senang dengan sambutan yang diadakan orangtuanya.
"Rangga," suara lembut menyapa dirinya. Tampak sosok wanita berpenampilan anggun berjalan ke arah dirinya.
"Mila," Rangga pun membalas sapaan wanita teman masa kecilnya.
"Kamu lagi apa? kok tidak gabung dengan orang didalam." kata Mila.
"Aku lagi menemani Bagas. Dia bahagia sekali saat ini. Aku tidak tahu kalau Bagas tidak gampang berbaur dengan orang lain. Aku merasa bukan ayah yang baik. Karena terlalu lama membebankan semuanya ke Laras. Sampai-sampai aku cukup kaget dengan psikologis Laras dan Bagas."
"Siapa bilang Laras cukup menderita, Ga? dia dikelilingi orang-orang yang memperlakukannya dengan baik. Dari orang-orang di komplek rumah lamanya, sahabat dekatnya hingga seorang lelaki yang memberinya perhatian lebih." jelas Mila.
Rangga mengerutkan keningnya. Lelaki? Rangga menebak pasti Adul. Karena cuma Adul yang memang memiliki perasaan lebih pada Laras.
Mila memandang guratan wajah Rangga yang tanpa ekspresi. Dia menebak Rangga tidak terlalu terkejut dengan kata-katanya. Mungkin juga lelaki itu sudah tahu. Mila berjalan merasa kakinya sedikit pegal. Lalu berjalan melewati Rangga, tak berapa lama dia merasa oleng. Mila yang hampir jatuh merasa ada yang menahan tubuhnya.
"Kamu tidak apa-apa," ucap Rangga yang menahan tubuh Mila.
"Aku tidak apa-apa." Mila terlihat kikuk karena jarak pandangan mereka sangat dekat.
"Ya sudah aku bantu kamu berjalan sampai ke kursi itu." Rangga memapah Mila sampai ke sebuah satu kursi.
"Terimakasih, Ga. Kamu tidak usah repot-repot. Nanti Laras lihat dia salah paham." Mila bersikap seolah wanita menjaga perasaan Laras. Padahal jauh di lubuk hatinya dia sangat senang dengan perlakuan Rangga.
"Mana yang sakit?" tanya Rangga.
"Ini," Mila menunjuk kakinya yang terkilir
Tangan Rangga hendak memeriksa kaki Mila. Namun dikejutkan dengan kemunculan Laras.
"Kak Mila kenapa?" tanya Laras.
"Kakinya terkilir, sayang. Tadi dia hampir jatuh di kelokan tanjakan. Untung aku tolong. Kalau tidak dia sudah berguling di tanjakan." cerita Rangga.
__ADS_1
"Oh," Laras menjongkokkan badannya memeriksa kaki Mila yang sakit.
"Mana yang sakit?" Laras memeriksa kaki Mila.
"Ini," Mila menunjuk kaki kanannya yang masih terasa ngilu.
"Mila, Laras ini pernah kerja di pengobatan alternatif. Jadi dia pintar mengurut kaki. Di jamin sembuh deh." Rangga mempromosikan istrinya.
"Kamu masih ingat saja, Mas." Laras tersipu malu.
"Karena itu Oma sayang sama kamu, Ras. Kamu mampu menyenangkan Oma. Soalnya yang dulu kerja disini tidak ada yang betah sama Oma."
Mila hanya memendam rasa kesalnya. Padahal dia berharap kalau Rangga yang mengurut kakinya. Memang Rangga kalau perhatian tidak pilih orang. baik laki-laki maupun perempuan.
"Sudah, Ras. Aku lumayan baikan kok." kilah Mila.
Raya sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Mila dan Rangga hanya tersenyum kecil. Dia senang Mila melancarkan aksinya sesuai rencana mereka. Ya, walaupun sedikit gagal karena Laras keburu muncul.
"Ini Bu, hasil potonya." salah seorang lelaki mendekati Raya guna memberikan handphonenya pada wanita itu.
Raya memandang dengan seksama. Senyumnya terbit mengalahkan senyum Monalisa. Dia memberikan lembaran kertas berwarna merah pada si pemoto. Setelah mengucapkan terimakasih lelaki itu meninggalkan Raya "Pose yang eksotis." gumamnya dalam hati.
*
*
*
Maaf ya rada lama postnya. Kemarin anak saya demam dan pilek. jadi saya fokus sama anak saya.
Tenang hari ini saya tetap double up. Pagi dan sore.
Terimakasih sudah mampir ke karya recehku. Tetap dukung author dengan like komen dan vote.
__ADS_1
Oh ya mulai bulan Agustus saya akan adakan give away berdasarkan rangking pembaca. Siapa yang votenya atau give nya paling banyak akan saya kasih hadiah pulsa data 20 ribu untuk juara satu.
khusus pembaca ya.